
Malam hujan deras.
Malam ini di kota Bandung, di guyur hujan sangat deras sekali. Pepohonan yang ada di halaman rumah pun seakan tersiram.
Cuaca Kota Bandung sangat dingin sekali.
Nampak terlihat Friska memakai selimut tebal, dia terlihat begitu kedinginan. Selimut tebal yang menempel di tubuhnya seakan tidak mampu untuk memberikan kehangatan di tubuhnya itu.
Badannya menggigil selimut yang menempel di badannya, di dekap erat oleh tubuhnya itu.
Dia pikirannya seakan tidak karuan, karena tiga hari akan menuju pelaminan, dengan kondisi badan yang masih belum stabil. Dia takut badannya belum stabil pas di hari bahagianya itu.
Semua telah di persiapkan dengan matang. Dan keluarga besarnya juga sudah berkumpul sebagian di rumahnya.
*****
Heueuh....
Friska menghela napas secara perlahan.
"Semoga pernikahan yang kedua aku ini, bersama Haris, bahagia dan tidak ada godaan," bisik hati Friska.
Kemudian dia memejamkan matanya.
Banyak yang datang menghampiri untuk melamarnya. Namun entah mengapa sosok Haris yang menjadi pelabuhan terakhir cintanya. Padahal yang mendekati Friska bukan orang sembarangan mereka adalah lelaki yang berada semua dari masalah finansial. Mungkin Dimata Friska, Haris adalah sosok yang sabar dan pengertian jadi itu yang membuat simpati dan jatuh hati.
Ting..
Tiba-tiba pesan muncul.
{" Friska, ini Tesa, teman kuliah dulu. Katanya kamu mau nikah ya, dengan Haris? Kamu sudah yakin, mau menikah dengan lelaki yang pendiam itu! Kamu cantik, berwawasan, Lelaki yang mendekatimu banyak, Kenapa kamu memilih Haris?"} pesan muncul dari Tesa, teman semasa kuliah dulu.
Friska terkejut.
Tesa adalah teman kuliahnya dulu dan mengapa dia, secara tiba-tiba memberikan pesan tersebut. Dia kembali mengingat masa dulu tentang Tesa.
Dia wanita yang mengejar-ngejar Haris, tapi Harisnya cuek seakan tidak peduli.
Dalam hati Friska berbisik, mungkin dia cemburu dan ingin mencoba memperkeruh keadaan dan membuat Friska tidak nyaman. Apalagi pernikahan dia bersama Haris tinggal menghitung hari.
{"Kamu tahu dari mana, aku mau menikah,?"}tanya Friska kepada Tesa teman kuliahnya sewaktu dulu.
{"Itu tidak penting Friska. Yang penting aku mau nanya sama kamu. Besok lusa pas pernikahan kamu, tepatnya di hari minggu. Aku boleh datang tidak, ke acara pernikahan kamu?"} Tesa seakan memaksa agar dia bisa hadir untuk di undang oleh Friska.
Friska orang baik dia tidak menaruh curiga apapun terhadap siapapun. Tapi entah mengapa kali ini perasaannya berbeda.
{"Ya, boleh dong, maaf aku lupa tidak mengundangmu!"} jawab Friska.
{"Ya, aku penasaran ingin lihat wajah Haris, yang kalem dan menurut aku pesonanya itu loh. Mungkin kamu juga terpesona karena dia kalem dan sabar!"} Tesa membuat hati Friska dihinggapi rasa cemburu.
Friska seakan malas meladeni ocehan sang teman itu, seakan mengingat sosok Haris, dan tidak menghargai perasaannya.
Akhirnya dia terdiam tidak banyak kata yang dia ucapkan.
{"Ouh ya, aku boleh minta nomor teleponnya Haris tidak?"} ucap Tesa.
{"Untuk apa?"} tanya Friska.
