Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 68 Haris Mengungkapkan Cintanya


__ADS_3

"Nak, kamu itu ganteng.dan baik. Kamu bisa loh, dapatkan lagi seorang pendamping yang lebih. laki-laki itu berkuasa, mau apapun juga bisa mendapatkan wanita seperti apapun, asal dia berduit!" Ibunya Haris, seakan menyindir anaknya itu.


Haris hanya tersenyum tipis.


"Yasudah, Bu, Haris pulang dulu ya. Awas, Ibu jangan mengingat-ingat lagi rumah Haris yang di Bogor yang sudah tidak ada. Doakan saja agar Haris kedepannya mendapatkan rezeki yang lebih. Kan ada peribahasa hilang satu tumbuh seribu." Haris memeluk Ibunya.


Ibunya Haris, meneteskan air mata, betapa sedih dalam hatinya itu. Anaknya lelaki satu-satunya itu, sungguh terlalu banyak luka di pendam di dadanya. Kemudian Ibu, mencium kening Haris.


Haris pun akhirnya meninggalkan Ibunya, dengan sangat berat hati. Selama dalam perjalanan menuju Bandung, Haris berusaha melupakan bayangan Cindy yang selalu hinggap.


"Aku bukan suaminya lagi, untuk apa aku mengingatnya lagi. Terlalu banyak sakit hati yang Cindy torehkan terhadapku, " gumam hati Haris.


***


Tidak lama kemudian Friska memberikan pesan untuknya. Dia ingin sekali bertemu dengan Haris besok.


Haris tersenyum renyah membaca pesan dari Friska, seakan ada penyemangat hidup dalam dirinya. Hidupnya kini seakan berwarna.


***


Haris pun tiba di Bandung.


Karena di hinggapi rasa lelah yang teramat, lalu Haris merebahkan badannya di kasur yang berada di Kafe milik Haris.


Jaraknya berada di belakang Kafe. Agak jauh terhalang dapur, dan kamar karyawan yang tinggal menginap disana.


Kemudian dia memejamkan matanya, yang begitu lelah dan Haris pun tertidur lelap.


---**---**---**---


(Cindy berteriak minta tolong, rambutnya di jambak oleh Ibunya Haris. Sementara Cintya dan Bram, seakan puas melihat adegan tersebut. Cindy berteriak ketakutan. Lalu Bram mendorong kursi roda Cindy, dan Cindy pun terpelanting jatuh. Badannya berdarah penuh luka. Haris tak kuasa melihat kejadian itu semua. Dadanya terasa sesak. Dia ingin sekali menolong Cindy, yang sedang meronta-ronta menahan rasa sakit.


Entah mengapa Haris seakan sesak, dan tidak bisa berbuat apa-apa).


---**---**---**---


Tok..


Tok..


Tok..

__ADS_1


Pintu dari luar di ketuk beberapa kali, dari luar.


Haris pun terbangun dengan peluh bercucuran, dadanya berdetak lebih kencang.


Kedua mata Haris mengelilingi ruangan sekitar.


"Aku mimpi!" Haris mengatur napasnya yang terasa memburu.


Mimpi buruk yang baru saja Haris alami sangat menguras tenaganya. Haris termenung sejenak, mencoba mengingat kembali mimpi buruk yang menimpanya.


Haris sadar orang- orang di sekitar Cindy, kini telah meninggalkannya satu-persatu. Begitupun dengan kedua anaknya, seakan takut untuk bertemu dengan Cindy.


Setelah merasa rileks pikirannya, akhirnya Haris membuka pintu kamarnya. Nampak terlihat Fani sedang berdiri di depan pintu kamar Haris.


"Pak, ada tamu," Fani tersenyum, penuh dengan menyimpan rasa menahan tawa.


Melihat raut muka karyawan itu, tidak seperti biasanya. Haris seperti keheranan dibuatnya.


"Tamu siapa Fan?" tanya Haris, pandangan matanya jauh ke depan Kafe.


"Wanita cantik, langganan Kafe ini," Fani tersipu malu.


"Bapak mandi dulu sebentar, Fan!" Haris pun berlalu dari hadapan Fani.


Fani tertawa terkekeh.


***


Setelah selesai mandi, Haris pun menuju ke ujung Kafe, dimana Friska disana sedang duduk santai.


Haris tersenyum ketika melihat sosok Friska yang sedang duduk manis di ujung Kafe, dan memainkan laptopnya.


