
Semenjak kejadian Cindy pergi ke sebuah Hotel bersama Helmi. Cindy menjadi pendiam, dia mengurung diri di kamar. Sudah dua hari Cindy tidak masuk kerja, dan hari itu dia memberitahu Bosnya bahwa dia sakit.
Banyak pesan dan panggilan telepon masuk terus berbunyi ke ponselnya namun Cindy seakan enggan untuk mengangkatnya.
Ponsel dia simpan di dalam lemari baju seakan tidak mau untuk membukanya.
Tokk...
Tokk..
Tokk...
"Bu, makan dulu ya?" Mbak Eka menawarkan makan kepada sang majikan lalu dia menyuapi sang majikan dengan telaten.
"Mbak!"
Cindy memanggil Mbak Eka, dan menghela napas secara perlahan. Cindy ingin sekali meluapkan semua beban yang ada dalam dirinya, dia rasanya ingin bercerita kepada Mbak Eka atas semua yang terjadi.
"Ada apa, Bu?" bilang saja semua kegundahan yang ada di dalam dada biar beban Ibu sedikit berkurang. Mbak Eka mengusap pundak majikannya itu.
"Mbak, saya merasa bersalah kepada suami selama ini, kesalahan saya sangat banyak," Cindy tersedu ketika berbicara.
Mbak Eka mendengarkan semua keluh kesah majikannya itu, lalu dia menawarkan untuk pergi menenangkan diri ke kampung halamannya, kebetulan Anak-anak juga libur sekolah, biar pikirannya jauh lebih sehat. Cindy hanya terdiam dia berpikir cukup lama, apakah dia akan berlibur sementara agar pikirannya lebih tenang.
"Mah, ada teman Mama datang,"
Tiba-tiba Rara datang memberitahukan bahwa ada teman Cindy datang. Cindy di hinggapi rasa penasaran siapakah yang datang menemui dirinya ke rumah.
Cindy mengintip dari jendela kamar ke arah garasi terlihat mobil Clara.
Cindy pun merapikan pakaiannya, sebenarnya dia malas untuk keluar kamar.
"Cindy, kamu sudah sehat,?" Clara membawa buah-buahan dan kue banyak sekali dia bilang ini semua titipan dari Helmi.
Mendengar nama Helmi seakan Cindy benci dibuatnya. Clara pun di hinggapi rasa heran akhirnya dia memberanikan diri untuk sekedar bertanya.
"Kamu ada masalah dengan Helmi?" tanya Clara bertanya kepada Cindy cukup pelan.
Cindy mencoba tidak menangis di hadapan Clara dia hanya menggelengkan kepala.
"Kata Helmi, dia sangat rindu sama kamu, dia melamun terus di kantor juga," Clara tersenyum tipis.
"Kita bahas masalah lain dulu, jangan bahas masalah Helmi," ucap Cindy.
Clara pun seakan mengerti apa yang sedang terjadi antara Cindy dan Helmi.
Merekapun terdiam cukup lama.
"Oh, Iya. Kemarin ada Bram datang ke kantor!" Clara membuka obrolan kembali.
Kali ini mata Cindy menatap Clara pertanda dia ingin mengetahui keadaan Bram.
"Dia nanyain kamu, loh!" Clara tersipu malu.
Kemudian Clara bercerita, Bram berada di Bogor karena urusan kerja, dan dia berada di Bogor sampai besok. Bram juga berharap Cindy mau bertemu dengannya.
"Gimana kalau sore ini kamu di temani aku untuk bertemu dengan Bram?" Clara terlihat berharap.
"Apa kamu sudah gila?" Cindy terlihat marah.
"Maksudnya, apa salahnya jika kita bertemu hanya untuk silaturahmi," ucap Clara.
Dalam benak Cindy ingin rasanya dia menumpahkan semua kegundahan isi hatinya. Apakah mungkin dia ungkapkan semua kegundahannya kepada Bram? Mungkin itu bukan sebuah solusi tapi Cindy seakan mempercayai sosok Bram, dulu ketika dia masih berhubungan dengan Bram, barang-barang mewah selalu di berikan Bram.
