Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 70 Bram bertemu Cindy


__ADS_3

Sudah tiga hari Friska tinggal di rumahnya Clara.Tanpa di duga Bram menelepon Clara, dia mengabarkan sedang ada di Bogor, dan Bram ingin bertemu dengan Clara. Di sebuah Kafe.


***


Akhirnya pertemuan pun tiba, Clara sangat terkejut dengan perubahan fisik Bram, yang terlihat gemuk.


"Jadi kamu sekarang sudah punya usaha sendiri?" tanya Clara.


"Iya, kebetulan tempat usahaku disini, di daerah Bogor," jawab Bram.


"Tambah tajir nih, duitnya tebal!" canda Clara.


"Bisa saja, kamu!" Bram tersipu malu.


"Gimana Zhira, istrimu sehat?" tanyanya.


"Aku sudah cerai, sebulan yang lalu. Padahal waktu aku hubungan sama Cindy, aku masih sama dia," Bram kembali mengingat hubungan dengan Cindy.


Clara matanya membulat seakan bertanya dan di hinggapi rasa penasaran. Mengapa Bram sampai pisah lagi dengan Zhira.


***


"Oh, ya. gimana kabar Cindy? katanya dia sakit. Terus sekarang dia tinggal dimana?"


tanya lagi Bram.


"Tinggal dengan adiknya, dan dia sekarang lagi menginap di rumahku." jawab Clara.


Bram seakan di hinggapi rasa penasaran, untuk melihat kondisi Cindy saat ini.


"kalau mau ke rumahku, untuk melihat kondisi Cindy. Ayo!" Clara mengajak Bram untuk melihat kondisi Cindy saat ini, agar Bram tidak penasaran.


"Tapi Cindy nanti marah gak, kalau aku berkunjung untuk melihatnya," Bram seakan ragu untuk menemui Cindy.


***


Setelah berpikir lama akhirnya Bram pun bersama Clara, pergi untuk menemui Cindy, yang sekarang lagi menginap di rumah Clara.


***


Tiba di rumah Clara.


Clara memasuki kamar Cindy, dan mengusap kepala Cindy, yang matanya sedang terpejam.


"Cindy, kamu sedang istirahat ya," bisik Clara pelan, lekat ke kuping Cindy.


Entah mengapa, Clara di hinggapi rasa kasihan melihat keadaan Cindy. Dengan posisi tidur miring dengan kaki tertekuk meringkuk ke arah tubuh.


"Bagaimanapun juga kamu sahabatku, begitu banyak penderitaan yang kamu hadapi sekarang. Aku peduli sama kamu, meskipun hati kecilku tidak berkata demikian." gumam hati Clara.


Kemudian Clara keluar dari kamarnya, dia tidak mau membangunkan Cindy yang sedang terlelap tidur.


***


"Cindy kayaknya baru minum obat, dia terlelap tidurnya. Aku kasihan kalau membangunkan dia dari tidurnya," ucap Clara kepada Bram.


"Enggak apa-apa, tunggu saja dia bangun," Bram seperti berharap untuk bertemu dengan Cindy dan ingin meminta maaf.


Clara pun berlalu dari hadapan Bram untuk pergi mandi.


***

__ADS_1


Krekkk...


Pintu kamar Clara terbuka, nampak Cindy keluar kamar, dengan mata masih di hinggapi rasa ngantuk dan matanya terasa samar untuk melihat.


Mendengar suara pintu di buka, sontak mata Bram beralih pandangannya ke arah bunyi suara tersebut.


"Cindy..."


Bram seakan tidak percaya melihat kondisi badan Cindy, yang memakai kursi roda dan badannya terlihat kurus sekali.


Kemudian Cindy menjalankan kursi rodanya ke arah ruang tamu, dimana Bram sedang duduk disana.


Bram matanya terlihat berkaca-kaca, melihat Cindy yang sedang melajukan kursi roda tersebut.


"Cindy, apa kabar," ucap Bram lirih.


Sontak mata Cindy tertuju ke arah suara tersebut, suara yang sudah tidak asing lagi di kuping Cindy.


Pandangan Cindy menatap lekat ke arah Bram, Cindy betapa terkejut melihat Bram, meskipun Bram dengan kondisi badan sekarang sangat beda dengan yang dulu.


"Bra....m!" Cindy terasa gugup dan terbata-bata ketika berucap.


Cindy menundukkan kepalanya, dia seakan malu untuk menatap wajah Bram.


Kemudian dengan cepat dia berlalu dari hadapan Bram, masuk ke dalam kamar.


