Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 60 Cindy Rindu Anaknya


__ADS_3

Setelah beberapa hari kemudian berada di rumah sakit, Cindy menanyakan keberadaan anak-anaknya, kepada Cintya sang adik.


"Dek, anak-anakku mana?" Cindy terlihat rindu sekali dengan anak-anaknya.


Cintya menatap Tante Bela, dia seakan bingung mau menjawab apa.


Tante Bela pun akhirnya berbicara dengan banyak alasan.


"Reza dan Rara sehat ada di rumah, tapi mereka lagi pada ujian, jadi tidak bisa kesini dulu. Sudah jangan banyak pikiran yang penting kondisi badan mu sehat dan cepat pulang, nanti bisa bertemu anak-anakmu," Tante Bela menyuapi Cindy, yang seakan malas untuk membuka mulutnya.


***


"Dek, kakiku lumpuh, sekarang aku tidak bisa bergerak lincah seperti dulu, mungkin kemana-mana harus memakai kursi roda, aku malu, mungkin Azam pun akan menjauh dariku!" Cindy menangis pilu, air matanya tumpah ruah, membasahi pipi.


"Azam!" gumam hati Cintya.


Dia seakan bertanya-tanya, siapakah Azam?


Cintya seakan mencari tahu siapakah Azam.


Karena ketika Cindy mengalami kecelakaan, hari itu Azam ke rumah sakit tapi cuma sebentar dan di lanjut kedatangan Cintya, jadi mereka tidak bertemu.


***


Cindy sudah memakan obat, dan dia sedang tertidur pulas di ruangan. Cintya seakan penasaran dengan sosok Azam, kemudian dia pulang ke rumah Cindy, untuk mencari informasi kepada Mbak Lastri, ART nya yang baru, sekalian mau membereskan rumah karena Cindy akan pulang.


***


Tiba di rumah, Cintya menanyakan sosok Azam kepada Mbak Lastri.


"Oh, Pak Azam yang kerja di yayasan, dia selalu menemani Ibu Cindy, tapi semenjak Ibu di rumah sakit dia tidak kesini lagi," jawabnya.


Tiba-tiba Clara datang ke rumah Cindy, dia tidak tahu bahwa sahabatnya itu mengalami kecelakaan karena dia sudah seminggu berada di luar kota, betapa terkejut sang sahabat tersebut, karena Cindy sahabatnya itu mengalami kelumpuhan.


"Kasian ya, masalah dia bertubi-tubi, pertama cerai, terus perusahaan tempat dia bekerja bangkrut, dan sekarang kecelakaan," Clara matanya berkaca-kaca..


"Kamu tahu tidak, lelaki yang bernama Azam siapa?" tanya Cintya.


Clara kemudian menganggukkan kepalanya, dan dia pun menceritakan siapakah Azam itu.


Kemudian Clara pun akhirnya bercerita, mengenai keadaan rumah tangga Cindy dulu seperti apa.


Cintya terkejut ketika mendengarkan itu semua, dia tidak menyangka Kakaknya akan berbuat tega dan licik kepada sang suami.

__ADS_1


"jujur aku malu, mempunyai Kakak kelakuannya seperti itu, aku tidak menyangka!" Cintya tersenyum sinis.


***


Kemudian Cintya menelepon Haris, dan dia mengungkapkan rasa malunya kepada Haris, karena Kakaknya telah mengkhianati Haris.


Kemudian dia menanyakan kabar Rara dan Reza, dan Cintya ingin berbicara dengan anak-anak Cindy.


"Maaf, anak-anak sudah di Surabaya, mereka tinggal bersama adikku, karena kalau tinggal nanti bersama Ibunya tidak ada yang ngurus, sedangkan Cindy kerjanya keluyuran terus selalu tidak ada di rumah." Cintya merasa terpukul, ketika mendengar semua penjelasan dari Haris, karena Haris seakan memojokkan dan membuka aib kelakuan Kakaknya.


***


Tiba-tiba pesan masuk ke ponselnya Clara, disana terlihat pesan dari temannya yang bernama Febri, menanyakan uang pinjaman.


{"Gimana temanmu itu, kapan dia mau bayar utangnya, soalnya mau aku pakai uang tersebut untuk biaya berobat Ibuku,"} pesan dari Febri membuat hati Clara tidak karuan, dia di hingga rasa serba salah, karena jika dia bicara ke Cintya pasti jadi pikiran dan terkejut, tapi jika dia tidak bilang ke Cintya, yang menanggung utang nanti siapa, sedangkan Clara juga dalam keadaan sudah.


