Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 30 Diam Seribu Bahasa


__ADS_3

Pagi itu nampak Keluarga Haris berkumpul di meja makan, nampak semua terdiam yang terdengar hanya suara sendok yang beradu dengan garpu. Melihat Papa dan Mamanya diam seribu bahasa lalu sang Anak Rara di hinggapi rasa penasaran.


"Pah, kenapa diam saja? biasanya Papa menawarkan Rara untuk nyuapin makan," tanya Rara menatap kepada Haris sang Papa.


Haris hanya terdiam.


"Rara, di suapin sama Mbak, ya?" ucap Mbak Eka. Rara pun mengangguk dan Mbak Eka kemudian menyuapi Anak majikannya itu.


Melihat kedua orangtuanya yang terdiam, Reza pun menggeserkan kursi meja makan lalu dia beranjak dari tempat itu. Padahal dia belum makan sedikitpun, dan Haris pun berlalu dari meja makan, seakan tidak selera untuk makan.


Haris kemudian memasuki ruang kerjanya disana dia duduk termangu dia juga seakan bingung apa yang seharusnya akan dia lakukan di meja kerja karena pikirannya sedang kacau.


Kejadian semalam pertengkarannya dengan Cindy membuat dia masih di hinggapi rasa kesal yang dalam. Rasanya belum tuntas dia memarahi Cindy jadi perasaan kesal, sesak terpendam di dalam dada.


Haris mengambil ponselnya di atas nakas.{"Kamu, benar-benar mau melupakan Bram atau sekedar omong kosong saja?"} Haris menulis pesan kepada istrinya walaupun istrinya ada di rumah.


Cukup lama Haris menunggu balasan pesannya, dan akhirnya setengah jam kemudian baru Cindy membalasnya


{"Maafkan Aku, Pah. Aku berusaha akan melupakan Bram, beri Aku kesempatan untuk menata kembali mahligai rumah tangga kita."} balas Cindy.


Cindy sedang berada di kamar setelah tadi sarapan pagi, dan Cindy pun keluar dari kamarnya lalu dia menghampiri ruang kerja Haris.


Tokk...


Tokk...


Tokk...

__ADS_1


Cindy mengetuk pintu ruang kerjanya Haris beberapa kali, dia berharap sang Suami dapat membuka pintu tersebut. Cukup lama dia berdiri di pintu karena pintu tidak dibuka juga oleh sang suami yaitu Haris.


"Pah, Mama mau bicara, tolong buka pintunya," ucap Cindy. Dia berusaha merajuk sang suami, suaranya sesunggukkan napasnya seakan berat.


Setelah berpikir lama akhirnya Haris membuka pintu, setelah terbuka pintunya Haris berlalu dan duduk di ruang kerja itu, kemudian Cindy memasuki ruangan itu posisi Cindy masih berdiri karena belum di persilahkan duduk oleh Haris.


"Pah! Mama boleh duduk?" tanya Cindy pandangan masih tertunduk tidak berani menatap sang Suami.


"Duduk saja! emangnya Aku melarang untuk duduk, biasanya juga kalau mau duduk, ya duduk saja tidak perlu ijin sama Aku!" Haris terlihat sinis ketika berucap. Cindy pun menggeserkan kursi lalu dia duduk, mukanya merah padam, peluh pun bercucuran. Jantungnya berdebar entah apa yang ada dipikiran Cindy. Mungkin dia di hantui rasa takut dan bersalah kepada sang Suami.


"Kenapa kamu berselingkuh! apa kamu sudah bosan kepada suamimu ini?" tanya Haris sedikit santai tapi pedas mungkin tidak seperti semalam yang berapi-api nada bicaranya penuh emosi.


Melihat suaminya bersuara dengan nada bicara yang santai akhirnya Cindy terlihat bisa bernapas lega dan dia menghela napas secara perlahan.


"Aku tidak sadar Mas, Aku khilaf, maafkan Aku," air mata Cindy menetes tapi dia masih tidak berani menatap mata sang Suami karena dia merasa bersalah.


Terlihat Haris air matanya berkaca-kaca dia seakan bersalah juga, dia berpikir mungkin istrinya berselingkuh karena dia kurang perhatian kepada istrinya itu.


"Tidak akan Pah, Aku tidak akan mengulangi perselingkuhan ini," Cindy mencoba meyakinkan Suaminya itu.


Ting...


