Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 44 Pertemuan Haris Dengan Teman Kuliah


__ADS_3

Haris sedang menikmati kopi di tempat Kafe dan Restoran miliknya. Tempat tersebut terbilang cukup strategis, dan nyaman di kota Bandung.


Udara Bandung yang terasa cukup sejuk dan asri.


Pohon hijau masih berjejer di setiap sudut kota kembang itu.


Seorang wanita sedang duduk sendiri dengan laptop di mejanya, dia seakan konsen sedang mengerjakan sesuatu.


Haris menatap lekat kepada wanita tersebut, dalam hatinya berpikir seakan kenal terhadap wanita itu.


***


"Friska..!"


Terlihat wanita tersebut dengan cepat melirik ke arah belakang, ketika ada suara yang memanggil namanya. Lalu mereka berpelukan dan nampak terlihat senyuman mengembang di antara keduanya.


"Friska?" Haris mengernyit dahi, dia seakan tidak asing dengan nama itu. Dia mengingat-ingat masa lalunya.


Setelah berpikir panjang, Haris tersenyum sendiri.


"Aku baru sadar, dia teman satu tempat kuliah dulu waktu di UNPAD!" gumam hati kecilnya.


Haris jurusan ekonomi tapi Friska adik kelasnya dia jurusan Psikologi.


Friska begitu santun, dan terlihat dari cara bicara dia begitu cerdas. Haris memandangi Friska dari kejauhan seakan tidak bosan.


Pakaiannya sopan memakai baju gamis dengan kerudung yang senada berwarna dusty pink.


Pelayan Kafe datang lalu menawarkan pesanan kepada tamu yang baru saja datang menghampiri Friska.


"Bu Friska, sok atuh bade pesen naon deui?"


terlihat di meja makan yang di pesan Friska sudah habis, jadi sang pelayan menawarkan kembali pesanan kepada Friska.


"Tos cekap, ngke heula, gampil."


sudah cukup, nanti saja gampang. jawab Friska.


Terlihat sang pelayan sudah akrab dengan Friska.


Melihat keakraban antara pelayan dan Friska, Haris di hinggapi rasa penasaran.


Setelah sang pelayan berlalu dari hadapan Friska dan temannya, lalu Haris menghampiri pelayan ke dalam dapur Kafe.


"Fani, kamu kenal sama tamu yang barusan pesan makanan?" sang pelayan yang bernama Fani seperti keheranan karena sang pemilik Kafe menanyakan Friska


"Iya, Pak. Dia Ibu Friska pelanggan setia Kafe ini," ucap Fani.


"Itu teman kuliahku!" ucap Haris terkekeh tertawa.


"Masa!" mata Fani terbelalak.


"Iya Fan, coba nanti kamu tanya, kenal tidak sama namanya Haris anak ekonomi yang pendiam dan lugu" Haris tertawa terbahak 😂


"Nanti, aku salamin ya!" ucap Fani tersenyum lebar.


***


Sesampai di meja Friska, langsung spontan telunjuk Fani mengarah ke arah Haris yang sedang duduk di dekat kasir.


"Bu, ada salam dari pemilik Kafe ini namanya Pak Haris!" spontan Friska matanya tertuju ke arah telunjuk Fani.


Friskai seakan mengingat-ingat nama Haris, dan sepertinya sudah tidak asing nama itu di telinga Friska, lalu dia mengucek-ngucek matanya dan menatap tajam ke arah Haris.


"Haris..!"


Friska langsung berteriak memanggil nama Haris, dan tersenyum lebar.


Kini memori tentang Haris muncul, di pikiran Friska. Anak ekonomi yang pendiam dan lugu.


Haris kemudian berjalan menghampiri tempat dimana Friska, dan temannya yang bernama Sisil sedang duduk.


Lalu mereka pun bersalaman.


"Kamu, owner Kafe ini?" tatapan Friska begitu memesona Haris, dan Haris pun hanya mengangguk dan tersipu malu.


"Aku sering loh kesini, ko' baru lihat kamu?" tanya Friska.

__ADS_1


Lalu Haris menceritakan semuanya, dulu sang pemilik Kafe orang Jakarta namun dua bulan ini kepemilikannya di ganti oleh Haris.


"Kamu sekarang tinggal dimana?' Friska seakan teringat masa-masa dahulu ketika Haris sering di buli teman-temannya karena pendiam.


"Sekarang lagi di Bandung, tapi keluarga tinggal di Bogor," ucap Haris.


"Kamu tinggal di Bandung?" tanya Haris.


Friska menganggukkan kepala, dan tersenyum renyah.


Betapa berdebar dada Haris ketika senyuman Friska begitu manis terlihat.


Haris seakan tersipu malu dan pandangannya menunduk.


"Yaudah, lanjut sama temannya!" Haris melirik temannya Friska, yang seakan ikut senang melihat keakraban mereka.


Haris pun berlalu dari hadapan mereka.


***


Friska wanita yang supel, cantik dan cerdas. Sewaktu kuliah Friska jadi rebutan para lelaki mungkin dia boleh di sebut primadona kampus. Haris sering di buli teman-temannya karena sifatnya yang pendiam, dan baik hati jadi di manfaatkan oleh teman-temannya.


