
Cindy di rumah baru.
Ibu Marni pun datang bersama Cindy ke rumahnya.
"Nak, ini kenalkan Cindy, kasian dia. Ibu tadi bertemu dia di mesjid. Engga apa-apa kan, dia tinggal di rumah kita," Ibu Marni mencoba membujuk anaknya, agar dia mau menerima kehadiran Cindy, di rumahnya itu.
Sesosok wanita dengan perawakan tinggi kurus, berkulit putih bersih, dan senyuman manis terlihat dari bibirnya.
Sang anak yang bernama Dea, menatap Cindy sangat lekat.
"Boleh, Bu. Kasian juga dia kalau harus tinggal di jalanan nggak apa-apa ko, tinggal disini," ucap Dea terlihat ramah sekali, seakan nyaman yang memandang.
*****
Dea sang anak, berjualan di teras rumah, pagi-pagi dia berjualan nasi kuning, gorengan bakwan dan lontong sama seperti Ibunya. Sedangkan siang sampai sore dia berjualan kopi dan mie rebus. Kebetulan di dekat rumahnya ada beberapa kantor, jadi para karyawan suka membeli kesana.
Bu Marni berjualan dengan berkeliling kampung, jadi tidak bisa menemani anaknya berjualan di rumah.
"Ya, biar kamu ada teman, Nak. Dia juga bisa jagain warung Kan kamu bilang, kalau di tinggal ke pasar atau kamu lagi melakukan aktivitas lain, warung gak ada yang jaga," sambung lagi Bu Marni.
"Namanya siapa Kak?" Dea mengulurkan tangannya. Dea anak yang ramah dan terlihat santun.
"Cindy.." ucap Cindy sambil tersenyum. Nampak dari raut muka Cindy, terlihat senang sekali karena anak dari Bu Marni, terlihat sangat baik dan sopan. Dalam hati Cindy, dia sangat bersyukur bertemu dengan orang baik seperti Ibu Marni dan Dea.
Kemudian Bu Marni membawa Cindy ke kamar. Kebetulan rumah Bu Marni kamarnya ada tiga. Jadi ada yang kosong satu.
"Ini kamar kamu Nak," ucap Bu Marni.
Bau apek keluar menyengat dari dalam kamar. Mungkin kamar tersebut sudah lama tidak di tempati.
Mungkin beda jauh dengan kamar Cindy, rumah yang dulu dia tempati bersama Haris. Kamar sangat nyaman dan dengan kasur dan bantal yang empuk.
"Ini ada kasur tapi sudah lepek, tidak apa-apa ya," ucap Bu Marni.
Di dalam kamar tersebut, tidak ada apa-apa, hanya ada kasur yang tipis yang di gelar, beserta selimut yang sudah lepek.
Dalam hati Cindy, berpikir tidak apa-apa dari pada dia hidup di jalanan, tidak tentu arah.
*****
__ADS_1
Malam pun tiba.
Terlihat Bu Marni, sedang mempersiapkan barang dagangan yang akan di olah pagi hari. Untuk berjualan olehnya dengan berkeliling kampung, dan di jual di rumah yang di dagang kan oleh Dea, sang anak.
Lalu dia berlalu ke dapur, tapi dia sebelumnya membuka gorden dengan sangat pelan sekali, Bu Marni menengok Cindy yang sedang tertidur lelap. Cindy sangat lelap tidurnya. Mungkin selama ini dia tidur dimana saja, dan terganggu tidurnya karena hidup di jalanan.
"Kasian wanita itu, aku belum sempat nanya sebenarnya dia itu siapa? tapi aku yakin dia bukan dari keluarga biasa tapi berada. Mungkin juga dia kabur dari rumah tapi dia belum sempat bercerita karena malu atau sedang ada masalah? Tapi nanti pasti aku akan bertanya siapakah dia sebenarnya, aku nunggu saat yang tepat," gumam hati Bu Marni, ketika menatap Cindy yang sedang tertidur lelap.
*****
Jam menunjukkan pukul lima, Bu Marni pun pergi untuk menjajakan dagangannya. Nampak Dea sang anak sedang sibuk menggoreng, sementara Cindy meskipun dalam keadaan lumpuh dia terlihat duduk menunggu pembeli.
Cindy ketika berada di rumah adiknya yaitu Cintya, entah mengapa Cindy sangat manja dan suka mengamuk. Tapi ketika berada di rumah orang lain, dia seperti sehat keadaan badannya, mungkin karena keadaan dan situasi yang memaksa dia untuk bersifat tegar dan kuat.
Setiap pembeli dan tetangga bertanya siapakah sosok Cindy, yang berada di warung milik Dea itu.
"Ini saudaraku, yang sudah lama tidak bertemu," ucap Dea.
