
Sore itu Cindy mengajak Rara Anaknya keluar untuk berbelanja, Rara sangat gembira ketika Mamanya mengajak keluar.
Setiba di sebuah Toko Butik pakaian Cindy memilih baju yang terbaik dia memilih-milih yang bagus kualitasnya dan unik.
"Mah, Rara mau yang ini saja bajunya," rajuk Anak itu. Tapi Cindy tidak setuju.dengan pilihan Rara.
"Ini saja, Sayang! ini bagus dan modelnya tidak pasaran," kemudian Cindi foto baju tersebut, lalu dia mengirimkan gambar tersebut.
{"Ini bagus gak?"} Cindy memberikan pesan kepada Clara.
{"Wah, bagus banget! pasti harganya mahal, Iya kan?"} jawab Clara.
{"Tidak penting masalah harga,"} Cindy memberikan emotion senyum.
Helmi mau pulang malam ini ke rumah Ibunya untuk menemui Anaknya, yang mau berulang tahun besok, hari sabtu. Helmi berdomisili di Jakarta jadi jarak antara Bogor yang di tempati Helmi saat ini cuma dua jam sampai di tujuan. Helmi tidak terlalu buru-buru untuk pulang ke rumah Ibunya.
Dan Cindy membelikan baju tersebut untuk Anaknya Helmi yang baru duduk di bangku SMP yaitu Rara.
"Mah, bajunya kenapa beli dua?" tanya Rara Anak dari Cindy. Sang Mama hanya tersenyum tanpa berucap apapun.
"Mah, untuk siapa?" terus saja Rara bertanya. Akhirnya Cindy berbicara.
"Anak bawel! ini untuk anaknya teman Mama yang besok mau ulang tahun," Cindy kemudian membayar baju tersebut ke kasir.
"Asik, besok Rara mau pergi ke acara ulang tahun Anaknya Mama." muka Rara berseri-seri.
Cindy dan Rara pun berlalu dari tempat itu dan memasuki mobil sedannya yang berwarna merah.
"Mah, besok acaranya jam berapa? Rara sudah tidak sabar pergi ke acara ulang tahun Anaknya Mama besok," Cindy hanya terdiam kemudian dia membelokkan mobilnya ke arah rumah Clara.
"Kamu tunggu disini sebentar," Cindy kemudian turun dan membawa kotak yang berisi baju dengan di bungkus tas berwarna pink muda.
Rara mengernyitkan dahi, dia seakan penuh tanya di benaknya.
{"Mama, aneh!"} gumam hati Anak itu.
Sepuluh menit kemudian Cindy memasuki mobil napasnya terasa tidak beraturan mungkin karena dia barusan berjalan dengan cepat ke rumah Clara yang masuk ke dalam tidak di pinggir jalan.
Ketika memasuki mobil Cindy di hinggapi rasa heran, karena melihat Rara sang Anak melihat tajam kepadanya.
"Kenapa, Ra! menatap Mama seperti itu?" Cindy kemudian melajukan kembali mobil sedannya.
"Mama belum jawab pertanyaan Rara tadi!" Rara nampak cemberut.
Cindy terdiam kemudian dia mengingat kembali apa yang tadi di pertanyakan oleh Anaknya itu. Cindy akhirnya tertawa lebar.
__ADS_1
"Anaknya teman Mama sedang diluar kota, dan ulang tahunnya disana juga jadi Mama nitip kadonya ke Tante Clara saja, ngerti kamu sekarang?" ucap Cindy memperjelas ucapannya. Rara pun menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.
Ting..
Kemudian pesan masuk ke ponsel Cindy.
"Makasih ya, kadonya. Pasti Rara Anakku senang," nampak nama pengirim pesan adalah Helmi. Cindy kemudian membalas dengan emotion senyum.
"Mah, pesan dari siapa? kelihatannya Mama senang banget," tanya sang Anak. Cindy tidak langsung menjawab pertanyaan anaknya itu lalu dia berucap.
"Tante Clara!" jawab Cindy singkat.
***
Setiba di rumah nampak sepi, Haris belum datang dari kantor dan Reza lagi ke rumah temannya sementara Mbak Eka sedang masak di dapur. Kemudian Rara berlalu ke kamarnya untuk menjajal baju yang baru saja dia beli.
Ting...
Pesan muncul kembali dari Helmi.
"Aku sudah sampai di jalan tol," dan Helmi pun memberikan sebuah foto ketika dia sedang di dalam mobil, wajahnya tersenyum manis," Cindy menatap lama sekali foto Helmi lalu dia menghela napas secara perlahan dan tersenyum.
{"Ganteng!"} balas Cindy sambil memberikan emotion menjulurkan lidah.
Kemudian Helmi membalas pesan tersebut dengan emotion tertawa lebar.
