
Haris pulang ke Bogor sengaja tidak memberitahukan Cindy istrinya. Haris di temani temannya Wisnu.
Perjalanan Bandung ke Bogor sebentar hanya menempuh jarak kurang lebih tiga jam.
Yang menyetir mobil kali ini Wisnu karena Haris semalam begadang, banyak urusan usahanya yang belum selesai. Takut Haris ngantuk ketika mengendarai mobil jadi Wisnu menawarkan diri untuk menyetir selama perjalanan ke Bogor.
***
Sesampai di rumah nampak sepi tidak ada orang satu pun disana. Haris mencoba menghubungi Cindy namun ponselnya tidak aktif, kemudian Haris juga menghubungi Rara dan Reza tapi tidak ada jawaban disana.
Akhirnya Haris dan Wisnu diam di dalam mobil menunggu kedatangan orang rumah.
Dua jam sudah Haris menunggu di dalam mobil, dan akhirnya Rara bersama Mbak Ela turun dari mobil taksi.
Melihat mobil Haris nampak terparkir di depan rumah, Rara terlihat senang sekali dan berlari kecil menghampiri mobil Haris.
"Papa!" Rara langsung memeluk Haris, tatkala Haris membuka pintu mobilnya.
"Dari mana, Ra? Papa menunggu sudah dua jam," Haris mengusap lembut rambut Rara.
"Maaf Pak, lama menunggu ya?" Mbak Eka kemudian membukakan pagar rumah.
"Dari mana Mbak? terus Ibu kemana? Haris curiga pasti ada masalah karena Mbak Eka dan Rara memakai mobil taksi tidak di antar oleh Cindy.
"Tadi Ibu pergi katanya ada acara bersama teman kantor, dan Rara mau ikut tapi tidak boleh sama Ibu akhirnya nangis. Nah Mbak bawa saja jalan ke super market," Haris nampak kecewa. Dalam hatinya dihinggapi rasa kesal.
"Kalau Reza kemana?" tanyanya lagi.
"Keluar sama teman sekolahnya," Mbak Eka kemudian berlalu dari hadapan Haris untuk membuat minum.
***
Haris dan Wisnu pun masuk kedalam rumah.
Haris melihat sekeliling sudut rumahnya,
Nampak tidak ada yang berubah ketika Haris melihat sekeliling sudut ruangan itu.
"Pah, ini foto-foto waktu Rara ulang tahun," Rara memperlihatkan foto-foto dirinya ketika berulang tahun.
Haris melihat satu persatu foto tersebut, dan mata Haris tertuju ke wajah Istrinya itu. Mata Cindy nampak sembab sangat jelas terlihat di foto tersebut.
Haris menghela napas,
"Malam itu ketika bertengkar sangat hebat," gumam hati Haris.
"Silahkan di minum, Pak!" tiba-tiba Mbak Eka datang dari dapur dengan membawa dua cangkir teh manis hangat, dan makanan ringan.
"Mbak, Ibu katanya pulangnya kapan?" tanya Haris kepada Mbak Eka.
"Tidak bilang berapa harinya Pak, bilangnya mau nginap saja!" jawab Mbak Eka.
Kemudian Mbak Eka mengajak Rara untuk mandi sore, saat itu tepat pukul empat.
__ADS_1
Karena di hinggapi rasa penasaran, Haris pun menuliskan pesan kepada Clara teman dari Cindy.
{"Clara, maaf mengganggu, ada Cindy?"} tulis pesan dari Haris.
Clara cukup terkejut ketika Haris memberikan pesan kepadanya, karena Cindy tidak bilang apapun terhadapnya. Setelah lama berpikir baru Clara menyadari Cindy dua hari yang lalu pernah bilang kepadanya, mau bertemu dengan Bram.
"Mungkinkah Cindy pergi untuk bertemu dengan Bram!" gumam hatinya.
Clara seakan bingung mau menulis pesan apa kepada Haris. Tiba-tiba sang Ibu memanggilnya, dan Clara pun dengan cepat menaruh ponselnya di meja, jadi Clara tidak sempat membalas pesan dari Haris.
"Aneh, di baca saja pesannya!" gumam hati Haris. Muka Haris berubah nampak menjadi cemberut.
Melihat roman muka Haris yang tertekuk, sontak Wisnu dihinggapi rasa penasaran.
"Ada apa?" tanya Wisnu.
Haris hanya membuang napas kasar lalu dia menyimpan ponselnya kembali ke dalam tasnya.
