Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 20 Bram Niat Rujuk.


__ADS_3

Bram gelisah malam itu dia di hinggapi bayangan istrinya yang tadi siang datang ke rumah. Tapi niat untuk menelepon kepada istrinya seakan ragu dan gengsi.


"Apa Aku harus kembali bersama Zhira? benar juga omongan Bapak, kalau soal Anak biar Aku adopsi ke panti saja," gumam hati Bram.


Terlihat Bram gelisah matanya terpejam teringat kenangan indah bersama istrinya itu, tidak bisa di pungkiri dia sukses dalam pekerjaan itu karena berkat dukungan sang istri dan mertuanya.


Tok...tok...tok...


Tiba-tiba pintu terbuka lebar, terlihat Bu Weni membawa secangkir kopi dan sepiring pisang goreng, lalu Ibu melangkahkan kakinya ke dalam kamar dan menyimpan secangkir kopi dan pisang goreng ke meja dekat jendela.


"Nak, hujan loh, kenapa jendelanya enggak di tutup, entar masuk angin," ucap Ibu sambil menutup jendela. Bram tersenyum manis kepada Ibunya, dia lelaki paling beruntung karena Ibunya begitu perhatian terhadapnya meskipun Bram, Anak yang susah di atur dan bersifat keras kepala.


Bram lalu turun dari kasurnya dan melangkahkan kakinya ke kursi dekat jendela, dimana Ibunya sedang duduk lalu dia memeluk erat Ibunya

__ADS_1


"Bu, maafkan Bram," matanya terlihat berkaca-kaca. Melihat tingkah Anaknya yang aneh kemudian Ibu di hinggapi rasa penasaran.


"Loh, kenapa Nak?" Ibu mengusap rambut Anaknya itu sambil menatap lekat. Kemudian Bram mengungkapkan isi hatinya, meskipun di hinggapi rasa malu untuk berbicara terus terang kepada Ibunya itu, dia berniat untuk rujuk kembali bersama Zhira.


Seketika raut wajah Ibu terlihat bahagia tapi terlihat seakan menyimpan rasa takut. Takut jika Anaknya suatu saat akan mengecewakan menantunya lagi.


"Tapi, Ibu takut jika kamu mengecewakan Zhira, Ibu malu sama kedua orangtuanya," ucap Ibu tegas. Bram hanya menghela napas panjang.


"Nanti Ibu bujuk Zhira, apa dia mau rujuk denganmu lagi, kalian kan belum cerai tapi Ibu tidak tahu maksud tujuan keluarga Zhira kesini, apakah mau rujuk atau mau berpisah."


Ibu membuang napas kasar, teringat pengkhianatan yang di lakukan Anaknya Bram begitu berulang terus menerus terhadap Zhira sang menantu. Ibu di hantui rasa takut jika kedatangan orang-tua Zhira hanya untuk memutuskan mahligai rumah tangga dengan Anaknya itu.


"Kalau kamu mau rujuk dengan Zhira kamu harus bisa merubah tingkah laku kamu, jangan bermain api dengan wanita lain," tiba-tiba Bapak muncul dengan nada bicara tinggi. Bram dan Ibu terlihat kaget ketika mendengar Bapak muncul secara tiba-tiba dan masuk kedalam kamar.

__ADS_1


Ibu hanya terdiam dan berharap dalam hatinya Bapak tidak memarahi Anaknya itu.


"Gimana jika kita makan dulu, kebetulan Ibu masakin opor ayam kesukaan kamu, Bram." Ibu mencoba mengalihkan obrolan, dan berdiri bangkit dari kursi. Kemudian Bram pun berdiri menggandeng Ibunya keluar kamar. Bapak hanya mengernyitkan dahi melihat Ibu dan Anaknya keluar kamar.


*****


{"Selamat malam Zhira. Mas berharap kita bisa rujuk kembali, dan segala kesalahan yang Mas perbuat semoga bisa di maafkan,"}.


Ting....


Pesan di kirim oleh Bram, berharap ada jawaban disana, entah mengapa terasa dag-dig-dug jantung berdetak lebih kencang.


Larut malam Bram terus menerus menoleh ke ponselnya, dan sampai menjelang pagi Bram tidak bisa tidur karena menunggu balasan pesan dari Zhira, tapi entah mengapa belum juga ada balasan pesan dari istrinya itu.

__ADS_1


__ADS_2