
Haris bahagia.
Malam itu Friska sedang berkumpul dengan keluarganya, nampak mereka terlihat bahagia dan dari raut wajah Friska terlihat begitu sumringah, begitupun dengan Haris.
Haris terlihat sesekali mengelus lembut perut sang istri, seakan ingin cepat Friska melahirkan dan mengendong anaknya itu.
"Senang ya, Mas, mau punya anak dari Friska?" tanya Zhira seakan menggoda Haris.
"Iya, lah, pasti senang. Aku ingin cepat menggendong bayi," ucapnya, sambil mencium punggung tangan sang istri.
Drett... Drett...Drett..
Tiba-tiba telepon Friska berbunyi, dilayar telepon terlihat dokter Richard menelepon.
Kemudian Friska pun mengangkat ponsel tersebut. Terlihat Friska ketika menerima telepon dari temannya itu, raut mukanya nampak dihinggapi rasa khawatir dan mengelus dada.
Setelah beberapa menit kemudian, lalu Friska menutup sambungan teleponnya.
Dia menghela napas panjang, kemudian melirik kepada Haris.
"Telepon dari siapa?" tanya Haris.
"Dokter Richard mengabarkan kalau Cindy, keadaannya memburuk dan dia di pusat rehabilitasi ngamuk terus, emosinya tidak terkendali," ucap Cindy.
"Terus sekarang gimana, masih ngamuk?" tanya Haris.
"Sudah diberi obat penenang katanya, dan terus menerus memanggil nama Bram," sambung Friska kembali, pandangannya sambil melirik ke arah Zhira.
__ADS_1
Zhira mengernyitkan dahi, dia seperti sedang berpikir serius.
"Oh, ya. Aku ingat, semalam Ibunya Bram, menelepon aku. Bram katanya sekarang keadaan matanya buta. Miris banget ya, keadaan Cindy dan Bram," ucap Zhira. Menatap Haris.
Sontak semua yang sedang berada di sana terkejut semua, mendengar kabar tersebut.
"Kasihan ya," ucap Friska.
Friska tidak ada sifat benci dan dendam terhadap siapapun, dia bersikap legowo. Hatinya lembut, itu yang membuat Haris, merasa nyaman di samping Friska.
"Mungkin karma, karena sudah menyakiti kita ya," jawab Zhira terdengar ketus dan sinis. Dengan pandangan Zhira mengarah ke Haris.
Sementara Haris hanya diam dan menganggukkan kepalanya.
"Itu sudah takdirnya," ucap Friska.
Haris terlihat melamun.
Friska seakan tahu isi hati dari suaminya.
Lalu dia mengusap lembut pundak suaminya.
"Mas, nanti aku akan bicara sedikit demi sedikit atau secara perlahan kepada anak-anak Mas, tentang keadaan Cindy. Nanti juga mereka akan mengerti dengan keadaan Mamanya, dan nanti pasti mereka akan menerima keadaan, apa yang sebenarnya terjadi, Aku harus melihat situasi keadaan anak-anak jika nanti mau berbicara keadaan yang sebenarnya." ucap Friska tersenyum manis seakan menambah rasa nyaman terhadap sang suami.
Dia mencoba meyakinkan hati suaminya itu.
__ADS_1
Friska sangat sayang dan perhatian terhadap suaminya dan anak sambungnya tersebut.
Haris terharu mendengar ucapan dari sang istri, lalu dia memeluk istrinya itu dan mencium keningnya. Dia merasa sangat senang dengan istrinya tersebut, semakin lama mengenal sosok istrinya, semakin jatuh hati Haris kepadanya. Haris begitu bangga dengan kepribadian istrinya tersebut.
"Terima kasih, sayang. Kamu selalu menguatkan aku dan selalu hadir di setiap rasa gelisah dari sang suami," ucap Haris matanya berkaca-kaca.
Haris mengingat istrinya terdahulu yaitu Cindy, sungguh sangat berbeda cara berpikir dengan istrinya yang sekarang.
Friska sangat dewasa dan penuh perhatian dan telaten terhadap sang suami.
"Mas, jangan sedih. Ko' nangis sih," tanya Friska, mengusap air mata sang suami yang tiba-tiba menetes
Air mata Haris adalah air mata rasa gembira, Haris terharu karena dibalik kesabarannya selama ini, ternyata membuahkan rasa gembira yang begitu tidak bisa di gambarkan dengan kata-kata yaitu, mendapatkan seorang istri yang lebih baik.
Dia mempunyai istri yang begtu baik, cerdas, dan perhatian. Rasa perhatian yang di tumpahkan dari diri Friska tidak hanya kepada Haris saja tetapi kepada anak-anaknya.
Disaat sekarang Cindy sedang terganggu mentalnya, ada sosok Mama untuk mengganti anak-anaknya, dan jauh lebih sempurna kepribadiannya.
***
***
Zhira bahagia.
Zhira terlihat bergelayut manja kepada Wisnu.
"Aku merasa senang, kita akan menikah tinggal menghitung hari, dan persiapan untuk nikah pun semua sudah beres," ucap Zhira.
__ADS_1
"Alhamdulillah, sayang," Wisnu mencium punggung tangan Zhira.
Pernikahan mereka akan di adakan di Kota Bandung, karena keluarga besar Zhira semua berada di Kota Bandung.