
{"Besok aku akan berkunjung ke Bandung, karena acara pernikahan saudaraku, di percepat tanggalnya,"} pesan tertulis dari ponsel Wisnu.
Muka Wisnu berseri-seri, penuh dengan rona kebahagiaan. Rasanya malam itu ingin cepat berganti esok hari, agar dia bisa segera bisa bertemu dengan sang kekasih hatinya.
***
Matahari seakan tidak malu untuk menampakkan sinarnya. Kota Bandung terlihat pagi itu sangat cerah sekali, secerah hati Wisnu yang sedang menunggu kedatangan Zhira, sang kekasih.
"Wah, yang lagi berbunga-bunga, karena kekasihnya mau datang," Haris mengejek temannya itu.
Wisnu cengengesan terlihat malu dan mukanya merah padam.
"Mau jemput Zhira ke Bandara, jam berapa?" Haris melemparkan senyum lebar.
"Katanya dia mau di jemput saudaranya, yang dari Bandung. Jadi nanti saja aku berkunjung ke rumah saudaranya itu," jawab Wisnu.
Wisnu terlihat rapi dan sudah wangi, meskipun tidak tahu jam berapa Zhira, akan mengabari dirinya untuk bertemu.ðŸ¤
Terlihat begitu PEDE sekali seorang Wisnu.
****##***##***##***
Di Bandara.
"Zhira....!" saudara Zhira berteriak tatkala melihat Zhira. Dia begitu bahagia melihat kedatangan Zhira yang hampir lima tahun tidak bertemu.
Mereka berpelukan sangat erat, menumpahkan segala rasa rindu yang terpendam.
"Geulis, kamu tambah gemesin," ucap Zhira kepada Friska, yang tak lain adalah kekasih dari Haris.
Geulis panggilan sayang, Zhira kepada Friska.
"Kamu juga Honey!" Friska mencubit lembut dengan panggilan Honey, kepada Zhira.
***
Zhira merogoh benda pipih di saku bajunya, lalu dia membuka layar ponselnya.
"Ya, mati deh, ponselku!" niatnya ingin menghubungi Wisnu.
"Kamu mau menelepon siapa? jangan-jangan pacar kamu yang baru ya?" Friska menggoda saudaranya itu.
Zhira tersipu malu dan menundukkan kepalanya.
"Pacarku kerja di sebuah Kafe, apa kita kasih kejutan kesana ya? biar ada surprise!" Zhira pikirannya menerawang.
Zhira berpikir jika dia datang langsung ke tempat Wisnu, dimana Wisnu bekerja pasti akan terkejut dan di hinggapi rasa bahagia.
***
"Tapi, aku ada Kafe, yang enak buat nongkrong. Bagaimana jika kita kesana saja. Nah nanti pacarmu biar datang menghampiri kita disana," Friska berharap Zhira bisa ikut ke Kafenya Haris.
Karena Friska juga ingin rasanya mengenalkan Haris, kepada saudaranya itu.
"Gimana ya!" Zhira seakan bingung.
"Ayolah, Honey," Friska terlihat memohon.
"Oke, oke, Aku takut jika nanti kemauannya tidak di turuti, nanti ngadu sama calonnya. Dan aku kena hukum!" Zhira mengejek Friska.
__ADS_1
Friska tertawa terbahak.
***
Di dalam mobil, Zhira melihat dari kaca jendela, sepanjang jalan yang di telusuri ke arah Kafe, sungguh pemandangan yang di lewati begitu sejuk dan asri.
Pepohonan hijau seakan membuat mata indah memandang.
"Geulis, pacarmu yang mempunyai Kafe, Owner-nya, berarti. Wah, hebat," tanya Zhira, melirik ke arah Friska.
Friska menganggukkan kepala dan tersenyum manis.
"Asli Bandung, dia?" sambung Zhira.
"Bukan, Bogor! Tapi sekarang dia sudah pindah ke Bandung dan menetap di Bandung, tinggalnya," pandangan Friska tetap fokus ke depan, menuju arah jalan Dago. Dimana Haris membuka Kafe disana, dan nampak terlihat Factory Outlet berjejer.
"Aku mau belanja!" teriak Zhira histeris. Ketika melihat Factory Outlet berjejer.
"Emang ya, dari dulu matamu jelalatan jika meihat Factory Outlet, dan kamu selalu kalap, kalau belanja. Nanti ah, pulangnya saja belanjanya. Sepulang dari Kafe," Friska tertawa terkekeh.
"Hahahaha..." Zhira tertawa lepas.
***
Tiba di Kafe.
Fani menghampiri kedatangan Friska dengan Zhira.
"Bu, Bapaknya teu aya, nuju ka Jalan. Cihampelas, tapi sebentar lagi pulang," Fani sang pelayan Kafe, mengabarkan bahwa Haris sedang ke daerah Jalan Cihampelas.
