Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 109 Cindy kabur


__ADS_3

Cindy ingin keluar rumah.


Cindy terlihat melamun di sudut kamar, air matanya berderai tak henti menangis. Seakan ada luka disana. Dia terisak tapi sayangnya tidak ada seorang pun disana, yang mau mendengarnya atau peduli.


Mungkin yang peduli hanyalah ART nya, atau Mbak Lastri. Tapi anehnya Mbak Lastri pun seakan tidak peduli lagi terhadap dirinya.


Sedangkan Cintya sang adik, tidak kembali lagi, dia masih berada di mertuanya.


****


Cindy seakan kesal dan capek hati. Dia pun meskipun dalam keadaan lumpuh ingin rasanya keluar rumah jalan-jalan agar tidak jenuh, tapi selama ini rasa malu yang mengalahkan itu semua.


Tapi hari ini dia nekat ingin keluar rumah dan entah kemana arah yang di tuju olehnya.


Kursi roda yang dia duduki dia lajukan ke arah pintu, lalu dia buka pintu secara perlahan, kemudian dia menengok kiri dan kanan. Dia takut disana ada Mbak Lastri. Tapi keadaan aman, mungkin Mbak Lastri baru saja keluar pergi ke pasar, karena hari masih gelap di luar kira-kira pukul setengah lima pagi.


*****


Cindy menghela napas panjang.


Matanya berselancar mengelilingi semua ruangan di rumah itu.


"Aku harus pergi, tidak ada gunanya tinggal disini, aku sudah tidak di anggap.


Semua tidak peduli terhadap aku. Haris pun jahat, dia tidak mau mempertemukan aku dengan anak-anak," gumam hati Cindy nampak bulir putih kembali bercucuran di matanya.


Cindy keluar dari Rumah, dengan sangat pelan dan terlihat hati-hati, takut Mbak Lastri segera datang dari pasar.


Cindy membawa tas kecil yang berisi baju dan kue alakadarnya yang berada di meja kamarnya.


*****


Dia akhirnya bisa lolos dari rumah adiknya itu, sambil melajukan kursi rodanya dia terus menerus terisak tangis, dia memakai penutup kepala. dan masker wajah agar mukanya tidak diketahui orang.


Entah kemana tujuannya, dia pun tidak tahu. Saat ini di hatinya hanya ada rasa sesak dalam dada dan ingin berteriak.


*****


*****


*****


Mbak Lastri tiba dari pasar.


Sang ART itu, merebahkan dirinya di teras rumah, nampak dia membawa beberapa bungkus keresek yang berisi sayuran beserta lauknya. Cintya sangat pengertian dia memberikan sejumlah uang kepada Mbak Lastri, untuk biaya Kakaknya Cindy, walau hati kecilnya sangat kesal dengan kakaknya tersebut. Namun rasa tanggung jawab sangat besar terlihat dari diri sang adik.


*****


Setelah menghela napas panjang, kemudian Mbak Lastri, berlalu dari teras rumah untuk menyimpan belanjaan ke dalam dapur.


Dia duduk di meja makan, setelah sampai di dapur. Kemudian dia melihat tudung saji.


"Loh, ko' masih utuh ini sarapan pagi. Kenapa Bu Cindy, gak sarapan ya? biasa dia ambil sendiri ke meja makan," gumam hati sang ART, tersebut.


*****

__ADS_1


Mbak Lastri di hinggapi rasa heran, dia berpikir mungkin Cindy, masih tidur karena tadi ketika melewati kamar Cindy, pintu masih tertutup dan terlihat lampu dalam kamar gelap,


Mbak Lastri tadi mengintip.di celah jendela luar kamar Cindy.


Kemudian Mbak Lastri, berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya, setelah itu dia bergegas ganti pakaian. Lalu meneruskan tugasnya sebagai ART, masak yang di selingi sambil nyuci baju. Kemudian dia mengepel beberapa ruangan di sekitar rumah dan membersihkan halaman teras rumah.


*****


Heuhhhh....


Mbak Lastri, menghembus napas secara perlahan, dia seakan capek sesudah melakukan semua aktifitas sebagai ART, di rumah itu.


Kemudian mata Mbak lastri, melirik ke arah ruang tamu lalu melihat jam dinding yang berada di ruangan tersebut.


"Sudah jam sebelas, tidak terasa. Pantesan matahari menyengat terbitnya. Begitu panas," ucap Mbak Lastri.


Mbak Lastri matanya kemudian melirik kamar Cindy. Mbak Lastri merasa heran. Mengapa kamarnya terlihat gelap, padahal hari sudah siang. Dalam hati sang ART, itu di hinggapi rasa tanda. Apa mungkin masih tidur karena pengaruh obat semalaman yang memakan obat tidur, karena pukul tiga pagi Cindy, tidak bisa tidur dan dia memakan obat tidur.


*****


Sang ART, dihinggapi rasa penasaran. kemudian dia bangkit dari kursi tempat duduknya, lalu dia merasakan ada yang bergetar di saku bajunya, ternyata benda pipih berwarna hitam menyala terlihat ada telepon masuk.


Mukanya berseri melihat nama penelepon muncul ternyata Mbak Eka, ART yang mengasuh Rara dan Reza anaknya Cindy.


{"Mbak Eka, apa kabar?"} Mbak Lastri, terdengar suaranya begitu parau, dan terdengar bahagia. Ketika saudaranya tersebut menelepon sudah sekian lama tidak ada kabar.


