Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 50 Haris Kembali Ke Bandung


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul delapan pagi.


Haris dan Wisnu nampak sudah siap untuk kembali pulang ke Bandung.


Nampak Mbak Eka, sudah mempersiapkan makanan di meja untuk sarapan, sementara Reza dan Rara sudah berangkat sekolah odari jam tujuh tadi.


Wisnu sedang asik di depan laptopnya di teras rumah, sedangkan Haris sibuk dengan ponselnya.


Nampak terlihat dia sedang menghubungi seseorang, namun mukanya nampak cemberut.


Melihat temannya sedari subuh nampak kesal ketika memegang ponsel, Wisnu hanya tersenyum tipis.


"Haris sedang mencoba menghubungi Cindy, namun ponselnya tidak aktif, kasian!" gumam hati Wisnu.


"Pak, makan dulu. Udah di buatin ikan gurame saos tiram, kesukaan Bapak!" Mbak Eka, mengajak juga Wisnu agar segera makan.


Haris hanya diam seakan tidak mendengar ucapan dari Mbak Eka.


"Bapak biasanya kalau mendengar, masak ikan gurame saos tiram suka langsung menuju meja makan, karena dia sangat suka makanan itu. Kenapa sekarang beda dari biasanya ya, nampak murung," gumam hati Mbak Eka.


Namun Mbak Eka sudah tahu keadaan di rumah tersebut yang sesungguhnya.


"Pak, kalau tidak sarapan nanti sakit loh, dan sekarang sudah pukul delapan. Katanya datang ke Bandung harus tiba siang, kan ada rapat," ucap lagi Mbak Eka.


Haris pun merasa di ingatkan oleh ART nya itu, kemudian Haris tersenyum tipis sama ART nya itu, dan mengajak makan kepada Wisnu.


"Semangat! jangan ngelamun saja," Wisnu mencoba menyemangati temannya itu.


***


Ketika di meja makan,


'Wah, enak sekali ini ikan gurame ya!" Wisnu sengaja berkata demikian, karena ingin membuyarkan suasana.


Yang melihat Haris seakan tidak napsu untuk makan.


"Iya, Pak! ini kesukaan Pak Haris, kalau makan ikan gurame saos tiram, lahap!" Mbak Eka pun mencoba menggoda Haris, yang nampak tidak selera makan.


Haris mengalihkan pembicaraan,


"Mbak kalau Cindy datang, hubungi lewat ponsel Rara ya!" Haris terlihat masih sangat memikirkan Cindy.


Mbak Eka hanya mengangguk,


***


Setelah selesai sarapan,


"Mbak, nitip Anak-anak ya, kalau ada apa-apa, telpon Bapak!" ucap Haris.


Haris pun berpamitan kepada Mbak Eka.


Melihat sang majikan terlihat sedih, Mbak Eka seakan iba dan merasa kasihan.


***


Sementara di suatu tempat Cindy sedang asik berlibur dengan Bram.


Ternyata mereka pergi ke Bali.


Cindy seakan di buai asmara lagi oleh lelaki itu, Cindy di manjakan kembali oleh Bram.


Merasa ada kenyamanan yang di dapat oleh Cindy, dan Cindy pun semakin berani untuk memeluk Bram tanpa ada rasa canggung sedikitpun.


"Jadi kamu akan bercerai dengan istrimu?" tanya Cindy, terlihat dihinggapi rasa senang.


"Iya, dari pada aku bertengkar terus dengan Zhira, dan dia terus menerus curiga kepada aku, buat apa! lebih baik aku cerai saja!" Bram seakan memojokkan istrinya itu.


Bram menatap lekat kepada Cindy,


"Kamu, hubungan sama Haris kurang baik kan? kenapa dia gak ceraikan kamu! atau kamu saja yang minta pisah!" Bram seakan mendukung jika Cindy pisah dengan Haris.


"Rasanya banyak pertimbangan bagi aku," Cindy menghela napasnya.


"Pertimbangan apa? Anak!" jawab Bram.


"Ya, dan keluarga!" Cindy pikirannya seakan jauh melayang.


"Percuma di teruskan juga, hubunganmu tidak sehat sama suamimu!" Bram berucap seakan meledek Cindy.


Cindy terlihat tersipu malu,


"Terus rencana kamu kedepan apa?" Bram seakan ingin ada kepastian dari kekasih gelapnya itu.


