
"Pulang yu, kita sudah tiga hari disini!" Cindy memaksa Bram pulang ke Bogor.
"Bentar dong, aku masih kangen," Bram memeluk erat Cindy.
"Kamu semalam minum banyak loh, sejak kapan kamu minum!" Bram mengusap rambut Cindy.
Mereka semalam pergi ke Bar dan minum, mengakibatkan Cindy tertidur bersama Bram, dan lupa segalanya.
"Sejak diputusin sama kamu, waktu dulu!" Cindy menjulurkan lidahnya.
"Oh, jadi karena sekarang di putusin Helmi, kamu minum sama aku!" Bram terbakar api cemburu.
"Nggak juga, aku kan lagi banyak masalah!" Cindy merapikan rambutnya yang terlihat berantakan.
"Masalah sama Haris!" Bram mengambil secangkir kopi panas kemudian menyeruputnya.
"Kuharap kamu bisa mengerti!" ucap Cindy.
"Aku kurang gimana coba, aku memberi kehangatan sama kamu, dan juga uang!" Bram seakan meyakinkan Cindy yang selama ini memberikan perhatian lebih kepada kekasih gelapnya itu.
Cindy tanpa malu dan ragu mencium hangat Bram dan memeluk erat.
***
Cindy pun akhirnya pulang ke rumah,
"Rara, ini Mama bawa oleh-oleh," Cindy mengeluarkan beberapa baju yang bertuliskan Bali, dan gambar Pantai Kuta.
"Mama, dari Bali?" Rara bertanya kepada Cindy seakan marah.
"Iya, kan Mama ada urusan kerja!" Cindy berusaha menutupi.
Rara hanya diam, tanpa mengucapkan rasa terima kasih ketika diberikan oleh-oleh, dari Mamanya itu.
"Mah, kemarin Papa datang kesini, nanyain Mama, kemana!" ucap Rara.
Cindy hanya diam tidak bicara apapun.
Melihat reaksi Cindy, Mbak Eka seakan tahu apa yang sedang terjadi.
"Sama siapa, Bapak kesini?" tanya Cindy kepada Mbak Eka.
"Sama temannya, Bu!" jawab Mbak Eka yang sedang asik memperhatikan Rara yang hendak memakai baju oleh-oleh yang dibawa Cindy.
"Yasudah, aku mau istirahat dulu, capek!" Cindy berlalu dari hadapan Rara dan Mbak Eka.
"Mbak, Papa telepon, kasih tahu Mama sudah pulang. Kasian Papa dari kemarin cariin Mama," ucap Rara berbisik pelan kepada Mbak Eka, dan menyerahkan ponselnya kepada Mbak Eka.
Mbak Eka kemudian menghubungi Haris, namun tidak ada jawaban disana.
"Ra, mungkin Papa lagi sibuk, nggak di angkat teleponnya," ucap Mbak Eka.
"Yasudah, nanti saja hubungi lagi," Rara kemudian membuka kembali baju yang di pakainya.
"Cuci dulu ya, baju barunya, kotor!" ucap Mbak Eka. Rara pun menganggukkan kepalanya.
***
Keesokan harinya Cindy pergi kerja,
Telepon Rara berbunyi, dan Mbak Eka pun mengangkatnya karena nampak disana Haris menelepon.
__ADS_1
{"Mbak, Rara lagi sekolah ya? semalam dia menelepon, ada apa ya!" Haris di hinggapi rasa khawatir takut terjadi apa-apa terhadap anaknya itu.
Kemudian Mbak Rara menceritakan maksud dari menelepon semalam, dan mengabarkan kepada Haris bahwa Cindy sudah pulang.
"Ibu bawa oleh-oleh baju dari Bali!" ucap Mbak Eka.
"Berarti Ibu, sudah dari Bali, Mbak!" Haris terdengar kesal ketika berucap.
"Iya, bilang sama Rara, katanya dari Bali!" Mbak Eka pun akhirnya berkata jujur.
"Yasudah, kalau Cindy, sudah pulang," Haris pun menutup teleponnya.
***
Haris di hinggapi rasa kecewa yang teramat.
"Aku harus menyelidikinya kembali, apa aku harus menanyakan kepergian Cindy kepada Clara? tapi Clara dari kemarin belum membalas pesanku!" gumam hati Haris.
Haris termenung di dalam ruangan kerjanya, dia berpikir cukup serius.
Dia ingin sekali menghubungi Cindy tapi seakan malas.
Tok..
Tok..
Tok..
Pintu di ketuk beberapa kali,
Wisnu kemudian memasuki ruangan Haris. Melihat Haris nampak sedang di hinggapi rasa kesal, spontan Wisnu bertanya.