*Mah, ada telepon dari Papa, kata Papa kenapa Mama susah dihubungi?" tiba-tiba Reza datang dari arah kamar sambil menyerahkan ponsel miliknya kepada Cindy.
Cindy berlalu dari hadapan Clara, lalu dia pun berbicara dengan suaminya di dalam kamar. Haris menelepon Cindy kembali menanyakan uang yang dia mau pinjam dari Cindy sebesar dua ratus juta, dan Haris tidak mau tahu pokoknya uang tersebut harus ada paling lambat besok.
Mendengar desakan dari sang suami terasa pusing kepala Cindy sedangkan uangnya untuk sekarang cukup menipis.
Kemudian Cindy berpikir dalam hatinya.
"Gimana jika dia pinjam dari Bram. Toh, Bram uangnya banyak pasti uang segitu untuk ukuran Bram tidak seberapa. Pikiran Cindy sungguh kalut. Kemudian Cindy keluar dari kamarnya, dan dia menyerahkan kembali ponselnya kepada Reza.
"Oke, nanti sore kita bertemu dengan Bram," ucap Cindy sangat pelan ketika berucap. Sontak muka Clara tersenyum, kemudian Clara pamit untuk pergi ke kantor kembali karena masih banyak tugas yang harus dilakukan.
***
Sore pukul lima Clara kembali datang ke rumah Cindy, terlihat Cindy memakai baju kesukaan Bram yang dulu sempat dipakai ketika acara ulang tahunnya, dan memakai parfum wangi kesukaan Bram.
__ADS_1
Sesampai di Kafe yang di tuju nampak Reza sudah menunggu. Bram ketika melihat Cindy terlihat begitu senang, dan pertemuan mereka terlihat keduanya begitu malu.
"Gimana kabarnya, Cindy?" Bram menatap lekat kepada Cindy, dan terlihat ada rasa rindu yang teramat di bola mata Cindy.
Cindy hanya tersenyum dan tersipu malu.
"Aku, ke lantai dua ya, kebetulan temanku sudah menunggu disana. Nanti aku kesini lagi" Clara dengan sengaja beralasan untuk bertemu temannya di lantai dua.
Cindy dan Bram hanya bertatapan, ketika Clara berkata demikian. Akhirnya Bram tersenyum, dan tersipu malu kepada Clara.
Clara pun berlalu dari hadapan mereka.
***
Setelah makan dan bersenda gurau, kemudian Cindy bercerita semua tentang apa yang di alaminya sekarang, termasuk tentang sejumlah uang yang dia butuhkan. Air mata Cindy terus mengalir, dia juga berharap Bram dapat menolong dirinya.
"Cindy, kamu tenang ya. Karena sampai saat ini aku masih menyimpan rasa sayang kepada kamu, aku mau membantu kamu."
kemudian Bram mentransfer sejumlah uang ke rekening Cindy kemudian dia memberikan gambar bukti transfernya ke Cindy, senilai yang Cindy minta sekitar dua ratus juta.
Sontak muka Cindy berseri, dia tidak tahu mesti bilang apa. Entah mengapa spontan Cindy memeluk Bram.
Bram merasa canggung mendapatkan perlakuan seperti itu dari Cindy.
"Aku tidak tahu, jika tidak ada kamu siapa yang akan menolongku," Cindy menatap Bram.
Melihat Cindy tersenyum kembali, Bram jadi teringat masa-masa dahulu bersama Cindy sungguh indah. Bram kemudian menghapus air mata Cindy, dan menggenggam erat jemari Cindy dan menciumnya.
"Apa yang aku lakukan ini, semata-mata karena aku takut sama Haris," gumam hati Cindy.
"Kamu, mengapa berselingkuh kembali dari Haris?" pertanyaan dari Bram, begitu menghantam hati Cindy.
Cindy terdiam.
"Apa mungkin kekesalan kamu terhadapku, kamu melampiaskannya kepada lelaki lain?" Bram menatap tajam Cindy, dia ingin ada jawaban yang pasti dari Cindy.
Cindy tertunduk dia tidak tahu harus berbicara apa kepada Bram. Dia ingin meluapkan semua kegundahan hatinya selama ini, dia ingin berkata.
"Ya, sebenarnya, Aku terluka dan aku melampiaskannya kepada lelaki lain?" tapi Cindy seakan malu untuk berkata jujur.
