
"Jadi kan ke rumahku?" pesan muncul ke ponselnya Haris.
Pesan dari Friska membuat Haris di hinggapi rasa bingung.
Karena bagaimanapun dia berstatus suami orang. Nah, yang jadi pikirannya, Friska berstatus janda takutnya akan di pandang jelek oleh orang lain terutama keluarga Friska.
"Kenapa, Pak?" tanya Wisnu teman dekat dari Haris.
"Aku di undang ke rumahnya Friska oleh Ibunya, gimana ya?" Haris seakan bingung.
"Gimana apanya?" Wisnu terlihat bingung juga 🤭😁
"Maksudku, Friska janda. Aku takut jika datang ke rumahnya jadi fitnah orang," Haris tersenyum tipis.
***
Wisnu tahu Haris itu seorang yang pemalu, dan pendiam jadi tidak mungkin dia berani jika datang ke rumah wanita seorang diri.
Wisnu seakan mengerti maksud dari Haris, lalu dia menawarkan diri untuk mengantar Haris ke rumah Friska.
"Jadi, mau di antar ke rumah Friska!" Wisnu tersipu malu.
Wajah Haris berubah menjadi tersenyum bahagia seakan ada jalan keluar untuk datang ke rumah Friska.
"Jadi mau nganter?" Haris terlihat basa-basi ketika berucap.
"Hayu, kapan?" Wisnu begitu bersemangat.
"Besok!" jawab Haris singkat tapi jelas 😁
***
Keesokan harinya Haris sudah berpakaian rapih. Hari ini rencananya mau berkunjung ke rumah Friska di antar oleh Wisnu.
"Wah, Bos ganteng banget!" Wisnu menggoda Haris. Yang di goda hanya mesem-mesem.
"Sudah siap? ayo kita pergi sekarang!" Haris mengajak Wisnu untuk segera berkunjung ke rumah Friska.
Rumah Friska di daerah Lembang dengan udara yang cukup dingin yang berada di kota Bandung itu.
***
Haris mengemudikan mobilnya cukup pelan karena dari daerah Jalan Setiabudi menuju Lembang macet.
Haris pun tidak ambil pusing dengan kemacetan tersebut karena Wisnu seakan tidak ada habisnya mengajak ngobrol dengan Haris.
"Wisnu, di daerah Jalan Setiabudi ada jajanan Bandung yaitu kue serabi, kita beli dulu, buat oleh-oleh untuk Ibunya dan Friska, mereka sangat suka serabi." Haris pun memarkirkan mobilnya di pinggir kampus dekat yang berjualan kue serabi.
Setelah beres membeli kue serabi dengan antrian yang lumayan panjang, akhirnya Haris kembali melajukan mobilnya ke arah Lembang yaitu rumah Friska.
***
Setelah menempuh perjalanan satu jam lebih karena macet, akhirnya Haris dan Wisnu tiba di tujuan.
"Sampai juga akhirnya," ucap Haris
"Rumahnya lumayan jauh ya!" Wisnu cengengesan. Haris hanya membalas dengan senyuman.
Nampak asri rumah dari Friska, pepohonan hijau berjejer di halaman rumah, terasa sejuk ketika mereka menginjakkan kaki di halaman rumahnya.
Friska mengintip dari jendela rumah, dia tersenyum lebar melihat kedatangan Haris dan Wisnu.
"Bu, tos dongkap, tamu na," Friska mengabarkan kepada Ibunya bahwa tamunya sudah datang.
__ADS_1
Ibu Firna, nama dari Ibunya Friska tergopoh-gopoh datang menemui tamunya yang tidak lain adalah Haris.
"Nak Haris, kumaha damang, tos lami pisan teu peundak," Bu Firna tersenyum lebar melihat kedatangan Haris.
Haris mengulurkan tangannya dan bersalaman dengan Bu Firna, dan dengan spontan Ibunya Friska memeluk Haris, terasa dekat seperti anaknya sendiri.
Ibunya Friska pun menanyakan kabar dari Haris yang sudah lama tidak bertemu.
"Ayena, saurna di Bandung buka usaha? sing sering atuh kadiye nganjang." kata Ibunya Friska, sekarang kan tinggal di Bandung, jadi sering main untuk mampir ke rumahnya.
Friska mencubit lembut punggung Ibunya, Friska seakan malu ketika Ibunya berkata begitu.
"Basa-basi, atuh Neng!" Ibunya Friska berbisik lekat ke kuping anaknya itu.
Haris pun nampak tersipu malu.
"Sok, mangga, leubeut," Ibu mempersilahkan Haris masuk rumah.
Setelah duduk, Harisnpun memberikan bungkusan kue serabi ke Friska.
Friska pun membuka dus yang berisikan kue serabi, sontak Friska tersenyum lebar ketika mengetahui isi dus tersebut.
"Waduh, kamu masih inget kue kesukaan aku!" karena kuenya masih hangat tanpa basa-basi, Friska langsung melahap kue serabi itu sambil tersipu malu.
Tak lama kemudian Ibunya Friska datang dari dapur sambil membawa kopi panas.
"Sok, mangga dileueut kopi panasna," Ibu menyuguhkan kopi panas kepada Haris.
Wangi kopi yang di suguhkan sangat menyeruak penciuman Haris.
Tanpa menunggu dingin kopi tersebut, Haris pun menyeruput kopi yang di suguhkan oleh Ibunya Friska.
