
Haris pulang ke rumah tepat di hari ulang tahun Anaknya, Rara. Ini mungkin merupakan kado spesial untuk Rara, karena Haris mau menyempatkan waktunya untuk pulang dari Bandung, meskipun keadaan sedang sibuk di tempat usahanya Haris.
Rencana Haris sebulan ini tidak akan pulang ke Bogor karena setelah dari Bandung, mau langsung pergi ke Solo untuk pembukaan Restoran terbarunya. Namun karena Rara, Anak kesayangannya ada acara ulang tahun jadi Haris menyempatkan diri untuk pulang.
Tiba di rumah, seperti biasa Haris di sambut gembira oleh Rara.
"Pah, kado buat Rara mana?" Rara langsung meminta kado spesial kepada sang Papa.
"Ra, Papa, baru juga nyampe rumah, belum ganti baju juga, sabar ya, Sayang!" Mbak Eka, membujuk Rara agar tidak menganggu dulu Haris yang baru saja keluar dari mobilnya.
Ketika memasuki rumah Haris sungguh sangat terpesona ketika melihat isi ruangan rumah yang di hiasi dengan nuansa warna pink, pernak-pernik untuk acara ulang tahun pun sudah siap semua. Seperti balon, Kue ulang tahun yang besar. Disana juga terpampang gambar kartun Hello Kitty kesukaan Rara, dan di teras rumah juga di sediakan photo booth untuk mengabadikan foto di momen bahagia dan berharga.
Haris tidak melihat Cindy, dari kedatangan dia sedari tadi. Mungkinkah Cindy di kamar?
Dan Mbak Eka seakan tahu isi hati Haris.
"Ibu lagi keluar, Pak!" ucapnya.
"Sama siapa?" tanya Haris.
"Sendiri, lagi beli gaun untuk Rara, buat acara besok," ucap Mbak Eka.
Haris pun terdiam lalu dia berlalu ke kamarnya untuk membersihkan badannya.
Setelah selesai mandi Haris membuka lemari, dan dia memilih-milih baju yang akan dia pakai untuk tidur, namun mata Haris tertuju ke ujung lemari karena melihat warna yang mengkilap, Haris pun merogoh nya.
"Cincin, Cindy beli Cincin lagi?" gumam hatinya. Haris memandangi Cincin tersebut sangat lekat, setelah itu Haris menaruh kembali Cincin tersebut ke tempat semula. Kemudian dia membuka laci lemari dan disana dia melihat struk pembelian ponsel seharga tiga puluh satu juta.
"Apakah ini struk pembelian dari ponsel Cindy yang baru? tapi kenapa dia gak bilang sama aku, biasanya kalau mau beli barang yang sedikit mahal bilang dulu. Mungkinkah karena dia kesal sama aku jadi beli barang mahal tidak bilang ?" Haris lagi-lagi di hinggapi rasa penasaran.
Titt....
Terdengar bunyi klakson dari luar, pertanda Cindy telah datang. Haris pun memasukkan struk pembelian ponsel ke tempat semula. Kemudian Haris keluar dari kamarnya, ketika Cindy melihat Haris seketika mukanya merah padam, dan terlihat salah tingkah. Cindy seakan dihantui rasa takut jika kebersamaannya waktu malam kemarin di Hotel bersama Helmi ada yang mengadu kepada Haris.
Setelah mencium punggung tangan suaminya itu lalu Cindy memasuki kamarnya untuk segera membersihkan badannya, kemudian mengganti baju karena dari sepulang kerja, dia tadi tidak sempat mandi.
***
Setelah selesai mandi lalu Cindy memandangi badannya sendiri di depan cermin, dalam hatinya berpikir.
Badanku masih bagus, dan terlihat masih sangat cantik, Aku tidak terlihat seperti wanita yang sudah berumur terbukti lelaki banyak menghampiriku.
"Kamu bodoh, Haris! kamu lelaki yang tidak mau bermesraan dengan wanita cantik," kembali Cindy dihinggapi rasa kesal karena seakan suaminya sudah tidak ada rasa terhadap dirinya.
Ting...
Tiba-tiba pesan muncul dari Clara.
