
Mobil Bram menubruk pohon.
"Shitttt, Sial...!" decak Bram, ketika mobilnya menubruk pohon.
Dia keluar dari dalam mobilnya itu, nampak melihat mobilnya yang lecet karena pengaruh menubruk pohon besar.
Bonar dan Reynold memperhatikan dengan seksama ke arah Bram, dari dalam mobil.
"Inilah saat yang tepat!" ucap Ronal tersenyum penuh kemenangan.
Kemudian Ronal memberikan aba-aba kepada Reynold. Dan Bonar pun keluar dan menghampiri Bram. Dia berpura-pura bertanya.
"Ada apa Pak? mogok mobilnya ya?" tanya Bonar. Dia memakai topi dan masker wajah, jadi mukanya tidak nampak terlihat sedikitpun oleh Bram.
Bram menatap lekat kepada Bonar tanpa menaruh curiga sedikitpun.
Bram menganggukkan kepalanya.
Lalu Reynold keluar juga dari mobil, dia mencoba mengalihkan pandangannya dari Bram, agar Bram terkecoh.
Dia pun sama dengan Bonar penampilannya, memakai masker dan memakai sweater yang ada penutup kepalanya, jadi wajahnya tidak nampak terlihat.
*****
Ketika Bram melirik Reynold keluar dari mobil, dan terlihat Bram sedang lengah, kemudian dengan sigap Ronal meletakkan kain kecil di hidung Bram, yang berisi aroma menyengat. Dan Bram terlihat pusing kepalanya dan seketika itu juga, Bram pingsan.
Tanpa pikir panjang mereka memasukkan Bram ke dalam mobil.
Sesudah itu, Ronal menelepon seseorang agar dengan cepat datang ke lokasi dimana mereka berada untuk mengamankan mobil Bram tersebut.
*****
Bram akhirnya dibawa oleh Bonar dan Reynold menuju tempat yang tidak di ketahui oleh siapapun. Karena tempatnya jauh dari penduduk. Tepatnya di dekat pelosok desa terpencil yang jauh dari masyarakat.
Perjalanan ditempuh kurang lebih dua jam menuju tempat tersebut.
*****
Tiba di tujuan.
Rumah besar yang sudah tidak ada penghuninya, dengan debu yang kotor di sekitar ruangan, bau menyengat pun, menyeruak ke hidung sangat tajam sekali membuat mual ingin muntah.
Gelap sekali, Reynold meraba-raba, colokan lampu agar bisa di nyalakan.
Bram di seret oleh Bonar dan Reynold ke ruangan belakang. Kemudian mereka mengikat Bram dengan tali yang cukup kuat.
Matanya ditutup dengan kain.
Ronal dan Reynold pun berjalan ke arah ruangan depan.
Ronal menghembuskan napas kasar.
"Kita tinggalkan dulu dia disini, sesudah itu, baru besok pagi kita kesini lagi. Aku gak kuat tinggal disini bau!" ucap Ronal.
Reynold pun menganggukkan kepalanya, dia pun merasakan hal yang sama, bau menyengat terasa muncul di penciumannya.
"Kira-kira, dia sadar berapa jam lagi? Reynold pandangannya menunjuk ke arah Bram, yang masih pingsan dan tidak berdaya.
"kurang lebih tiga jam lagi!" jawab Ronal.
Kemudian Ronal mengabarkan kabar tersebut kepada Bobby, di iringi dengan gelak tawa seakan puas.
Mereka pun akhirnya meninggalkan tempat itu, dan meninggalkan Bram sendirian di rumah itu.
__ADS_1
*****
Di rumah Bobby.
Setelah menerima kabar dari kedua temannya itu, Bobby bisa tertawa lepas.
{"Akhirnya, aku bisa balas dendam. Aku akan buat kau, menderita Bram! nanti kau akan mati kelaparan! Hahahaha.."} gumam hati Bobby.
Lelaki yang di khianati oleh Bram, akhirnya bisa bernapas dengan lega. Karena lelaki yang selama ini, dia incar akhirnya bisa dia dapatkan juga.
Dia menatap Sherly istrinya itu, yang sedang tertidur pulas. Mukanya masih terlihat ada polesan make-up yang menempel.
"Aku tahu, kamu masih selingkuh seperti dulu. kamu tidak berubah! Tapi lihat saja aku akan menghancurkan satu persatu lelaki yang berselingkuh dengan kamu dan sesudah itu, aku akan menghancurkan kamu Sherly!" bisik hatinya menatap sinis kepada istrinya itu.
*****
keesokan harinya.
Ronal dan Reynold datang kembali ke tempat, dimana Bram di sekap.
{"Bos, kapan kesini?"} Reynold menelepon Bobby.
{"Ini perjalanan menuju kesana, sebentar lagi!"} jawab Bobby.
Bobby menuju ke Bogor untuk melihat sosok Bram, yang selama ini dia cari. Sang pendendam akan melampiaskan semua kekesalannya yang terpendam selama ini.