"Ada apa lagi, Bos!" Wisnu tersenyum tipis.
"Kira-kira sama siapa?" Wisnu terlihat heran.
"Aku tidak mau berprasangka buruk, tapi hatiku seakan kesal, entah mengapa!" Haris terlihat gelisah.
"Kamu telepon saja istrimu," Wisnu menyuruh Haris, agar menelepon Cindy.
"Aku jadi malas!" pandangan Haris tertuju keluar jendela. Pikirannya melayang entah kemana.
"Kenapa! itu berarti kamu sudah tidak ada kepercayaan sama sekali kepada istrimu!" Wisnu menatap lekat temannya itu.
"Entahlah, aku juga tidak tahu!" Haris membuang napas kasar.
***
{"Friska, bisa kita bertemu sekarang!"} Haris menulis pesan kepada Friska.
Sangat lama Friska membalas pesan dari Haris, tapi Haris sangat sabar menunggu.
Ting..
Kemudian Friska membalas pesan dari Haris.
{"Aku lagi ada pasien untuk konsultasi, tapi kalau mau ke tempat praktek kerjaku tidak apa-apa, datang saja satu jam lagi!" kemudian Friska memberikan alamat tempat praktek Konsultasi Psikolog nya.
Haris pun segera bersiap untuk pergi ke tempat praktek Friska, tempatnya lumayan menempuh satu jam yaitu di daerah, Jalan Dago Bandung.
***
__ADS_1
{"Mau dibawain apa?"} Haris kembali memberikan pesan kepada Friska.
{"Bawa diri!"} ucap Friska 😁
Haris pun tersenyum lebar.
***
Tidak butuh waktu lama untuk mencari tempat praktek Friska karena di pinggir tempat praktek ada sebuah Kafe, tempat nongkrong anak muda, mojang dan jajaka Bandung berkumpul.
***
"kiri..."
"Belok kanan, dikit,"
"Ya, stop!"
Mang tukang parkir mengarahkan parkirannya ke mobil yang di tumpangi Haris. Dan ketika Haris membuka kaca mobilnya, Mang parkir nampak tersenyum dan begitu ramah.
"Tos, tutup Kang!" ucap Mang tukang parkir, telunjuknya mengarah ke tempat praktek Friska. Tukang parkir tersebut memberitahukan bahwa tempat praktek sudah tutup.
"Tapi, dokter Friska nya masih ada kan di dalam?" tanya Haris.
"Oh, masih Kang!" jawabnya.
Haris pun memasuki tempat praktek dimana Friska sedang berada disana.
***
"Hai, gimana-gimana?" Friska tersenyum renyah.
Haris terlihat seakan malu untuk memulai pokok pembicaraan.
"Istrimu, sudah pulang?" tanpa Haris mau mengutarakan pokok inti permasalahan, Friska dengan sendirinya dia menanyakan Cindy, istrinya Haris.
Lalu Haris menceritakan semua yang terjadi kepada Friska.
***
Kemudian Friska menghela napas secara perlahan.
"Seperti yang aku bilang waktu kemarin, jika seseorang melakukan perselingkuhan secara terus menerus kemungkinan dia mengalami gangguan mental yang erat di hubungkan dengan bordeline personality disorder (BPD)"
Friska, meneguk air mineral, kemudian dia meneruskan kembali obrolannya bersama Haris.
"Istrimu butuh belaian dari seorang suami, dan maaf aku mengatakan mungkin kamu tidak memberikan itu kepadanya. Kamu tidak memberikan kehangatan mungkin juga karena kesal, kecewa atau mungkin berpikir, maaf..., istrimu sudah berhubungan dengan lelaki lain jadi kamu tidak mau melakukan hubungan yang lebih intim dengan istrimu!" Friska terlihat berhati-hati ketika berucap.
Sebenarnya Friska ingin lebih banyak lagi bercerita kepada Haris tapi antara Friska, dan Haris seakan ada jarak.
Beda dengan dia ketika berkonsultasi dengan pasiennya, dia tumpahkan semua, tidak ada yang di tahan ketika berbicara.
Friska melihat kondisi Haris saat ini, dia sungguh sangat terluka jadi Friska tidak begitu saja menyerang pertanyaan, dan jawaban yang memojokkan Haris yang akan membuat Haris menjadi drop atau menjatuhkan hatinya.
Haris hanya tertunduk, ketika Friska berbicara,
"Maaf, jika obrolanku menyinggung perasaan kamu!" Friska dihinggapi rasa takut.
Takut jika Haris tersinggung atas ucapannya.
***
__ADS_1
Maaf pembaca bukan takut Hantu atau takut Baper 🙏🤣