
Reynold dan Bonar akhirnya malam itu berangkat ke Kota hujan yaitu Bogor. Sasaran mereka pertama menuju Restoran, tempat Bram berada.
Tibalah mereka sampai tujuan, dan jam saat ini menunjukkan pukul 8 malam.
Mereka disana memesan makanan. Tidak nampak mencurigakan gelagat dari kedua orang tersebut.
Mata mereka berselancar melihat keadaan sekitar. Tapi sosok Bram tidak terlihat batang hidungnya disana.
*****
Ronal melambaikan tangan ke arah pelayan Restoran tersebut.
"Ya, Pak, mau pesan apa?" ucap sang pelayan kepada tamu pengunjung Restoran, yang tidak lain adalah Bonar.
"Mbak ini Restoran, tutup jam berapa?" tanya Bonar kepada sang pelayan.
"Jam 11 malam," jawabnya.
"Yang punya Restoran suka datang kesini nggak?" sambungnya lagi Bonar.
"Suka pak, biasanya jam segini sudah datang, tapi sekarang belum datang. Mungkin malam pas mau tutup Restoran biasanya," jawab lagi sang pelayan tersebut.
"Ouh, gitu!" pandangan Bonar seakan jauh mengarah.
"Bapak ada perlu ke Bos saya, atau ada hal yang perlu di sampaikan biar saya akan hubungi Bos, saya!" ucap lagi sang pelayan.
"Ng- gak, ko,!" dengan cepat Ronal menjawab.
"Yasudah, saya pesan ini," telunjuk Reynold menunjukkan ke arah buku menu yang di sajikan.
Begitupun dengan Reynold, dia memesan makanan dan minuman yang di pesan. Reynold pun tersenyum tipis kepada sang pelayan.
Sang pelayan pun meninggalkan, kedua lelaki tersebut.
"Kita istirahat dulu. Keluar dari Restoran ini. Kalau terlalu lama disini curiga!" ucap Bonar berbisik dan menatap letak kepada Reynold.
Reynold pun menganggukkan kepala
"Gimana kalau kita ke Bar?" tanya lagi Bonar.
"Oh iya. Biasanya, Bar rame kalau malam ya? Kemungkinan dia ada di sana." Reynold seakan menyetujui ide dari Bram.
*****
Setelah memakan pesanan dari Restoran itu,. Akhirnya mereka pun keluar dari Restoran itu. Nampak Ronal gelisah di dalam mobil, takut target tidak di ketemukan.
"Santai lah, jangan terlalu tegang!" ucap Reynold.
Bonar lalu membuang napas secara perlahan, dia kemudian melajukan mobilnya ke arah Bar. Dimana Bram, selalu nongkrong disana.
*****
Sampai di Bar.
Sang pelayan menghampiri dan membawa buku menu makanan dan minuman.
Ronal kemudian berbisik kepada sang pelayan menanyakan keberadaan Bram.
"Belum datang. Pak Bram, malam ini," ucapnya.
"Oke, terima kasih,"jawab Ronal.
__ADS_1
Ronal dan Reynold pun memesan beberapa minuman. Dan mereka kembali ngobrol.
*****
Satu jam kemudian.
Nampak lelaki tinggi besar, gagah sekali wajahnya, memasuki Bar tersebut. Sang pelayan wanita lalu menghampirinya dan menggandeng dia.
Mereka pun duduk di kursi. Nampak seorang wanita lagi membawakan minuman.
Mungkin lelaki itu, sudah langganan di Bar tersebut, jadi sang pelayan seakan tahu minuman yang akan di pesan Lelaki itu. Wanita tersebut begitu manja ketika menuangkan minuman untuk lelaki tersebut.
Pandangan Bonar dan Reynold lekat tertuju kepada sosok lelaki itu.
"Nah, ini dia orangnya,!" ucap Reynold, kepada Bonar. Reynold menatap gambar Bram, di galeri. Lekat ke layar ponsel yang diberikan oleh Bobby.
Kemudian Bonar memberikan kode telunjuk tangannya kepada Reynold agar bersikap santai.
"Ya, ini sasaran kita!" jawab Ronal.
****
Ronal melambaikan tangan kepada pelayan yang tadi pertama kali berbicara kepadanya.
Lalu sang pelayan pun menghampirinya.
"Iya, Pak!" sang pelayan tiba menghampiri.
"Kamu jangan kasih tahu lelaki itu, bahwa aku sedang mencari dia." telunjuk Bonar menghadap ke lelaki yang baru tiba itu. Kemudian Bonar, memasukkan amplop berisi uang berwarna merah ke saku celana sang pelayan.