"Ya, berjalan saja bagaikan air yang mengalir," Cindy penuh keyakinan.


"Kalau aku bosan, dan ninggalin kamu gimana?" Bram seakan mengancam Cindy.


Cindy matanya melotot,


Bram tertawa terbahak.


***


Haris dalam perjalanan pulang ke Bandung,


Nampak diam tidak bicara sedikitpun.


"Pak, enak ya, kopi buatan Ibunya Friska!" Wisnu mencoba melumerkan suasana.


Agar Haris bisa bercerita, karena dia merasa ngantuk ketika mengendarai mobil.


"Oh, iya, iya," Haris terkejut ketika Wisnu membuka obrolan.


"Kapan-kapan kita mampir kesana lagi!" Wisnu menggoda temannya itu.


Haris melirik Wisnu dan tersenyum.


"Friska itu wanita baik kelihatannya, dan yang paling penting dia wanita cerdas. Aku suka!" spontan Haris mengernyitkan dahi.


"Suka!" ucap Haris.

__ADS_1


"Tenang, tenang, bukan suka cinta tapi suka dengan kepribadiannya," Wisnu tertawa terkekeh.


Haris pun nampak tersipu malu.


Tiba-tiba ponsel Haris bergetar tanda pesan masuk.


{"Haris, aku sama Anton akan ke Kafe kamu nanti sore, kamu ada disana kan?"} pesan dari Friska membuat muka Haris menjadi sumringah.


Melihat temannya tiba-tiba tersenyum sumringah, Wisnu dihinggapi rasa penasaran.


"Wah, ada kabar dari istri ya?" pandangan Wisnu mengarah ke ponsel yang di pegang oleh Haris.


Haris menggelengkan kepalanya,


"Lalu yang membuat tersenyum siapa? Wah, curiga nih!" Wisnu menggoda Haris.


"Friska, dia mau datang ke Kafe dengan Anton, sahabatku dulu di kampus," ucap Haris.


Haris pun memgenang masa lalu saat dia, di buli sama teman-teman kampus dulu, yang membela Friska dan Anton.


Anton pun termasuk orang yang pendiam di kampus, dan Anton satu kelas dengan Haris jadi Haris tahu betul sifat dari Anton seperti apa.


Wisnu terlihat senang melihat Haris kembali tersenyum tidak menekuk wajah lagi.


***


Perjalanan macet pas keluar tol, jadi pukul dua belas mereka baru sampai di Bandung.


Tiba di Kafe langsung Haris mempersiapkan diri untuk segera mengadakan rapat dengan kru yang ada di Kafe itu, dan kebetulan akan ada tamu dari luar kota jadi hari ini Haris agak sedikit sibuk.


"Pak, semalam Ibu Friska mampir ke Kafe!" ucap Fani kepada Haris.


"Jam berapa?" jawab Haris, sambil sibuk dengan ponselnya.


"Jam tujuh, nanyain Bapak, tapi bersama laki-laki memakai kacamata dan topi," Haris berpikir sejenak, dia seakan tahu yang bersama Cindy itu siapa? Ya, itu Anton.


"Iya, Fan. itu teman kuliah Bapak dulu," namanya Anton.


"Ya, Anton. kemarin Ibu Friska memanggil dengan nama itu," jawab Fani, terlihat mengingat kejadian kemarin.


"Yasudah, Fan. Udah di beresin tempat untuk rapat sekarang?" tanya Haris.


Fani menganggukkan kepalanya.


***


Rapat pun selesai, dan sekarang jam menunjukkan pukul lima sore, Haris pun merapikan pakaiannya karena Friska akan datang dengan Anton teman lamanya.


"Pak, ada Ibu Friska datang," Fani tiba-tiba menghampiri Haris yang sedang ngobrol dengan Wisnu.


"Tunggu, sebentar!" Haris terlihat sibuk merapikan dokumennya.


***


"Fan, Bapakna nuju sibuk?" tanya Friska, menanyakan Haris kepada Fani, pasti Bosnya itu lagi sibuk.


"Sumuhun Bu, antosan saurna," Kata Fani tunggu sebentar lagi.


"Tabuh dua belas, Bu!" kemudian Fani menulis pesanan makanan yang akan di pesan oleh Friska dan Anton.


***


Tiba-tiba Haris datang,


Melihat Haris datang, Anton terlihat bahagia.


