
Melihat kedatangan Wisnu dan Haris, hati Zhira sangat bahagia sekali.
Mungkin Cindy sudah cerita kepada orang tuanya, kedatangan Haris dan Wisnu, terutama masalah Haris.
Karena nampak dari cara bicara Ibunya Cindy seakan menyabarkan hati Haris.
"Sabar Nak, nanti juga akan kena karma Cindy dan Bram, Ibu doakan kamu mendapatkan wanita yang baik, dan tidak licik seperti Cindy. Ibu juga selalu kasian kalau lihat anak Ibu Zhira jika teringat dengan Bram, yang mempermainkan anak Ibu terus," ucap Ibu sambil melirik kepada Zhira.
***
"Ini teman, Nak Haris?" tanya Ibu melirik ke Wisnu.
"Iya, Bu, dia temannya Mas Haris," Zhira menatap Wisnu terlihat malu, begitupun dengan Haris, saat beradu pandang terlihat mereka malu dan menunduk.
Ibu bertanya dalam benaknya, mungkinkah ada getar di dalam hati anaknya itu?
Ibu pun tersenyum.
***
"Ayo, kita makan dulu yu, tadi Zhira sengaja memasak masakan spesial khas Kalimantan yaitu -Soto Banjar- pasti kalian suka," Ibu mengajak kedua lelaki itu menuju ke meja makan.
Terlihat sangat menggiurkan ketika Ibu membuka tudung saji, terlihat -Soto Banjar- masih panas.
Aroma yang keluar dari -Soto Banjar-
Soto berkuah kuning bening, kaya dengan rempah-rempah. Menyeruak ke hidung.
Zhira menyodorkan piring kepada Haris, dan Wisnu. Namun ketika Zhira menyodorkan piring kepada Wisnu, tidak sengaja tangan Zhira tersentuh oleh Wisnu.
Entah mengapa kedua makhluk itu mukanya memerah seakan menahan malu.
Melihat adegan tersebut, sontak Haris tertawa menggelitik.
****
"Enak gak, Soto Banjar nya?" tanya Zhira menatap Haris, kemudian melirik kepada Wisnu.
Dengan cepat Wisnu berkata
"Enak, sekali kamu pintar masak, masakannya aku suka," Wisnu memuji masakan Zhira.
"Betapa beruntung, lelaki mendapatkan nya, selain cantik, baik, pinter masak pula," gumam hati Wisnu.
Zhira terlihat merasa bangga atas pujian Wisnu.
"Sesudah makan silahkan di cobain juga
Kue manis nya. ini ada kue manis namanya Bingka barandam, dan ini ada pengkang yang terbuat dari ketan isinya udang ebi.
Telunjuk Zhira, menunjukkan satu persatu kue yang sudah dia buat.
"Rajin ya, bikin masakan dan kue," Haris kemudian mengambil kue Bingka barandam.
Begitu lahap terlihat dari cara makan Haris, begitupun dengan Wisnu.
Betapa senang hati Zhira, karena masakannya di puji mereka.
*****
__ADS_1
Setelah acara makan selesai mereka pun kembali berlalu ke ruang tamu.
"Mungkin Nak Haris, sudah ada calon ya?" tanya Ibunya Zhira.
Wisnu langsung menyambar jawaban.
"Sudah Bu," bola mata Wisnu menatap Haris, dan tersenyum tipis.
"Alhamdulillah, Ibu doakan cepat menikah ya," Ibu langsung melirik Zhira. Pertanda Ibunya juga ingin anaknya cepat-cepat mendapatkan jodoh.
"Iya Bu, terima kasih doanya, mungkin tahun depan akan segera nikah," Haris tersipu malu ketika berucap.
"Nanti undang ya?" Zhira berharap bisa hadir di acara pernikahan Haris.
"Ya, tentu. Pokoknya Ibu harus datang bersama Zhira, ke acara pernikahan aku,"
Ibu kemudian menatap Wisnu.
"Kalau Nak Wisnu, statusnya apa, maaf?" Ibu terlihat gugup ketika bertanya.
"Duda, Bu," Wisnu tertunduk malu.
Nak Wisnu juga kelihatannya anak baik, sama seperti Nak Haris, semoga mendapatkan jodoh yang baik pula.
"Semoga jodohnya, anak Ibu," Haris mencoba menggoda Wisnu, dan Zhira yang terlihat kaku dan di hinggapi rasa malu di antara keduanya.
Ibu kemudian tersenyum dan melihat mereka berdua yang pandangannya sama-sama menunduk, seakan menahan malu.
****
Ibu pamit ke kamar, dan Haris keluar teras karena sedang menerima telepon dari Friska.
