
Di rumah Friska.
"Tidak terasa hari pernikahan kamu, tinggal menghitung hari, sebentar lagi. Kalau kata orang Sunda harus di "Pingit" atau diam di rumah. Jangan kemana-mana! Nah, ini dari kemarin terus saja jalan-jalan, sama Zhira. Ibu khawatir loh, Nak." ucap Ibunya Friska. Karena melihat sang anak sangat sibuk untuk urusan kerja. Dan keluar rumah terus dengan saudaranya Zhira.
"Ya, Bu. Urusan kerja juga ibadah kan, bantu orang. Hehehe.." jawab Friska, mencoba menghibur hati Ibunya itu.
*****
Terlihat Zhira sedang asik menelepon, tapi raut mukanya seakan kesal penuh amarah.
"Hai, kamu harusnya sadar diri ya! kamu yang dulu merebut suamiku. Dan kamu tidak tahu malu merebut suami orang, sedangkan kamu itu, punya suami dan anak gadis. Wanita tidak tahu diri!" ucap Zhira menggebu-gebu.
Friska dan Ibunya terbelalak matanya, melihat reaksi Zhira, yang terlihat marah-marah.
"Ada apa, siapa yang menelepon!" Ibunya Friska, melirik Friska dan terlihat penasaran. Melihat Zhira ketika menelpon terlihat marah.
Sangat lama Zhira, menerima sambungan telepon dari seorang Wanita itu.
"Wanita, perebut suami orang. Dasar tante-tante, Gatel!" Zhira terlihat penuh emosi dan amarah.
Kemudian Sambungan telepon pun akhirnya di tutup oleh Zhira, dengan raut mukanya yang cemberut.
"Kenapa wanita ini, tiba-tiba menelepon aku kembali. Sial..!" gumam hati Zhira.
*****
Friska menghampiri Zhira.
"Telepon dari siapa? kelihatannya kamu sangat marah sekali. Tenang!" Friska memberikan air mineral kepada saudaranya yang sangat di sayangnya.
"Mantannya,Bram!" jawabnya.
Bulir putih pun akhirnya menetes dari ujung matanya.
"Hai, kenapa..!" Friska terlihat di hinggapi rasa heran, melihat saudaranya itu tiba-tiba meneteskan air mata.
Friska lalu memeluk erat tubuh Zhira.
*****
"Jangan mengingat lagi Bram, kamu sekarang sudah ada Wisnu kan? fokus lah sama Wisnu. Aku percaya Wisnu sosok lelaki yang baik, tidak akan menyakitimu," ucap Friska.
"Tapi wanita itu yang memulai duluan telepon, dia yang menghancurkan rumah tanggaku!" Zhira kesal.
"Cindy..?" tanya Friska.
Zhira menggelengkan kepalanya.
"Lalu siapa?" sambung Friska.
*****
Zhira membuang napas kasar.
Dia mengingat masa lalu bersama Bram. Sungguh hancur hatinya. Sebelum Bram berselingkuh dengan Cindy, dia dekat dengan seorang wanita yang sudah bersuami.
Wanita ini begitu membuat Zhira, terpuruk sampai dia pergi dari rumah mertua, dan pindah ke Kalimantan.
"Pasti ada pembalasan buat kamu Sherly!" gumam hati Zhira.
__ADS_1
******
Tiba-tiba Ibunya Friska memanggil Friska, lalu melambaikan tangannya.
Friska menghampiri Ibunya tersebut.
"Ada apa Bu?" tanya Friska.
"Udah jangan mengungkit masa lalunya. Ibu tahu. Pasti, Zhira di teror terus oleh Sherly kan?" tanya Ibu.
Friska menganggukkan kepalanya.
"Ouh jadi Serly, bukan Cindy ya! Ko, Ibu tau, sih!" tanya Friska.
"Tahu lah, Ibunya Zhira pernah cerita dan Sherly lebih licik dari Cindy. Dia tinggal di Bandung. Padahal suami dari Sherly itu orang yang tegas. Kerja nya juga di kepolisian. Tapi Bram dan Sherly mereka nekat. Aneh ibu juga," ucap Ibu.
"Ibu tahu ko, rumahnya." ucap Ibu.
"Kapan kita ke rumahnya, Bu! Hehehe.." tanya Friska menggoda.
"Ngapain kita kesana?" Ibu terlihat marah.
"Mau menjambak wanita itu! Hahaha...." Friska tertawa terbahak.
"Ada-ada saja," jawab Ibu.
*****@@@*****
Zhira menelepon Wisnu
{"Mas, aku di teror terus sama Sherly. Mantan dari Bram,"} ucap Zhira. Terdengar kesal ketika berucap.
