Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 98 Bram Merayu


__ADS_3

Bram merayu Gita


"Boleh kan, ku antar?" tanya Bram.


Mencoba menawarkan Gita, agar bisa di antar olehnya. Bram saat ini sedang mencari simpati dari wanita tersebut dengan cara menawarkan kebaikan untuk mengantar pulang.


Gita menatap Bram,


"Gimana ya! Ouh ya, tadi namanya siapa, aku lupa!" tanya Gita.


"Aku Bram, aku dari Bogor. Kebetulan aku sedang ada tugas di Bandung. Dan setelah antar kamu pulang, mungkin akan menginap di Hotel. Pagi baru aku, akan pulang ke Bogor." Bram menjelaskan kepada Gita begitu detail.


Gita melihat penampilan Bram, mulai dari baju, tas, dan sepatu.


"Branded, juga. Barang yang di pakai oleh lelaki ini!" gumam hati Gita.


"Oke, Boleh!" ucap Gita. Langkah dia mendahului Bram. Menuju tempat parkir.


"Gila, ini wanita cuek banget. Siapa yang punya mobil? Eh, dia yang nyelonong duluan ke tempat parkir. Emang dia tahu, mobil yang aku pakai mobil apa?" membuat Bram, semakin penasaran kepada wanita yang tengah berjalan di depannya, karena sifatnya yang sangat cuek.


"Hai, ini mobilku!" telunjuk Bram, menunjuk ke arah mobil Alphard, berwarna putih. Gita tersipu malu karena jalannya telah melewati batas mobil milik Bram.


"Hehehe.." senyum juteknya, membuat hati Bram melayang jauh.


*****


Mereka memasuki mobil.


Di dalam mobil, Gita terlihat bernyanyi, seolah tidak ada Bram di sampingnya. Dia begitu cuek dan tidak terlihat malu. Beda dengan wanita sebelumnya, yang dekat dengan Bram. Semua wanita pasti tersipu malu dan ingin mendapatkan Bram, selain ganteng, dia juga kaya.


Telepon berdering lagi, terlihat dari ponsel Gita. Spontan dia matikan panggilan masuk tersebut.


"Kenapa, nggak di angkat? padahal angkat saja. Papa kamu kan, yang nelpon?" tanya Bram. Karena terlihat dari layar ponsel terlihat nama Papa yang muncul.


"Ya, pasti nanya. Lagi dimana?" jawabnya


"Maaf, memangnya kamu anak Papa, Mama, yang di atur kalau untuk keluar malam ya?" tanya Bram, seakan KEPO.


"Nggak juga! cuma, aku dulu pernah di sakiti lelaki. Aku punya anak lelaki satu, namanya Dion, usianya baru 2 tahun. Nah, dulu aku hamil tetapi lelakinya tidak tanggung jawab kabur, dan aku melahirkan anak lelaki yang bernama Dion. Jadi Dion, nggak mengenal sosok Ayah. Otomatis Papa dan Mama, jadi khawatir kalau aku pulang telat!" ucap Gita. Bram terlihat mendengarkan semua cerita dari Gita.


"Kamu kelihatannya, cuek ya?" Bram tersenyum tipis.


Gita mendengar ucapan Bram yang menyindirnya, dia hanya terdiam seakan tidak mau peduli.


*****


Sampai di rumah Gita.


"Stop..!" ucap wanita cuek itu.


Gita menyuruh Bram, untuk berhenti melajukan mobilnya.


"Heuh..kayak ojeg online aja!" gumam hati Bram. Entah mengapa tapi dia suka, dengan sikap Gita yang cuek tapi terlihat asik.

__ADS_1


Gita turun dari mobilnya Bram, dia menutup pintu mobil Alphard milik Bram, dengan kasar.


"Aduh.." bisik hati Bram, seakan tidak menerima mobil kesayangannya itu di perlakukan dengan kasar.


Gita seakan cuek, tanpa mengucap rasa terima kasih, karena sudah di antar pulang oleh lelaki yang baru dia kenal.


"Hai, Nona..!" Bram berteriak sambil membuka kaca jendela mobil.


Gita pun dengan cepat membalikkan badannya.


"Oh, Iya, terima kasih," ucapnya.


senyuman yang di torehkan seakan terpaksa. Karena pikiran dia tetap memikirkan Dion, anaknya.


Terlihat Gita membuka pintu gerbang rumahnya. Dia langsung memasuki rumah itu, tanpa menoleh kembali ke arah Bram.


