Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 31 Perkenalan Dengan Helmi


__ADS_3

Meskipun Haris sudah memaafkan Cindy sang istri namun kedekatan Haris sama Cindy tidak seindah dulu. Haris yang perhatian meskipun dalam menunjukkan perhatiannya tidak seromantis Bram. Nampak Haris terlihat cuek tapi Cindy mencoba untuk sabar dan memahami hal tersebut.


"Pah, Aku ditugaskan oleh kantor ke Bali ada acara pertemuan disana sama relasi bisnis, tapi banyak ada sepuluh orang," ucap Cindy mencoba meyakinkan Haris. Semenjak dia ketahuan selingkuh Cindy begitu hati-hati dalam melangkah dan berucap kepada sang suami, dia tidak mau gegabah dalam menentukan sikap dan tindakan.


Setelah Haris berpikir lama dan melihat tulisan di kertas agenda, nama-nama yang ikut tugas pergi ke Bali itu siapa saja, langsung Haris menyetujuinya. Begitu senang hati Cindy karena dia ingin berlibur juga dan terasa sumpek dengan aktifitas yang selama ini dia emban.


***


Keesokan harinya Cindy pun di antar Haris ke kantornya, setelah tiba di depan kantor Cindy pun mencium punggung Haris lalu berpamitan kepada sang suami. Sikap Haris dingin sekali hanya tersenyum datar ketika Cindy turun dari mobil Haris. melihat perlakuan sang Suami, Cindy hanya menghela napas secara perlahan.


Cindy pun berjalan ke ruang depan yang biasa disana tempat tamu di jamu oleh kantor.


"Cindy, ini Aku bawa makanan kesukaan kamu!" ucap Clara sahabat Cindy di kantor yang tiba-tiba datang dari arah belakang.


Clara mengeluarkan beberapa kue basah kesukaan Cindy.


Tiba-tiba bau parfum menyengat ketika seorang lelaki lewat di hadapan mereka, dengan berpakaian rapih.


"Pak Helmi! wangi sekali," ucap Clara.


Helmi adalah pegawai baru yang dulu saat pandangan pertama Cindy terpesona melihat sosok lelaki ini.


Helmi tersenyum lebar dan melirik Cindy, dan Cindy pun tersenyum tipis. Helmi berkulit putih bersih dan pakaiannya tiap hari rapih, dia seorang duda mempunyai anak dua yang satu Anak pertama sudah menikah, dan kedua masih sekolah di bangku SMP. Istrinya dari Helmi sudah lama meninggal.


Meskipun jabatan Helmi hanya staf biasa di kantornya namun Helmi sangat cerdas jika sedang di adakan rapat di kantor dia selalu mempunyai ide-ide cemerlang.


Sebenarnya Cindy kagum dengan sosok Helmi namun Cindy seakan cuek karena dulu dia dekat dengan Bram.


"Pak Helmi, ikut kan ke Bali?" tanya Clara. Helmi menganggukkan kepala dan tersenyum.


Helmi pun berlalu dari hadapan Cindy dan Clara.


"Bu, gemes ya muka Pak Helmi, meskipun sudah tua," bisik Clara, tertawa terkekeh. Cindy hanya diam dan memandangi Helmi yang sedang berjalan menuju ruangannya.


***


Singkat cerita Cindy pun tiba di Bali, Cindy satu kamar bersama Clara, tanpa sengaja Helmi datang ke kamar Clara memberitahukan untuk makan malam.


"Yu, kata Pak Hengki makan malam sudah tersedia, Helmi melirik Clara, dan tiba-tiba Cindy keluar dari kamar mandi dengan rambut yang basah dan wajah polos tanpa make-up, entah mengapa Helmi terpesona melihat kepolosan Cindy. Helmi menatap Cindy, dan Cindy pun seakan malu ketika Helmi menatapnya.


"Maaf, Aku keluar ya?" ucap Helmi tersipu malu, Clara tertawa melihat kepolosan dan tingkah Helmi itu.


"Awas ya, kamu putus dari Bram jangan terpesona sama lelaki duda itu," telunjuk Clara menunjuk ke arah Helmi yang baru saja keluar dari kamar.


"Ah, kamu sudah gila ya? kamu anggap Aku wanita apa?" ucap Cindy sambil melempar handuk basah yang baru saja nempel di kepala Cindy. Clara kembali tertawa lebar.


Makan malam pun di mulai, disana ada live musik dan Helmi pun menyanyikan sebuah lagu yang liriknya begitu menyayat hati Cindy. Lagu itu menceritakan tentang sepasang kekasih yang tiba-tiba putus dan kekasih harus bisa merelakan sang kekasihnya pergi karena ada mantan yang menunggu.

__ADS_1


"ko' itu cerita Aku banget," gumam hati Cindy. Pandangan Cindy lekat ke arah Helmi, sosok Helmi begitu sederhana dan tidak bosan di pandang.


"Tidak! Aku tidak boleh mencoba untuk mendekati lelaki lain selain suamiku," Cindy kembali berkhayal.


Acara pun usai, Cindy dan Clara kembali ke kamarnya, tiba-tiba pintu ada yang mengetuk.


Tokk..


Tokk..


Tokk...


"Siapa?" ucap Clara dengan lantang dia berbicara.


"Helmi." terdengar suara diluar pelan.


Lalu Clara membuka pintu, ketika pintu terbuka lalu Clara menatap Helmi, dan di tangannya membawa mantel.


