
{"Kapan kita ke Bogor?"} tanya Ibunya Haris, di sambungan telepon selularnya. Ibunya Haris terus-menerus menanyakan rumah yang di Bogor untuk di jual.
{"Bu, apa tidak ada pembicaraan lain?} Haris seakan kesal oleh Ibunya, karena yang di bahas selalu rumah terus.
{"Kamu gimana sih, Ibu geram lihat tingkah mu, yang seakan menyepelekan hal ini. Dulu saja kamu di selingkuhi istrimu tidak banyak kata, hanya diam. Nah, sekarang kamu itu sudah bukan suaminya lagi, kamu harus bertindak cepat untuk menjual rumah itu!"} Ibu seakan penuh napsu, kesal kepada Haris, karena selalu santai dan tidak bertindak.cepat dalam hal apapun.
Mendengar ucapan Ibunya, yang meluap-luap amarahnya, akhirnya Haris terdiam
{"kamu, bodoh! Ibu kesal sama kamu."} Ibu Haris kembali berucap.
{"Baik, baik, kalau itu kemauan Ibu, Haris hari ini juga pergi ke Bandung, walaupun di kantor sedang sibuk. Haris akan tinggalkan karyawan disini. Jika Ibu terus memaksa!"} Haris pun terlihat kesal kepada Ibunya, yang tidak sabar.
***
Setelah Haris berpamitan kepada Wisnu dan Fani, akhirnya Haris pergi ke Bekasi, untuk menjemput Ibunya dan setelah itu perjalanan dilanjutkan ke Bogor.
Dalam perjalanan Haris di hinggapi, rasa kesal terhadap mantannya itu. Pikirannya seakan tidak tenang. Cindy selalu mencari masalah dari semenjak Haris menjadi suaminya, dan sekarang pun sesudah bercerai selalu ada masalah yang terjadi.
Kemudian Haris menelepon Cintya, namun ponselnya tidak aktif. Tadinya dia mau mengabarkan ke Cintya, bahwa dia akan datang kesana bersama Ibunya.
Perjalanan yang di tempuh dari Bandung ke Bekasi, sekitar dua jam lebih.
***
Akhirnya Haris pun tiba di rumah Ibunya, Haris mencium punggung tangan Ibunya, dan tersenyum lebar meskipun sebenarnya masih ada rasa kesal, namun Haris tidak menampakkan semua itu, kepada Ibunya.
Dia tidak mau di anggap anak durhaka.
"Mau jam berapa, kita pergi ke Bogor? kamu sudah sarapan? gimana keadaan kamu sehat, Nak? Ibunya Haris memberikan pertanyaan kepada anaknya begitu bertubi-tubi.
Dalam hati Haris di hinggapi rasa bahagia, karena di balik ibunya yang cerewet dan jika ada keinginan selalu ingin di segerakan. Ternyata tersimpan rasa sayang dan peduli terhadap anaknya.
Meskipun Ibunya saat ini lagi dalam keadaan.menyimpan amarah kepada mantan menantunya itu.
"Terserah Ibu," ucap Haris lirih.
Ibu kemudian menyodorkan secangkir kopi hitam yang masih ngebul, dan wangi dari kopi tersebut begitu menyeruak ke hidung.
"Terima kasih," ucap Haris, kemudian dia menyeruput, kopi tersebut.
***
__ADS_1
Perjalanan menuju Bogor, seakan begitu rame, karena Ibunya Haris tidak ada habisnya membicarakan mantan menantunya, Cindy.
Haris terdiam tidak banyak kata, pandangannya matanya tetap fokus mengarah ke depan mengemudikan mobil.
"Yang Ibu tidak suka dari kamu, ya ini, diam. Pantesan kamu dulu terus di khianati sama si Cindy itu!" Ibu terlihat kesal.
"Iya, Ibu. Haris ngerti ko'," Haris pun kesal, mendengar Ibunya, yang terus ngomel-ngomel, membicarakan Cindy.
Apa tidak ada pembicaraan lain.
***
Akhirnya mereka tiba di Bogor,
Nampak terlihat pintu pagar tidak terkunci, Haris pun memasukkan mobilnya, kemudian Haris turun dari dalam mobil di ikuti oleh Ibunya.
betapa terkejutnya Haris, ketika melihat dari balik kaca rumah, di dalam rumah terlihat kosong tidak ada barang apa-apa.
***
Ibu tersenyum lebar.
"Nah, istrimu sadar diri ternyata, dia langsung keluar dari rumah, tanpa di usir kembali oleh Ibu. Bagus lah," Ibu begitu yakin, kepergian Cindy karena takut sama Ibunya, yang terus menerus datang kesana untuk membicarakan rumah yang akan di jual.
***
Betapa terkejut Ibunya Haris, ketika mendengar kabar tersebut. Dadanya terasa terbakar, bergejolak tidak karuan.