Bram mengatur napasnya, seakan sesak dan terlihat aneh. Karena baru kali ini dia mengenal wanita cukup cuek.


Bram terlihat lelah, dia pun tidak bisa melanjutkan perjalanan ke Bogor, karena badannya terasa capek. Lalu dia berlalu dari tempat rumahnya Gita.


Ketika mobilnya keluar dari jalan rumahnya Gita, terlihat ada Hotel disana. Bram pun berinisiatif ingin merebahkan badannya, di Hotel itu. Karena jika mencari ke tempat yang lain, dia sudah tidak sanggup. Badan lelah rasanya mengalahkan segalanya.


*****


Sinar mentari memasuki celah jendela kamar Hotel. Bram terperanjat karena dia pikir harus segera bertemu dengan Gita.


Dia tahu, Gita hari ini ada fashion show di PVJ tepat jam 9 pagi.


Mobil Alphard warna putih jam 8 pagi sudah nongkrong tepat di tempat semalam, dimana dia mengantarkan wanita itu.


Terlihat sang wanita keluar dan memainkan ponselnya. Mungkin dia lagi memesan mobil online. Spontan Bram membunyikan klakson mobilnya.


Nampak Gita kaget.


"Kaget aku!" gumamnya..


Dia menoleh ke arah suara tersebut. Matanya terbelalak karena suara bunyi tersebut, datangnya dari mobil Alphard, yang semalam mengantarnya pulang.


Entah wanita itu sedang lupa atau sengaja lupa. Dia menghampiri mobil tersebut, seakan sudah memesan mobil online itu sebelumnya.


Gita menghampiri mobil itu.


Dia melambaikan tangannya dan tersenyum sangat manis sekali. Debaran di dada Bram, sangat keras volumenya. Dia terpana dibuatnya.


Dengan cepat Bram membuka pintu mobil tersebut.


"Ayo, aku antar ke PVJ!" Bram tersenyum lebar.


"Kamu dari semalam tidur di mobil? kenapa kamu tahu hari ini aku ada job di PVJ!" Gita mencecar pertanyaan kepada Bram.


Bram menghela napas panjang.


"Wanita ini cuek, atau pura-pura bodoh!" Bram gemas di buatnya.

__ADS_1


Bram tidak menjawab pertanyaan wanita itu.


*****


Di dalam mobil.


Gita begitu menikmati lagu yang di dengarnya, lewat sambungan handsfree


Gita melirik lekat bola mata Bram.


"Antarkan aku ke PVJ sekarang juga!" ucapnya.


Bram menepuk jidatnya dengan telapak tangannya.


"Ampun, Gusti! gumamnya.


*****


Tiba di PVJ.


"Terima kasih, ya!" Gita turun dengan senyuman tipis.


"Tunggu..!" ucap Bram.


"Ada, apa?" terlihat heran, Gita memandangi lelaki yang tengah berada di hadapannya.


"Minta nomor teleponnya," Bram tersipu malu.


"Buat..?" wanita itu begitu polosnya.


"Hahh! buat? Ko, pertanyaannya, aneh!" ucap Bram kesal, dan gemas.


"Buat..Nanti, aku akan hubungi kamu. Kalau aku pengen ketemu Dion!" terlihat kesal Bram. Jadi dia menyebut nama anaknya Gita.


"Hahahaha.." Gita tertawa puas.


"Mana, cepat! Bram sudah tidak sabar untuk menulis nomor telepon Gita, di ponselnya.


"Perlu ya?" sambungnya lagi.


Bram lagi-lagi menghela napas panjang.


Brame lelaki yang di hormati dan semua orang segan terhadapnya, karena dia mempunyai segalanya.


Tapi kenapa dengan wanita ini?


Mungkin karena perbedaan usia yang teramat jauh antara Bram dan Gita.


Gita masih sangat muda usia sekitar 25 tahun, sedangkan Bram 35 tahun.


Gita yang super cuek, dan terlihat telat berpikir. Tapi bagi Bram itu merupakan nilai plus, mungkin dia sedang berpura-pura bodoh di hadapan Bram.


Bram kemudian pamit kepada Gita, dia ingin sekali menggenggam erat jemari tangan Gita dan menciuminya. Tapi apalah daya, sang wanita terlalu cuek untuk diperlakukan seperti itu..

__ADS_1


__ADS_2