Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab : 24 Bram dan Cindy menyadari cinta mereka terlarang.


__ADS_3

"Nak, jangan dibiasakan menginap di rumah teman itu tidak baik, mending di rumah jaga Rara, Adikmu. Mama sama Papa kan sibuk," ucap Cindy kepada Reza sang Anak, ketika Reza hendak pergi sekolah sedang memakai sepatu di teras rumah. Mereka hanya berdua saja di teras itu, Haris sang Papa sedang bersiap di kamar untuk berangkat kerja. Cindy pun terus menerus ngomel membuat Reza sang Anak kesal.


"Nah, Mama semalam kemana? apakah baik jika Mama berduaan di Kafe dengan seorang lelaki!" penuh emosi Reza ketika berucap, napasnya seakan memburu, mukanya merah seakan ada amarah yang akan di luapkan.


Mendengar apa yang barusan di ucapkan Anaknya spontan saja Cindy terkejut dalam benaknya di hinggapi beribu tanya, mengapa Anaknya tahu jika semalam dia bersama lelaki yaitu Bram. Cindy kemudian berusaha menyikapi dengan tenang dan pandangan matanya mengarah ke dalam rumah, takut jika baru saja Reza bicara di dengar oleh Haris suaminya.


"Kamu, ngomong apa! jangan mengada-ada, semalam Mama lembur kerja." Cindy berusaha santai seakan tidak terjadi apa-apa. Kemudian Reza menatap lekat Mamanya nampak terlihat ada rasa kesal dari sorot matanya. Tanpa bicara lagi kemudian Reza berlalu dari hadapan Mamanya tanpa pamit. Cindy di hinggapi rasa takut jika Haris mengetahui pembicaraan barusan dia dengan Anaknya. Dengan cepat dia masuk ke dalam rumah dan jalannya mengendap-endap ke arah kamar Haris, dia mengintip dari depan pintu ternyata Haris lagi memakai baju dan suara musik begitu nyaring terdengar. Cindy bernapas lega karena Haris kemungkinan tidak mendengar percakapan dia dengan Anaknya.


"Pah, kamu nampak rapih dan segar pagi ini, Pah sudah lama kita tidak makan diluar bersama Anak-anak, gimana kalau nanti sore kita ajak Anak-anak makan diluar?" ucap Cindy sambil bergelayut manja dan tersenyum renyah, Haris hanya mengernyitkan dahi, dia nampak heran karena tumben istrinya berlaku romantis. Dan Haris pun hanya mengangguk tanda setuju. Kemudian Haris berpamitan kepada istrinya, kebetulan Haris ada rapat di kantor jadi dia harus pergi pagi sekali, setelah Haris mencium kening istrinya lalu dia berpamitan kepada Cindy.


****


Cindy duduk termangu di depan meja makan, makanan yang tersedia tidak dia makan, pikirannya terganggu dengan yang di bicarakan Reza sang Anak yang mengetahui kejadian kemarin dia lagi bersama Bram.


"Bu, Bu...! ada tamu." Cindy terhenyak dengan suara Mbak Eka ART nya itu yang memanggilnya, lalu pandangan Cindy menatap keluar teras, terlihat Bram sedang berdiri membelakangi pintu depan. Betapa terkejut Cindy ketika melihat Bram yang tiba-tiba datang ke rumahnya tanpa memberitahu dirinya terlebih dahulu lalu dengan cepat Cindy berlari ke arah pintu.


"Kamu ngapain Mas, datang ke rumahku tanpa ijin dulu," Cindy berbisik sangat pelan sambil melihat ke arah dalam rumah, takut Mbak Eka sang ART nya mendengar. Bram hanya tersenyum dan menatap lekat Cindy. Lalu berbisik sangat lekat ke telinga kekasih gelapnya itu.


"Aku, rindu!" sambil mencium pipi Cindy. Dengan spontan Cindy menghindar kemudian mendorong Bram sambil menutup pintu.

__ADS_1


"Kamu jangan gila ya!" Cindy melotot.


Bram tertawa terbahak, dia seakan puas dengan tingkah Cindy yang di hinggapi rasa takut.


"Mas, kita harus jaga jarak!" Cindy marah.