"Ini punya Bu Cindy ya?" ucapnya sambil menyerahkan mantel itu kepada Clara.


"Loh, Pak Helmi dapat dari mana mantel ini?" tanya Clara.


Tiba-tiba Cindy datang menghampiri


"Ya, itu mantelku barusan ketinggalan di lobby," Cindy tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada Helmi. Mendapati senyuman yang tulus dan manis dari Cindy entah mengapa Helmi di hinggapi rasa senang yang amat sangat.


***


Setelah Helmi kembali ke kamarnya lalu Helmi melihat pesan dari group kantor, dan dia mencari nomor Cindy. Kemudian Helmi memberikan pesan kepada Cindy.


{"Maaf barusan mengganggu istirahatnya, padahal Aku kembalikan besok pagi saja ya, mantelnya."} terlihat pengirim Helmi.


Melihat ada pesan muncul dari Helmi, Cindy terlihat senyum sendiri. Lalu Cindy membalas dengan emotion gambar senyum.


Helmi merasa senang ada balasan dari Cindy kemudian Helmi menyapa kembali.


{Kenapa belum tidur?"}


Lagi-lagi Cindy membalasnya dengan emotion gambar senyum dan menambahkan kata.


"Belum bisa tidur,"


Dan Akhirnya mereka minta janjian di lobby. Cindy pun ijin keluar kepada Clara tapi dia tidak bicara yang sebenarnya bahwa dia akan bertemu dengan Helmi.


Setiba di Lobby Cindy duduk sambil memesan kopi, dan tiba-tiba Helmi datang dengan memakai kaos dan celana pendek terlihat muda ketika Cindy memandang Helmi, tatapan Cindy seakan tidak bosan untuk memandanginya.


Mereka pun ngobrol, banyak yang Helmi ceritakan kepada Cindy. Soal Anaknya yang gede yang sudah menikah dan Anaknya yang masih duduk di kelas bangku SMP bernama Rara.

__ADS_1


"Ko' nama kita sama ya?" ucap Cindy tertawa lepas.


"Masa sih, berarti kita jodoh!" canda Helmi.


Terasa akrab antara Cindy dan Helmi, dan tidak ada jarak di antara mereka.


Helmi yang senang bercanda membuat Cindy bisa tertawa lepas, kesedihan dia karena kehilangan Bram yang belum sepenuhnya dia ikhlaskan, dan merasa bersalah terhadap suami seakan masalah tersebut numpuk di kepala Cindy.


"Ternyata Pak Helmi senang becanda ya?" Cindy kemudian meneguk secangkir kopi yang sudah hampir dingin.


"Jangan panggil Pak, Helmi saja. Umur kita sama loh, dan biar akrab kalau kita panggil nama masing-masing," ucap Helmi tersipu malu.


"Iya, Iya, jadi Aku panggil nama nih?" Cindy terlihat manja ketika berucap. Helmi menganggukkan kepala dan tersenyum renyah.


"Oke, Helmi," Cindy membalas dengan senyuman.


Tak terasa jam menunjukkan pukul dua pagi, ketika melihat jam yang menempel di dinding sudah pagi, Cindy kaget karena waktu begitu berlalu saking asiknya mereka bercerita satu sama lain.


"Besok kita sambung dulu ya," ucap Cindy. Lalu Cindy berdiri yang sedari tadi terasa nyaman duduk di lobby Hotel. Helmi pun mengantarkan Cindy ke kamarnya.


"Selamat tidur ya," Helmi tersenyum dan mencolek pipi Cindy.


Cindy mukanya merah padam dan tersipu malu. Helmi pun berlalu dari hadapan Cindy.


Krekkk.


Sangat pelan Cindy membuka pintu kamar takut Clara sahabatnya bangun dari tidur. Jalan Cindy mengendap-endap.


Tapi tiba-tiba Clara keluar dari dalam kamar mandi, dan Cindy pun di hinggapi rasa kaget.


"Aduh, kamu Clara ngapain malam-malam di kamar mandi?" Cindy terkejut. Clara hanya tertawa.


"Harusnya Aku yang nanya Bu! ngapain malam-malam baru masuk kamar. Dari mana saja?" Clara balik nanya ke Cindy, dan Cindy hanya tersenyum tipis.


"Tidak penting kamu bertanya seperti itu." ucapnya. Cindy kemudian memejamkan matanya berharap Clara tidak lagi mengintrogasi nya kembali.


Setelah Clara terlelap tidur, Cindy membuka ponselnya lalu dia melihat layar ponsel itu dan membuka aplikasi WhatsApp disana terlihat Helmi masih online, dan Cindy berpikir berarti Helmi belum tidur.


{"Kenapa belum tidur?"} pesan yang belum terkirim lalu Cindy hapus dan dia tidak jadi untuk mengirimkan pesan tersebut.


Ting...


Tapi tiba-tiba pesan muncul dari Helmi dengan mengucapkan hal yang sama.


{"Kenapa belum tidur?"} sebelum membalas pesan dari Helmi, Cindy tertawa geli dan dia hanya memberikan emoticon gambar tertawa.


{"Loh, kenapa ada yang salah?} balas Helmi lagi.

__ADS_1


{"Yasudah, Aku tidur ya, kita besok sambung lagi,"} balas Cindy. Kemudian Cindy mematikan ponselnya. Dia berusaha memejamkan matanya agar bisa tidur, dia berharap benih cinta tidak terjadi lagi kepada dirinya terhadap lelaki lain.


__ADS_2