"Aduh, si Bos nih!" Anton memeluk Haris dan tersenyum lebar, Haris pun nampak bahagia ketika bertemu sahabatnya itu.


"Kamu tetap seperti dulu, awet muda. Wajahmu sedikitpun tidak berubah," Haris menatap lekat kepada Anton.


"Kamu juga, hebat sekarang sudah sukses!" Anton seakan bangga kepada sahabatnya itu.


"Sudah pesan makanan?" tanya Haris menatap satu persatu temannya itu.


Ketika tatapannya mengarah ke Friska, entah mengapa jantung Haris berdetak tidak karuan.


Melihat temannya yang terlihat gugup ketika menatapnya, Friska pun tersipu malu.


Ketiga sahabat itu pun akhirnya mengenang masa lalu. Seakan tidak ada habisnya ketika mereka bercerita.


Canda dan tawa Friska entah mengapa membuat hati Haris seakan tenang pikirannya.


Haris yang dari kemarin kesal kepada istrinya, dan menanti kabar istrinya itu seakan tidak mau dia hiraukan lagi.


Beban masalah yang dia pikirkan tentang istrinya seakan hilang.


Pesona Friska mampu merebut hati Haris yang sedang tidak menentu pikirannya.


***


"Minggu depan ada acara reuni, kamu datang ya!" Anton mengundang Haris agar bisa datang di acara reuni.


"Kalau tidak sibuk, pasti aku akan datang," Haris tersenyum menunduk karena nampak terlihat dengan ujung matanya, Friska menatap tajam Haris.


"Kenapa aku jadi gugup!" gumam hati Haris.


Friska pun dalam benaknya di hinggapi rasa tanya. Haris mengapa beda dari sebelumnya, dia seakan malu beradu pandang dengan dirinya.


"Gimana kabar keluargamu di Bogor!" Friska berusaha mengalihkan pembicaraan ke masalah keluarga Haris agar nampak Haris tidak gugup.


"Baa, baik..!" ucap Haris seakan menyembunyikan sesuatu.


Dia tidak mau di depan sahabatnya Anton, dia sedang ada masalah dengan keluarganya.


Terlihat gugup dan seakan tidak mau di singgung masalah pribadinya akhirnya Friska pun mencoba mengalihkan pembicaraan kepada Anton.


"Anton, Kafe Haris tempatnya nyaman ya? kamu betah kan berlama-lama nongkrong disini!" mata Friska berselancar memandangi ruangan sekitar Kafe.


"Ya, aku betah berlama-lama nongkrong disini, selain tempatnya nyaman dan strategis . Owner nya, ramah!" Anton menggoda Haris.


Haris tersipu malu,

__ADS_1


***


Keadaan di luar sudah mulai gelap, dan Kafe pun akan segera tutup.


"Kalian tadi bareng kesini?" tanya Haris.


"Ya, aku tadi jemput Friska ke rumahnya!" jawab Anton.


"Jadi Friska tidak bawa kendaraan?" Haris menatap Friska, dan terlihat malu.


"Iya, dia sekarang mau anter pulang lagi sama aku," ucap Anton. Kemudian Anton merogoh ponselnya yang berada di saku celana, kemudian dia membuka layar ponsel itu.


"Aduh, ini istriku minta di jemput di rumah Ibunya," ucap Anton.


"Yasudah tidak apa-apa, aku pakai mobil taksi saja," Friska tidak jadi masalah, jika pulang tidak di antar kembali oleh Anton.


Karena Haris mengkhawatirkan keadaan Friska lalu dia menawarkan diri untuk mengantar Friska pulang. Dengan berpikir lama akhirnya Friska pun menerima tawaran dari Haris.


***


Selama dalam perjalanan pulang Friska maupun Haris tidak banyak kata yang mereka keluarkan.


Entah mengapa keduanya seakan canggung, padahal sebelumnya masih terasa akrab ketika bertukar pikiran.


"Aku tidak bertemu istriku kemarin!" Haris membuka obrolan.


"Loh, kenapa?" Friska seakan di hinggapi rasa penasaran.


"Entahlah istriku pergi, pas aku nyampe Bogor. Tapi ketika aku hubungi ke ponselnya tidak bisa. Sampai sekarang!" Haris terlihat kesal.


Mukanya penuh kecewa dan menahan marah.


Friska seakan tahu hati Haris saat ini seperti apa.