Rara berteriak dan menghampiri Mamanya dengan memakai baju barunya.
"Bagus sekali Nak," ucap Cindy menatap lekat ke baju yang di pakai oleh Anaknya itu.
Tiba-tiba Haris datang.
"Wah, cantik sekali Anak Papa," Haris memandangi baju Rara kemudian melihat harga baju tersebut yang masih menempel di belakang baju.
"Mah, mahal sekali harganya, kalau punya uang itu jangan di Hambur-hambur kan untuk membeli pakaian mewah Mah," Haris seakan tidak setuju ketika melihat harga baju tersebut. Cindy terdiam seakan tidak memperdulikan omongan suaminya tersebut.
Ting...
Ting...
Ting...
Suara pesan di saku baju Cindy beberapa kali berbunyi, dan Cindy sangat yakin yang memberikan pesan tersebut adalah Helmi karena tadi dia belum sempat membalas pesan dari Helmi karena Rara tiba-tiba memanggilnya.
"Pah, mau di buatkan kopi atau teh manis?" Cindy dengan cepat menawarkan minum kepada Haris karena dia akan berlalu dari hadapan Haris takut tiba-tiba Helmi menelepon.
__ADS_1
"Terserah," Haris kemudian duduk di kursi teras.
Sebelum ke dapur Cindy berlalu ke kamar lalu dia melihat pesan yang disampaikan oleh Helmi kepadanya.
"kapan-kapan nanti main sama Clara ke rumahku yang di Jakarta ya?"
"Jaga kesehatan,"
"Yasudah, Aku terusin nyetir ya?"
Isi semua pesan dari Helmi begitu perhatian da seakan Helmi peduli terhadapnya.
Cindy kemudian membalas pesan tersebut.
"Oke, ada suami. Biar Aku nanti yang kasih kabar," lalu Cindy menghapus semua pesan dari Helmi, dan mematikan ponselnya.
Cindy pun menyimpan ponselnya di dalam lemari bajunya begitu tersembunyi, dan Ketika Cindy membuka pintu, betapa terkejutnya Cindy karena Haris sudah ada tepat di depan pintu dan dia mau memasuki kamar.
"Loh, katanya mau bikin kopi?" ucap Haris. Kemudian Cindy berbohong kepada sang suami bahwa dia tadi ke kamar mandi yang ada di kamar, bentar. Cindy tidak tahan menahan buang air kecil, dan Haris pun sedikitpun tidak ada menaruh rasa curiga.
Ketika tiba di dapur Cindy melihat Mbak Rara sedang membuat kopi.
"Mbak, Kopi buat siapa itu?" tanya Cindy.
"Buat Bapak," jawab Mbak Rara.
"Loh, memang Bapak nyuruh Mbak untuk buat kopi?' tanya lagi Cindy
"Tadi Bapak ke dapur mencari Ibu, tapi Ibu enggak ada dan menyuruh Mbak buatkan kopi." Cindy di hantui rasa takut. Takut suaminya nanti bertanya yang macam-macam dan curiga. Karena Cindy pernah berselingkuh dia seakan tahu jika suaminya saat ini sedang menguji dirinya. Tapi pikiran buruk tentang suaminya dia lawan, mungkin semuanya hanya halusinasinya saja.
***
"Pah, baju ini tadi beli dua, dan yang satu buat Anaknya teman Mama yang berulang tahun," ucap Rara.
"Anaknya Tante siapa yang berulang tahun?" tanya Haris ketika duduk di teras rumah sambil memeluk Rara.
"Anaknya Bos, Pah. Malu kan kalau kadonya jelek?" Cindy tiba-tiba datang dari dapur dengan membawa secangkir kopi panas.
Kemudian Haris menyeruput kopi tersebut lalu dia mengambil singkong goreng yang baru saja di suguhkan oleh Mbak Eka.
"Ini, cobain enak!" Haris menyuapi singkong goreng kepada Rara, sementara Cindy seakan di acuhkan oleh suaminya itu. Sifat Haris sangat berbeda begitu cuek dan semenjak kejadian kemarin ketahuan istrinya berselingkuh tidur pun Haris seakan tidak mau sekamar bersama istrinya, dia hanya tidur di Sofa atau ruangan depan sambil melihat televisi.
Cindy kemudian berlalu dari hadapan Haris menuju ruang depan sambil melihat acara televisi. Direbahkan badannya di kursi panjang sambil melihat Haris yang sedang bersenda gurau dengan Anaknya itu.
"Pah, sini duduk dekat Mama," Rara kemudian memeluk sang Mama.
__ADS_1
"Papa mau ke ruang kerja ya, banyak kerjaan kantor," Haris seakan tidak mau berdekatan dengan Cindy.
Cindy hanya diam dan matanya lekat ke layar televisi.