Dea tidak bercerita terus terang kepada tetangga dan para pembeli, Dea wanita yang pandai menyembunyikan perasaan orang lain.
****"
Dia seorang pegawai yang punya jabatan tinggi di kantornya. Dan di kantornya, dia hanya menyuruh staf dan karyawan. Tapi sekarang dia tinggal di rumah yang sederhana dan berjualan.
*****
Jam menunjukkan pukul tiga sore, Ibu Marni telah kembali ke rumah. Dia lebih awal pulang ke rumah karena barang dagangannya ada yang membeli banyak.
"Alhamdulillah hari ini jualan Ibu habis, dan tadi ada yang kasih nasi kotak tiga dus. Ayo, kita makan," Ibu mengajak Cindy dan Dea untuk memakan nasi kotak tersebut.
"Asik, makan enak," ucap Dea.
Mampak terlihat di dalam nasi kotak tersebut ada ayam bakar, tahu, tempe, perkedel udang, dan kerupuk. Beserta buah pisang dan apel." nampak Cindy menelan air liurnya, karena seminggu ini dia baru menemukan kembali makanan seperti ini.
Bu Marni terlihat bahagia karena melihat Cindy dan Dea, begitu lahap ketika makan.
"Enak Bu," ucap Dea.
"Iya, enak. Terima kasih Bu," ucap Cindy.
__ADS_1
Ibu Marni kemudian berlalu dari hadapan mereka. Dia menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya.
*****
setelah selesai mandi Bu Marni menghampiri Dea, anaknya yang sedang memainkan ponselnya.
"Nak, sedang apa?" tanya Ibunya.
Bu Marni menatap lekat ke layar ponsel milik anak ya tersebut.
Terlihat oleh ujung matanya, Dea sedang membuka layar aplikasi WhatsApp.
"Kamu sudah punya pacar ya?" Ibu Marni menggoda anaknya itu. Dengan cepat Dea, menjawab bahwa dia sekarang tidak mempunyai pacar.
"Kalau Ibu jodohkan, mau nggak?" Ibu seakan serius ketika berucap, tapi di selingi dengan tertawa membuat sang anak di hinggapi rasa penasaran terhadap Ibunya itu.
"Ada-ada saja Ibu. Aku masih kecil Bu," ucap Dea tersenyum tipis.
"Tadi Ibu berhenti di sebuah yayasan dan pemilik dari yayasan tersebut memborong semua dagangan Ibu, dia bercerita katanya ada karyawannya yang ingin menikah, sedang mencari wanita untuk di jadikan Istrinya. atau sedang mencari jodoh, kemudian Ibu bercerita Ibu punya anak gadis,..." Ibu Marni tidak meneruskan ucapannya, dia menatap lekat dan tersenyum lebar kepada Dea.
"Maksud Ibu, aku akan di jodohkan dengan lelaki itu, hehehe..." Dea tertawa terkekeh. Seakan lucu mendengar ucapan Ibunya tersebut.
"Nah, kamu mengerti maksud Ibu," Ibu tertawa dan tersipu malu.
"Ibu ko, ngelantur sih, aku masih kecil!" ucap Dea, memalingkan mukanya.
"Ibu waktu dulu menikah usia 17 tahun loh," ucap Bu Marni.
"Dulu dan sekarang itu beda Bu," Dea seakan mencoba meyakinkan Ibunya, bahwa di jaman sekarang pernikahan usia dini jarang terjadi.
Ibu menghela napas panjang.
Dia ingin anaknya segera menikah biar ada yang ngurus, dan jodoh yang di berikan olah Pak Yunus ketua yayasan itu bukan orang sembarangan, dia baik dan sudah mapan punya usaha.
Melihat sang Ibu seperti sedang melamun lalu Dea, terlihat mengkhawatirkan keadaan Ibunya tersebut.
Mungkin dengan dia menikah usia muda bisa sedikitnya membantu urusan perekonomian Ibunya, dan Dea ada yang ngurus, dan tidak perlu lagi berjualan.
"Aku tidak mau mengecewakan Ibu, jika Ibu menginginkan aku untuk segera menikah aku nurut saja, dan kalau lelakinya menurut Ibu baik aku mau menerimanya Bu," pandangan Dea menunduk dan dia seakan pasrah menerima kenyataan yang di berikan oleh Ibunya tersebut.
__ADS_1
Ibu Marni lalu memeluk Dea, anaknya tersebut. Dia anak yang penurut dan tidak pernah membangkang terhadap Ibunya. Semenjak Bapaknya meninggal Dea, sangat sayang Ibunya. Dia takut Ibunya meninggalkan dirinya seperti Bapaknya. Jadi dia selalu berbakti kepada Ibunya.