Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 67 Amarah Ibunya Haris Terluapkan


__ADS_3

Haris sudah dua hari tinggal di Bekasi, dia mencari keberadaan rumah Cintya, namun sampai sekarang belum dapat.


Karena rumah Cintya yang dia tempati sekarang rumah baru, jadi saudaranya pun tidak ada yang tahu keberadaan rumah tersebut.


Ponsel Cindy pun sudah tidak aktif, kemungkinan setelah dia mengalami kecelakaan, Cindy mengganti nomornya.


***


Ketika Haris hendak berpamitan untuk pulang, kepada Ibunya. Tiba-tiba ponsel Haris berbunyi. Di sana terlihat Cintya menelepon


.


Begitu panjang lebar Cintya, menyampaikan kata permintaan maaf kepada Haris, karena Cindy telah menggadaikan sertifikat rumah, dan sekarang rumah tersebut sudah di sita.


***


{"Sekarang minta alamat kamu dimana?"} Haris menggertak Cintya.


Kemudian Cintya memberikan alamat kepada Haris. Sementara Ibunya Haris, mendengar semua percakapan Haris dan Cintya.


Ibunya minta untuk ikut menemani sang anak pergi menemui Cindy.


"Bu, tapi nanti Ibu harus bisa menahan emosi, Cindy keadaannya lagi sakit." ucap Haris.


ibunya Haris, hanya diam tidak berkata sepatah kata pun..


***


Haris kembali datang ke Bogor dan mencari-cari alamat rumah Cintya. Ternyata tidak mudah untuk mencari rumah Cintya, karena rumahnya di pinggiran, bukan di kota.


Nampak dari kejauhan Cindy sedang berjamur, badannya.


Badannya menunduk sedang duduk di kursi roda. Badan Cindy posisinya, membelakangi kedatangan Haris dan Ibunya.


"Tenang, Bu," ucap Haris, di dalam mobil ketika melihat Cindy sedang berjemur.


Terlihat dari muka Ibunya menyimpan kekesalan yang teramat dalam, kepada mantan menantunya itu.


Ibunya turun dari dalam mobil, kemudian melangkahkan kakinya ke hadapan Cindy, Ibu membuang napas kasar.


"Puas, kamu Cindy!" teriak Ibu.


Sontak pandangan Cindy mengarah ke belakang. Betapa terkejutnya hati Cindy, karena dengan tiba-tiba Haris dan Ibunya datang.


Pandangan Ibu begitu terlihat kesal, ketika menatap lekat Cindy. Matanya seakan menerobos ke jantung begitu tajam dan tersimpan amarah yang meluap.


Haris menegang erat tangan Ibunya, tujuan dia menenangkan hati Ibunya.

__ADS_1


"Bu, sabar," Haris berbisik sangat pelan sekali.


Ibu melepaskan tangan Haris, kemudian telunjuknya, menunjuk-nunjuk, tepat di hadapan muka Cindy, Ibunya seakan belum puas meluapkan emosi yang dia pendam dari kemarin.


"Kamu wanita tidak tahu di untung, pengkhianat, suka mainin hati anakku. Nah sekarang badanmu sudah lumpuh. Apa kamu mau selingkuh lagi!" Ibunya Haris seakan tidak terkontrol ketika berucap.


Haris memeluk erat tubuh Ibunya.


"Cukup, cukup, Bu," Haris meneteskan air mata. Ucapan Ibunya begitu menyayat dan merendahkan hati Cindy.


***


Ibunya Haris, seakan tidak bisa mengontrol emosinya, dadanya bergemuruh, tangannya mengepal, seakan ingin menghantam mantan menantunya itu, dengan serangan yang lebih.


Haris mencoba menangkan amarah Ibunya, dan membawa duduk ke kursi. Kebetulan kursi yang di duduki jaraknya agak berjauhan.


***


Tiba-tiba Cintya datang dari dalam rumah, melihat Cindy sang Kakak, terlihat sedang ketakutan, pandangan menunduk dan dengan kedua tangannya menutup wajahnya sambil terisak tangis. Cintya terlihat khawatir.


Cintya pun tersadar dan menoleh ke arah kursi, disana terlihat Haris dan Ibunya datang, sedang duduk.


Cintya pun seakan tahu, atas kejadian yang baru saja menimpa terhadap Kakaknya.


Karena sang Ibu sedang menatap Cindy, dengan sorot mata yang sangat tajam.


***


Cintya langsung membawa Cindy kedalam rumah, dan mencoba menenangkannya dengan memberi obat. Setelah itu langsung kembali ke depan menemui Haris dan Ibunya.


Mbak Lastri menyuguhkan teh air hangat. Haris pun dengan segera memberikan, Ibunya minum agar pikirannya sedikit rileks.


***


Cintya menghela napas panjang.