*****
Jantung Bobby berdetak tidak karuan. Dia di hinggapi rasa amarah yang sangat dalam di dalam dirinya.
Tiba di rumah kosong yang bau dan kotor itu, Bobby langsung menghampiri ruangan Bram, dimana dia di sekap.
Terlihat Bonar dan Reynold sedang berdiri tegak di hadapan Bram.
Bram kemudian terbangun dan menggeliat.
Pandangan dia gelap karena matanya tertutup kain, dan tangannya juga di ikat oleh kain tali dengan sangat kencang.
Prokk...
Prokk..
Prokk..
Suara tepukan dari tangan kekar itu sangat terdengar keras dan jelas sekali di kuping Bram. Bobby menepuk tangannya dengan kencang.
"Bram petualang wanita!" ejek Bobby
"Aku dimana?" Bram berteriak.
"Akhirnya, dia bangun!" ucap Ronal.
"Mau kita apakan, nih orang!" Reynold melirik ke arah Bram, seakan mengejek Bram yang mencoba melepaskan ikatan talinya.
Bobby mendekat ke arah Bram.
"Kau, masih ingatkah sama aku?" bisik Bobby lekat ke kuping Bram.
Sontak dada Bram, saat itu juga bergemuruh begitu cepat. Dia mengingat-ingat seakan kenal dengan suara yang baru saja dia dengar.
"Kau masih ingat tidak, Baj*Ng*n" Bram berteriak kasar.
Ronal dan Reynold, terkejut.
__ADS_1
"Bobby..!" Bram berucap dengan sangat terkejut.
Dia kaget mendengar suara Bobby, dia mengenal suara itu.
*****
\*Menelisik ke belakang\*
Bram dulu ketika berselingkuh dengan Sherly. Dia sedang menaiki mobil dan dari arah belakang di kejar oleh Bobby. Namun Bobby kehilangan jejak mereka, menghilang entah kemana.
Kemudian keesokan harinya Bram mengantar Sherly pulang. Tanpa sengaja Bobby juga sedang ada di parkiran rumah. Nah, disana teradi percekcokan di antara mereka. Keadaan Bobby yang sedang bangkrut tidak bekerja dan tidak bisa memberi napkah kepada istrinya itu.
Jadi keuangan untuk resiko di tanggung oleh Bram saat itu
"Dasar tidak tahu malu, kamu tidak mampu memberi uang kepada istrimu! uang yang selama ini di pakai untuk kamu makan itu, dari siapa, mikir! itu semua dari aku!" Bram melotot, dan berlalu dari hadapan mereka.
Saat itu Gita masih tinggal bersama Neneknya, tidak berada disana, saat Ibu tirinya berselingkuh dengan Bram .
*****
"Aku Bobby! kamu Bram yang dulu menghancurkan rumah tanggaku. Aku dulu diam tidak berdaya karena aku saat itu miskin dan sakit." Bobby matanya berkaca-kaca.
Bobby menghela napas panjang.
Tangan Bobby mengepal lalu dia men*mp*r dengan sangat keras pipi dari Bram. Terlihat Bram meringis kesakitan. Pipinya membiru.
Ronal meneguk air mineral lalu sisa dari air tersebut, dia kucurkan ke arah muka Bram.
"Hahahaha...Kamu haus kan!" ucap Ronal tertawa terbahak.
"kamu lapar tidak!" Bobby kemudian membuka penutup kain yang menempel di bagian mata Bram, dengan kasar.
Bram perlahan membuka matanya sedikit demi sedikit. Setelah terasa penglihatannya cukup jelas lalu dia menatap satu persatu yang berada di ruangan tersebut.
Mata tajam Bram lekat ke arah Bobby, dia seakan kesal dan raut mukanya di hinggapi rasa emosi yang dalam. Dadanya berdebar begitu cepat.
"Kamu..!" ucap Bram terlihat geram.
"Apa...! kamu tidak bisa berkutik Bram!" Bobby tertawa sinis.
"Lepaskan aku!" Bram berontak.
"Lepaskan, jangan?" Bobby melirik kepada kedua temannya itu seakan mengejek.
"Kita buang ke laut saja!" ucap Ronal, tertawa puas.
Bobby hanya menggertak. Bobby tidak akan sampai membunuh lelaki itu. Tapi yang dia inginkan hanya ingin buat Bram, meringis kesakitan selama di kurung di rumah itu. Entah waktu berapa lama.
"Kau sudah puas melihat mukaku!" Bobby melotot lekat ke arah Bram.
Kemudian Bobby menutup kembali mata Bram dengan kain sangat erat. Mengakibatkan mata Bram terasa sakit.
Dia meringis.
"Pelan..!" Bram berteriak.
Bobby malah tidak menghiraukan ucapan Bram. Lalu Bobby menambahkan lakban ke mulut Bram, yang mengakibatkan Bram tidak bisa berbicara.
Sementara kaki Bram, di ikat oleh Reynold.
__ADS_1
Setelah mereka merasa puas dengan melihat penderitaan Bram. lalu mereka berlalu dari hadapan Bram.