Tiba-tiba pesan chat muncul dari Zhira kepada ponselnya Haris, dia mengabarkan bahwa Zhira ada rencana untuk ke rumah Bram bersama keluarganya untuk membicarakan masalah rumah tangganya, Zhira ada niat rujuk kepada Bram sang suami yang sempat renggang karena adanya pihak ketiga.


Melihat isi pesan chat tersebut, muka Haris berseri-seri dia senang sekali membaca dan mendengar kabar tersebut. Dengan Bram rujuk lagi sama Zhira kemungkinan besar Cindy tidak akan lagi berselingkuh dengan Bram dan kesempatan mereka untuk bertemu tidak akan terjadi karena sekarang Bram sudah ada Zhira kembali.


{"Syukurlah, kalau begitu. Semoga hubungan kalian langgeng, dan secepatnya nanti di beri momongan,} balas Haris kepada Zhira.

__ADS_1


Haris pun minta doanya dari Zhira semoga rumah tangga dia bersama Cindy kedepannya baik-baik saja.


***


Akhirnya Cindy mengambil cuti dari kantor selama tiga hari, dia lakukan pekerjaan rumah mulai dari masak, bersih-bersih meskipun ada ART. Dia melakukan itu semua semata-mata untuk mengambil hati sang suami dan ingin kembali menata hidupnya kembali yang sempat berantakan.


Cindy pun meminta maaf kepada Reza sang Anak, atas kejadian kemarin sewaktu di Kafe. Reza pun akhirnya akur kembali dengan Cindy Mamanya.


***


.Cindy berusaha melupakan sosok Bram dalam dirinya secara perlahan. Memang tidak semudah itu untuk bisa melupakan sosok Bram yang penuh kenangan indah.


Dan baru saja Cindy membaca pesan group dari kantor bahwa Bram di pindah tugaskan kerja ke Surabaya. Cindy pun merasa senang mendengar berita itu karena kemungkinan besar dia tidak akan bertemu lagi dengan sosok Bram kekasih gelapnya.


Ketika beres masak Cindy pun berjalan ke teras rumah dan nampak terlihat Haris sedang menerima telepon dari seseorang.


{"Ya, syukurlah kalau suamimu di pindah tugaskan ke Surabaya, Aku senang mendengar kabar ini, jadi istriku Cindy tidak akan bertemu lagi dengan suamimu, Bram,"}


Bicara Haris cukup terdengar jelas oleh Cindy, mendengar Haris berkata demikian Cindy terkejut, dia berpikir mengapa Haris bisa kenal dengan istrinya Bram. Cindy di hinggapi rasa penasaran yang amat dalam.


"Mungkinkah Bram akan kembali kepada istrinya?" gumam hati Cindy. Dan entah mengapa rasa cemburu muncul seketika meskipun tidak seperti dulu, rasa cemburunya sangat teramat besar.


Cukup lama Haris menerima telepon dari Zhira sekitar setengah jam, dan membuat Cindy di hantui rasa cemburu tapi dia tidak berani menegurnya karena dia pun masih malu dan merasa bersalah di hadapan Suaminya jadi tidak berani menegur sang Suami.


Setelah menutup ponselnya lalu Haris membalikkan badannya disana dia melihat Cindy yang sedang duduk termangu dan pandangannya jelas melihat sang Suami yang sedang mendengarkan Haris menelepon, namun Haris sedikitpun tidak ada rasa malu malah dalam hatinya di hinggapi rasa puas karena Cindy sekarang tahu bahwa kekasih gelapnya yaitu Bram ada rencana mau rujuk lagi dengan Istrinya, dan akan di pindah tugaskan kerjanya keluar kota.


"Pah, makan dulu. Aku sudah masak kesukaan kamu, ayam goreng sama sayur asem plus sambel pedas," ucap Cindy dengan muka tersenyum, dia berusaha sekuat tenaga agar bisa mengambil hati sang Suami.

__ADS_1


Haris hanya tersenyum tipis lalu dia berlalu ke hadapan meja makan, disana sudah tampak kedua Anaknya. Melihat kedua orang tuanya tersenyum meskipun senyuman itu tidak lebar kedua Anak itu di hinggapi rasa senang.


"Asik Rara mau di suapin sama Papa," ucap Rara tersenyum manis kepada Papanya. Mbak Eka melihat raut muka Rara begitu gembira dia sangat bahagia. Pun dengan sang majikannya kembali akur.


__ADS_2