{"Untuk apa, kamu bilang. Ya, ingin silaturahim lah, yasudah kalau tidak boleh, nggak apa-apa aku nggak maksa ko,"}Jawabnya ketus
{"Ini orang ngomongnya sudah ngelantur. Sebenarnya maksud dia apa?"} gumam hati Friska seakan mulai menaruh cemburu.
Friska membuang napas kasar.
Dia seakan malas jika untuk membahas masalah yang tidak penting, apalagi menanyakan calon suaminya Haris. Kemudian Friska pun menutup sambungan teleponnya.
{"Maaf, aku kurang enak badan, aku mau istirahat dulunya,"} ucap Friska.
Tesa seakan tidak ingin sambungan telepon di tutup oleh Friska. Dia terdengar ingin Friska lebih banyak bercerita tentang Haris. Namun dengan sedikit jutek cara Friska berbicara, akhirnya Tesa menutup sambungan teleponnya.
"Ada-ada saja!" gumam hati Friska.
*****
__ADS_1
Friska tidak dapat memejamkan matanya. Padahal malam itu sudah pukul sebelas malam. Ponselnya dia gunakan untuk memainkan game, dia beranggapan dengan memainkan game, dia bisa memejamkan matanya karena matanya nanti lelah.
Satu jam sudah dia memainkan ponselnya, namun rasa ngantuk belum juga datang. Meskipun matanya dipaksa untuk terpejam.
Akhirnya dia membuka aplikasi WhatsApp, dia lihat Haris, sang calon suaminya terlihat masih online. dalam hati Friska berpikir, mengapa Haris sudah larut malam tidak tidur dan ponselnya masih aktif.
Friska di hinggapi rasa penasaran dan khawatir. Takutnya sang kekasih sama dengan dia kurang enak badan jadi di hinggapi rasa kesal, dan hanya mempermainkan ponsel saja biar tidak jenuh.
Friska pun menuliskan pesan untuk Haris
{"Mas, kenapa belum tidur?"} tulis pesan Friska. Lama sekali Haris membalas pesan tapi terlihat online. Friska terlihat menunggu pesan dari Haris .
Ting....
Bunyi balasan pesan muncul akhirnya dari Haris. Friska seakan senang ketika mau membuka isi pesan tersebut.
{"Kurang enak badan, barusan habis di urut, badannya."} jawab Haris.
{"Masuk angin dan kecapean mungkin,"} balas Friska, dia di hinggapi rasa khawatir dengan kondisi Haris.
{Iya,} terbalas singkat oleh Haris.
Kira-kira sepuluh menit, Friska terus menerus memandangi layar ponsel yang terlihat Haris masih online, sementara dia tidak lagi menulis pesan untuknya. Balasan terakhir pun sangat singkat hanya ucap kata -IYA- dari Haris membuat hati Friska bertanya-tanya.
"Mungkin sibuk dengan relasi bisnisnya, jadi online ponselnya," gumam hati Friska
{"Kamu kenal Tesa? ini loh, dia WhatsApp aku!"} ucap Haris.
Mendengar nama Tesa, sontak dada Friska bergemuruh tidak karuan. Dalam hatinya di hinggapi rasa cemburu. Dan dia berpikir secepat itu dia bisa mendapatkan nomor telepon Haris. Apa mungkin dari teman kuliah dulu ada yang memberikannya.
Karena di hinggapi rasa cemburu kemudian Friska dengan cepat menelepon Haris.
Friska dari nada bicara terdengar cemburu.
{"Mas, kenapa dia menghubungi kamu, dia kan tahu kita akan menikah!"} ucap Friska.
{"Mungkin ingin bersilaturahmi, dia sih barusan bilang gitu. Ya, nggak apa-apa Sayang, namanya sudah lama tidak bertemu,"}jawab Haris. Tipe lelaki seperti Haris yang sabar dan terhadap wanita dia sangat menghormati. Dia tidak menaruh curiga terhadap Tesa yang mencoba mendekatinya.
Entah ada maksud apa Tesa, mendekati Haris yang tiga hari lagi akan menikah.
