
Setelah Haris pergi meninggalkan keluarganya ke Surabaya, Cindy merasa bebas untuk pulang dari kantor, di tambah lagi dengan adanya Mbak Eka yang dengan setia menunggu Anak-anaknya di rumah.
Jalan Mbak Eka mengendap-endap ketika membawa secangkir teh hangat ke depan teras rumah, dia seakan ragu untuk meneruskan langkah kakinya lalu tiba-tiba dia terdiam di depan jendela dekat pintu karena mendengar suara majikannya Cindy begitu mesra ketika menelpon.
"Mas, terima kasih loh, hadiahnya. Ini sudah kupakai baju dasternya, dan cocok, aku suka sekali dengan dasternya." suara Cindy begitu manja terdengar, ketika dia sedang menerima telepon dari Bram kekasih gelapnya itu.
Ehemmm....
Mbak Eka kemudian berjalan satu langkah, dan dia batuk kecil lalu mengeluarkan suara dehem nya.
"Bu, ini teh hangat nya," ucapnya dan dengan cepat Mbak Eka berlalu dari hadapan majikannya itu.
__ADS_1
Sesampai di dapur, Mbak Eka mengelus dada dan tertawa kecil.
{"Apa aku gak salah dengar,"} gumamnya. Tapi Mbak Eka tidak mau memperdulikan hal tersebut, dan dia pun kembali memasak sayur sop kesukaan Rara.
"Mah..!" Rara berteriak keluar dari kamar. Mendengar teriakan Anaknya itu dengan cepat Cindy menutup ponselnya.
"Ada apa, Sayang?" tanya Cindy kaget.
"Kata Papa, Mama di telepon sibuk terus, kenapa?" Cindy terkejut karena tidak terasa dia sudah hampir dua jam menerima telepon dari Bram. Kemudian dia memijit nomor Haris dan mencoba meneleponnya. Setelah ponsel selular tersambung ke Haris, dengan banyak alasan Cindy berucap bahwa baru saja dia menelepon relasi teman kerja diluar kota jadi sibuk. Tapi ada percekcokan disana karena Haris berpikir merasa tidak wajar menelepon masalah kerjaan sampai memakan waktu dua jam. Tanpa ada kata salam Haris pun mematikan telepon selularnya. Cindy hanya tersenyum tipis seakan tidak memperdulikan hal tersebut.
"Mau sama Mbak Eka aja di suapin nya," ucap Rara sambil memandang ART itu. Mbak Eka melirik Cindy, dan Cindy pun menganggukkan kepala.
__ADS_1
Kemudian Cindy memasuki kamar lalu dia membereskan pakaian dan memasukkan beberapa baju kedalam tas besar, dia berencana akan pergi ke puncak acara kantor dua hari, jadi sebelum Haris pulang dari Surabaya kemungkinan Cindy sudah berada di rumah kembali, Cindy bernyanyi-nyanyi ketika membereskan pakaian tersebut nampak merasa senang hatinya.
Melihat majikannya itu Mbak Eka menatap lekat Rara, entah kenapa matanya berkaca-kaca, seakan ada air mata yang akan tumpah disana. Lalu dia mengusap rambut Rara yang terurai panjang.
{Yang sabar kamu ya, Neng. Aku yakin ada yang tidak beres yang terjadi di rumah ini, kayaknya ada lelaki lain dihati Ibu,"} gumam hati Mbak Eka sambil menatap lekat anak majikannya itu.
***
Keesokan harinya Cindy nampak wangi sekali dan polesan make-up yang di poles sangat beda warnanya dari hari sebelumnya nampak lebih segar dan bersemangat dengan warna merah merona lipstik yang dia pakai.
Titt...Titt...Titt..
__ADS_1
Suara klakson Mobil Pajero terdengar beberapa kali dipijit di depan halaman rumah. Lalu Cindy pun keluar dengan muka yang nampak sumringah. Sementara Rara dan Reza sedang pergi sekolah, sementara Mbak Eka sedang menyiram tanaman di teras rumah.
Kemudian Cindy memasuki mobil dan nampak terlihat dia mencium punggung tangan Bram, dan Bram mencium kening Cindy sontak saja Mbak Eka merasa risih dan dengan cepat dia membalikkan badan berpura-pura tidak melihat majikannya itu.