Hatinya terasa di remas, kabar yang baru saja dia dengar seperti petir di siang bolong.
Ibu sangat berharap rumah tersebut di jual dan uangnya, akan Ibu investasikan untuk cucu-cucunya nanti. Tapi kenyataan yang ada malah mendapatkan kabar yang sangat membuat dada seakan terbakar.
Haris diam termangu di kaca jendela dekat pintu, melihat keadaan di dalam. Bola mata Haris berputar, dia seakan teringat masa lalu bersama istri dan anak-anaknya. Di tempat ini dia bersama keluarga kecilnya membina rumah tangga dari nol, sampai berhasil dan akhirnya keluarganya terpuruk.
***
"Bu, ikut prihatin ya, kepada anak ibu, yang di khianati oleh istrinya. Mas Haris terlalu sabar ya, dulu istrinya pulangnya kadang malam, kadang subuh dan anak-anaknya kasian, selalu diam diluar. Apalagi yang kecil, Rara. Aku selalu memberikan makanan kepada Rara," ucapan Bu Retno, seakan membuat suasana semakin panas.
Dengan Bu Retno berbicara seperti itu, hati Ibunya Haris, seakan tersulut emosi yang semakin dalam.
"Haris, ayo sekarang juga kita pergi dari sini, dan kita datangi rumah adiknya, Cindy. Ibu yakin dia ada disana!" Ibu sudah tidak sabar ingin meluapkan emosinya kepada mantan menantunya itu.
__ADS_1
Kemudian Haris mencoba menghubungi Cintya kembali, namun tetap saja ponselnya tidak aktif. Melihat sang Ibu sudah uring-uringan, Haris seakan khawatir ingin segera rnyelesaiksn persoalan dengan cepat.
"Bu, ponselnya tidak aktif' Haris mencoba meyakinkan Ibunya, agar Ibunya sabar dan jangan tersulut emosi.
"Mari, Bu, singgah dulu ke rumah saya," Bu Retno seakan memaksa, Ibunya Haris untuk berkunjung ke rumahnya.
Haris seakan tahu, jika Ibunya mampir ke rumah Bu Retno, maka Ibunya akan kembali hatinya akan panas membara, karena Bu Retno dari dulu tukang ngegosip.
Namun dengan cepat Haris berkata.
"Bu, kita pulang saja ke Bekasi, Haris biar nginap di rumah Ibu, sambil meunggu ada kabar dari Cintya," Haris membujuk Ibunya, dan mengusap badan Ibu, agar Ibunya terlihat lebih tenang.
***
Akhirnya Ibunya Haris, luluh juga. Dia mau di ajak pulang oleh Haris.
Di dalam mobil.
"Awas ya, kalau nanti, Ibu bertemu si Cindy, Ibu mau jambak rambutnya, dasar perempuan tidak tahu di untung, sudah selingkuh, menguras harta pula! dan ini anaknya, terlalu bodoh, di permainkan oleh perempuan seperti itu, dari dulu diam saja, kesel aku!' Ibu terus saja mulutnya tidak berhenti mengoceh.
***
Terlihat Haris sangat terganggu dengan Ibunya yang mulutnya tidak mau diam, seakan tidak capek dan tidak puas untuk memarahi mantan menantunya itu.
Haris membelokkan mobilnya ke restoran. Sengaja Haris memilih restoran yang di penuhi dengan pepohonan hijau di sekitar tempat itu. Udaranya sangat sejuk, dan nyaman.
Haris berpikir agar Ibunya, merasa rileks dulu pikirannya, kalau perutnya di isi makanan. Dan dengan situasi sejuk di tempat tersebut setidaknya hati Ibunya, tidak akan tersulut emosi kembali dan bisa meredam.
***
Setelah selesai makan, mata Ibu berselancar mengelilingi pemandangan sekitar. Ibu terlihat menghela napas secara perlahan.
Melihat Ibunya, yang terlihat tenang pikirannya, barulah Haris memulai pembicaraan dengan Ibunya.
"Bu, maafkan Haris atas tingkah laku Cindy, selama dia menjadi menantu Ibu. Mungkin dia kurang baik perilakunya dan menyinggung perasaan Ibu, sebagai mertuanya. Dan sekarang dia kembali membuat ulah," Haris memegang erat jemari Iibunya itu.
Nampak dari sorot mata Haris, dia begitu sangat sayang kepada Ibunya.
Mata Haris berkaca-kaca.
Melihat mata Haris yang berkaca-kaca, ibunya Haris pun meneteskan air mata.
__ADS_1
"Ibu sangat sayang, kepada kamu nak, maafkan Ibu juga, Ibu marah-marah, semata-mata iba merasa sakit hati, kamu di tipu terus menerus sama wanita itu!" ucap Ibu mengusap lembut kepala Haris.