
Gisela duduk di Restoran milik Bram. Pandangan matanya terus melihat keluar. Mungkin dia terlalu lama menunggu kedatangan pacarnya itu. Mukanya cemberut terlihat kesal dan marah.
"Sudah hampir dua jam, aku menunggu kedatangan Bram, tapi dia tidak nampak batang hidungnya," bisik hatinya penuh emosi.
Tiba-tiba karyawan Restoran datang.
"Bu, kata Pak Bram, dia tidak bisa hadir kesini, karena ada keperluan mendadak," sang pelayan membungkukkan punggungnya terlihat sopan ketika dia berucap.
"Sial..!" dalam hati Gisela, di hinggapi rasa kesal. Padahal kalau tidak jadi bertemu kabarin dari tadi, bukannya sudah dua jam, dia menunggu dengan kesal, baru ada kabar.
"Maaf, Bu.." sang pelayan pun berlalu dari hadapan Gisela.
Gisela hanya tersenyum tipis. Ada rasa kecewa dalam dirinya.
Dia berpikir dan mengaduk-aduk kopi yang sedari tadi belum sempat dia minum.
"Ya, aku tahu pasti dia ada disana!" gumam hatinya.
*****
Gisela tahu keberadaan Bram, saat ini. Pasti sedang di Bar, sedang minum yang memabukkan.
Mobil yang dia kemudikan, di lajukan ke arah Bar. Tempat yang biasa Bram berada disana.
*****
Tiba di sebuah Bar
Dari kejauhan Gisela melihat Bram, sedang meneguk minuman yang di temani dengan seorang wanita cantik dan seksi.
Dada Gisela seakan terbakar api, sangat panas sekali ketika melihat wanita tersebut. Rasa cemburu dalam dirinya, seakan menyambar dadanya saat ini.
Gisela berjalan dengan cepat ke arah Bram, yang terlihat tertawa terbahak dengan wanita yang berada di sampingnya.
***
Aawwww....
Minuman dari gelas tumpah, karena ketika Bram, sedang memegang gelas tersebut, ada yang mendorongnya dari belakang.
Mata Bram, melotot spontan dia membalikkan badannya. Rasanya ingin memberikan pukulan kepada orang yang berani mendorongnya itu.
"Go** l**""k!" terdengar kasar, Bram ketika berucap.
Bram, spontan terkejut ketika melihat Gisela, tepat berada di belakangnya.
Pandangan Gisela, menatap tajam kepada Bram. Kemudian dia melirik ke wanita yang berada di dekat Bram.
Seakan bertanya."Siapakah, wanita yang berada di pinggirnya itu?"
"Sayang..!" ucap Bram, terkejut.
"Siapa wanita ini!" telunjuk Gisela, mengarah ke wanita yang berada di pinggir Bram. Wangi dari parfum wanita itu, sangat menyengat.
__ADS_1
"Sayang, kamu ngapain disini!" Bram malah balik bertanya.
"Aku kesini, mencari kamu!" Gisela, menatap tajam wanita itu. Dia dihinggapi rasa cemburu yang teramat.
"Ini temanku, Sayang!" Bram meremas jemari Gisela.
Wanita yang bersama Bram, pandangannya menunduk. Dia seakan takut.
Bram mengedipkan mata, seakan memberikan isyarat kepada wanita itu, untuk pergi.
Wanita itu kemudian berlalu dari hadapan, Bram dan Gisela.
"Sayang, kamu ngapain kesini, malu aku sama teman-teman,' Bram berbisik sangat pelan.
"Kamu mempermainkan aku. Kamu tidak menghargai aku. Tadi aku nunggu kamu, lama sekali di Restoran. Kamu malah asik disini, bersama wanita." Gisela menggebu-gebu, ketika berucap.
"Sabar, Sayang. Itu temanku tadi. Kamu jangan marah dong, Sayang. Gimana udah baikan?" Bram mengusap perut Gisela.
"Masih sakit,' ucap Gisela. Dia berpikir dalam hatinya, jika dia, berlaku keras sekarang ini terhadap Bram, maka kesempatan untuk meminta uang tidak akan berhasil.
Akhirnya Gisela menarik napas, dan membuangnya kasar.
"Aku harus periksa lagi, Gisela memegang tangan, Bram," Gisela sengaja memegang tangan Bram, dan berbicara dengan pelan. Mencoba tidak terlihat emosi.
"Pasti, uang yang aku berikan habis!" Bram, seakan tahu isi hati dari Gisela.
