
Bu Weni kembali membujuk Zhira untuk kembali memulai mahligai rumah tangga dengan Anaknya Bram. Kali ini Ibu sengaja bertemu berdua saja dengan Zhira di sebuah restoran.
"Mama dan Papa sebenarnya tidak menginginkan aku untuk kembali lagi bersama Bram,"ucap Zhira dengan pandangan menunduk seakan tidak berani melihat Mama mertuanya. Sebenarnya dia berat mengungkapkan isi hatinya itu, dan dengan mata yang berkaca-kaca.
Spontan Ibu Weni matanya terbelalak dan di hinggapi rasa kaget karena dia tidak menyangka dengan ucapan menantunya itu. Tapi Ibu pun memakluminya dengan kondisi tersebut karena mungkin luka yang di torehkan Bram sang anak terlalu sakit di rasakan oleh menantunya itu. Kemudian Zhira menggenggam erat tangan Ibu mertuanya air matanya berkaca-kaca, seakan ada air mata yang akan tertumpah disana.
"Ibu mohon, maafkan Bram, anak ibu," Ibu menggenggam erat tangan menantunya itu dan Ibu pun mencoba meyakinkan menantunya itu bahwa anaknya Bram akan berubah dan kalau perlu Ibu akan membuat perjanjian, jika anaknya berselingkuh di kemudian hari maka kesempatan untuk kembali bersama sudah tidak bisa lagi.
"Tapi, Bu!" Zhira kemudian menatap Ibu mertuanya. Dia lalu menceritakan pertemuannya dengan Risma, mendengar nama Risma sontak wajah Ibu berubah menjadi terlihat menyimpan amarah. Risma adalah pacar gelap Bima, sebelum berhubungan dengan Cindy, Bima menjalin cinta terlarang dengan Risma, dan wanita ini yang mengakibatkan retaknya hubungan Bima dengan Zhira. Dan barang mewah pun di berikan begitu banyak oleh Bima kepada Risma itu yang mengakibatkan kedua orang tua Bima kecewa, kesal malu atas kelakuan Anaknya.
"Kamu untuk apa bertemu dengan pelakor itu?" tanya Ibu, matanya melotot dan napasnya seakan memburu. Kemudian Zhira mencoba menyabarkan Ibu.
"Tidak sengaja Bu, bertemu di Hotel tempat nginap aku bersama kedua orangtuaku," jawab Zhira, mencoba bicara dengan nada perlahan.
"Mungkin dia lagi main serong, nginap di Hotel!" ucap Ibu kembali meradang.
__ADS_1
"Sabar Bu, Aku tidak membahas masa lalu Risma sama Bima, cuma dulu Risma putus dari Bima karena ada lagi wanita lain yang bernama Cindy, nah Cindy inilah yang perlu kita selidiki, tapi sudahlah, aku tidak mau mempersoalkan masalah ini, untuk sekarang ini aku lagi fokus urusan usahaku," ucap Zhira, menatap lekat Ibu mertuanya.
"Jadi kamu mau ngagantung, pernikahan bersama Anakku?" tanya Ibu Weni.
"Bram juga kan tidak mau menceraikan Aku!" ucap Zhira.
"Jadi maksudnya, kamu mau menunggu berapa lama lagi untuk bisa bersatu dengan Anakku?" Zhira hanya tersenyum sinis, dalam benaknya di hinggapi pikiran bahwa dia akan mempermainkan hati Bram, untuk kejadian kemarin juga nampak terlihat Bram sudah mulai terpesona dengan dirinya, dia ingin Bram tergila-gila kepadanya. Orang tua dari Zhira sebenarnya menyerahkan semua keputusan kepada Anaknya.
Ting...
{"Jangan lupa makan siang,"} nampak pengirim Bram. Zhira hanya tersenyum sinis ketika membaca pesan tersebut.
"Dia tidak tahu sebenarnya Aku lagi bersama Ibunya," gumam hati Zhira sambil tertawa terkekeh.
"Ibu tidak bisa memaksa kalau begitu, tapi Ibu berharap, Nak Zhira secepatnya bisa menerima Anak Ibu kembali," Ibu Weni terlihat sangat berharap kepada menantunya itu.
__ADS_1
Jam menunjukkan pukul dua siang, akhirnya Zhira berpamitan kepada Ibu mertuanya itu, terlihat Ibu Weni sangat sedih ketika sang menantu mencium punggung tangannya.
********
Sesampai di Hotel Zhira merebahkan badannya di kasur pikirannya menerawang memikirkan, apa yang baru saja terjadi. Sebenarnya dia berat untuk meninggalkan Ibu mertuanya yang begitu sayang dan perhatian terhadapnya.
"Sayang, gimana? ada kabar baik setelah kamu bertemu dengan Ibu Weni?" tanya Mamanya Zhira sambil membawa jus strawberry kesukaan Anak kesayangannya.
"Aku bimbang sebenarnya Mah, jujur Aku masih sayang dan cinta kepada Bram," suaranya lirih. Sang Mama kemudian memeluk erat Anaknya.
"Kalau menurut Mama dan Papa, kamu pisah saja Nak," Mama menghela napas Panjang. Zhira hanya diam termangu.
"Dari kemarin Bram memberikan perhatian, apa mungkin dia berubah," Zhira melirik Mamanya.
"Terserah kamu, kalau begitu. Tapi jangan menyalakan Mama dan Papa jika di kemudian hari, kamu di sakiti lagi sama Bram," Mama berucap dengan tegas.
__ADS_1
Zhira hanya diam dan memandangi Mamanya terlihat dari raut mukanya di hinggapi rasa takut. Takut jika Anak kesayangannya di sakiti lagi oleh Bram.