"Kamu kesepian?" Bram cukup berhati-hati ketika bertanya hal yang sensitif ini. Cindy menganggukkan kepala.
"Kamu melakukan hubungan dengan Helmi sudah sering?" Bram kembali bertanya, terlihat dia sangat cemburu.
"Aku yakin Haris akan terluka jika tahu ini semua, dan mungkin tambah terluka lagi jika tahu hartamu habis diberikan kepada lelaki lain. Kamu sebagai wanita kenapa bodoh? memberikan materi berlebih kepada lelaki lain," Bram mencaci Cindy.
Cukup!
Cindy terisak tangis.
"Ya, Aku beruntung bisa bertemu kamu lagi Bram, sehingga disaat keadaan sulit seperti ini, kamu membantuku, tapi nanti akan Aku bayar semua yang aku pinjam kepada kamu!" ucap Cindy.
"Tidak usah, Aku sayang sama kamu, Aku tidak mengharapkan kamu membayar uang itu, yang aku harapkan kamu bisa memotivasi aku lagi seperti dulu mungkin itu sepele, tapi bagiku itu adalah penyemangat. Entah mengapa Zhira dengan kamu sangat beda," Bram mencoba membandingkan istrinya Zhira dengan Cindy.
Mendengar kata, Cindy beda dengan Zhira hati Cindy di hinggapi rasa penasaran dia menatap Bram.
Bram memegang jemari Cindy.
"Ya, kamu entah mengapa sulit dilupakan, aku hanya ingin kamu tetap berkabar kepadaku meskipun kita jauh hanya itu, pintaku!" Bram meyakinkan Cindy.
Cindy terdiam sesaat, apakah dia akan terus menerus seperti ini? membohongi Haris dengan berpura-pura tidak ada lelaki lain di hatinya? atau Cindy tidak mau menyanggupi apa yang di inginkan oleh Bram, tapi dia merasa berhutang budi karena telah diberikan sejumlah uang cukup besar.
Cindy menghela napas panjang kemudian dia mengangguk pertanda dia akan ada komunikasi lagi kedepannya kepada Bram.
*****
Ting...
Pesan pun terkirim kepada Haris.
Cindy memberikan pesan gambar, bukti dia transfer uang dua ratus juta kepada Haris.
Haris tidak membalas pesan yang di berikan oleh istrinya itu, padahal Cindy berharap sang suami bisa mengucapkan kata terima kasih. Tapi entahlah apa yang ada di hati Haris.
Cindy pun akhirnya merapikan pakaiannya karena hari ini dia pertama masuk kerja. Ketika sedang mengendarai mobil pikiran Cindy tidak karuan bercabang kesana kemari antara.
~Haris yang terlampau cuek terhadapnya.
~Helmi yang akan dia temui sekarang di kantor
__ADS_1
~Bram, masa lalunya yang sekarang tiba-tiba datang lagi.
***
Tiba di garasi kantor, Cindy nampak tidak segera keluar dari mobilnya, cukup lama dia terdiam, melihat satu persatu mobil yang terparkir disana, dan ketika melihat satu mobil yang sudah tidak asing lagi entah mengapa dadanya berdegup kencang tidak karuan. Ya, itulah mobil Helmi.
Pikiran Cindy seakan berselancar bagaimana nanti jika dia bertemu pertama kali dengan Helmi setelah kejadian kemarin di Hotel.
Apakah Cindy akan nampak gugup, atau mungkin sebaliknya?
Apakah hati Cindy ketika melihat Helmi masih ada getar asmara?
Beribu tanya ada di benak Cindy.
Akhirnya Cindy menghela napas secara perlahan, lalu dia turun didalam mobilnya, namun baru saja dia keluar dari mobil, dan menutup pintu mobilnya tiba-tiba tangannya ada yang memegang.
Deg...
Terasa menusuk jantung ketika dengan spontan dia melihat wajah yang memegang tangannya itu Helmi.
Tersenyum penuh harap Helmi kepada Cindy. Helmi menggenggam erat sangat kuat kepada Cindy.
