Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 54 Cindy Telat Datang Bulan


__ADS_3

Cindy terlihat badannya nampak lemas, dan rasa ngantuk terasa menyelimuti matanya.


Kemudian dia memanggil Mbak Eka, yang sedang masak di dapur.


"Mbak, belikan obat untuk masuk angin ke Apotek!" Cindy kemudian memberikan sejumlah uang.


Mbak Eka pun tergopoh-gopoh keluar dalam dapur. Terlihat sangat khawatir ketika melihat sang majikan dengan memakai jaket tebal, dan mukanya sangat pucat.


"Meriang ya Bu, mau di kerokin Bu?" Mbak Eka menawarkan Cindy untuk di pijit badannya.


Cindy hanya menggelengkan kepala.


"Mual, muntah-muntah, kepala pusing!" Cindy terlihat mengeluh, kemudian Cindy merebahkan badannya di Sofa.


***


Mbak Eka pun berlalu ke Apotek, untuk membeli obat masuk angin dan mual.


***


Tidak lama kemudian Bram menelepon Cindy.


Dia menanyakan kondisi Cindy yang sedang sakit. Sangat di hinggapi rasa khawatir Bram ketika berucap.


{"Aku jadi khawatir untuk pulang, Aku sehari lagi besok tinggal di Bogor, kamu enggak apa-apa kan, kalau Aku pulang, nanti bulan depan Aku kembali lagi,"} ucap Bram


{"Aku tidak apa-apa, kayaknya masuk angin saja, kalau kamu mau pulang, nggak apa-apa!"} jawab Cindy, dalam hatinya di hinggapi rasa berat jika harus di tinggalkan oleh Bram.


***


Keesokan harinya Cindy menelepon kembali kepada Bram, dia mengabarkan telat datang bulan, sudah dua minggu. Cindy begitu gugup ketika berucap.


Ada rasa takut dalam dirinya, takut jika telat datang bulan kemudian hamil. Sedangkan dia selama ini tidak berhubungan dengan suaminya Haris.


"Terakhir aku menumpahkan rasa belaian dari seorang lelaki yaitu, Bram! Ya, aku lagi mabuk berat!" gumam hatinya


Kemudian Cindy memejamkan matanya, dan ketika perlahan dia membuka matanya bulir putih pun menetes di ujung matanya.


Rasanya penyesalan mungkin ada di dalam hatinya, tapi entah mengapa napsu lah yang mengalahkan segalanya. Rasa kesepian yang teramat selalu menghinggapinya.


Haris yang tidak pernah menyentuh tubuhnya lagi, seakan membuat Cindy semakin nekat untuk lebih berpetualang dengan asmara napsu yang tidak seharusnya dia lakukan.


"Aku butuh belaian, butuh cumbuan, dan kehangatan tubuh Haris. Tapi itu semua tidak aku dapatkan!" Cindy dadanya sesak, beradu antara menyesal dan puas.


Menyesal dia tidak dapatkan dari suaminya, puas karena dia dapatkan dari Bram


***


Napsu mengalahkan segalanya, begitu sekarang yang terjadi dengan Cindy.


Cindy yang dulu nampak alim, penurut terhadap suami, tidak pernah membantah.


Sekarang sungguh berbeda.

__ADS_1


***


"Mbak, Ibu Cindy nya nggak kelihatan, biasanya setiap pagi ngeluarin mobil sedannya," tanya Bu Retno, tetangga sebelah. Mbak Eka pagi itu sedang menyapu halaman rumah.


"Ibu sakit," Mbak Eka nampak tersenyum ramah.


"Sakit apa?" tanyanya lagi.


"Kecapean mungkin!" Mbak Eka mulai tidak nyaman dengan pertanyaan yang bertubi-tubi dari tetangganya yang kepo tersebut.


"Iya lah, pasti capek, pulang selalu malam dan kadang pagi," Bu Retno tersenyum sinis.


Mbak Eka membalas dengan tersenyum tipis,


Karena merasa terganggu dengan ucapan tetangganya itu, lalu Mbak Eka berlalu dari hadapan tetangganya itu.


"Bu, aku pamit, lupa belum matiin kompor, lagi masak air," Mbak Eka, berlalu dari hadapan Bu Retno,.


***


Ketika Mbak Eka memasuki rumah,


"Mbak, obat yang kemarin nggak cocok, aku masih meriang ini," ucap Cindy, keluar dari kamarnya.


"Mbak, buatkan air jahe ya, mau? biar hangat badannya," Mbak Eka menawarkan air jahe kepada Cindy, dan dia pun berlalu menuju dapur.


Cindy kemudian duduk di Sofa, dia terlihat sangat berpikir begitu serius. Dia sedang memikirkan perutnya yang belum juga datang bulan,.


Cindy dihinggapi rasa khawatir kemudian dia menelepon Bram,


Mendengar Cindy berbicara seperti itu, Bram sontak terkejut. Langsung minta Cindy untuk membeli obat atau ramuan agar tidak terjadi hamil.


