Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab : 72. Acara Pertunangan Clara


__ADS_3

Clara pun akhirnya bertunangan dengan lelaki pilihannya. Melihat Clara terlihat bahagia Cindy pun merasa senang melihatnya, karena Clara wanita yang sangat perhatian dan peduli terhadapnya, dia juga wanita baik jadi pantas untuk mendapatkan lelaki yang kaya dan tanggung jawab.


Terlihat dari sorot mata Cindy, menahan rasa sesal yang teramat karena jika dia dulu tidak mempermainkan rumah tangganya dengan Haris, mungkin tidak akan terjadi penderitaan yang menimpa terhadap dirinya kini.


Rasa sesal, kecewa dan merasa penuh dosa seakan, menyatu di kepala Cindy saat ini.


"Sudahlah, jangan banyak pikiran yang penting kamu sehat dulu. Jika banyak pikiran akan mempengaruhi kondisi badanmu." Clara begitu peduli terhadap kesehatan Cindy saat ini.


"Terima kasih, aku tidak bisa berkata apa-apa," Cindy menunduk menahan air mata yang akan terjatuh dari sudut matanya.


"Kalau kamu butuh uang, bilang saja jangan ragu ya," Clara begitu baik dan tulus hatinya.


Clara tahu Cindy saat ini sedang di jauhi oleh keluarganya, Cindy tidak betah tinggal di rumah adiknya yang bernama Cintya, karena Bagas suami dari Cintya selalu menyindir keberadaan Cindy di rumah adiknya itu.


"Aku kan kemarin sudah bilang, kamu isi aja rumah kontrakan Ibuku, itu kosong, sayang kalau tidak di tempati," Clara kembali membujuk sahabatnya itu untuk mengisi rumah tersebut.


***


Acara tunangan Clara dengan Bosnya, di langsungkan cukup meriah. Nampak teman-teman dulu hadir begitu pun dengan Bram, yang nampak asik sedang ngobrol dengan seorang wanita.


Cindy hanya menyelinap melihat dari arah jendela kamar, dia seakan malu untuk menampakkan mukanya.


Mungkin dia tidak PEDE, dengan kondisi tubuhnya yang tidak seperti dulu lagi.


***


"Itu kan, Gisela. Sahabatku, sewaktu masa sekolah dulu," gumam hati Cindy, pandangan fokus ke arah halaman luar teras.


Di sana terlihat Gisela di peluk erat oleh Bram, betapa tersayat hati Cindy, ingin rasanya dia berteriak tapi apa daya semua hanya semu semata. Bram bukan miliknya lagi, Bram sudah bebas memilih wanita pilihannya seperti apa.


Cindy bagaikan sampah, ketika sudah tidak terpakai atau kotor di buang begitu saja.


Dalam hati Cindy di hinggapi rasa cemburu meskipun dalam dirinya, dia sudah tidak mau lagi mengingat nama Bram.


Namun dengan kejadian seperti ini, dia melihat dengan mata kepalanya sendiri, Cindy seakan ada rasa membara di dadanya.


Dia seakan menahan tangis.


***


Clara masuk ke dalam kamar. Clara terlihat sangat cantik dan memesona. Tersenyum sumringah lekat ke arah Cindy.


Kemudian Clara memegang kursi roda niatnya untuk mendorong Cindy, membawa keluar kamar agar melihat situasi keadaan di luar dan bertemu dengan temannya dulu. Tapi Clara seakan mengurungkan niatnya itu, karena Clara menghargai perasaan sahabatnya itu, takut malu ketika teman-temannya melihat kondisi keadaan Cindy sekarang.


"Mau keluar?" Clara tersenyum renyah tangannya menggenggam erat jemari Cindy.


berbasa-basi, dia menawarkan Cindy keluar kamar. Karena kalau Clara tidak menawarkan untuk keluar kepada Cindy, otomatis dia akan tersinggung.


Meskipun Clara tahu, Cindy tidak akan mau untuk di ajak keluar kamar.

__ADS_1


"Cindy menggelengkan kepalanya, tatapan dia kembali ke arah luar teras halaman," sontak mata Clara tertuju ke arah luar, dimana Cindy sedang menatap ke arah sana.


Clara menghela napas secara perlahan.


"Itu pacar baru Bram," suara Clara lirih.


Clara seakan tahu bahwa sahabatnya itu sedang di hinggapi rasa cemburu yang teramat sangat kepada Bram.


"Dia Gisela kan, namanya?" tanya Friska terlihat sedih dan menyimpan rasa kesal.


"Ya, benar. Tadi dia memperkenalkan dirinya dengan nama Gisela. Kenapa kamu tahu, namanya Gisela! jangan-jangan itu teman kamu?" Clara mencoba menebak-nebak.