"Siap! terima kasih," ucap sang pelayan sambil menganggukkan kepalanya.
*****
Setelah dua jam kemudian.
Bram terlihat berdiri dari tempat duduknya, masih bersama wanita yang memeluknya.
"Lepaskan aku! aku mau ke Restoran tempatku dulu." wanita itu kemudian melepaskan pelukannya kepada Bram, dan dua tersenyum manja.
"Mas ganteng, mana dong buat aku tipsnya," ucap wanita itu, di iringi senyuman renyah.
Bram merogoh uang lembaran berwarna merah, lalu memberikannya kepada wanita itu. Kemudian wanita itu mencium pipi Bram.
"Terima kasih, cinta. Besok datang lagi kesini ya Sayang," ucap wanita itu tersenyum sumringah karena telah mendapatkan uang dari lelaki tajir itu.
Mata Bonar dan Reynold seakan tidak mau lepas ke arah Bram. Mereka takut target yang mereka kejar menghilang.
Terlihat dari kejauhan Bram membisikkan sesuatu kepada wanita tersebut. Dan mereka kemudian berlalu ke belakang Bar.
"Hai, itu dia mau kemana?" tanya Reynold kepada Bonar
"Paling ke toilet!" jawab Bonar.
Sepuluh menit kemudian, Bram pun datang keluar dari arah toilet, kini ini dia sendiri tanpa di temani seorang wanita.
Jalannya terlihat sempoyongan mungkin dia sedang mabuk, dan jemarinya memegang keningnya seperti menahan rasa pusing.
Dia terlihat menelepon seseorang, dan kembali duduk di kursi tadi.
Sepuluh menit kemudian.
__ADS_1
Datang seorang lelaki, lalu dia menghampiri Bram. Mereka pun keluar dari Bar tersebut.
Bonar dan Reynold dengan sigap mengikuti mereka dari belakang.
*****
Tiba di tempat parkir.
Terlihat teman Bram, mengemudikan mobil dan Bram duduk di pinggirnya.
"Kira-kira mereka mau kemana ya?" bisik Reynold kepada Bonar.
"Jangan banyak omong kau! kita ikuti saja mereka!" jawab Bonar sedikit kesal.
Karena Reynold terlihat lalai tidak sigap.
Bonar kemudian memasuki mobilnya, dan mengikuti kemana arah Bram melajukan mobilnya.
*****
Mobil Bram pun berhenti tepat di depan Restorannya. Bonar dan Reynold memarkirkan mobilnya, agak jauh dari tempat Restoran tersebut.
"Nah, benar juga kata pelayan tadi, si Bram, kalau datang ke Restorannya suka malam. Kita tunggu saja yang dia keluar baru kita selesaikan!" tegas Bonar, sorot matanya seakan tidak mau meninggalkan momen sedikitpun.
*****
Satu jam lebih Bonar dan Reynold berada di dalam mobil, menunggu Bram keluar.
"Lama banget, g**b**k!" ucap Bonar kasar.
"Sabar lah, kau!" terlihat gemas Reynold ketika melihat Ronal yang uring-uringan dari tadi.
"Dia mau keluar nggak sih! kalau kita masuk pasti jadi masalah karyawan disana banyak, rencana kita gagal total!" sambung lagi Ronal.
"Bentar lagi pasti keluar, tenang!" ucap Reynold.
Mata Bonar seakan lelah jadi dia tidak karuan bicara juga.
"Nah, dia keluar lihat!" ucap Reynold.
Dia melihat Bram keluar sendiri dengan membawa dokumen dari Restoran tersebut.
Terlihat dari jauh dia memasuki mobil.
Kemudian dia melajukan kembali mobilnya yang tadi terparkir di Restorannya.
Bram dengan santai melajukan mobilnya dan mendengarkan suara musik klasik di dalam mobil tersebut.
Beberapa kali dia melihat kaca spion luar, yang menuju ke arah mobil yang mengikuti dia dari belakang sedari tadi.
"Itu siapa ya, dari semenjak di Restoran tadi rasanya mengikuti aku. Tapi, bodoh amat ah, mungkin hanya perasaanku saja!" gumam hatinya. Dia bernyanyi di dalam mobil seakan riang gembira menyelimuti dirinya.
*****
Sementara Bonar yang sedang mengikuti mobil Bram dari belakang, dia berusaha untuk tenang agar target tidak kabur di depan mata.
"Awas, jangan sampai hilang. Kurasa si Bram sudah mulai curiga, soalnya dia seakan memberikan lampu hijau, agar mobil kita bisa melewati dia," ucap Reynold.
Brugg...
Mobil Bram terlihat menubruk pohon.
__ADS_1