{"Aku transfer uangnya, bagaimanapun kamu jangan sampai hamil! Ya, aku ingin mempunyai anak, karena pernikahanku dengan Zhira sampai saat ini belum di karunia seorang anak. Tapi bukan dengan begini, kita kan belum menikah dan punya pasangan masing-masing!" Bram seakan menyalahkan Cindy.


"Kamu, Kenapa jadi nyalahin aku!" Cindy pun terdengar kesal ketika berucap.


"Bukan nyalahin, aku hanya sekarang belum siap!" Bram pun terdengar kesal ketika berucap.


Percekcokan pun akhirnya terjadi di antara mereka berdua.


Cindy ketika menelpon nada bicaranya keras, Mbak Eka pun yang sedang berjalan menuju ke arah Cindy, tanpa sengaja mendengar obrolannya.


Prak..


Suara gelas pun terdengar jatuh,


Mbak Eka yang sedang membawa secangkir air jahe hangat untuk Cindy, dengan tiba-tiba menjatuhkan gelas yang dibawa olehnya.


"Mbak...!" sontak Cindy memanggil.


"Maaf, Bu, licin!" terdengar suara Mbak Eka bergetar, dan dengan cepat dia membersihkan pecahan gelas yang berceceran.


Cindy terdiam, dan dihinggapi rasa khawatir. Jika ART nya itu mendengar obrolannya barusan dengan Bram.

__ADS_1


***


Didalam dapur Mbak Eka di hinggapi rasa penasaran.


"Apa aku nggak salah dengar," pikirannya tidak karuan.


"Mbak..!" tiba-tiba Cindy datang menghampiri nya ke dapur. Terlihat Mbak Eka terkejut.


"Iya.. Bu!" Mbak Eka tertunduk.


"Kenapa barusan Mbak, bawa air sampai jatuh?" Cindy bertanya demikian karena di hinggapi rasa khawatir kalau ART nya itu mendengar semua obrolannya bersama Bram.


"Maaf, Bu, tadi licin. Terus pikiran saya terasa masih di kampung, jadi saya teledor menumpahkan air jahe yang berada di dalam gelas," Mbak begitu gugup ketika berucap, dan berusaha di depan Cindy pura-pura tidak mendengar semuanya obrolan majikannya itu.


Tapi Cindy terlihat ragu dengan ucapan Mbak Eka, karena Mbak Eka dari mukanya terlihat menyimpan rasa kaget dan tanda tanya.


"Mah, suara apa barusan?" Rara tiba-tiba datang ke dapur.


"Barusan Mbak Eka, lagi melamun bawa air jahe, dan lantainya licin jadi tumpah airnya di gelas," ucap Mbak Eka.


Dia mengalihkan rasa penasaran Cindy kepadanya, dengan mengajak ngobrol Rara, kemudian Mbak Eka membujuk Rara untuk segera mandi.


Cindy pun berlalu dari dapur, dan dia kembali duduk di Sofa. Pikirannya melamun memikirkan obrolannya barusan dengan Bram.


Ting...


Terlihat pesan masuk, Bram mengirimkan gambar foto bukti dia sudah mentransfer sejumlah uang.


Begitu besar jumlah uang yang kirim oleh Bram.


Mungkin karena dengan uang juga Cindy merasa nyaman ketika berada dengan Bram.


Berbeda dengan Helmi, yang memeras uangnya Cindy.


Cindy menghela napas secara perlahan, kemudian dia menelepon Clara, Cindy pun mengungkapkan semua isi hatinya kepada sahabatnya itu.


{"Besok aku antar untuk beli pil untuk bisa cepat datang bulan. Kamu kenapa kurang hati-hati!"} Clara terdengar memarahi Cindy.


Cindy hanya terdiam ketika Clara memarahinya.


Setelah Cindy menutup sambungan teleponnya dengan Clara lalu panggilan telepon masuk, terlihat nama Haris muncul di layar ponsel, Cindy seakan ragu untuk mengangkat telepon dari suaminya itu karena pikirannya sedang kalut.


"Mah, Papa menelepon, kenapa nggak di angkat!" Rara tiba-tiba datang, terlihat baru saja mandi. Rambutnya basah dengan memakai handuk di kepalanya.


Terus saja ponsel Cindy bergetar, Rara pun terlihat heran karena Mamanya, tidak mau mengangkat telepon dari Papanya.


"Bilang saja, Mama sedang tidur, sakit!" kemudian Cindy memberikan ponselnya kepada Rara, dan Rara pun akhirnya mengangkat telepon dari Papanya.


{"Pah, Mamanya lagi tidur, sakit,"} Rara ketika berbicara melirik Cindy.


{"Sakit apa?"} Haris bertanya kembali.


Rara tertegun sejenak, seakan lagi berpikir.

__ADS_1


{"Nggak tahu, katanya pusing!"} Rara pun menutup sambungan teleponnya.


Cindy hanya membuang napas kasar.


__ADS_2