" Rara, Anaknya Helmi sakit, dia masuk rumah sakit tadi sore" setelah membaca pesan tersebut terasa terenyuh hati Cindy sebagai seorang wanita, dan Ibu yang mempunyai Anak kecil.
Entah mengapa Cindy mengkhawatirkan Rara, Anak dari Helmi. Tanpa pikir panjang Cindy langsung menstranfer uang ke rekening Helmi sejumlah lima juta rupiah, lalu dia mengirim bukti transfer tersebut ke ponselnya milik Helmi.
Melihat Cindy mengirim sejumlah uang langsung hati Helmi begitu gembira, dia berpikir Cindy masih peduli dengannya terbukti dengan mengirimkan sejumlah uang kepadanya.
{"Terima kasih, kamu begitu peduli terhadap Anakku, Rara,"} Helmi mengirimkan pesan dengan emotion sedih.
{"Kamu mau kesini, bersama Clara?"} Helmi kembali menulis pesan.
{"Yasudah, mungkin kamu masih marah sama aku, tapi aku sangat rindu sama kamu,"} Helmi menambahkan emotion memeluk.
***
"Mah..!"
Suara teriakan Rara memanggil Cindy sangat mengagetkan Cindy, sontak Cindy keluar kamar tanpa membawa ponselnya, sedangkan ponselnya masih tersimpan rapih di atas meja rias.
***
"Ada apa, Ra? Cindy keluar dari kamar dengan wajah yang di hinggapi rasa penasaran.
"Mah, lihat, gaunnya bagus ya?" terlihat Rara sangat cantik memakai baju pembelian dari Cindy barusan.
Cindy pun tersenyum lebar melihat Rara memakai gaun yang baru saja di belikannya, Rara terlihat sangat pas ketika memakai gaun untuk dia pakai besok di acara ulang tahunnya besok.
"Cantik sekali, Anak Mama," Cindy tersenyum manis kepada Rara.
Cindy memutar badan Rara, dan Mbak Eka pun terpesona dengan gaun indah yang di pakai oleh Rara itu.
***
__ADS_1
Tiba-tiba dari ruang kerja, Haris keluar lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamar untuk mengambil tasnya yang berada di atas meja rias.
Namun ketika tangan Haris hendak mengambil tasnya, ponsel Cindy berbunyi, tanda ada pesan masuk.
Karena ponsel Cindy terletak tepat di samping tasnya Haris yang berada di meja Rias.
Ting...
{"Yasudah, selamat beristirahat, Sayang,"} pesan dari Helmi, sungguh membuat dada Haris seakan terbakar. jantungnya berdetak lebih cepat tidak karuan, tangannya gemetar ketika membaca pesan tersebut, lalu dia melihat pesan sebelumnya yang di tulis Helmi.
Mata Haris membulat ketika melihat gambar, struk transfer dari Cindy kepada lelaki itu.
"Jadi baru saja Cindy menstranfer sejumlah uang lima juta untuk Helmi?"
Haris sangat yakin kedekatan antara istrinya dan lelaki ini sudah lama karena dari pesan yang di tulis Helmi, dia sangat rindu kepada Cindy.
Dada Haris semakin bergemuruh, peluh pun mulai bercucuran, tangannya mengepal. Haris kemudian terdiam sesaat lalu dia memejamkan matanya, dan kedua tangannya menutup penuh wajahnya, bayangan perselingkuhan Cindy bersama Bram kembali muncul. Haris sangat terpukul di tambah lagi sekarang nama lain muncul.
Bulir putih pun lolos seketika dari ujung mata Haris. Semakin lama, terasa semakin membuatnya sesak. Kepala Haris pun terasa sangat berat.
***
"Coba Foto Ra, jangan dulu di ganti bajunya," Cindy terlihat gembira. Ketika melihat Anaknya menjajal baju untuk acara ulang tahun besok.
Namun ketika dia merogoh saku baju terlihat bingung karena ponselnya tidak ada disana, spontan Cindy berlari kecil ke kamarnya.
Ketika melihat Haris termangu dan seakan menahan kesal, Cindy langsung bertanya.
"Pah, ada apa?" tanya Cindy, tanpa ada rasa salah.
"Kamu tega!"
