Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
107 Karma bagi Bram


__ADS_3

Bram meringis menahan sakit yang teramat, ketika Ronal mencabut lakban berwarna hitam, yang menempel di mulutnya.


"Aww...! pelan dong," ucap Bram.


Ronal pun membuka kain yang menutup matanya. Sementara Reynold membuka kain yang mengikat tangannya.


Penglihatan Bram, sudah tidak gelap lagi. Kini dia melihat sosok ketiga lelaki yang berdiri dengan tegap di hadapannya.


Sorot mata Bram, tajam melihat Bobby, dia terlihat menahan amarah, deru napasnya seakan memburu.


Dia tidak kuasa menahan rasa gejolak hatinya yang ingin menghantam Bobby, karena sudah berani menahannya di rumah kosong itu.


"Keluarkan aku Anji*g!" Bram mengucapkan kata kasar. Ronal tertawa lepas.


Kemudian dia memberikan piring yang berisi nasi basi kepada Bram. Dengan cepat Bram, menepis piring yang diletakkan di pahanya Bram. Otomatis piring pecah dan nasi itu berserakan dilantai.


Bonar tersinggung dengan perlakuan Bram kepada dirinya, lalu dia mena*par keras pipi Bram. Terlihat Bram kembali meringis dan menahan rasa sakit.


"Tidak sopan kau!" Bonar berteriak.


Bobby yang memperhatikan kedua orang itu sedang adu mulut dan cek-cok hanya tersenyum puas.


"Keluarkan aku dari sini! keluarkan!" Bram seakan tidak kuasa menahan emosinya.


Bobby tertawa terbahak melihat Bram yang seperti hilang kendali. Mukanya merah padam, dia berusaha membuka ikatan yang nempel di kedua kakinya. Namun dengan cepat Reynold menendang Bram, hingga Bram tersungkur dan kembali meringis kesakitan.


*****


"Kalian jahat!" Bram terlihat sangat kesal atas ulah mereka bertiga, yang seakan menghina dan memperlakukan dia, seperti tidak ada sopan dan adab.


"Yang jahat kau! bertahun-tahun aku mencari kamu. Aku pendam sakit ini ketika kamu berkhianat dengan istriku. Ini karma pembalasan aku terhadap kamu!" Bobby melotot ke arah Bram.


*****


Bram tersungkur dan dia berusaha mengumpulkan tenaga untuk kembali bangkit, terasa sangat lemah lunglai badannya, karena tidak ada asupan makanan dari kemarin.


Dari mulutnya keluar darah dia terluka, mukanya sudah lusuh dan kotor karena terkena lantai yang sudah kotor.


Ketika dia bangkit untuk mencoba bangkit, dan menahan rasa sakit. Kembali dia tersungkur karena kakinya masih di ikat dengan tali. Bram jongkok mencoba menahan dengan kedua tangannya.


*****


Bram mencoba mengatur napasnya yang tersengal-sengal, kemudian dia mencoba berbicara walau sudah tidak kuat karena merasa haus dan tenggorokannya terasa kering.


"Jadi mau kamu apa, coba sebutkan!" Bram menatap tajam kepada Bobby, dengan suara seraknya.


"Mau aku, kamu terluka sampai kamu kelaparan disini, dan kamu di makan sama binatang buas, yang masuk lewat jendela!" Bobby melirik jendela yang tepat berada di dekat Bram.


Bram meringis ketika melihat keluar jendela yang begitu lebat pohonnya dan diluar sana terlihat sepi tidak ada penduduk.


*****


Diluar jendela nampak pepohonan berwarna hijau, pohon diluar sangat lebat semua. Bram pun asing dengan situasi itu. Dia nampak belum pernah mendatangi tempat ini.


"Aku dimana ini, jawab!" Bram seperti asing dengan tempat yang dia tempati sekarang ini.


"Tidak perlu kamu tahu, Bram! yang penting kamu disini merasakan dulu penderitaan kamu. Dan setelah itu, aku tidak tahu. Kamu kedepannya hidup atau tidak! seperti kataku barusan. Nanti kamu akan di makan binatang buas! Hahahaha...." Bobby tertawa terbahak, tangannya mengepal, dia seakan ingin mena*par kembali muka lelaki yang dulu pernah mengkhianati rumah tangganya. Namun melihat darah yang sudah keluar dari mulutnya dan muka lebamnya Bobby. Dia mengurungkan niatnya tersebut.


*****


Cuahh...


Bram meludah, dia seakan jijik mendengarkan omongan dari Bobby tersebut.