Cindy dengan cepat menundukkan pandangannya dari Bram, dan bayangan di malam itu seakan hadir nyata di pikiran Cindy. Sentuhan, belaian, pelukan, ciuman. Begitu menguasai diri Cindy.
Cindy memejamkan mata lalu dengan spontan Helmi mengecup bibir Cindy, begitu terasa lembut yang di rasakan Cindy, namun Cindy melepaskan tangan Helmi yang sedang menggenggam erat tangannya.
"Aku mohon, Aku butuh menyendiri dulu, tolong kamu jangan mendekatiku!"
Cindy berusaha bersikap tegas meskipun tidak bisa di pungkiri getar hasrat seketika hinggap ada dalam diri.
Melihat kedua mata Cindy yang berkaca-kaca Helmi seakan tahu isi hati Cindy yang sebenarnya, akhirnya Helmi mengalah, dan dia mundur beberapa langkah.
Cindy melewati Helmi ketika berjalan menuju ruangan kantor. Dalam hati Cindy maupun Helmi di hinggapi hati yang bergemuruh. Keduanya ingin mengungkapkan satu sama lain ungkapan isi hatinya namun hanya mereka pendam semuanya di dalamdada.
***
Tiba di ruangannya, Cindy meneteskan air mata, entah apa yang akan di lakukan nya ke depan nantinya.
Dia masih perlu Helmi yang selalu memberi ide-ide cemerlang dalam perusahaan tersebut, namun dia juga merasa terlalu jauh hubungannya saat ini dengan Helmi, tapi lelaki ini memberikan kenyamanan dalam hidupnya.
Dengan Bram, dia yang baru saja berhutang budi harus berhati-hati karena dia tidak mau di ketahui oleh Haris untuk kedua kalinya berkomunikasi kembali dengan Bram.
***
Tok..
Tok...
Tok..
Seseorang membuka pintu dan yang terlihat lagi-lagi sosok Helmi dengan membawa dokumen yang harus di tandatangani oleh Cindy.
Tidak banyak kata yang terucap oleh Helmi, dia hanya membuka lembar demi lembar kertas yang harus di tandatangani oleh Cindy.
***
Jam menunjukkan pukul lima sore, Cindy masih berada di ruangannya lalu dia melihat kaca jendela di dalam ruangannya, begitu jelas terlihat Clara berada di dalam mobil Helmi, terlihat Clara tersenyum ketika berada di dalam mobil tersebut tidak bisa di pungkiri ada rasa cemburu dalam benak Cindy ketika melihat hal itu.
Ting..
Pesan muncul dari Clara
"Cindy, Aku sama Helmi jalan keluar ya, kalau kamu mau menyusul silahkan." Clara menuliskan alamat Kafe yang akan mereka kunjungi. Namun Cindy tidak membalas pesan tersebut.
Ting...
Kemudian pesan muncul dari Bram.
"Malam ini aku akan kembali pulang, gimana kalau kita bertemu sebentar untuk makan sore?" isi pesan dari Bram seakan membuat Cindy melebar matanya, tanpa ragu dia tidak menolak ajakan tersebut.
***
Makan sore bersama Bram terasa seakan mengenang masa lalunya, Bram yang romantis selalu memberikan kejutan ternyata sore itu dia memberikan kejutan kembali kepada Cindy, dengan memberikan sebuah cin-cin mungil.
Melihat pemberian dari Bram hati Cindy tidak karuan, dia terharu dan meneteskan air mata. Bram menjaga jarak dia tidak berani berbuat macam-macam kepada Cindy karena dia tahu hati Cindy saat ini lagi banyak pikiran.
Bram tahu semua sifat Cindy kelebihan maupun kekurangannya.
Setelah selesai makan lalu Bram berpamitan kepada Cindy, entah mengapa begitu berat melepas Bram. Cindy seakan tidak mau kehilangan Bram, dia seperti tidak kuasa untuk berpisah.
__ADS_1
Cindy mencoba menahan sesak tangisan ketika Bram melambaikan tangan, dan setelah Bram hilang dari pandangannya tangis pun pecah.
Perjalanan menuju pulang ke rumah yang Cindy rasakan di hinggapi rasa sedih yang teramat. Cindy seakan kehilangan arah, kepada siapa kini dia harus menumpahkan keluh kesahnya?