
Mereka pun pergi ke Bogor, berangkat subuh dari Bandung. Wisnu terlihat sumringah mukanya, nampak senang sekali bisa mengantar Friska, dan pergi dengan kekasih barunya itu yaitu Zhira.
Dalam perjalanan mereka bercerita, senyuman pun sumringah di antara mereka.
***
Dan tidak terasa tibalah mereka di kota hujan yaitu kota Bogor. Mendung terasa menyelimuti kota itu.
Ketika melewati jalan yang sudah tidak asing lagi bagi Zhira. Dia terlihat matanya berkaca-kaca. Zhira mencoba menahan agar air matanya tidak tumpah.
Melihat sang kekasih seakan di hinggapi rasa sedih, Wisnu di hinggapi rasa penasaran terhadap Zhira.
"Kenapa?" Wisnu bertanya sangat pelan sekali. Sementara Friska duduk di belakang mobil.
"Jalan ini hampir tiap hari aku lewati, dulu waktu aku tinggal disini. Jalan yang penuh kenangan dan pilu yang aku rasakan," Zhira membuang napas kasar.
Wisnu memegang jemari tangan Zhira, seakan menguatkan hati sang kekasihnya itu.
Air mata yang di tahan oleh Zhira, akhirnya tumpah juga menetes ke pipinya. Wisnu mengusapnya penuh kelembutan.
***
Melihat Zhira seakan sedih, Friska mencoba menghiburnya,
"Pulang dari Bogor, gimana kalau kita pergi ke puncak?" ucapnya.
"Terus, Mas Haris apa tidak marah, masa di tinggal sendiri gak di ajak!" sambung Wisnu.
"Kan, dia sedang di Bandung dan sakit," Friska tertawa terkekeh.
"Jangan, Haris kasian di tinggal. Sementara kita bersenang-senang," akhirnya Zhira berbicara.
Mendengar Zhira berbicara, akhirnya Friska merasa lega.
***
"Nah, ini tempatnya," bola mata Friska lekat melihat Restoran yang baru dibuka di kota Bogor itu.
Friska membuka pintu mobilnya, dan memandangi Restoran tersebut.
"Jadi kita disini bertemu dengan kliennya, yang sekaligus temanmu?" tanya Zhira.
"Ya, disini, kamu tunggu di lantai bawah saja. Aku janjian di atas dengan Viona," Viona, teman lama dari Friska yang mempunyai anak yang sedang depresi.
***
Dia ingin konsultasi tentang anaknya, sekaligus menumpahkan rasa rindu terhadap teman lamanya itu, yang dulu tinggal di Bandung dan sekarang pindah ke Bogor.
Mereka pun keluar dari dalam mobil.
"Restorannya bentuk dan tempatnya sangat unik," ucap Zhira. Matanya berselancar mengelilingi ruangan sekitar.
***
Di dalam Restoran.
Friska menaiki atas tangga, terasa sejuk dan pengharum wangi ruangan yang berada di Restoran itu seakan menggunggah penciuman di ruangan sekitar.
Terlihat dari kejauhan Viona, teman lamanya sedang duduk termenung, dan meneguk secangkir minuman.
"Viona...! gimana kabarnya?" Friska bersalaman, dan memeluk erat sahabatnya itu.
****
Viona pun menceritakan kondisi anaknya yang terkena depresi, penuh pilu ketika dia berucap. Dia menceritakan semua kondisi dari anaknya sekarang seperti apa.
__ADS_1
Friska mendengarkan keluh kesah sahabatnya itu dengan penuh rasa haru.
***
Viona sekarang buka usaha, dan dia rencananya mau memulai usaha baru di bidang kuliner.
"Yasudah, kamu bareng sama calonku saja untuk usaha kuliner, tapi tempatnya di Bandung. Dia mau buka cabang lagi disana di daerah Cihampelas. Apakah kamu mau?" Friska mencoba menawarkan.
Viona tertegun sejenak,
Apakah dia mau kembali ke Bandung, rumah yang dulu dia tempati juga masih ada, belum dia jual tapi dia kontrakan.
"Aku pikir-pikir dulu, kalau untuk pindah kesana, soalnya banyak kenangan pahit penuh luka. Aku rasa untuk saat ini tidak mau buka usaha di Bandung," Viona menolaknya.
"Yasudah kalau begitu tidak apa-apa," Friska tersenyum tipis.
"Kamu nginap ya, di rumahku sekarang!" Viona menawarkan Friska menginap di rumahnya.
"Aku sama saudaraku, mereka sedang menunggu di bawah, dan aku mau kembali pulang nanti sore," sambungnya.
"Sebenarnya aku sudah kerjasama buka usaha di Bogor, kebetulan dia juga seorang yang baru di dunia bisnis. Tapi aku yakin saja semoga bisa lancar bisnis dengan dia. Kamu kan tahu biaya hidup sekarang mahal. Kalau cuma minta sama suami rasanya tidak cukup," Viona mencoba meyakinkan.