Akhirnya Wisnu memberanikan diri untuk berbicara.
"Besok kan, jadwalku bersama Pak Haris kosong, gimana kalau aku ajak kamu untuk jalan keluar? hanya kita berdua," Wisnu di hinggapi rasa gelisah takut Zhira menolak ajakannya itu.
"Boleh jam berapa?" Zhira langsung
menjawab tanpa banyak berpikir.
"Sore saja, ya!" Wisnu melemparkan senyum ramahnya.
Tatapan dari Wisnu membuat jantung Zhira berdebar tidak karuan. mungkin inikah yang di namakan dengan cinta?
Wisnu pun entah mengapa merasakan hal yang sama, dalam hatinya di hinggapi rasa panah asmara yang membuat dadanya bergemuruh.
***
Dua jam sudah mereka berada di rumah Zhira, akhirnya mereka pamit untuk pulang.
Kepergian Wisnu dari rumahnya seakan membuat Zhira ketakutan.
Takut tidak bisa lagi bertemu dengan Wisnu, padahal besok mereka ada janji buat bertemu kembali.
Zhira melambaikan tangan, ketika terdengar bunyi klakson dari sang pengemudi.
"Aku merasa nyaman berbicara dengan Wisnu, entah mengapa," gumam hati Zhira di hinggapi rasa gembira.
"Nak, kelihatannya Wisnu, anak baik kalau menurut Ibu," tiba-tiba Ibu datang keluar dari kamar.
__ADS_1
Zhira hanya tersenyum tanpa ada kata ketika Ibunya berbicara.
"Nah, kalau cari jodoh seperti mereka, Haris dan Wisnu. Sepertinya mereka tanggung jawab kepada pasangan dan yang paling penting setia. Enggak kayak si Bram, pengkhianat!" Ibu seakan kembali menorehkan luka.
"Sudah, sudah Bu. Ibu lagi sakit jangan kembali mengingat Bram. Jika Ibu terus menerus pikirannya di hantui sosok Bram, Ibu jadi kepikiran terus dan akhirnya sakit gak sembuh-sembuh,"
Zhira mencoba meyakinkan Ibunya jangan selalu mengingat Bram lagi yang sudah meninggalkannya.
*****####*****
Di dalam mobil nampak Wisnu mukanya berseri-seri.
"Kamu sudah tembak Zhira, belum?" tanya Haris tersenyum mengejek.
"Belum, sepertinya besok, hehehe...." Wisnu menggaruk kepalanya walaupun tidak gatal.
Dalam hati Haris sudah tahu, apa yang ada di pikiran Wisnu.
-Dia ingin segera mempunyai pasangan yang serius-
"Aku mendukungmu, my brother!" Haris menepuk pundak Wisnu.
Mendapat dukungan dari Haris, untuk lebih dekat mengenal sosok Zhira, Wisnu seakan bersemangat untuk lebih mendekati Zhira.
***
Sesampai di rumah, Wisnu menelepon Zhira.
Nampak serius terlihat ketika mereka sedang berbicara.
{"Aku juga mencari pasangan yang benar-benar serius, tidak mau pacaran lebih lama. Kalau sudah sama-sama cocok mending langsung nikah saja,"} ucap Wisnu, seakan meyakinkan hati Zhira, yang dulu pernah terluka oleh Bram.
{"Kita sama-sama pernah gagal, semoga akan mendapatkan pelajaran dari pernikahan yang terdahulu,"} jawab Wisnu.
***####****
Keesokan harinya akhirnya Wisnu dan Zhira bertemu, nampak Zhira berpakaian rapih dan wangi begitupun dengan Wisnu.
Wisnu nampak terlihat gagah dengan memakai celana jeans, kaos ketat dengan balutan blazer.
Zhira tersenyum renyah ketika Haris menyalaminya. Wisnu terpesona dengan kecantikan wanita yang berada di hadapannya.
***
Satu jam sudah mereka berada di Kafe, nampak ada live musik yang mengiringi obrolan mereka. Terlihat sudah tidak ada rasa canggung lagi ketika mereka berbicara.
Canda tawa mengiringi obrolan mereka yang di temani musik klasik seakan menambah romantis.
****
"Kamu kapan mau ke Bandung?" tanya Wisnu menatap lekat Zhira.
Seketika itu tatapan Wisnu seakan menerobos ke jantungnya, begitu bergetar dada Zhira di buatnya.
"Mungkin bulan depan, saudaraku ada yang tinggal di Bandung," Zhira tidak berani menatap wajah Wisnu.
"Maukah kamu menjadi kekasihku?" Wisnu berharap cemas.
Zhira tersipu malu dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1