
Bagas menceritakan semuanya kepada Cintya tentang Bram. karena di hinggapi rasa penasaran jadi Cintya mencoba membujuk Cindy untuk memperlihatkan foto Bram.
"Aku penasaran dengan yang namanya Bram, Kakak masih menyimpan fotonya tidak?" tanya Cintya.
"Aneh tiba-tiba menanyakan Bram. Aku sudah tidak mau mengingatnya lagi,' ucap Cindy. Raut mukanya di hinggapi rasa kesal yang teramat.
"Yasudah aku tidak mau memaksa," Cintya berlalu dari hadapan Cindy.
*****
Setelah keluar dari kamar.
"Nanti setelah makan siang, aku akan mengambil foto Bram, di galerinya. Karena kalau siang dia suka tertidur pulas, setelah makan dan minum obat." gumam hati Cintya.
*****
Mengendap-endap Cintya, ketika berjalan. Dia secara perlahan membuka pintu kamar yang di tempati oleh Cindy.
Kreekkkk...
Bunyi suara pintu begitu dijaga jangan sampai terdengar oleh Cindy.
Cintya mencoba menarik napas secara perlahan. Dia lihat di atas Nakas, ponsel Cindy masih tersimpan rapih.
Cintya kemudian membuka layar ponselnya, Cindy. Lalu membuka galeri foto. Begitu banyak disana foto yang tersimpan. Ada beberapa laki-laki yang sedang di foto bersama Cindy. Tapi yang banyak tersimpan ada tiga lelaki, ( Bram, Helmi, dan Azam,).
"Mungkinkah tiga lelaki ini, yang mengisi hati Cindy, selama dia menjadi istri Haris?sungguh Kakakku, wanita jahat!" bisik hatinya lagi. Cintya geram melihat semua foto tersebut.
Tapi dari ketiga lelaki itu, yang terlihat mesra, hanya bersama Bram. Cintya memandangi dengan lekat foto kebersamaan Kakaknya itu dengan Bram. Melihat foto tersebut Cintya terlihat geram karena Cindy masih berstatus istri sah Haris.
"Dasar wanita nakal!" gumam hati Cintya.
Setelah dia mengambil beberapa foto, dan mengirimkannya ke ponsel pribadinya. Cintya pun berlalu dari kamar tersebut. Matanya sambil memandangi Cindy, takut terbangun.
******
Heuhhhh
Akhirnya Cintya bisa bernapas dengan lega. Karena dia dapat mengambil beberapa foto dari ponselnya Cindy.
Cintya memasuki kamar, dia termenung di dalam kamarnya. Dia terlihat sangat memikirkan Cindy. Dia sebagai adik merasa kecewa karena Kakaknya bagaikan wanita yang tidak ada harga diri.
Cintya meneteskan air mata, dia teringat kepada Haris yang hatinya pasti sangat terluka dan hancur dengan pengkhianatan istrinya itu.
"Aku harus menemui anak-anaknya, Reza dan Rara. Wajar jika anaknya, tidak mau bertemu dengan Ibunya karena dia seorang Ibu yang sangat licik dan jahat!" Cintya seakan meratapi nasibnya kedua anaknya Cindy.
*****
__ADS_1
Tok..Tok..Tok..
Mbak Lastri, membawa segelas jus mangga, ke dalam kamar Cintya.
"Bu, gulanya, sedikit kan?" Mbak Lastri, menyimpan jus tersebut di atas meja.
Kemudian dia, dengan cepat melangkahkan kakinya untuk berlalu keluar.
Namun baru saja melangkahkan kakinya, beberapa langkah. Cintya memanggilnya.
"Mbak, kenal sama lelaki ini nggak?" Cintya memperlihatkan ketiga foto lelaki yang di foto bersama dengan Cindy.
Mbak Lastri, mengernyitkan dahi.
Satu persatu dia coba ingat lelaki itu.
"Yang kedua lelaki ini tidak kenal, tapi ada satu yang Mbak kenal. Nah, ini." telunjuk Mbak Lastri, mengarah ke foto Azam.
"Ini namanya siapa, hubungan sama kakakku apa, rumahnya dimana?" Cintya, mencecar pertanyaan kepada sang ART tersebut.
Mbak Lastri kemudian menceritakan semua yang dia tahu tentang sosok Azam. Cintya begitu serius mendengarkan.
"Jadi Azam kerja di yayasan, dan mereka baru kenal," ucap Cintya.
Mungkin yang tahu semua tentang, lelaki yang dekat sama Ibu Cindy, adalah Mbak Eka. Dan Rara sangat dekat sama mbak Eka dari pada Ibunya sendiri," ucap Mbak Lastri.