"Sabar, mungkin ponselnya lagi ada gangguan atau tidak ada sinyal, atau dia sedang sibuk jadi ponselnya tidak di aktifkan dulu," Friska berusaha menyabarkan hati Haris.


Dengan Friska berkata demikian Haris merasa ada rasa perhatian, dan Friska menurut Haris bersikap dewasa karena dia tidak memojokkan istrinya walaupun istrinya salah.


Sesampai di Jalan Setiabudi, Haris memarkirkan mobilnya, dia hendak membeli kue kesukaan Friska yaitu kue serabi, dan Friska seakan tahu Haris memarkirkan mobilnya mau beli kue serabi karena mobilnya tepat di parkir di depan kampus.


Hati Friska merasa ada perhatian lebih dari Haris, itu mungkin hal sepele hanya membelikan kue yang harganya tidak seberapa.


Tapi Friska salut kepada Haris meskipun dia lagi keadaan kesal yang sedang memikirkan istrinya, tapi tetap saja bisa memikirkan dirinya dengan cara membeli kue kesukaannya.


Friska tersenyum manis,


"Pasti mau membeli kue serabi!" ucap Friska.


"PeDe, ihhh...!" Haris menggoda Friska.


"Kuenya buat Ibu Firna, bukan buat Ibu Friska!" Haris tersenyum.


"Bisa juga ngelawak!" 🤣


Tidak terus menerus serius nih, Haris!


Haris turun dari mobilnya, kebetulan tukang jualan kue serabi tidak antri jadi Haris tidak menunggu lama.


Haris memasuki mobil,


"Ini satu bungkus buat Ibu Firna, dan satu bungkus buat Ibu Friska!" Haris memberikan dua dus kue serabi.


Satu untuk Ibunya Friska, dan satu buat dirinya.


Friska kembali tertawa 🤣


"Nah, gitu dong, ngelucu sedikit, biar otak tidak tegang!" Friska mencoba menghibur Haris.


Akhirnya Haris kembali melajukan kembali mobilnya. Jalan nampak sepi jadi perjalanan menuju rumah Friska hanya satu jam kurang.


Sesampai di rumah, Haris langsung pamitan kepada Friska. Tapi Friska memaksa agar Haris istirahat dulu di rumahnya.


"Emangnya udah enggak mau lagi di bikinin kopi hitam pakai gula merah aren!" canda Friska dengan tersenyum lebar, dan lesung pipi yang menawan.


Tiba-tiba Ibu Firna muncul dari dalam rumah, ketika melihat kedatangan Haris dia langsung mengajak Haris untuk masuk ke rumahnya.


Haris pun akhirnya terkalahkan dengan ajakan Ibunya Friska yang memaksanya untuk duduk istirahat dulu, dan senyuman Friska yang menawan.


kemudian Haris turun dari mobilnya,


"Bu, katanya ketagihan mau dibikinin lagi kopi hitam panas pake gula merah aren," Friska tertawa terkekeh.


Haris tersipu malu,


"Ayo, sok atuh istirahat heula, cape tos nyupiran," Ibu Firna menyuruh Haris beristirahat dulu karena capek udah mengendarai mobil.


"Sumuhun, Bu!" Haris mencium punggung tangan ibunya Friska.


***


Satu jam sudah Haris berada di rumah Friska, dan Haris pun pamit untuk pulang.


Friska mengantarkan Haris sampai halaman rumah, ketika Haris keluar dari halaman rumah Friska pun melambaikan tangannya.


"Hati-hati ya, jangan ngebut!" ucap Friska tersenyum sumringah.


Haris menghela napas panjang,


Kali ini bukan kesedihan ketika dia menghela napas, tapi rasa hatinya yang sedang bahagia


Bahagia bisa lepas tertawa setelah sekian lama dia pendam selama ini.


Di dalam mobil Haris kembali menghubungi Cindy, namun tidak ada jawaban disana.


"Kemana ya, aneh sudah dua hari tidak aktif ponselnya!" Haris berbicara sendiri di dalam mobil.


Ting..


Tiba-tiba pesan muncul,


"Kata Ibu Firna, dan Ibu Friska terima kasih, kue serabinya. Sering-sering ya, bawain kue serabi kemari!" di sambung dengan emotion tertawa.

__ADS_1


Haris pun tersenyum ketika menerima pesan dari Friska.


__ADS_2