"Kita nginap saja ya di rumahku, enggak apa-apa?" ucap Haris.
Sangat jelas terlihat Haris butuh menenangkan diri.
"Boleh, santai saja!' jawab Wisnu.
"Mau makan di luar, atau mau mandi dulu?" tanya Haris.
"Aku mandi dulu saja, gerah!" kemudian Haris mengantarkan Wisnu menuju kamar mandi yang berada di ruang belakang.
Setelah selesai mandi, terasa beban pikirannya sedikit mereda, setelah air shower mengguyur badannya.
***
Setelah semuanya selesai, Haris pun mengajak Wisnu, dan Rara keluar untuk membeli makan.
***
Akhirnya tiba di Restoran tempat makan, Haris pun memesan makanan.
Ketika sedang menunggu pesanan makanan datang, dari dalam Restoran terlihat Clara sedang berjalan dengan adik perempuannya, nampak Clara terburu-buru ketika berjalan.
"Itu kan Clara, dia tidak bersama Cindy. Lalu Cindy pergi bersama siapa?" gumam hati Haris.
Ini menjadi tanda tanya besar bagi Haris, karena selama ini Cindy selalu beralasan kepergiannya selalu bersama sahabatnya itu yaitu Clara.
***
Makanan pun datang,
Rara begitu lahap ketika makan nasi goreng sosis, Haris terlihat senang melihat anaknya yang terlihat menikmati makanannya.
"Pak, kenapa makanannya hanya di aduk-aduk," Wisnu terlihat heran melihat Haris yang sedari tadi hanya mengaduk makanannya tanpa dia makan sedikitpun.
"Iya, Papa kenapa? gak selera makan!" sambung Rara.
__ADS_1
Haris tidak menyadari dia sedang di perhatikan oleh Rara dan temannya itu. Karena di hinggapi rasa malu akhirnya Haris memakan makanan tersebut walaupun tidak selera karena memikirkan Cindy.
"Pah, nasi gorengnya bungkus satu, buat Mbak Eka," Rara melirik ke Haris, dan Haris pun hanya menganggukkan kepalanya.
"Anakmu perhatian banget kepada ART nya," Wisnu berucap sambil menatap lekat kepada Rara
"Iya, dia lebih dekat kepada Mbak Eka, dibandingkan kepada Mamanya," Haris tersenyum tipis.
"Mungkin karena jarang ketemu Mamanya ya?" Wisnu seakan tahu keadaan Rara yang tidak begitu dekat dengan Mamanya.
"Mamanya kan sibuk!" Haris seakan menyindir Cindy.
Wisnu pun hanya tersenyum.
***
Setiba di rumah,
"Wisnu, istirahat saja di kamar tamu, besok kita pagi harus segera pulang ke Bandung lagi, karena masih banyak yang harus di kerjakan," Wisnu pun ke kamar tamu untuk segera beristirahat.
Karena di hinggapi rasa penasaran, Haris kembali menghubungi Cindy lagi.
Namun tetap saja ponsel Cindy tidak aktif.
Dalam benak Haris di hinggapi rasa curiga kembali terhadap istrinya itu.
"Mungkinkah Cindy berselingkuh kembali!" gumam hati Haris.
Haris berusaha menepis itu semua,
"Tidak mungkin istriku mengulang kembali perselingkuhannya," Haris mencoba menenangkan dirinya.
Mata Haris terpejam tapi pikirannya tetap melayang, ke istrinya yang tidak ada kabar.
***
Jam menunjukkan pukul dua pagi, keadaan diluar sudah sepi.
Tiba-tiba Wisnu keluar dari kamar, melihat temannya yang sedang duduk di sofa dan melamun lalu Wisnu menghampirinya.
"Belum tidur?" tanya Wisnu.
Haris menggelengkan kepalanya.
"Sudah jangan terlalu dipikirkan nanti sakit," ucap Wisnu.
Dia tahu apa yang sedang ada di pikiran temannya itu.
"Rumah tanggaku, sudah tidak sehat!" ucap Haris sambil memijit kepalanya seakan pusing banyak beban pikiran.
"Ngadu sama yang di atas, biar diberikan petunjuk," Wisnu mengusap bahu temannya itu. Wisnu mencoba menyabarkan hati temannya itu, dia pun memberikan wejangan. Walaupun usianya dibawah Haris tapi dia sudah berpengalaman dalam kegagalan berumah tangga.
Haris merasa ada sedikit pencerahan ketika Wisnu mencoba menguatkan dirinya.
__ADS_1