"Atos, lami?" tanya Friska. Apakah sudah lama perginya.
"Yasudah, Fan, buatkan kopi hangat untuk Ibu dan, Honey, kamu mau pesan apa?" Friska tersenyum manis kepada saudaranya itu.
"Bandung terkenal makannya, Colenak. Ada gak?" Zhira membuka lembar demi lembar buku menu di Kafe tersebut, kemudian melempar pandangannya kepada Fani.
"Ada Bu" Fani tersenyum ramah.
"Yasudah, aku mau itu, sama teh pahit," Zhira menutup buku menu pesanan.
***
Setengah jam kemudian.
Fani datang membawa pesanan.
"Bu, silahkan," Fani menyodorkan semua pesanan di atas meja.
Mereka berdua tersenyum dan mengucapkan kata terima kasih, kepada sang pelayan.
Zhira begitu menikmati kue Colenak "dicocol enak" makanan khas Parahyangan yang terbuat dari singkong yang dibakar, lalu di hidangkan dengan saus yang terbuat dari lelehan gula merah di campur kelapa.
"Enak, Honey!" Friska tersenyum bahagia, melihat saudaranya itu makan dengan lahapnya.
Friska sangat menyayangi Zhira. Apalagi saat mengetahui Zhira, di khianati oleh suaminya. Begitu sesak terasa hatinya bagaikan teriris.
"Sore, pokoknya kita ke factory outlet!" Zhira merajuk penuh manja.
"Iya, Honey bawel!" Friska seakan gemas kepada saudaranya itu.
__ADS_1
Usia Friska terpaut jauh yaitu tujuh tahun dengan Zhira, jadi Zhira terlihat manja. Friska pun seakan menganggap Zhira itu adiknya sendiri.
***
Setelah selesai makan, dan perut terasa kenyang. Sudah tidak ada lagi bunyi cacing yang meronta-ronta diperut nya.
Akhirnya Zhira membuka layar ponsel yang sedari tadi di charger di pinggir mejanya.
Lalu dia mencoba menghubungi nomornya Wisnu. namun tidak ada jawaban disana, ponselnya tidak aktif.
"Kamu sudah hubungi pacarmu?" tanya Friska. menatap lekat kepada Zhira.
"Tidak aktif, ponselnya!" nampak muka Zhira murung terlihat sedih.
Melihat saudaranya terlihat murung, lalu Friska mencoba menghibur hati saudaranya tersebut.
"Pacarku juga tidak aktif ponselnya, mungkin sedang sibuk," ucap Friska.
***
Zhira ijin ke toilet dengan di antar oleh Fani.
Dia seakan terkagum melihat situasi Kafe tersebut, karena tempatnya begitu nyaman. Pandangan Zhira tertuju ke kolam ikan koi, dia tertegun disana.
Terasa menenangkan tubuh dan pikiran saat matanya fokus ke arah kolam. Mungkin karena ikan koi memiliki warna yang beraneka ragam yang menarik jadi enak di pandang mata.
"Bu, toiletnya di pinggir sana!" telunjuk Zhira menunjuk ke arah sebrang tempat kolam ikan koi.
Zhira sedikit terkejut ketika pundaknya di tepuk lembut oleh Fani.
"Iya, makasih ya," ucap Zhira, dan berlalu.
***
"Kamu sendirian kesini, Sayang?" Haris tiba-tiba datang bersama Wisnu.
"Berdua, dengan saudara, dia sedang ke toilet," pandangan Friska berselancar mengelilingi area sekitar. Karena begitu lama Zhira tidak kembali lagi datang.
***
Haris dan Friska terlihat serius ketika berbicara, mereka membicarakan masalah persiapan untuk pernikahan yang akan di adakan sebentar lagi.
"Nanti nyusul ya, setelah kita, Wisnu!" canda Friska sambil melempar senyum ke arah Wisnu.
"Doakan secepatnya," jawabnya tersipu malu.
"Kapan atuh, kabogohna, di candak ka Bandung?" Friska bertanya kepada Wisnu, kapan pacarnya dibawa ke Bandung.
"Sekarang dia sedang dalam perjalanan menuju Bandung, pasti pas datang ke Bandung, langsung aku kenalkan," terlihat begitu bersemangat Wisnu ketika berucap. Wisnu seakan gembira sekali menceritakan pacarnya itu.
*****
Tiba-tiba..
Zhira datang dari arah belakang mereka.
"Nah, itu saudaraku yang dari Kalimantan!" ucap Friska melirik ke arah Zhira yang sedang berjalan ke arahnya.
Sontak pandangan Haris dan Wisnu menoleh ke arah Zhira.
__ADS_1
"Zhira..!" mata Wisnu terbelalak melihat sang pujaan hati ada di depan mata.