"Ibu, masih ingat ya, kopi kesukaan Haris. Dulu zaman kuliah, kalau Haris mampir kesini pasti di suguhi kopi hitam dengan memakai gula merah aren. Wah mantap ini!" ucap Haris, dan tatapannya tersenyum ke ibunya Friska.
"Sok, eta singkong gorengna mangga di tuang, mumpung masih haneut," Ibu juga menyuguhkan singkong goreng panas.
"Bu, ini Haris membawakan kue serabi, yang dulu dia suka bawa ke rumah, zaman kuliah dulu." Friska menyodorkan kue serabi kepada Ibu.
"Terima kasih, Nak Haris, repot-repot. Ini makanan banyak udah Ibu suguhin," Ibu pun melahap kue serabi yang dibawa Haris.
***
Wisnu dan Haris terlihat begitu senang karena sang punya rumah begitu ramah.
Makanan kampung yang sangat sederhana yaitu singkong, tapi terasa nikmat untuk di kunyah, dengan cuaca yang sangat dingin di kota Lembang.
Apalagi di tambah minumnya kopi panas di tambah dengan gula merah aren, terasa dunia milik Haris, yang lain ngontrak 🤭🤣
***
"Nak Haris, yang namanya rumah tangga pasti ada cobaan, yang penting kita sabar dan ikhlas saja. Mungkin Gusti Allah sedang menguji kita." Haris sedikit terkejut karena Ibunya Friska seakan tahu kondisi rumah tangganya yang sedang ada masalah.
Mungkin Friska sang Anak sudah menceritakan semuanya kepada Ibunya.
Karena sifat Friska dari dulu selalu terbuka apapun terhadap Ibunya, dan teman-teman kampus Friska cukup dekat dengan Ibunya Friska, karena Ibunya Friska begitu ramah dan peduli.
Haris hanya menganggukkan kepala dan tersenyum kepada Ibunya Friska, ketika Ibu Firna memberikan sebuah wejangan kepadanya.
***
Tidak terasa jam menunjukkan pukul sembilan malam. Haris pun berpamitan kepada sang pemilik rumah.
"Bu, permisi pulang dulu," ucap Haris.
__ADS_1
"Nembe tabuh salapan, ngke heula. Di luar masih rame," Ibunya Friska seakan menahan Haris untuk pulang, dia masih betah mungkin ngobrol ngaler-ngidul bersama teman anaknya itu yang sudah lama tidak bertemu.
"Bu, Haris orang sibuk. Dia mesti ngurusin Kafenya." ucap Friska kepada Ibunya.
***
Haris pun bersama Wisnu pamit pulang, dalam perjalanan Wisnu terus saja mengajak ngobrol kepada Haris, agar Haris tidak mengantuk disaat sedang menyetir.
"Wisnu, kalau aku pulang ke Bogor mau ikut nggak? tanya Haris.
"Wah, kapan pak?" tanya Wisnu, seakan senang ketika Haris menawarkan untuk berkunjung kerumahnya Haris.
"Lusa, ikut ya!" Haris berharap Wisnu ikut karena jika Wisnu ikut kemungkinan dia akan sebentar berkunjung ke rumahnya tidak menginap, karena dia tidak mau berlama-lama bertemu dengan Cindy.
Yang ingin dia lihat saat ini adalah anak-anaknya.
"Emangnya Bapak nggak akan menginap di Bogor? tanya lagi Wisnu, masa nggak kangen sama istri" Wisnu seakan menggoda temannya itu.
Haris hanya tersenyum tipis ketika.Wisnu menggodanya.
Wisnu seorang duda, usianya lebih muda dari Haris. Dia cerai dari sang istri karena istrinya mengkhianatinya, dan berpaling ke pangkuan lelaki lain.
Jadi Wisnu merasakan sakit hati yang di rasakan Haris saat ini seperti apa.
"Wisnu, kamu masih berhubungan dekat dengan Sherly?" tanya Haris. Sherly adalah teman dekatnya Wisnu saat ini.
"Sudah putus!" Wisnu tersipu malu.
"Loh, kenapa?" tanya lagi Haris.
"Mungkin belum jodoh," Wisnu tertawa tipis.
"Padahal kalian serasi loh!" Haris menyayangkan hubungan kandas Wisnu dengan Sherly.
"Mau ngasih jodoh!" Wisnu tertawa terbahak.
Haris tertegun sejenak, seakan memikirkan siapa wanita yang pantas untuk di kenalkan kepada Wisnu.
"Aku juga sedang tidak baik-baik saja dengan istriku. Mana mungkin memberikanmu jodoh!" Haris tersenyum tipis.
***
Sekelebat bayangan Cindy muncul, ada rasa rindu dengan sosok istrinya yang lembut, penurut, pendiam. Tapi itu dulu, ketika dia tidak pandai bergaul.
Namun sekarang istrinya yang egois, tebar pesona ke lelaki lain, dan selalu membantah seakan membuat Haris malas untuk pulang ke rumahnya.
Heuh...
Haris menghela napas panjang,
Wisnu melirik temannya itu, kemudian Wisnu menepuk pundak Haris seakan menyabarkan hati Haris.
"Semua indah pada waktunya," Wisnu berucap dengan pelan.
"Berasa judul lagu!" jawab Haris.
Haris sengaja melumerkan suasana agar tidak tegang dan terlalu serius.
Wisnu pun tertawa lebar.
Melihat temannya yang begitu sabar dan terlihat tidak ada masalah, Wisnu sangat kagum dengan sosok Haris.
Wisnu menatap lekat temannya itu dengan penuh iba, kemudian menghela napas secara perlahan.
__ADS_1