Gisela tersenyum tipis dan menunduk.
"Yasudah, aku transfer sekarang,." ucap Bram.
Uang yang di transfer Bram cukup banyak, sekitar seratus juta. Dalam pikiran Gisela. Dia salah memijit angka, karena sedikit mabuk. Tercium dari bau mulutnya agak menyengat.
Gisela dengan cepat berlalu dengan alasan mau membeli obat.
karena Bram pun ada yang menghampiri
mejanya. Yaitu teman bisnisnya.
***
Mobil dia lajukan dengan kencang ke rumah Desi. Dalam hatinya di hinggapi rasa puas, karena sudah menguras uang Bram.
***
Tiba di rumah Desi.
"Pasti kamu sudah dapat lagi duit dari Bram! Hahahaha.." Desi tertawa terbahak.
Kebetulan Hari, sedang berada di rumah Desi. Hari pun penasaran dengan sosok Bram. Dia lalu bertanya mengenai Bram, punya usaha apa. Gisela menceritakan semuanya, usaha Bram apa, kehidupan dia juga seperti apa, tidak ada yang di tutupi.
"Nama Bar, tempat nongkrong yang sering di kunjungi Bram apa?" Hari sengaja bertanya demikian, agar dia bisa memberikan informasi yang jelas kepada sahabatnya Bagas.
Tanpa rasa menaruh curiga. Lalu Gisela menyebutkan nama dari Bar, yang sering di kunjungi Bram, selama dia mengenalnya.
__ADS_1
Drettt...
Drettt...
Drettt...
Tiba-tiba bunyi telepon terdengar dari ponselnya Hari, terlihat nama Bagas muncul. Lalu dia minta ijin ke luar, kepada Desi dan Gisela untuk mengangkat ponselnya.
***
{"Brother, Alhamdulillah. Aku sudah dapat modal untuk proyek kita. Gimana kalau besok, kita bertemu"} Bagas, terdengar bahagia ketika berucap.
{"Aku ikut senang, temannya pacarku juga mau simpan saham di usaha kita,"} jawab Hari.
{"Siapa?"} tanya Bagas.
{"Gisela, yang waktu kemarin main ke rumahku. Masih ingat nggak?"} tanya Hari.
{"Yang pacarnya yang tajir itu? Hahahaha.."} Bagas tertawa terbahak.
{"Yes, betul! yang bernama Bram. Gimana, gimana, Bram yang kamu maksud sama nggak dengan yang di lihat di foto kemarin?"} tanya Hari, di hinggapi rasa penasaran.
{"Aku lupa, belum tanya sama istri. Nanti lah istriku yang ambil fotonya di galeri ponselnya Cindy,"} ucap Bagas.
{"Saking asiknya melepas rindu dengan istri, sampai lupa tujuan untuk menghantam lelaki itu. Hahahaha.."} Hari tertawa lepas dan mengejek Bagas.
{"Iya, lah. utamakan dulu istri. Itu sangat penting. Hehehe.."} Bagas, terdengar tersipu malu ketika berucap.
Setelah setengah jam, mereka berbicara di sambungan selularnya. Mereka pun akhirnya menutup ponselnya.
*****@@@*****
'Mas...!"
Desi berteriak, memanggil Hari.
Hari dengan cepat menghampiri Desi, yang sedang asik berbicara dengan Gisela.
"Ini kata Gisela, yang di butuhkan buat proyek perlu berapa lagi?" tanya Desi kepada Hari.
Hari pun menyebutkan jumlah nominal dan langkah-langkah, proyek kedepannya seperti apa.
"Besok, aku akan bertemu dengan Bagas, dan Pak Bima, di Restoran Gemilang," ucap Hari.
"Restoran Gemilang, itu nama pemiliknya, Bram. Hehehe...,' Gisela tertawa terkekeh.
"Jadi, pemilik dari Restoran itu, Bram?" Desi terbelalak matanya.
"Iya," Gisela tersipu malu.
"Gila, si Bram, berarti Tajir banget!" dalam hati Desi di hinggapi rasa bertanya. Pantesan Gisela kalau di beri uang oleh Bram, tidak sedikit.
"Nah, besok siapa tahu, Bram ada disana. Jadi Mas Hari, bisa lihat sosok Bram, seperti apa," ucap Gisela.
__ADS_1
Hari terdiam, dia sedang berpikir. Dalam hatinya begitu yakin, Bram yang di maksud Bagas, adalah Bram selingkuhannya Cindy. Karena ada persamaan. Bram mempunyai usaha Restoran.