Di dalam kamar Cindy, sesunggukkan menangis. Apakah itu tangisan kecewa atau tangisan rindu. Entahlah, Cindy wanita yang misterius tiba-tiba sedih meratapi perselingkuhan yang di lakukan nya, tiba-tiba kembali membuat perselingkuhan.


"Mengapa Bram, ada disini?" gumam hati Cindy.


***


"Cindy lama ya, tidurnya," ucap Clara yang tidak tahu sebenarnya barusan Cindy, sudah bertemu dengan Bram.


Melihat Bram sedang mengucek-ngucek matanya, dan terlihat murung. Clara di hinggapi rasa penasaran.


"Kenapa Bram, tiba-tiba sedih?" tanya Clara.


Bram hanya terdiam dan menghela napas panjang.


"Barusan Cindy, Keluar dari dalam kamar," pandangan Bram mengarah ke pintu kamar, dimana Cindy barusan keluar.


"Loh, terus dia sekarang kemana. Apa masuk lagi ke kamar!" Clara perasaannya jadi tidak karuan. Dia sudah menduga pasti Cindy belum siap jika untuk bertemu Bram, dengan kondisi badan yang seperti sekarang.


Clara pun dengan cepat memasuki kamar, untuk melihat keadaan Cindy.


Setelah memasuki kamar, Clara melihat Cindy sedang melamun.


"Maafkan aku, tidak ijin sama kamu, untuk membawa Bram datang ke rumah," Clara di hinggapi rasa bersalah.


Cindy menggelengkan kepala.


"Tidak apa-apa, tapi aku belum siap untuk bertemu Bram, dengan kondisi seperti ini," Cindy seakan malu jika bertemu dengan orang lain atau teman lamanya dalam keadaan lumpuh.


***


Clara keluar kamar.


Clara pun ngobrol dengan Bram, di halaman teras luar. Nampak terlihat canda tawa mengiringi obrolan mereka.


Cindy mendengarkan di balik jendela kamar, rasanya hati dia terasa teriris dan tersayat.

__ADS_1


Karena seharusnya dia yang sedang di posisi Clara saat ini.


Bercengkrama ngobrol kesana-kemari sambil tertawa lepas, melepaskan beban yang ada.


***


Bram pun akhirnya pulang.


"Aku pamitan sama Cindy, terlebih dahulu." Bram melirik kamar yang di tempati Cindy tidur.


"Percuma, dia gak akan keluar dari kamarnya," Clara sangat yakin jika Cindy, tidak akan keluar dari kamar.


Akhirnya Bram pun berpamitan kepada Clara.


Di dalam mobil Bram terlihat sedang memikirkan Cindy, dia tidak menyangka Cindy akan sakit dan menjadi lumpuh kakinya, dengan memakai kursi roda.


"Kalau dia keadaannya lumpuh, aku tidak mau untuk dekat dengannya lagi," gumam hati Bram. Dia terlihat egois.


karena keadaan fisik Cindy sekarang lumpuh, dia tidak akan mendekati Cindy lagi. Berarti selama ini dia hanya melihat fisik semata.


***


Entah mengapa, Clara yang tersenyum renyah saat tadi berpamitan sangat jelas terlihat di dalam bayangannya.


"Kenapa, bayangan Clara jadi hinggap di benakku" gumam hati Bram.


**


Tidak mungkin jika Bram menjalin hubungan dengan Clara, karena kedekatan mereka seperti Adik dan Kakak.


Dan Clara sudah tahu karakter dan sifat Bram, ketika dia menjalin hubungan dengan Cindy.


Tiba-tiba ponsel Bram berbunyi, tanda pesan masuk.


{"Hari minggu, mampir lagi kesini,"} terlihat pesan dari Clara.


Seakan dihinggapi rasa penasaran, kemudian Bram membalas pesan.


{"Ada acara apa?"} jawab Bram.


{"Aku mau tunangan,"} Clara kembali menulis pesan.


{"Pasangannya, orang mana"} tegas Bram.


{"Bos, kita dulu,"} Clara menuliskan pesan


dengan gambar emotion, tersipu malu.


Bram tersenyum tipis, dia tidak menyangka Clara akhirnya bisa dekat dengan Bos nya dulu.


{"Syukurlah, kalau begitu. Aku turut senang mendengarnya,"} jawab Bram.


{"Aku ingin kamu kembali kepada Cindy!"} Clara penuh harap agar Bram, bisa kembali dengan Cindy.


{"Jangan mengkhayal!"} Bram seakan tersinggung.


{"Loh, kenapa?"} Cindy dihinggapi penasaran.


{"Kondisi Cindy..."} Bram tidak meneruskan pembicaraannya.


Clara seakan tahu maksud dari omongan Bram itu.

__ADS_1


__ADS_2