{"Alhamdulillah, semoga kamu sehat juga ya. Gimana majikan kamu, Bu Cindy sehat juga? Terus dia suka nanyain kabar anak-anaknya tidak?"} tanya Mbak Eka, kepada ART nya Cintya, yaitu Mbak Lastri.


{"Ya Mbak, Bu Cindy selalu ngomong sama aku, dia ingin bertemu dengan anak-anaknya, terutama yang kecil Rara,} ucap Mbak Lastri.


"Mbak, waktu kita menelepon sudah dua jam, nggak terasa ya? aku mau pergi dulu sama Rara, ke supermarket. Kapan-kapan kita sambung lagi ya,"} ucap Mbak Eka.


Kemudian dia pun menutup sambungan telepon selularnya.


*****


Mbak Lastri menghela napas secara perlahan. Dia tersenyum sendiri, seakan di hinggapi rasa bahagia karena sudah di telepon sama saudaranya yang sekian lama tidak ada kabar.


"Ouh, iya. Aku kan mau lihat Bu Cindy, kenapa jam segini belum keluar dari kamarnya," gumam hatinya.


Kemudian Mbak Lastri, berjalan ke arah kamarnya Cindy. Terasa lemah lunglai capek, karena seharian dia sudah di sibukkan dengan pekerjaan rumah tangga.


Tokk...Tokk...Tokk..


Mbak Lastri, mengetuk pintu kamar yang di isi oleh Cindy, berkali-kali.


"Bu...Bu..buka!" ucap Mbak Lastri.


Dalam hatinya di hinggapi rasa khawatir dan penasaran. Khawatir takut terjadi apa-apa terhadap Cindy, dan penasaran karena beberapa kali pintu di ketuk tidak dibuka.


Apa mungkin dia tidak mau keluar karena tidak ada selera makan, seperti hari minggu kemarin, keadaan drop, jadi tidak mau makan.


Perlahan Mbak Lastri, lalu membuka pintu karena tidak ada jawaban di dalam kamar yang di tempati oleh Cindy.


Kreekkkk...

__ADS_1


Suara bunyi pintu terdengar seperti nyaring karena di dalam kamar nampak gelap gulita dan sepi.


"Bu, bangun Bu! sudah siang. Pagi ini kenapa tidak sarapan,? ayo kita makan siang Bu.


Biar Mbak, temenin." ucap Mbak Lastri.


Mbak Lastri, berbicara sambil berlalu ke arah jendela yang letaknya menghadap ke pinggir teras rumah. Dia berpikir nanti kalau dibuka jendela tersebut, akan ada pantulan cahaya yang terbit dari luar jadi ruangan kamar Cindy, tidak gelap lagi.


Sreetttt ...


Bunyi dari gesrekan gorden yang di buka lebar oleh Mbak Lastri, terdengar dengan sangat jelas. Mbak Lastri spontan mengedipkan mata, karena pantulan cahaya matahari mengenai matanya.


"Tuh, enak kan kalau udara masuk ke kamar, seger dan kamar tidak sumpek." ucapnya.


Mbak Lastri, beberapa langkah kakinya di pijak kan, ke arah kasur yang selalu menjadi tempat istirahatnya Cindy.


Dia dengan sangat hati-hati membuka selimut yang menyelimuti penuh, yang terlihat menyembul seperti badannya Cindy.


Namun betapa terkejutnya ketika dia membuka selimut tersebut, karena yang tersembunyi di balik selimut itu bukan Cindy, akan tetapi bantal guling yang di selimuti.


Mbak Lastri sontak terkejut, dadanya tiba-tiba berdebar begitu cepat. mukanya pucat pasi.


"Bu, kemana kamu..!!" Mbak Lastri, berteriak.


Dia seperti salah tingkah. Entah apa yang akan di lakukannya saat itu.


Dia berlari ke luar, begitu panik.


"Gusti.. apa yang harus aku lakukan, kemana dia? Apa dia kabur, atau dibawa sama Bu Cintya. Mbak Lastri, di hinggapi rasa bingung yang teramat.


Akhirnya Mbak Lastri, mencoba menghubungi Cintya. Tapi sambungan telepon tidak diangkat oleh Cintya, begitupun ketika dia berusaha menghubungi Bagas, suami dari Cintya, tidak ada jawaban juga.


*****


Mbak Lastri, berpikir majikannya itu mungkin masih berada di sekitar daerah tersebut tidak jauh keberadaannya. Lalu Mbak Lastri, keluar rumah untuk mencari keberadaan Cindy.


Dia terlihat panik, tiap orang yang berada di daerah itu, atau orang yang sedang berlalu lalang disitu, dia tanya satu persatu.


Apakah melihat sosok Cindy?


Namun jawabannya tidak ada yang tahu, keadaan ini membuat hati Mbak Lastri, semakin dihantui rasa takut dan panik.


*****


Satu jam sudah Mbak Lastria, menyusuri jalanan dekat rumah. Mbak Lastri, terlihat sangat kelelahan.


Akhirnya peluh pun bercucuran dan air matanya menetes.


Mbak Lastri, seakan sudah pasrah dan menyerah, karena keadaan badannya, sudah tidak ada tenaga dan pikirannya kalut.


*****


Mbak Lastri pandangan terasa kabur, kepalanya pusing. Panas sangat menyengat dan dia merasa kehausan, Mbak Lastri, hanya mampu menelan air liur. Terlihat badannya gontai tidak seimbang, langkah kakinya seakan tidak bisa berpijak.


Brukk...

__ADS_1


Akhirnya dia terjatuh dan tidak ingat apa-apa lagi. Dia pun akhirnya pingsan.


__ADS_2