*****@@@*****
{"Mas, aku sudah dapat fotonya Bram,"} Cintya, lalu menceritakan semuanya. Dan di antara ketiga foto itu, ada satu yang sudah tertebak namanya yaitu Azam.
Kemudian Cintya, mengirimkan foto Bram dan Helmi.
Bagas terkejut ketika melihat foto Bram. Karena Bram yang dia duga pacarnya Gisela dan selingkuhannya Cindy, adalah Bram yang sama.
{"Ya, benar, Ini Bram yang di maksud,"} balas Bagas.
****@@@***
Cintya membereskan bajunya. Lalu dia masukkan ke dalam tas besar.
"Besok, aku mau minta antar Bagas, ke rumah Ibunya. Sudah lama aku tidak bertemu Ibu mertua. Aku merasa berdosa, semenjak ada Cindy, aku sudah tidak memperdulikan Ibu mertuaku lagi. Padahal dia sangat baik." gumam hati Cintya.
Cintya akan ke rumah Ibu mertuanya, untuk menginap. Entah berapa lama, karena baju yang dia bawa, begitu banyak. Cintya sudah tidak mau lagi mengurus Kakaknya yang sakit tapi terlihat manja.
Cintya ingin menenangkan dulu hatinya, karena setelah melihat kelakuan Cindy. Dia begitu kesal, marah dan kecewa.
Tidak menyangka Kakaknya yang dulu terlihat alim dan baik ternyata kelakuannya bejat.
__ADS_1
Dan rasa sakit yang dia rasakan sekarang, itu akibat ulahnya terdahulu.
*****@@@*****
Bagas sedang bersama Hari
"Benar juga, Bram selingkuhan Cindy dulu, adalah pacar dari Gisela sekarang." ucap Bagas, sambil menyeruput segelas kopi.
Bagas memperlihatkan foto Bram kepada sahabatnya itu.
Hari seakan menahan tawa, ketika melihat foto seorang lelaki playboy itu.
"Kita jangan gegabah kalau mau bertindak, ingat Bram, orang penting, pasti bodyguard nya sangat banyak. Hahahaha..." Hari tertawa terbahak.
"Benar juga," Bagas termenung.
Bagas juga tidak menyalahkan Bram, sepenuhnya. Karena Cindy juga sebagai wanita salah. Kenapa melayani lelaki yang beristri. Pada saat itu juga Cindy, sedang ada Haris suaminya, kenapa melayani Bram.
Berarti yang salah dua-duanya.
Sakit lumpuh kakinya, mungkin itu di akibatkan karena karmanya sendiri. Tapi mungkin itu belum seberapa. Kesakitan yang di rasakan oleh suaminya Haris, belum bisa mengobati.
*****@@@*****
Drettt... Drettt... Drettt
Bunyi telepon kembali muncul dari Cintya.
{"Mas, aku besok mau ke rumah Ibumu, aku kangen sama Ibu. Besok kamu antar aku kesana ya,"} ucap Cintya, terdengar dari suaranya, ingin segera hari esok, agar cepat bertemu dengan Ibu mertuanya.
{"Mau berapa hari menginap di rumah Ibu?"}
tanya Bagas. Dia sangat senang mendengarnya. Karena akhir-akhir ini Cintya, seakan sudah tidak peduli terhadap Ibunya itu, semenjak adanya Cindy di rumahnya.
{"Nggak tahu, Mas,"} ucapnya. Cintya tidak memberikan jawaban yang pasti.
{"Loh, ko," kenapa?"} sambung Bagas. Di hinggapi rasa tanda tanya. Kepada Istrinya itu. Karena sebelumnya dia tidak pernah bicara yang tidak pasti. Cintya orang yang tegas. Jika mengambil suatu keputusan.
{"Aku mau menenangkan pikiranku dulu, Mas. Entah mengapa, aku di hinggapi rasa kecewa dan kesal. Kepada Kakakku Cindy. Bahkan aku dari tadi nggak mau keluar kamar, seakan muak dan malas lihat mukanya." Cintya berkata dengan bicara seakan marah namun terdengar sedih di akhir pembicaraan.
{"Loh, kenapa?"} lagi-lagi Bagas merasa heran, dengan jawaban Cintya.
Cintya menghela napas secara perlahan.
"Aku melihat foto mesra Bram dan Cindy ketika di Hotel....." Cintya terdengar tidak bisa melanjutkan bicaranya.
"Sabar, Sayang. Sudah jangan nangis. Kamu lagi mengandung. Kamu jangan banyak pikiran. Ya, besok aku antar kamu, ke rumah Ibuku, agar kamu beristirahat disana. Tenangkan dulu diri kamu," Bagas mencoba menyabarkan Istrinya itu.
__ADS_1