Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 17 Pilu


__ADS_3

Badan Rara panas dari semalam menggigil, sementara di rumah hanya ada Mbak Eka, dengan telaten Mbak Eka sang ART itu mengompres badannya. Mbak Eka kemudian menelepon majikannya yaitu Cindy.


{Mbak, jangan menelepon Bapak dulu ya? nanti Bapak khawatir dan Bapak juga tidak tahu kalau Ibu sedang keluar kota," Cindy mencoba memberitahu Mbak Eka bahwa dia akan pulang sore ini. Cindy dihantui rasa takut jika Mbak Eka atau Rara, Anaknya itu akan menelepon Haris untuk mengabarkan Rara sedang sakit dan Cindy sedang tidak ada di rumah.


Mbak Eka sebagai ART hanya nurut saja kepada Cindy sang majikan dengan tidak memberitahu Haris bahwa Rara sedang sakit.


"Neng, jangan menelepon Papa ya, nanti Papa takut khawatir, Mama sedang dalam perjalanan pulang nanti sebentar lagi pulang," Mbak Eka mencoba menyabarkan Rara dan mengusap lembut rambut Anak majikannya itu. Rara menatap lekat ART itu, dan tak terasa bulir putih jatuh di kelopak matanya lalu dia menggenggam erat jemari Mbak Eka.


Dengan sigap Mbak Eka membuat ramuan kampung dengan membuat irisan bawang merah dengan di campur penghangat badan lalu di gosokkan ke badan Rara. Terasa ada rasa nyaman di hati Anak kecil itu. Teringat dulu ketika Rara masih bayi sekitar usianya dua tahun Cindy selalu melakukan hal sama jika demam Rara selalu dikasih ramuan kampung. Rara ingin sekali saat momen itu terulang kembali bersama Mamanya.

__ADS_1


"Kenapa Neng?" kemudian Mbak Eka mengusap air mata Anak majikannya itu. Dia sebagai seorang Ibu bisa merasakan gimana hati Rara sekarang ini, dia sedang sakit pasti ingin ada belaian kasih dari kedua orang-tuanya terutama Mamanya.


Rara hanya terdiam dia seakan pilu mengingat kedua orang-tuanya sekarang sudah tidak harmonis seperti dulu.


"Mbak, Rara mau tanya boleh tidak?" Rara seakan ragu untuk bertanya. Mbak Eka keheranan dia mengernyitkan dahi.


"Tanya apa Neng?" tangannya sambil menggosok punggung Anak majikannya itu.


"Apa mungkin lelaki yang kemarin yang menjemput Ibu itu pacar gelapnya?" gumam hatinya dihantui rasa penasaran yang teramat. Tapi Mbak Eka sangat bijak menghadapi situasi tersebut dia mencoba meyakinkan Rara bahwa Mamanya sedang sibuk dan tidak ada lelaki lain untuk saat ini.

__ADS_1


"Neng, Mama orang baik tidak mungkin punya pacar, ada-ada saja!" Mbak Eka mencoba menggoda dan menghibur Rara yang pikirannya sedang tidak karuan. Akhirnya Rara tersenyum tipis, melihat raut muka Anak majikannya yang tersenyum Mbak Eka pun merasa gembira.


{"Kasian kamu, Neng,"} bisik hati kecilnya, di tatapnya dengan penuh iba. Ada air mata yang akan tumpah disana tapi Mbak Eka mencoba untuk menahannya agar tidak lolos karena dia tidak mau melihat Rara terpukul hatinya.


*****


"Mbak..!" jam menunjukkan pukul tiga sore, Rara keluar dari kamar memanggil ART yang penuh perhatian itu. Melihat Anak majikannya yang sudah terlihat sehat muka Mbak Eka tersenyum renyah, lalu dia memeluknya.


"Neng, sudah baikan ya?" Mbak Eka sambil membawa secangkir teh manis hangat. Rara pun tersenyum sambil berlalu menuju keruangan depan.

__ADS_1


"Mama belum pulang, Mbak?" tanyanya, pandangan mata melirik isi ruangan.


"Bentar lagi, Sayang," Mbak Eka kemudian menyodorkan teh hangat manis kepada Anak majikannya itu.


__ADS_2