"Syukurlah kalau begitu," ucap Friska.
Viona teman Friska cukup mandiri, suaminya hanya pekerja biasa. Jadi dia sebagai seorang istri harus bisa mencari uang untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Ting..
Tiba-tiba pesan chat muncul dari Haris.
{"Sayang, sudah makan belum?"} tanya Haris.
{"Sudah, kamu?} ucap Friska.
Haris masih sakit terdengar dari suaranya.
{" Aku jadi khawatir, Mas!"} Friska di hinggapi rasa khawatir kepada kekasihnya itu.
Friska pun mengingatkan Haris agar jangan lupa minum obat.
Sambungan telepon pun, akhirnya di tutup.
****
"Aku nanti kenalin kamu ya, ke yang punya Kafe ini. Nah, aku bareng sama orang ini buka usahanya," Viona terlihat malu.
"Wah, hebat kalau begitu. Berarti uang yang kamu keluarkan tidak sedikit untuk modal. Ini kan Kafe bagus dan terlihat mewah," Friska terlihat kagum ketika melihat ruangan sekitar.
***###***###
Di ruang bawah.
"Sudah dong, jangan sedih, Aku kan sekarang akan berada di sampingmu terus selamanya," Haris mencoba meyakinkan Zhira.
Zhira menganggukkan kepalanya.
Disana nampak Wisnu menghibur, dan Zhira pun akhirnya bisa tersenyum tipis.
"Nanti besok, kamu akan aku kenalin ke keluargaku ya? setelah Friska menikah aku juga akan melamar kamu," Wisnu tersenyum menatap Zhira yang tersipu malu.
"Apa aku tidak salah dengar, Mas!" ucap Zhira di hinggapi rasa bahagia.
"Nggak Sayang, aku sangat mengharapkan kamu menjadi istriku," Wisnu terlihat sangat mencintai Zhira, dan takut kehilangan wanita yang baru saja dia kenal.
***
__ADS_1
Tiba-tiba Haris menelepon, dia menanyakan keberadaan Wisnu.
"Masih di Bogor, Bos memangnya nggak menghubungi Friska?" tanya Wisnu.
"Sudah, tadi," jawabnya.
"Kirain belum, jadi Bos hubungi aku!" Wisnu terlihat di hinggapi rasa heran.
Kemudian sambungan telepon ditutup.
"Ada apa?" tanya Zhira.
"Haris menelepon aku, nanya lagi dimana. Padahal sudah tahu dari Friska masih di Bogor," ucap Wisnu.
"Mungkin dia curiga, takut Friska berbohong. Maklum rasa trauma masih melekat," ucap Zhira.
*****
Trauma Haris begitu sangat dalam terhadap Cindy. Jadi dia di hinggapi rasa khawatir juga terhadap pasangan yang sekarang.
Takut berkhianat kembali, dan membohonginya lagi.
Friska sangat cantik dan pintar, sangat jauh dengan Cindy.
Cindy tidak terlalu cantik jika di bandingkan dengan Friska.
*****
"Haris cemburu!" Zhira tertawa terkekeh.
Wisnu pun seakan menahan tawa, ternyata Bosnya itu kelakuannya seperti anak kecil.
"Ya, tapi nggak mungkin Friska melakukan perselingkuhan seperti Cindy, sangat jauh berbeda," tegas Zhira
"Aku baru mengenal Friska. Ya, dia wanita sangat baik tidak mungkin melakukan perselingkuhan," Wisnu pun percaya kepada sosok Friska.
***###***###
Friska nampak mengirimkan gambar foto dia dengan Viona kepada Haris.
{"Nih, sayang. Ini temanku."} Friska mencoba mengirimkan gambar foto kepada Haris, sebagai tanda bukti bahwa dia kebersamaannya sedang dengan wanita.
Tiba-tiba dari kejauhan sesosok lelaki sedang berdiri di kasir Restoran. Sangat gagah terlihat lelaki tampan, dan penampilannya sangat keren.
"Nah, itu dia!" telunjuk Viona menunjuk ke lelaki tersebut.
"Siapa dia,?" tanya Friska
"Dia, yang aku ceritakan barusan, yang punya Restoran ini. Dia seorang duda yang baru saja terjun ke dunia bisnis," Viona mencoba menerangkan.
"Oh.." jawab Friska, singkat.
Kemudian lelaki itu melambaikan tangannya kepada Viona, dan Viona pun menyambut dengan lambaian tangan pula.
Senyum manis lelaki itu sangat menggoda.
Kemudian dia berjalan ke arah Viona dan Friska.
"Hai, tambah keren saja nih, Bos!" ucap Viona, kepada temannya itu.
"Kamu pandai merayu dari dulu!" lelaki itu tertawa lebar.
"Nih, kenalin temanku Friska," ucap Viona melirik Friska.
"Bram.." ucap lelaki itu, tangannya mengarah ke Friska untuk bersalaman. Terlihat genit mata lelaki tersebut.
__ADS_1