Bram dadanya seakan mendidih, dia tidak tahu harus berbuat apa untuk saat ini. Semua karyawan dan keluarganya pasti sedang mencari keberadaan Bram saat ini.

__ADS_1


Bram terlihat sedang berpikir.


****


Bobby mendekati Bram.


"Kamu pasti lagi memikirkan semua karyawan kamu, orang tua kamu yang mencari anaknya yang masih manja. Dan.." Bobby berhenti berbicara. lalu dia menunjuk kepala Bram. "Dan wanita simpanan kamu yang banyak itu!" Bobby kemudian menyuruh Bonar, untuk mengikat kembali tali ikatan ke tangannya Bram.


Lalu dengan cepat Bonar mengikat Bram, yang sedang kelelahan dan peluh bercucuran.


Bram pun berusaha menolak ikatan yang akan Bonar pasang lagi


Ketika Bonar lengah sedang mengambil ikatan yang terjatuh kemudian dengan beraninya Bram mena*par Bonar.


Bonar pun terkejut dan meringis kesakitan,


"Beraninya ya kamu!" ucap Bonar. Dia pun saking kesalnya terhadap Bram lalu dia balik mena*p*r Bram, dengan lebih keras.


Muka Bram terlihat lebam, dia seperti kelelahan, tidak berdaya dan akhirnya tidak bisa melawan hanya terdiam.


Mereka pun berlalu dari hadapan Bram. Mereka duduk di ruangan depan.


"Kita rayakan kemenangan kita, karena si petualang wanita sudah babak belur kita hajar." ucap Bobby.


Kemudian Bobby mengeluarkan minuman yang sedikit membuat pusing kepala atau me**bu*kan.


Bobby membawa sedikit minuman tersebut kemudian dia siram ke mulut Bram dengan kasar. Mata Bram menyorot kepada Bobby dan tersenyum sinis.


"Awas ya kamu!" ucap Bram lekat matanya ke arah Bobby.


"Hahahaha...awas kenapa? kamu bisa apa dengan badan kamu yang aku ikat semua!" ucap Bobby tersenyum licik.


Terlihat Bram sangat geram kepada Bobby.


Bram terlihat berpikir untuk bisa lolos di tempat tersebut. Dia seakan mencari cara.


*****


"Hari ini kita temani tidur disini, si pengkhianat ini. Kasian dia sendiri!" Bobby mengejek Bram. Pandangan terlihat sinis.


"Boleh Bos," ucap Reynold.


Ronal pun tertawa melihat Bram yang sedang meringis menahan sakit.


*****


*****


*****


Di Restoran Bram.


Nampak terlihat di hinggapi rasa khawatir kedua orang tuanya Bram, mereka mendatangi Restoran milik anaknya itu. Biasanya Bram menghubungi kedua orang tuanya, namun sudah dua hari tidak ada kabar dari anak kesayangannya itu.


Para karyawan pun seakan di hinggapi rasa cemas yang teramat.


"Terakhir melihat Bram hari apa?" tanya Ibunya Bram, menatap lekat kepada karyawan Bram, yang berada di Restoran tersebut.


"Malam kemarin pukul sebelas, pas Restoran mau tutup," ucap karyawan pegawai Restoran.


*****


Ibunya Bram, sesunggukkan menangis pilu. Dia tahu anaknya selalu tidak pulang ke rumah dan dia juga tahu bahwa anaknya nakal. Tapi Bram meskipun sesibuk apapun selalu mengabarkan kepada kedua orang tuanya. Namun sudah dua hari ini Bram tidak ada kabar dan meneleponnya jadi Ibunya Khawatir.


Bapaknya Bram, nampak memeluk istrinya itu, dia seakan menenangkan hati dari sang istri, agar tenang dan sabar.

__ADS_1


"Bu, mungkin dia sedang mengurus bisnisnya, dan ponselnya tidak dia aktifkan. Kita berpikir positif saja, semoga Bram selamat tidak terjadi apa-apa dengan dia," sang suami mencoba menyabarkan hatinya sang istri.


Para karyawan pun terlihat sangat di hinggapi bisa khawatir terhadap Bosnya itu yang tidak ada kabar berita.


Bapaknya Bram, tidak di hinggapi rasa khawatir yang teramat seperti istrinya tersebut. Karena dia tahu anaknya itu lelaki yang nakal suka main perempuan. Bapaknya Bram, menyangka anaknya itu mungkin sedang menikmati kebersamaan dengan seorang perempuan.


Heuhhhh...