Tapi Friska orang yang paling pertama yang selalu membela Haris, walaupun tidak sekelas dan beda jurusan.


Dulu Haris pernah menaruh hati pada Friska namun dia tidak berani mengungkapkan karena menurut Haris, tidak mungkin Friska memilih dia karena Haris bukan pria idaman Friska.


Pertemuan terakhir mereka ketika Friska menikah dengan seorang dokter, Haris datang ke pernikahan Friska.


Saat itu Haris belum mempunyai kekasih, dan ketika Haris mau menikah, dan hendak mengundang Friska nomor ponsel Friska telah diganti dan rumah pun sudah pindah. Dari situ Haris dan Friska kehilangan komunikasi.


***


Setelah Friska selesai ngobrol dengan temannya di Kafe, lalu Friska menulis nomor telepon di secarik kertas.


Friska melambaikan tangan ke arah Fani, dan Fani pun menghampiri Friska.


"Bos mu, lagi sibuk ya?" tanya Friska, kepada Fani yang pandangannya menatap ke dalam Kafe.


Fani menganggukkan kepalanya.


"Nomer Saha ieu?" Fani nanya nomor siapa ini.


"Nomer Ibu, atuh Fan!" nomer Ibu, Fan. jawab Friska


Fani pun terkekeh tertawa.


"Ieu, buat jajan Fan!" ini buat jajan kamu


kata Friska.


Friska memberikan uang 50 ribu kepada Fani.


Fani tersenyum lebar ketika Friska memberikan uang 50 ribu.


Friska dan Sisil pun, keluar dari Kafe tersebut.


***


Setelah melihat Bosnya lagi santai langsung Fani menghampirinya.


"Pak, ada titipan!" Fani memberikan secarik kertas kepada Haris.


Setelah Haris membuka secarik kertas tersebut dan membacanya.


Friska~ 081313......


(Konsultasi Gratis)


Haris tersenyum lebar ketika membaca tulisan itu.


***


Malam itu hujan mengguyur kota Bandung, cukup dingin sekali diluar. Haris duduk termangu di belakang Kafe bersama karyawannya yang bernama Wisnu.


"Pak, enjing janten uih ka Bogor?" tanya Wisnu memulai obrolan.


Wisnu menanyakan, jadi tidak besok pulang ke Bogor?

__ADS_1


Haris hanya menggelengkan kepalanya.


"Loh, kenapa?" tanyanya lagi.


"Mager...!" jawabnya singkat.


"Tumben!" Wisnu tertawa terbahak..


"Iya, aku jadi malas untuk pulang ke Bogor," Haris kembali mengulangi bicaranya bahwa dia seakan malas untuk pulang ke Bogor.


"Apa karena sudah bertemu gadis Bandung nu geulis tadi?" Wisnu menggoda Bosnya itu.


Haris hanya tersipu malu.


Ting..


Tiba-tiba pesan muncul dari Cindy


{"Pah, jadi tidak besok pulang?"}


Haris langsung membalas dengan singkat.


{"Tidak!"}


Sontak mata Cindy terbelalak, tumben Haris menjawab pesannya dengan singkat tanpa ada basa-basi.


{"Kenapa Pah?"} tanyanya lagi.


{Sudah ya, Mah, aku mau istirahat capek!"} jawab Haris.


Cindy pun tidak memaksakan diri untuk memberi pesan lagi kepada Haris karena terlihat dari pesan yang di sampaikan Haris seakan tidak ingin di ganggu.


***


"Mah, besok Papa, pulang ya?" Rara sangat berharap sang Papa pulang.


Cindy menatap lekat kepada sang Anak kemudian menghela napas secara perlahan.


"Nggak, Sayang!" Cindy berucap cukup pelan.


Muka Rara berubah menjadi kecewa, mukanya di tekuk seakan kesal.


"Papa, jahat!" Rara pun meneteskan air mata.


"Sayang, Papa, sibuk!" Cindy berusaha meyakinkan Anaknya itu.


"Pas, perayaan ulang tahun Rara, kemarin sibuk, sekarang masih sibuk!" Rara memprotes keadaan.


"Ini semua salah, Mama!" gumam hati Cindy. Dia mengusap rambut Anaknya dengan lembut.


"Besok kita jalan ke Mall, gimana?" Cindy merajuk Anaknya itu.


Rara seakan tidak menggubris omongan Cindy.


"Beli es krim, dan belanja!" Cindy kembali merajuk Anaknya.


Akhirnya Rara mengangguk dengan senyuman tipis seakan terpaksa.


***


Keesokan harinya Rara sudah tampil cantik, dia sudah siap pergi dengan Cindy.


"Mah, Mbak Eka ajak ya?" Rara merengek kepada Mamanya, agar sang ART dibawa, dengan wajah yang memelas.


Cindy menganggukkan kepala dan tersenyum renyah.


"Asik...!"


Rara berlari ke kamar Mbak Eka.


"Mbak, ayo, kata Mama, ikut!" Rara menarik-narik tangan Mbak Eka.


Mbak Eka tersenyum lebar ketika Anak majikannya mengajaknya pergi.


***


Selama dalam perjalanan menuju ke pusat perbelanjaan tak hentinya Rara bernyanyi. Dari raut mukanya dia nampak bahagia sekali

__ADS_1


__ADS_2