Kemudian Cintya menerangkan semua yang terjadi dan meminta maaf kepada Haris dan Ibunya, karena rumah sudah disita.


Haris hanya bisa mengelus dada, sementara Ibunya Haris, seakan tidak rela jika rumah anaknya itu, begitu saja hilang.


Terlihat Ibunya Haris, masih menginginkan rumah tersebut kembali. Namun apa daya rumah tersebut tidak bisa kembali lagi karena sudah menjadi hak milik orang lain.


Haris dan Ibunya akhirnya pulang, dengan tangan kosong.


***


Sepulangnya Haris dan Ibunya, Bagas suami dari Cintya, kembali menyindir Istrinya itu.

__ADS_1


"Ibunya Haris, tidak salah. Dia menginginkan kembali rumah tersebut sangat wajar, karena rumah tersebut niatnya kan, untuk anak-anaknya. Kalau Cindy, aku rasa tidak berhak untuk mendapatkan rumah tersebut, karena dia berselingkuh dan uang Haris, terkuras disaat Cindy masih bersama Haris." Bagas tetap seperti kemarin-kemarin, dia masih kesal kepada Cindy.


"Sudah, sudah cukup, nanti kedengaran sama Cindy," Cintya begitu pelan ketika berucap.


***


Cindy mendengarkan obrolan Cintya dan Bagas di jendela kamarnya, karena jendela kamarnya menghadap ke ruang depan teras.


Begitu tersayat hati Cindy, kepalanya terasa berat, sesak di dadanya seakan menyelimuti. Orang-orang yang dia sayangi satu persatu kian menjauh dan benci terhadapnya.


Cindy seakan putus asa, dia merasa rendah diri karena dia sudah tidak bekerja dan tidak mampu untuk bisa menghasilkan uang, kerjanya hanya menumpang hidup di rumah adiknya, Cindy seakan sudah tidak berharga.


"Aku mau pergi dari rumah ini, tapi apa daya kakiku lumpuh!" Cindy memukul-mukul kepalanya.


Dia lalu menumpahkan rasa sedihnya kepada Clara, dia memohon ingin bertemu dengan Clara. Mungkin dengan bertemunya dengan sahabatnya itu, rasa lelah dan sedih sedikit terobati dan hilang.


***


Akhirnya Clara, datang ke rumah Cindy.


Clara seakan tidak kuasa melihat kondisi Cindy saat ini. Masalah yang dia hadapi begitu bertubi-tubi.


"Bram, semalam menghubungi aku, dan dia meminta maaf, katanya dia sudah meninggalkan kamu saat itu. Tapi, dia berpesan jika kamu butuh uang, dia akan memberikan. Maaf, aku juga menceritakan semua tentang kondisi kamu saat ini, dan dia iba kepada kamu," ucap Clara, pandangan matanya menunduk.


"Kenapa kamu menceritakan tentang semua, kondisi aku saat ini, aku malu, aku malu, Clara!" Cindy seakan malu, jika Bram mengetahui kondisi kesadarannya sekarang.


"Masih ada rasa malu? sementara keadaan kamu lagi terpuruk. Aku jadi tidak mengerti apa isi, yang ada di otak kamu!" Clara di hinggapi rasa kesal.


Mungkin niat Clara bukan untuk membuka aib sahabatnya, yang sekarang lagi kesusahan masalah finansial.


Namun Clara hanya ingin membantu keadaan kondisi Cindy sekarang ini.


***


Cindy menunduk, meneteskan air mata.


Melihat sahabatnya seakan sedih dan merasa di pojok kan, olehnya. Akhirnya Clara minta maaf.


"Maksud aku, bukannya aku menghina kamu, atau merendahkan kamu. Tapi ini bentuk sayang dan peduli aku sama kamu." Clara seakan peduli terhadap sahabatnya itu.


Bayangan sosok Bram kembali datang, Kenangan bersama Bram, kembali muncul di benaknya, Cindy kemudian menepis bayangan tersebut. Dia tidak mau lukanya kembali muncul.


"Gimana kalau beberapa hari ini, kamu tinggal di rumah aku saja. Aku harap kamu jangan menolaknya, kebetulan orang tuaku sedang keluar kota. Kamu istirahat di rumahku saja." Cindy melirik kursi rodanya yang sedang dia pakai.


"Tidak apa-apa, meskipun kamu sedang dalam keadaan sakit dengan memakai kursi roda, aku akan melayani kamu. Aku tidak akan meninggalkan kamu Cindy," ucap Clara memeluk erat sahabatnya itu.


Hati Cindy seakan nyaman mendengar ucapan dari sahabatnya itu. Dia berpikir semua orang akan meninggalkannya, tapi sahabatnya Clara, masih setia menemaninya.

__ADS_1


__ADS_2