Bapaknya Bram, menghela napas panjang, Dia teringat masa lalunya dulu setelah menikah dengan istri yang sekarang yaitu Ibunya Bram, dia sangat nakal seperti Bram kelakuannya dia selalu mempermainkan hati wanita, banyak yang tersakiti lelaki pasangan dari wanita itu karena sama persis dengan Bram, yaitu menyukai istri orang.


Lebih tragis Bapaknya Bram, dulu pernah berurusan dengan polisi karena masalah wanita. Sang suami melaporkan Bapaknya Bram, karena membawa istri orang selama beberapa minggu.


"Aku dulu sangat licik dan baj*ng*n! aku banyak berdosa, mungkin ini karma bagiku juga." matanya berkaca-kaca seakan ada air mata yang akan tertumpah disana.


Bapaknya Bram menyadari hal ini, anaknya tidak ada. Mungkin Bram saat ini sedang berpetualang dengan wanita atau mungkin sedang menerima karmanya, dari orang lain karena ulahnya selama ini.


*****


"Aku khawatir Pak!" sang istri kembali menangis.


Sang Pelayan kemudian memberikan teh manis hangat kepada Ibunya Bram.


"Bu, silahkan di minum dulu, teh hangatnya, biar badan terasa rileks sebentar," ucap sang pelayan.


Ibunya Bram, hanya menganggukkan kepalanya.


"Aku percayai anak kita baik-baik saja Bu," ucap sang suami berbicara lekat ke kuping sang istri.


Ibunya Bram, tidak berkata apapun ketika sang suami mencoba menyabarkan hatinya. Dia hanya menatap ke arah pintu Restoran, dia berharap ada keajaiban anaknya datang dari arah pintu depan Restoran itu.


*****


Hari sudah mulai gelap, jam menunjukkan pukul enam sore.


Akhirnya Bapaknya Bram, mengajak istrinya untuk pulang. Terlihat dari raut muka sang Ibu terlihat sedih ketika akan meninggalkan Restoran milik anaknya tersebut.


*****


Sang ibu kemudian keluar dari tempat Restoran anaknya itu. Lemah lunglai terasa ketika berjalan menuju mobil.


Brukk...


Sang ibu menutup pintu dengan kasar, melihat sang istri terlihat cemberut dan di hinggapi rasa marah. Sang suami seakan penasaran kepada istrinya tersebut.


"Kenapa Bu, sabar. Nanti juga dia kembali!"


"Karma..!" ucap Ibu. Dengan pandangan penuh kesal terhadap suaminya itu.


"Ibu ngomong apa sih!" sang suami merasa tersinggung dengan omongan istrinya itu seakan memojokkan masa lalunya.


"Iya, ini karma, dari kamu Pak! masa lalu kamu gelap!" Ibunya Bram, terlihat kesal kembali mengingat masa lalunya.


Menelisik kebelakang.


bapaknya.Bram berselingkuh dengan wanita lain, membawa wanita lain atau istri orang dan sang suami dari istri selingkuhannya tersebut, melaporkan ke polisi. Sementara saat itu Ibunya Bram sedang mengandung Bram. Sebenarnya saat itu Ibunya Bram, ingin bercerai, tapi dia sedang mengandung Bram. Dan Ibunya mencoba mempertahankan mahligai rumah tangganya.


Ibunya Bram tidak ingin rumah tangga anaknya hancur seperti dirinya dulu. Tapi apa mau di kata, sifat dan kelakuan suaminya, menurun terhadap anaknya itu yaitu Bram.


Ibunya sangat menjaga Bram, memanjakan Bram. Maksud tujuannya agar Bram merasa ada perlindungan dari kedua orang tuanya, jadi dia tidak akan melakukan hal yang aneh terhadap wanita. Tapi apa mau di kata, sifat dan karakter malah menurun dari Bapaknya ke anaknya.


*****


Bapaknya Bram, membuang napas kasar.


"Bu...aku, sudah insyaf. Kenapa kamu kembali membahas masalah ini. Itu masa lalu jangan di ungkit kembali. Yang penting sekarang kita cari anak kita. Bukan menyudutkan suamimu ini!" Bapaknya Bram, menjadi kesal kepada istrinya itu karena menguak masa lalu sang suami yang kelam. Padahal dia mencoba untuk melupakannya.

__ADS_1


Sang istri terdiam dengan matanya bersimbah air mata. Dia teringat masa lalunya, yang begitu pedih terasa menusuk di dada dan seakan sesak.


__ADS_2