Ternyata hanya wacana saja di antara mereka untuk tidak bertemu kembali dan akan menjaga pasangan masing-masing, ternyata napsu dan cinta di butakan oleh mereka.


"Aku tahu Haris sama Anak-anak kamu tidak ada, dan aku kebetulan lewat ke arah rumahmu, jadi kita bareng untuk pergi ke kantor," Bram menarik kursi lalu dia duduk. Tanpa menunggu lama langsung Cindy masuk ke dalam rumah dan mengambil tas, dia tahu Bram orangnya keras kepala jika dia tidak segera keluar, Bram akan tetap diam di rumahnya.


"Mbak, jangan bilang ke Bapak, Ibu ada yang jemput ya?" Cindy lalu pamit ke ART nya itu. Mbak Eka hanya menganggukkan kepala.


Di dalam mobil Cindy cemberut pandangannya ke arah depan, diam seribu bahasa. Dia sangat kesal kepada Bram.


"Ouh, kamu mau ninggalin Aku! emang berani?" goda Bram, sambil mencolek dagu Cindy.


"Siapa takut!" ucapnya.


"Kamu itu yang ngejar-ngejar Aku, Cindy. Ingat gak, waktu Aku mau putusin kamu, dan Aku mau rujuk dengan Zhira, kamu bilang apa? Kamu bilang gak apa-apa kita tidak bertemu asalkan kamu jangan putuskan Aku." mendengar ucapan Bram, Cindy terdiam. Tidak bisa di pungkiri pesona Bram sungguh asik di mata Cindy, dia begitu romantis, perhatian tidak seperti Haris yang terlihat kaku memperlakukan istrinya itu.

__ADS_1


Bram menatap Cindy, di hati Bram seakan merasa dia lelaki yang tidak bisa di lupakan oleh Cindy, dia lelaki idaman Cindy jadi tidak mungkin Cindy berpaling darinya meskipun Cindy telah bersuami.


Terasa malu Cindy ketika Bram berucap seperti itu, dalam hatinya di hinggapi rasa ketakutan juga, takut Bram lepas darinya, karena pekerjaan kantor pun yang super numpuk selalu Bram yang bantu.


Spontan Cindy menggenggam jemari tangan Bram, dia tersenyum tapi seakan terpaksa.


"Maksudku, Aku takut jika orang rumah mengetahui hubungan kita, kamu mengerti kan?" Cindy bicara tanpa mau melihat muka Bram.


"Iya,iya, Aku tidak akan ke rumahmu lagi!" Bram terlihat kesal. Bram kemudian membelokkan mobilnya dengan cepat.


Kemudian Cindy bercerita bahwa Reza sang Anak mengetahui mereka semalam lagi di Kafe, dan sekarang Cindy di hantui rasa takut, kalau Reza sang Anak ngadu sama Papahnya. Mendengar ucapan Cindy sontak Bram kaget.


"Dia tahu dari mana kita semalam ke Kafe?" Bram di hinggapi rasa heran. Cindy pun hanya mengangkat bahunya pertanda dia juga tidak tahu.


"Cinta kita layaknya Anak muda yang sedang di mabuk cinta, sama-sama menyimpan cemburu, sama-sama selalu di hinggapi rasa rindu padahal cinta kita terlarang. Aku tidak tahu Mas, mengapa Aku tidak bisa pisah dari kamu, begitupun kamu juga." ucap Cindy,


sambil menghela napas panjang.


"Aku juga tidak paham soal itu!" Bram hanya singkat untuk menerangkan semuanya. Padahal Bram ada niat untuk rujuk bersama istrinya Zhira dan dia pun berjanji sama Zhira akan setia. Entah mengapa bayangan Cindy terus menggoda, apa karena satu divisi sekantor jadi pertemuan sering terjadi diantara mereka atau karena puber kedua yang dirasakan mereka.

__ADS_1


"Jika suatu saat Haris tahu soal ini gimana? nah, ini yang selalu membuat takut terhadap Aku," Cindy matanya berkaca-kaca.


Bram membuang napas kasar, dia juga tidak tahu kedepannya akan seperti apa hubungannya dengan Zhira, karena Zhira belum mengambil keputusan kepada dirinya, seakan pelampiasan semata yang di lakukan Bram kepada Cindy, karena Zhira tidak begitu saja menerima Bram kembali bersama dirinya.


__ADS_2