{"Minta nomor teleponnya Bram, aku juga aneh. Mungkin dia lagi kekurangan uang. Dulu Bram suka memberikan modal untuk usaha,"} ucap Zhira.
Sherly, wanita yang sudah mempunyai suami dan anak. Dulu dia berselingkuh dengan Bram. Sedangkan suaminya mengetahuinya perselingkuhan itu, namun sampai sekarang suaminya, masih mencari keberadaan Bram.
{"Ya sudah kamu jangan tanggapi saja, gampang!"} ucap Wisnu.
{"Mas, kita jadi kan keluar?"} tanya Zhira.
"Iya, sebentar lagi, aku ke rumahmu." jawabnya.
Wisnu dengan Zhira mau membawa pesanan cendramata, yang sudah di pesan untuk acara pernikahan Friska.
*****
Wisnu pun datang.
"Bu, kata Zhira, dia di teror terus oleh Sherly. Ibu tahu yang namanya Sherly?"
tanya Wisnu kepada ibunya Friska.
"Ibu tahu, alamat rumahnya saja. Dari ibunya Zhira. Tapi mungkin sekarang sudah pindah rumahnya. Sudah lama juga," jawab Ibu.
Tidak lama kemudian Zhira pun datang dengan muka yang tidak sedap di pandang.
Wisnu seakan tahu isi hati dari sang kekasih, dia sedang malas untuk berbicara.
"Yu kita pergi, sudah siap kan?" Wisnu pun berlalu dari rumah Friska dan berpamitan dengan Ibu dengan menggandeng tangan Zhira keluar.
__ADS_1
*****
Dalam perjalanan.
Setelah mereka mengambil cendramata pesanan dari Friska. Lalu mereka melanjutkan perjalanan ke rumah orang taunya Wisnu.
Zhira sangat di sambut baik oleh keluarga dari Wisnu. Rumah Wisnu di pusat kota. Anak Wisnu seorang model.
"Nak, kenalkan ini calonnya Papa, namanya Tante Zhira," Meri anak dari Wisnu yang baru menginjak sekolah SMA kelas satu itu mengulurkan tangannya.
"Sisil.." ucapnya.
"Sisil cantik ya?" kata Papa, Sisil hobinya di foto ya?" tanya Zhira.
Sisil menganggukkan kepalanya
"Ouh, ya temannya Tante, lagi butuh model untuk pakaian remaja. T shirt merk terkenal di Bandung. Kayaknya kamu cocok deh," ucap Zhira.
Sisil terlihat senang.
"Boleh Tante, lumayan uangnya buat di tabung!" jawabnya.
"Anak pintar!" Zhira mencubit lembut pipi anaknya Wisnu.
Selama ini Sisil, di antar oleh Ibunya Wisnu, kemanapun dia pergi. dan jika ada acara fashion show pun yang mengantar adalah Ibunya Wisnu.
"Kapan Sayang, ada acara fashion Show, lagi? Tante mau lihat! Ah..." tanya Zhira.
"Minggu depan, Tante," jawabnya.
Wisnu terlihat bahagia karena sang anak terlihat begitu akrab dengan kekasihnya itu. Begitupun dengan Ibunya. Wisnu merasa bahagia.
"Jadi kamu kapan akan melamar Zhira?" tanya Ibu, kepada anaknya Wisnu.
"Secepatnya, mungkin setelah acara Friska." Wisnu melirik Zhira, senyumnya mengembang.
*****
Cicil memperlihatkan foto-fotonya ketika sedang Fashion Show, kepada Zhira.
"Cantik-cantik ya, temannya," ucap Zhira.
"Ini namanya Gita. Dia usianya di atas Sisil, meskipun jutek, tapi dia baik. Apalagi dia galak kalau sama laki-laki. Hehehe...." telunjuk Sisil mengarah ke seorang temannya yang bernama Gita.
"Jadi temannya, tidak seumuran ya, tapi campur?" Zhira seakan tidak bosan, membolak-balikkan untuk melihat foto itu.
Dia seakan terpesona dengan wajah anaknya Wisnu yang terlihat cantik dan manis.
"Iya kita kan masuk management. Kebetulan nanti acara ulang tahun management, minggu depan. Makannya Tante ikut, biar lihat keseruan di management kita seperti apa." ucap Sisil.
"Yasudah, nanti Tante usahakan ya, datang sama Papahnya Sisil, untuk datang ke acaranya Sisil," ucap Zhira.
*****
Sore pun tiba, akhirnya Zhira dan Wisnu pamit pulang.
"Sayang, Tante, minta nomor teleponnya dong," Zhira mencoba mengambil hati anaknya Wisnu.
"Minta saja ke Papa, Tante!" ucap Sisil. Tersenyum manis.
__ADS_1