
Ibunya Haris menelepon.
{"Nak, sudah makan?"} Ibunya Haris terdengar di hinggapi rasa khawatir ketika menelpon anaknya itu.
Semenjak terjadi perceraian anaknya itu, Ibunya begitu perhatian kepada Haris.
{"Harusnya, Haris yang bertanya kepada Ibu, jangan terlalu khawatir dengan keadaan Haris, Bu."} jawab Haris.
Haris justru mengkhawatirkan keadaan Ibunya, yang sendiri tinggal di Bekasi, hanya di temani ART, dan supir pribadinya.
{"Ibu, ada Sari, yang siap siaga dua puluh empat jam,"} ucap Ibunya Haris.
Sari nama ART Ibunya Haris.
{"Haris jangan terlalu di pikirkan Bu, yang penting Ibu sehat. Haris ingin Ibu tinggal bersama Hana saja, biar kumpul dengan anak-anaknya Haris,"} Haris berharap Ibunya tinggal di Surabaya bersama adiknya dan anak-anaknya.
***
Obrolan pun akhirnya berlanjut ke masalah wanita. Ibunya Haris menginginkan lagi menantu dari Haris.
{"Nak, kata Hana, kamu lagi dekat sama Friska. Apa benar? jika benar, Ibu sangat bangga dan bahagia sekali karena Friska wanita baik-baik,"}
Ibunya Haris sudah mengenal Friska dari dulu, sewaktu masa kuliah dulu, Friska suka main ke rumah Haris, sewaktu Ibunya tinggal di Bandung.
{"Ya, kalau sudah jodoh, pasti nanti juga di pertemukan di pelaminan,"} jawaban Haris cukup enteng. Tidak ada kata untuk segera cepat menikah.
Haris berpikir mungkin Friska juga butuh pertimbangan, untuk menjalin hubungan yang lebih serius dengan Haris. Karena mereka telah sama-sama gagal dalam membina rumah tangga.
Jadi kalau untuk membina rumah tangga harus di pikir matang oleh keduanya.
Mereka tidak mau gagal untuk yang kedua kalinya.
***
Haris pun mencoba menelepon Friska.
Haris tahu jam sembilan malam Friska waktunya sudah agak longgar tidak sibuk.
Haris menanyakan kabar Friska, dan kesibukan yang di lakukan hari ini.
Lama-lama obrolan pun menjurus ke masalah hubungan mereka.
Haris sangat berhati-hati ketika mencoba berbicara masalah rencana ke depan Friska, jika berjodoh dengannya akan seperti apa.
Friska pun mengungkapkan semua yang akan dia rencanakan kedepannya seperti apa,
Jika dia berjodoh dengan Haris.
Haris menyimak semua, apa yang di ucapkan oleh Friska. Dan Haris pun seakan mengerti maksud dari Friska.
Dia tidak menginginkan pernikahan di segerakan, tapi nanti saja tahun depan. karena begitu banyak yang harus di selesaikan olehnya, terutama masalah karirnya.
__ADS_1
Haris pun seakan mengerti maksud dari Friska tersebut dan dia tidak mau memaksakan kehendak Friska.
***
Keesokan harinya Hana menelepon.
Dia memberikan kabar bahwa Rara sakit, dan Rara menginginkan Haris datang menjenguk.
Ibunya Haris, kebetulan akan berkunjung ke Surabaya.
{"Kak, bawa Friska sekalian main kesini, kayaknya Ibu akan senang kalau mendengar Friska datang."} Hana menelepon Haris.
Dia sangat berharap Haris datang bersama Friska.
Haris pun seakan ragu untuk mengajak Friska, karena Haris tahu jadwal Friska sangat sibuk. Tapi Haris memberanikan diri untuk bicara langsung dengan Friska.
***
Haris pun menutup sambungan telepon dari Hana. Dan dia mencoba menelepon Friska. Haris kemudian membujuk Friska untuk pergi ke Surabaya.
{"Jadi anakmu sakit, kasian ya. Boleh deh, aku mau ikut ke Surabaya kalau cuma dua hari"} mendengar ucapan dari Friska bahwa dia mau ikut ke Surabaya, hati Haris seakan di hinggapi rasa gembira.
***
Haris akhirnya menghubungi Ibunya, bahwa dia aka datang bersama Friska ke Surabaya untuk menengok Rara.
Betapa senang hati sang Ibu, ketika mendapatkan kabar tersebut dari anaknya itu.
"Ibu ingin sekali cepat-cepat menemui Friska," terdengar Ibu dari suaranya sangat bahagia.