"Kamu..., Kamu tega, ya? kamu mungkin terkena gangguan mental karena kamu terus menerus melakukan perselingkuhan," telunjuk Haris menunjuk mata Cindy, dan Cindy terlihat sangat kaget.
"Ada apa, Pah?" Cindy belum menyadari juga, bahwa suaminya sudah membaca semua pesan chat dari Helmi.
"Siapa, Helmi!"
Haris membentak Cindy, dengan mata melotot.
Cindy terperanjat dadanya bergemuruh, kemudian Cindy melirik ponselnya yang masih tergeletak di meja rias. Cindy kemudian mengambil ponselnya tapi sebelum tangan Cindy meraih benda pipih itu Haris terlebih dahulu menyambar ponsel Cindy, lalu Haris banting ponsel tersebut.
Ponsel pun hancur berantakan di lantai.
Cindy berteriak dan mundur beberapa langkah karena takut Haris akan memukulinya.
Mendengar suara teriakan di dalam kamar sontak yang berada di dalam rumah terkejut, semua pandangan mata melirik ke arah kamar. Rara dan Mbak Eka pun berlari ke kamar.
***
"Mah...!" Rara membuka pintu kamar dengan di ikuti Mbak Eka.
Melihat ponsel berserakan di lantai, Rara memeluk Mamanya yang sedang menangis. Rara melihat Haris dengan sorot mata tajam. Rara seakan tahu bahwa Papanya sedang ada masalah dengan Mamanya. Kemudian Rara menarik tangan Cindy menuju keluar kamar.
***
Huh....
Haris menghela napas secara perlahan, dia lalu pejamkan mata dan menangis sesunggukkan.
Melihat Haris menangis tersedu, Mbak Eka seakan tahu isi hati dari sang majikannya itu.
Lalu dia membereskan ponsel yang berserakan di lantai.
Baru kali ini Mbak Eka, sang ART tersebut melihat Haris begitu sangat terluka terlihat dari suara tangisannya yang seakan penuh sesak.
"Sabar, Pak,"
Mbak Eka, mencoba menyabarkan hati Haris, Mbak Eka pun terlihat matanya berkaca-kaca.
"Mengapa dia mengulangi terus perselingkuhan?" Haris terbata-bata ketika berucap, dan air mata tak henti menetes membasahi pipi.
"Pak, apa sebaiknya kita bawa saja Ibu, ke kampung halaman Mbak. Biar dia nanti lebih tenang jiwanya, disana juga ada orang pinter biar dia sedikitnya kembali lagi ke jalan yang benar karena ada bimbingan," ucap Mbak Eka cukup berhati-hati ketika berucap. Takut ucapannya menyingung sang majikan.
***
Tiba-tiba Reza datang, melihat Mamanya sedang menangis dan di peluk erat oleh sang Adik, Reza di hinggapi rasa penasaran.
"Dek, Mama kenapa?" Rara tidak menjawab yang ada pandangan matanya tertuju ke arah kamar dimana disana ada Haris, dan Mbak Eka.
__ADS_1
Karena dihinggapi rasa penasaran lalu Reza berjalan menuju kamar, dan rasa heran Reza semakin menjadi ketika melihat Mbak Eka sedang membersihkan ponsel yang berantakan di lantai.
"Mbak, ada apa?" dia tidak berani bertanya kepada Papanya karena dilihatnya Haris sedang menangis tersedu.
Lalu Mbak Eka menceritakan semua yang terjadi kepada Reza dengan suara pelan, dan sangat hati-hati, itu pun sebelum bercerita dia memandangi Haris cukup lama seakan meminta ijin.
Reza terlihat dari raut mukanya sangat kecewa, dan memendam amarah yang sangat dalam. Kemudian dia keluar kamar.
Setelah berada di ruang depan dia menatap lekat sang Mama.
"Mah, Reza kecewa!" Reza seakan menahan amarah dan tangisan yang akan tertumpah.
Reza kemudian memasuki kamar, dan membanting pintu kamar dengan sangat keras.
Bruk...
Rara dan Cindy terkejut, Cindy pun semakin menjadi ketika menangis.
Mbak Eka pun keluar dari kamar kemudian dia membereskan kamar Rara, lalu dia mengajak Rara dan Cindy segera memasuki kamar untuk beristirahat.