Clara menghela napas secara perlahan,


"Cintya, maaf sebelumnya, sebenarnya aku mau ngomongin sesuatu, tapi..!" Clara mencoba mengatur napasnya.


"Ada apa, bilang saja jujur, jangan ada yang di sembunyikan," Cintya di hinggapi rasa penasaran.


Lalu Clara menceritakan semuanya, Cindy meminjam uang berkali-kali ke temannya, uang itu berjumlah tiga puluh juta rupiah, dan sekarang Febri minta di bayarkan semua, karena dia perlu untuk berobat Ibunya.


"Ternyata Kakakku hidupnya bermasalah," Cintya sangat kecewa.


***


Keesokan harinya Cintya bercerita kepada suaminya, dia mau membayar utang Kakaknya, karena kasian dan iba.


"Pah, aku mohon, Papa tidak marah jika aku menjual perhiasanku untuk membayarkan utang Kakakku," Cintya mencoba membujuk suaminya. Sang suami hanya diam, dia juga di hinggapi rasa kesal ketika Cintya membuka semua aib Kakaknya itu, tidak menyangka kelakuan sang Kakak seperti itu.


"Itu karma, karena selalu mengkhianati suaminya dan berselingkuh terus, jadi lumpuh kakinya!" sang suami seakan puas dan kesal ketika berucap.


"Kamu jangan gitu Pah, kasian Kakakku," Cintya cemberut.


***


Cindy rindu terhadap anak-anaknya,


"Akhirnya aku pulang hari ini, pasti anak-anakku akan senang menyambut kedatanganku meskipun keadaan kakiku lumpuh," Cindy begitu yakin bahwa anak-anaknya, akan menyambutnya dengan penuh suka-cita.


Cintya membuang napas kasar,

__ADS_1


Cintya tidak tahu harus berkata apa, karena anak dari Cindy sudah pergi ke Surabaya meninggalkan dirinya.


***


Setiba di rumah Cindy langsung berteriak memanggil Rara.


"Ra, ini Mama datang!" Cindy tersenyum, bola matanya berputar mengelilingi ruangan sekitar.


Kursi roda yang dia pakai seakan melaju pelan karena tenaganya masih lemah dan pikiran pun masih tidak stabil.


"Kak, yang sabar ya, sebenarnya anak-anak sudah pindah ke Surabaya, mereka dibawa adiknya Mas Haris, untuk tinggal disana." Cintya memeluk erat Kakaknya itu.


Cindy terkejut,.


"Apa! kenapa kamu tidak bilang dari kemarin, terus mengapa Haris begitu tega memisahkan aku dengan anak-anak." Cindy terlihat begitu terpukul, air mata bercucuran menetes membasahi pipinya.


Kemudian kakinya hendak turun dari kursi roda tersebut, tapi apa daya kakinya seakan berat melangkah dan kram.


Cindy pun berteriak histeris,


"Tidak..!"


Cintya mencoba menenangkan Kakaknya tersebut, dia memeluk erat sang Kakak penuh rasa iba, dan menangis sesunggukkan.


"Sabar, sabar Kak, aku disini akan selalu menemani Kakak!" Cintya mencoba menenangkan hati sang Kakak.


Mbak Lastri membawakan secangkir teh hangat manis, untuk di berikan kepada sang majikannya.


Cindy terlihat dari raut mukanya sangat terpuruk sekali, bayangan hantaman mobil yang mengenai kakinya kian hinggap di benak pikirannya, Cindy pun menutup wajah dengan kedua tangannya, dia histeris menangis.


***


"Mas, aku takut Kakakku depresi," ucap Cintya berbisik sangat pelan kepada sang suami.


Suami Cintya yang bernama Bagas, menatap lekat kepada Cindy.


"Iya, dari matanya dia seakan menyimpan banyak masalah," jawabnya.


"Aku malam ini akan menemani nya tidur di kamarnya," Cintya langsung membawa Cindy ke kamarnya.


***


Di dalam kamar Cindy hanya melamun, pandangannya seakan kosong, terlihat begitu banyak beban pikiran yang sedang di pikirkan nya. Melihat sang Kakak terlihat sedih dan terpuruk, Cintya seakan di hinggapi rasa khawatir dan kasian.

__ADS_1


"Apa aku coba menghubungi Mas Haris, agar dia mengantarkan anak-anaknya untuk melihat keadaan Ibunya sekarang." gumam hati Cintya, dia terlihat sangat bingung.


__ADS_2