Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 128 Tiba di rumah Cintya


__ADS_3

Tiba di rumah Cintya


"Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di rumah Cintya," ucap Haris.


Ketika mobilnya sampai di rumah Cintya, Kakak dari Cindy.


Terlihat di dalam rumah begitu sepi.


"Pah, mana Mamanya, juga nggak ada?" tanya Rara, menatap sang Papa.


"Ada, di kamarnya mungkin," jawab sang Papa. Tersenyum lebar.


"Kita nggak turun Mas?" tanya Hana, karena Haris, terlihat hanya terdiam di dalam mobil.


Pandangan Haris mengarah ke kaca spion luar dengan lekat, dia menunggu kedatangan mobil Wisnu, karena di dalam mobil tersebut ada Zhira dan Reza anaknya Haris yang gede.


"Nunggu Reza, ada didalam mobil Wisnu," jawabnya.


***


Tiba-tiba Mbak Lastri, datang dari arah luar, dia terlihat gembira melihat keluarga dari Haris. Terutama melihat Mbak Eka, saudaranya yang dari kampung itu.


Pada kemana, ko sepi?" tanya Mbak Eka kepada Mbak Lastri.


"Bu Cintya sedang keluar dengan Bapak, sebentar lagi juga mereka datang," ucap Mbak Lastri.


"Kalau Bu Cindy?" Mbak Eka kembali bertanya.


"Ada ko, dia sedang di kamar. Ayo, masuk," Mbak Lastri pun berlalu dari hadapan garasi rumah menuju kedalam rumah.


Akhirnya mobil Wisnu datang, dan mereka pun, semua memasuki rumah. Kecuali Wisnu dan Zhira, mereka diam di teras rumah tidak masuk ke dalam rumah.


***


Mbak Lastri kemudian memasuki kamar, dia memberitahu kepada Cindy, bahwa anak-anaknya telah datang.


Mendengar kabar tersebut sontak hati Cindy terlihat bahagia. Rona wajah yang tadinya seperti dihinggapi rasa sedih, kini sepeti terobati dengan kedatangan anak-anaknya.


"Dengan siapa anak-anakku datang?" tanya Cindy kepada Mbak Lastri.


"Dengan Bapak," jawab sang ART tersebut.


Cindy kemudian berlalu dari kamarnya menuju ruang tamu yang di ikuti oleh Mbak Lastri. Baru beberapa langkah dia lajukan kursi rodanya menuju ruang tamu, Cindy nampak terkejut karena disana tidak hanya ada Haris sang mantan, dan anak-anaknya. Tapi ada Hana dan sang suami juga wanita yang sangat cantik.


Langkah kursi roda Cindy terhenti, dia menatap lekat ke arah wanita cantik yang sedang duduk mesra dengan Haris, terlihat dari raut muka Haris dia sangat senang.


"Mbak, itu siapa wanita yang duduk bersama Mas Haris?" tanya Cindy, penuh curiga dan dihinggapi rasa cemburu.


"Itu istrinya Bapak," Mbak Lastri berucap dengan lirih. Dia melihat muka Cindy, terlihat wajahnya sedih, tapi Cindy terlihat berusaha tegar dan dia melebarkan senyuman meskipun itu palsu.

__ADS_1


Cindy menghela napas panjang, kemudian dia kembali berjalan dengan kursi rodanya menuju arah ruang tamu.


"Ehem.." Cindy berdehem, sontak yang berada di ruang tamu pandangan tertuju kepada Cindy. Haris tersenyum tipis tatkala pandangan Cindy sang mantan mengarah ke arah nya, sedangkan Friska, tersenyum lebar dan manis, membuat Cindy terpana dengan pesona senyuman dari Friska.


"Ayo salaman sama Mama," ucap Hana.


Hana melirik ke arah Rara dan Reza. Sang anak kemudian berjalan menuju arah Cindy dan mereka bersalaman.


Cindy berkaca-kaca matanya, dia mengusap lembut rambut Rara, dan mencium anak tersebut.


Rara dan Reza duduk di pinggir Cindy, melihat kedekatan anak-anak Haris berama Cindy, membuat Friska dihinggapi rasa gembira, karena Friska tidak punya niat jahat atau memisahkan sang Mama dengan anak-anaknya.


Friska seorang wanita yang pintar dia tidak mempunyai sifat buruk.


"Alhamdulillah, akhirnya anak-anakmu terlihat bisa menerima keadaan kondisi Cindy, mereka tidak berontak lagi," ucap Friska, lekat ke kuping Haris.