"Dia teman sekolahku dulu,'" Cindy menghela napas panjang.


"Yasudah, kalau sekarang Bram punya pacar lagi, berarti kamu harus ikhlas dan mencoba melupakan dia. Aku yakin nanti kamu sehat seperti sedia kala, dan kamu bisa mendapatkan yang lebih dari Bram," Clara mencoba menyabarkan hati sahabatnya itu.


"Oh, iya. Selamat ya, kamu sekarang sudah bertunangan," Cindy memeluk erat Clara.


Air mata mereka menetes seakan kesedihan sedang menyelimuti masing-masing hati mereka. Cindy di selimuti dengan kesedihan yang terjadi atas kondisi tubuh dan hilangnya keluarganya yang menyayanginya.


Sedangkan Clara sedih rasa bahagia dan sangat terluka dengan apa yang sedang terjadi, yang menimpa sahabatnya itu.


***


Clara kembali keluar dari kamarnya.


"Kasian Cindy, Mah, dia merasa malu untuk keluar karena kondisi badannya," Clara berucap sangat pelan.


"Yasudah, Mama akan mencoba menghibur dia, kamu temani tamu sana!" Mamanya Clara, lalu memasuki kamar yang di isi Cindy.


*"*


Clara keluar kamar.


"Cindy mana?" tanya teman-teman kantornya. Clara berusaha menampakkan wajah berseri dan beralasan Cindy sedang tidur dan tidak enak badan, jadi tidak bisa menemui teman-temannya.


"Padahal kita ingin sekali ketemu ya,"ucap Windy.


***


Gisela mendengar semua obrolan orang-orang, di sekitar ruangan itu membicarakan Cindy, lalu dia merasa di hinggapi rasa penasaran dan dia pun bertanya kepada Bram.


Siapakah sosok Cindy, yang sedang di bicarakan oleh para tamu undangan.


Bram seakan menutupi semuanya, dia hanya bicara Cindy teman kantor yang mengalami kecelakaan dan sekarang keadaannya lagi lumpuh.


Mendengar itu semua hati Gisela seakan terenyuh, matanya berkaca-kaca. Padahal dia belum bertemu Cindy, seperti apa, belum lihat yang sebenarnya.


Apalagi kalau mengetahui Cindy itu sahabat semasa sekolah, mungkin dia lebih terluka.

__ADS_1


***


Bram pamit untuk ke kamar mandi. Gisela pun di hinggapi rasa penasaran, kemudian dia mendekati Windy dan ingin melihat foto Cindy, kepada Windy.


Betapa terkejutnya hati Gisela, saat mengetahui foto Cindy, karena dia adalah sahabatnya, tak terasa bulir putih menetes di ujung matanya.


"Cindy, mantannya Mas Bram, tapi jangan bilang sama Mas Bram, ya!" Windy tertawa terkekeh.


Gisela menggelengkan kepala, pertanda dia akan pura-pura tidak tahu apa-apa.


"Aku harus bertemu Cindy, gimana caranya ya!" gumam hati Gisela.


Dengan berpikir sangat lama, lalu dia tersenyum pertanda ada ide untuk memecahkan masalahnya.


Gisela mendekati Clara, dia pikir karena Bram masih di kamar mandi. Lalu Gisela meminta nomor telepon kepada Clara.


Clara tidak ada rasa curiga sedikitpun lalu dia memberikan nomor ponselnya kepada Gisela.


Gisela pun dengan cepat kembali duduk di tempat semula, dimana dia duduk bersama Bram.


***


Acara pun selesai, Bram dan Gisela pamit untuk pulang. Bram tidak sedikitpun menanyakan kondisi Cindy.


Kemudian Clara memasuki kamar Cindy, setelah acara selesai dan calon suaminya, beserta keluarga besarnya pulang.


***


Clara memasuki kamar Cindy.


"Asik, lagi makan! Gimana puding yang dibuat olehku enak? tanya Clara sambil melihat Cindy yang sedang lahap makan puding yang dibuat oleh Clara tadi pagi.


Clara senang jika Cindy makan dengan lahap, karena selama ini Cindy susah untuk makan.


Cindy tersenyum.


"Biar cepat sehat" jawabnya.


"Nah, gitu dong, semangat!" Clara memberikan semangat kepada sahabatnya itu.


"Sudah pulang tamunya, semua?" bola mata Cindy mengarah ke pintu kamar.


"Sudah, Alhamdulillah berjalan lancar acaranya," Clara terlihat sangat senang.


"Bram, nanyain aku?' Cindy pandangannya menunduk.


"Tidak," ucap Clara, lirih.


Cindy menghela napas secara perlahan.

__ADS_1


__ADS_2