Karena besok akan ada acara di rumah untuk perayaan ulang tahun akan banyak tamu undangan, dan jangan sampai acara spesial untuk Rara besok gagal.
***
Cindy dan Rara pun segera memasuki kamar. Melihat Cindy terlihat begitu ketakutan Mbak Eka hanya bisa mengelus dada.
"Bu, jangan banyak pikiran dulu, nanti sakit. Kasian besok Rara, kalau sampai perayaan ulang tahunnya tidak jadi, ini cobaan hidup, Ibu pasti kuat melewatinya," Mbak Eka mencoba menghibur Cindy, sambil menyodorkan teh hangat manis kepada majikannya itu.
***
Sementara Haris, dia masih sakit hatinya kepada istrinya itu. Rasa kesal, kecewa, amarah, masih lekat hinggap di dada Haris. Ingin sekali dia menghantam istrinya itu, tapi Haris bukanlah lelaki seperti itu, dia lelaki sabar jika ada kekesalan dia tumpahkan kepada barang yang ada di sekitarnya, akhirnya ponsel mewah Cindy pun hancur tidak bisa dipakai lagi.
Tok..
Tok..
Tok..
Mbak Eka mengetuk pintu beberapa kali ke tempat ruang kerja Haris, kemudian dia memasuki ruangan kerja Haris dengan membawa secangkir kopi panas.
"Mbak, ini kado buat Rara, besok kasihin ya?" Haris memberikan kotak berwarna pink kepada Mbak Eka.
"Loh, kenapa gak diberikan sama Bapak saja, mungkin itu akan terlihat senang hati Rara," ucap Mbak dihinggapi rasa penasaran. Mengapa tidak Haris saja yang memberikan kado tersebut kepada Rara.
Haris tertegun sejenak, dia menghela napas panjang, kemudian berbicara.
"Aku, malam ini mau pergi ke Solo." ucap Haris.
"Kenapa ngedadak Pak, bukannya ke Solo nanti setelah selesai acara perayaan ulang tahun Rara?" tanya Mbak Eka.
"Aku kesal sama Cindy, Aku ingin menenangkan diri dulu. Rasanya sudah tidak kuat aku melihat tingkah lakunya." ucap Haris.
Haris jika ada masalah besar lebih baik dia pergi karena tidak mau akhirnya nanti pasangannya kena baku hantam nya atau dia khilaf, dan terjadilah hal-hal yang tidak di inginkan.
Mbak Eka pun tidak bisa berbuat apa-apa, keputusan yang di ambil Haris mungkin sudah tepat, walaupun itu semua tidak akan menemukan solusi yang lebih baik.
***
Jam menunjukkan pukul dua pagi, jalan Haris mengendap-endap ke arah garasi. Dengan sangat pelan dia mengeluarkan mobil dari garasi rumah. Setelah Haris berhasil mengeluarkan mobil dari dalam garasi rumah kemudian dia berpamitan kepada Mbak Eka. Entah mengapa Mbak Eka, sang ART terlihat sedih melihat sang majikan keluar di pagi buta itu.
***
Mbak Eka matanya berselancar melihat tiap sudut ruangan yang sudah di tata rapih untuk acara ulang tahun Rara besok.
Mbak Eka pun meneteskan air mata karena merasa iba, dan kasihan terhadap Rara karena Haris sang Papa tidak bisa menemaninya di hari perayaan ulang tahunnya.
Mbak Eka tidak tahu akan berkata apa kepada Rara, jika besok pagi Rara bangun lalu menanyakan keberadaan Haris dimana?
Mbak Eka terdiam, dan duduk di teras. Ingin rasanya dia meninggalkan keluarga ini karena dia trauma dengan mendengarkan pertengkaran namun dia ingat kembali kepada Rara sehingga niatnya di urungkan kembali.
Rara seperti Anaknya sendiri, dia begitu sangat sayang terhadap Rara.
Krek...
Kemudian pintu terbuka dari kamar Reza, melihat Mbak Eka yang sedang melamun di teras rumah lalu Reza duduk di sampingnya.
"Mbak, Papa pergi ya?" tanya Reza lirih.
Mbak Eka menganggukkan kepalanya.
__ADS_1