Melihat keadaan seperti itu, Haris pun merasa senang.


"Kak Cindy, gimana keadaannya sekarang?" tanya Hana, menghampiri Cindy.


Cindy tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


"Sehat," jawabnya singkat. Tatapan Cindy lekat ke arah Friska. Hana seakan mengerti maksud hati Cindy.


"Itu Friska, istrinya Mas Haris," telunjuk dan mata Hana, mengarah ke arah Friska.


"Saya istri dari Mas Haris," Friska mengulurkan tangannya.


***


Cindy mencoba tersenyum walau itu pahit terasa, kemudian Rara bergelayut manja kepada Mama sambungnya itu. Mungkin terasa perih menyayat hati Cindy, karena dia berpikir Rara sang anak, lebih merasa nyaman terhadap Friska, di banding kepada dirinya.


Begitupun dengan Reza terlihat bola mata Reza lekat kepada Friska dengan begitu bersinar terlihat nyaman.


"Aku harus siap dengan keadaan seperti ini. Bagiku ini sangat menyakitkan tapi aku harus menerima kenyataan yang ada," dada Cindy bergemuruh.


Cindy ingin sekali menumpahkan air matanya tapi dia tahan. Orang yang seharusnya menjaganya disaat sakit, kini mereka menghilang. Mereka lebih nyaman dengan sosok Friska saat ini.


"Mbak Lastri, Cintya lama ya, pulangnya?" tanya Haris, kepada Mbak Lastri.


Haris pun mencoba menelepon Cintya, karena keberadaan dia disana sudah setengah jam namun Cintya belum datang.


Haris merasa canggung dengan keadaan melihat Cindy. Haris tidak ada dendam sedikitpun kepada Cindy, namun dia tidak enak kalau untuk berlama-lama berada di rumah itu untuk melihat muka Cindy.


*****


Sementara di luar.


Zhira dan Wisnu sedang mengobrol serius, mereka menceritakan masalah pernikahan yang akan di adakan bulan depan.

__ADS_1


"Cindy kasihan ya, badannya kurus," ucap Wisnu, dia melihat dari arah jendela luar dekat pintu. Zhira pun dihinggapi rasa penasaran, dia melirik ke arah dalam.


Dia teringat masa lalu ketika pertama kali bertemu dengan Cindy, dia sedang bersama Bram, sang mantan suaminya. Zhira membuang napas kasar, dia seakan teringat masa lalu yang begitu kelabu.


Rumah tangganya di ganggu oleh wanita-wanita yang menggoda sang suami, salah satunya adalah wanita yang sekarang tengah di depan matanya, wanita yang kini terlihat tidak berdaya, lumpuh.



"Sayang, kamu tidak apa-apa kan?" tanya Wisnu. Dia menatap lekat kepada calon istrinya itu. Karena Zhira tiba-tiba melamun dan sedih.



"A...aku nggak apa-apa ko, cuma kepalaku sedikit pusing," ucap Zhira.


Kemudian Wisnu memanggil Mbak Eka, setelah Mbak Eka berada di hadapannya, lalu Wisnu meminta Mbak Eka untuk membuatkan teh manis hangat.


Mbak Eka pun berlalu kedalam dapur yang diikuti oleh Mbak Lastri.


\*\*\*


Haris dan Friska menghampiri Zhira yang sedang berada diluar.


"Kenapa Zhira?" tanya Haris, yang sedang melihat Zhira memijit-mijit kepalanya.



"Nggak tahu Mas, tiba-tiba pusing," jawabnya.



"Mas, aku mau ke kamar mandi," ucap Zhira.


Kemudian Haris memanggil Mbak Lastri, untuk mengantar Zhira ke kamar mandi.



Kebetulan arah kamar mandi melewati Cindy, yang sedang duduk dalam keadaan menunduk. Entah mengapa dada Zhira seakan bergemuruh, dia kesal mengingat masa lalu, ketika sang suami meninggalkan dirinya demi wanita yang kini tengah berada di hadapannya.



Cindy matanya melotot tepat ke arah Cindy.


"Mbak sehat? masih ingat dengan saya?" Zhira menyindir wanita yang telah menghancurkan rumah tangganya dulu.



Pandangan Cindy yang sedang tertunduk, sontak melihat ke arah suara yang samar-samar dia kenal.


Cindy terkejut karena tepat di depan matanya, nampak terlihat sesosok wanita yang selama ini, dia hancurkan hati dan perasaannya.

__ADS_1


__ADS_2