***
Haris berangkat dari Bandung ke Surabaya, bersama Friska. Sedangkan Ibunya Haris pergi dari Bekasi ke Surabaya, mengajak Sari ART nya itu.
***
Haris bersama Friska sudah tiba di Surabaya, terlebih dahulu sebelum Ibunya datang.
Nampak Rara bergelayut manja dengan Haris, begitupun dengan Reza, meskipun sudah besar tapi dia masih terlihat ingin di perhatikan oleh sang Papa. karena dari dulu mereka kurang kasih sayang dari Cindy.
Yang memperhatikan dan memberikan kasih sayang hanya Haris.
***
Ibu pun tiba dengan membawa banyak oleh-oleh, karena mungkin mau bertemu dengan anak dan cucunya.
Friska langsung menciumi punggung tangan
Ibunya Haris, Ibunya seakan bertanya-tanya dalam hati. (Siapakah wanita ini?) karena sudah lama ibunya Haris, tidak bertemu dengan Friska.
"Bu, ini Friska," ucap Haris.
__ADS_1
"Friska! cantik banget kamu, Nak," Ibunya Haris menatap lekat kepada Friska dan mengusap pipinya.
Friska tersipu malu mendapatkan pujian dari Ibunya Haris tersebut.
"Ibu juga terlihat awet muda," ucap Friska, seakan tidak mau kalah untuk memuji Ibunya Haris, yang masih terlihat segar bugar. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi.
Kemudian Ibunya Haris, memeluk Friska dengan penuh kehangatan.
"Alhamdulillah, akhirnya Ibu bisa bertemu dengan Friska, sudah sejak sekian lama kita tidak bertemu ya?" Ibu terlihat bahagia ketika bertemu dengan Friska, wajahnya berseri-seri.
Melihat perubahan Ibunya yang terlihat bahagia Haris sangat senang sekali.
Karena beda dengan waktu bertemu dengan Cindy, Ibu di hinggapi rasa emosi yang memuncak.
***
Selesai makan malam, Ibunya Haris terlihat akrab dengan Friska, mereka sedang duduk di ruangan tamu.
"Nak Friska, maaf, sudah berapa lama sendiri?" Ibunya Haris, bertanya penuh hati-hati takut menyinggung perasaan Friska.
"Sudah cukup lama Bu, sekitar lima tahun," jawabnya.
"Sudah lama juga ya, sudah, nunggu apa lagi. Nikah saja sama Haris, anak Ibu.
Dia orangnya baik dan tanggung jawab. Kasian kemarin di khianati sama Cindy, berselingkuh!" Ibu seakan kembali mengingat Cindy, wanita yang membuat Ibunya sakit hati.
Haris menatap Ibunya, dan mengedipkan mata, seakan memberi isyarat. Jangan membicarakan Cindy kembali.
Ibunya Haris seakan mengerti isyarat yang di sampaikan oleh Haris. Kemudian dia mengalihkan pembicaraan dengan menanyakan sekarang Friska kerja dimana.
Ibunya Haris, sangat terkejut mendengar profesi dari Friska, dia seorang dokter.
"Wah hebat, sudah cantik, dokter pula. Lelaki yang mendapatkan Nak Friska nanti, sungguh beruntung." Ibu melirik Haris dengan senyuman sumringah.
Haris pun seakan tersipu malu.
***
Keesokan harinya Hana mengajak Ibunya dan Friska jalan-jalan. Sementara Rara tidak mau ikut jadi tinggal di rumah bersama Haris.
"Yakin tidak mau ketemu? kalau ada Papanya, langsung sembuh, ya Ra!" Hana menggoda Rara yang keadaan kondisi badannya tiba-tiba sehat setelah Haris datang.
Rara tertunduk dan tersipu malu.
Di dalam mobil Ibunya Haris, terus menggoda Friska agar cepat menikah. Ibunya terus menerus membanggakan anaknya bahwa Haris lelaki yang baik dan tanggung jawab.
Hana seakan malu atas kelakuan Ibunya itu, yang menggoda terus Friska.
"Bu, sudah jangan di goda terus agar cepat menikah, nanti kalau jodoh Haris sama Friska segera menikah." Hana melirik Friska dan tersenyum.
"Tidak apa-apa, mungkin Ibu ingin cepat memiliki menantu," canda Friska sambil tersenyum melihat Ibunya Haris.
__ADS_1
"Iya, aneh Ibu ini. Pengen cepat-cepat dapat mantu lagi." Hana pun menyindir Ibunya.
Ibunya tertawa terkekeh.