{"Mas, sekarang ponselnya matikan dan kamu tidur. Sudah jangan pegang ponsel lagi!"} terdengar sewot Friska ketika berucap.
Haris terkejut baru kali ini dia mendengar Friska terlihat marah dan mungkin cemburu.
{"Iya, iya, Sayang,"} Haris terlihat ketakutan juga, mendengar nada bicara dari Friska.
Sambungan telepon pun di tutupnya.
__ADS_1
Haris mesem-mesem sendiri. Dia sangat senang Friska cemburu, karena Friska selama ini tidak menunjukkan sikap cemburunya kepada Haris.
Meskipun Haris terhadap Tesa hanya membalas pesan dan tidak menaruh curiga apapun terhadap wanita itu.
Tapi Friska tahu Tesa pernah suka dengan Haris jadi dia cemburu.
{"Tesa itu janda, tidak ada suami. Ngapain dia hubungi Haris malam-malam. Kesal aku!"}gumam hati Friska.
\*\*\*\*\*
Keesokan harinya.
Pagi ini terlihat cerah, suasana diluar terasa sejuk. Ibunya Friska, datang dengan membawa teh manis hangat dan bubur ayam ke dalam kamar Friska.
Tokk...Tokk...Tokk..
"Sayang, Ibu boleh masuk ya? Ini Ibu bawakan sarapan untuk kamu,"} ucap Ibunya Friska. terdengar dari luar kamar keras sekali ketika berbicara.
"Masuk saja, Bu. Tidak di kunci!" jawab Friska.
Kreekkkk...
Akhirnya pintu terbuka.
Friska masih berselimut tebal, dan mukany matanya menatap lekat, memantau ponsel Haris, yang belum aktif.
Mukanya di tekuk tidak nampak senyuman dari bibirnya.
Melihat sang anak dengan mukanya yang cemberut, lalu Ibunya di hinggapi rasa heran.
"Kenapa Nak? kamu lagu kesal ya, Mau nikah jangan pasang muka begitu, nggak baik. Nanti pernikahannya gak lancar loh," Ibu mencoba menggoda anaknya itu.
Friska hanya terdiam kemudian dia menyimpan ponsel di pinggirnya dengan kasar. Dan sekarang pandangannya tertuju lekat ke layar televisi.
"Ada apa, cerita sama Ibu, siapa tahu dengan cerita sama Ibu kesal kamu akan terobati," ucap sang Ibu, sambil menyodorkan air teh manis hangat dan bubur ayam.
"Mau di suapin sama Ibu, Nak?" Ibunya Friska begitu perhatian dan sayang sekali terhadap anaknya itu.
Friska menggelengkan kepalanya, kemudian dia menghela napas panjang.
"Bu, teman kuliah Friska namanya Tesa, dia semalam hubungi Friska. Masa dia minta nomor teleponnya Mas Haris!" ucapnya terlihat kesal.
"Ya, mungkin karena teman lama jadi ingin tahu keadaannya, kan dia juga teman Haris kuliah. Memang kenapa, pasti kamu cemburu !" Ibunya Friska menebak-nebak bahwa anaknya itu cemburu, karena terdengar dari nada bicaranya.
Friska menganggukkan kepalanya.
Ibu kemudian mengusap rambut Friska dengan lembut.
"Haris orang baik Sayang, ibu percaya sama Haris. Dia tidak akan menyakiti hati wanita apalagi berbuat selingkuh. Kamu harus percaya Ibu!" Ibu mencoba meyakinkan hati anaknya itu, yang sedang resah dan di hinggapi rasa cemburu.
__ADS_1
Friska pun sedikit terobati dengan ucapan Ibunya itu. Dia berpikir dalam hatinya. Mungkin dia mau menikah jadi tingkat emosi tinggi dan rasa cemburu pasti besar, karena dia akan segera menikah dengan Haris.
Friska akhirnya memeluk sang Ibu dan bisa tersenyum kembali.