"Sudah lama datang?" Haris menegur Friska yang sedang menunduk ke arah laptop.


Mendengar suara Haris sontak mata Friska menoleh ke arah belakang dan tersenyum sumringah.


"Katanya besok baru mau datang kesini?" Haris terlihat malu, ketika berucap.


"Kalau kangen, gimana dong, enggak boleh ya? kalau aku kangen dan datang hari ini!" Friska pandai sekali menggoda hati Haris. Membuat muka Haris merah padam.


"Boleh, boleh, dengan senang hati." Haris tersipu malu dan pandangannya menunduk karena menahan rasa malu.

__ADS_1


***


Haris ijin keluar sebentar kepada Friska, dia beralasan ingin membeli keperluan untuk di Kafe.


"Boleh aku ikut?" Friska seakan ingin menemani Haris untuk belanja. Namun Haris dengan cepat menolak ajakan Friska itu.


"Cuma sebentar ko, setengah jam. kamu kan masih lama di Kafe ini ya, masih ngerjain tugas." Haris melirik laptop milik Friska.


Akhirnya Haris pun keluar Kafe, tanpa di temani Friska.


Tepat setengah jam kemudian, Haris kembali datang. Haris memperhatikan Friska dari belakang, Friska seakan sibuk membalas pesan satu persatu di ponselnya.


"Surprise..."


Ucap Haris sambil memberikan buket bunga mawar merah, yang masih segar. Arti bunga mawar merah itu sendiri melambangkan tanda penghargaan dan hormat sejati. Mawar merah tua, melambangkan bahwa seseorang siap untuk berkomitmen atau tidak akan mempermainkan hati pasangannya untuk melangkah ke depan.


Friska betapa terkejut mendapatkan kejutan dari Haris. Dia tidak menyangka Haris yang begitu lembut dan pendiam memberikan kejutan dengan memberikan bunga mawar.


Friska tersenyum dan tersipu malu, dia seakan malu mendapatkan perlakuan romantis seperti itu.


Tangan Haris menyelinap ke saku celana lalu dia mengambil kotak kecil dari dalam saku celananya, kemudian dia membuka kotak tersebut, nampak satu buah cincin terlihat begitu manis. Friska terkejut ketika Haris, membuka kotak tersebut yang berisi cincin.


"Tidak ada maksud apapun, aku hanya ingin memberikan ini. Dan jangan pula berpikir aku terlalu berlebihan. Aku siap menerima keputusan apapun dari mulutmu. Jika kamu menganggap ku hanya teman biasa tidak apa-apa, tapi jika kamu menerima aku lebih dari teman aku merasa lelaki yang paling bersyukur mendapatkan wanita seperti kamu," Haris seakan berani mengungkapkan isi hatinya kepada Friska. Meskipun dadanya saat ini bergemuruh tidak karuan, takut nantinya ada penolakan dari Friska.


Melihat Haris memperlakukan dia seperti itu, dengan memberikan bunga dan sebuah cincin manis, hati Friska sangat bahagia sekali. Ternyata Haris yang dia anggap lelaki yang pendiam dan tidak bisa bersikap romantis akhirnya bisa juga dia bersikap romantis kepada dirinya.


Tanpa banyak kata, Friska tersenyum manis dan mengulurkan jemari manisnya, pertanda cincin yang di pegang oleh Haris, boleh dia sematkan ke jari manisnya.


Debaran jantung Haris yang sedang berdetak cepat akhirnya berhenti secara perlahan, karena sang pujaan menerima cintanya.


Haris pun dengan cepat meraih jemari Friska, dan menyematkan cincin tersebut ke jari manis Friska.


Suasana haru tersebut di intip oleh Fani dan Wisnu. Fani dan Haris duduk di ujung yang di halangi pohon rindang, jadi tidak nampak jelas terlihat oleh tamu lain yang datang.


"Kenapa kamu Fan!" Wisnu mengagetkan lamunan Fani yang matanya sedang berkaca-kaca.


"Ko, aku sedih lihatnya, kenapa ya?" Fani mengusap bulir putih yang menetes di pipinya. Wisnu pun tak kuasa melihat Bosnya itu begitu romantis memperlakukan wanita idamannya, yang selama ini dia kagumi.


"Aku juga, tidak menyangka. Pak Haris, seromantis itu perlakuannya ke Friska," Wisnu pun berpikiran sama dengan Fani.


Kedua karyawan Haris, seakan meleleh hatinya ketika melihat adegan tersebut.

__ADS_1


__ADS_2