
Friska pun mengulurkan tangannya kepada temannya Viona tersebut.
Tatapan Bram begitu lekat ke arah Friska.
Hati seorang wanita mana yang tidak karuan, ketika di pandangi terus oleh lelaki ganteng dan keren.
Mungkin bukan rasa malu atau ke ge-er an. Friska hanya di hantui rasa risih kepada lelaki tersebut.
"Teman lama Viona?" Bram kemudian menyapa Friska.
Friska hanya menganggukkan kepala dan tersenyum tipis.
"Kamu ya, kalau lihat wanita cantik saja. langsung deh, matanya. jelalatan," Viona mengejek temannya itu.
Viona sahabat dari Bram, jadi di antara mereka sudah tidak ada rasa canggung sedikitpun.
Mereka berteman sudah cukup lama, semenjak kuliah dulu. Namun setelah mereka menikah, masing-masing tidak bertemu lagi.
pertemuan mereka setelah Bram, cerai dari istrinya.
Bram mencoba peruntungan di usaha kuliner untuk sekarang ini. Kemudian Viona mau ikut bergabung dengan bisnisnya Bram itu.
Viona tahu sifat dari Bram, dia terkenal playboy kampus dulunya.
Wanita mana yang tidak terbuai dengan gombalan dan keromantisannya
Dan dia sangat loyal kepada kaum hawa.
"Tinggal dimana?' sambung Bram lagi.
"Saya, di Bandung," kali ini pandangan Friska menunduk, dia tidak mau melihat wajah lelaki yang berada di hadapannya. Dia seakan menjaga pandangannya untuk Haris seorang.
"Aku, bulan kemarin ke Bandung loh, Ko, tidak ketemu ya?" Bram menggoda Friska.
Friska tersenyum tipis.
"Aku, sudah tidak nyaman. Dengan lelaki ini," bisik hati Friska.
Viona seakan mengerti dengan ketidaknyamanan dari Friska. Lalu Viona mencoba melemparkan kata.
"Bram, katanya kamu waktu itu mau ada bisnis di Bali. Jadi tidak?" Viona penasaran, karena sebelum ada acara proyek ke Bandung dia sudah bicara kepada Viona temannya tersebut.
"Nggak jadi, aku ada sedikit trouble. Sangat rumit pokoknya masalahnya. Nanti lah, waktu senggang kita ketemu. Aku akan ceritakan semuanya." ucap Bram dan kembali pandangan ke arah Friska.
***
Friska yang anggun dengan memakai baju tertutup yang membalut tubuhnya dan kerudung yang menutupi rambut indahnya itu. Seakan memesona terhadap lelaki yang tengah berada di hadapannya.
"Dengan siapa kesini, sendiri?" sambung Bram lagi kepada Friska.
"Dengan saudaraku," Friska kembali menunduk pandangannya.
"Saudaranya dimana?" tanya lagi Bram.
"Ada di bawah," Friska matanya tertuju ke arah bawah tangga.
"Ikut gabung kesini, masa di tinggal begitu saja," Bram membujuk Friska agar dia mau membawa saudaranya ke ruang atas.
Friska berdalih mereka berdua jadi tidak apa-apa jika di tinggal di bawah. Tapi Bram memaksa agar Friska mau mengajak saudaranya -Zhira dan Wisnu- untuk gabung ngobrol di atas.
__ADS_1
Friska pun akhirnya terkalahkan oleh omongan Bram, dia berlalu dari atas untuk turun ke bawah.
***
Sesampai di ruangan bawah, Friska matanya berselancar seakan mencari sosok kedua manusia yang tadi bersamanya, yaitu Zhira dan Wisnu. Tapi entah kenapa keberadaan mereka tidak ada.
Lalu Friska mencoba menghubungi Zhira.
{"Honey, kamu dimana?"} terdengar khawatir Friska berbicara di sambungan selular teleponnya.
"Aku di culik, Wisnu! Hahahaha..." Zhira menggoda Friska.
"Ih, aku nanya jujur. Kamu dimana, Honey? aku khawatir,' Friska kembali di hinggapi rasa khawatir kepada saudaranya yang sangat disayanginya itu.
"Lagi Belanja, Sayang. Aku lagi beli oleh-oleh, untuk kita bawa ke Bandung." sambungnya.
"Kenapa kamu tidak beri kabar sama aku. Tahu gitu aku ikut," Friska mengeluh.
"Kan kamu lagi ketemu dengan temanmu, Geulis!" Zhira terdengar gemas sekali kepada Friska, yang merengek terdengar manja suaranya.
"Yasudah, hati-hati. Cepat kembali kesini!" Friska pun menutup sambungan teleponnya.
***
Friska termenung dia masih berada di lantai bawah Kafe itu, seakan tidak mau untuk kembali ke atas lagi. Karena melihat gelagat Bram kurang enak dan menyenangkan.
Friska menghela napas panjang.
Dia teringat Haris, yang sedang sakit.
Lalu dia menghubungi Haris dan mengirimkan sebuah pesan yang berisi. Friska sangat mengkhawatirkannya dan entah mengapa rasa rindu tiba-tiba datang menghinggapinya.
{"Yasudah, nanti sepulang dari Bogor, mampir dulu ke Kafe. Atau nanti Mas, datang ke rumahmu,"}
Jadi lebih baik Friska yang datang ke Kafe.
*****
Tiba-tiba Wisnu dan Zhira datang dengan membawa banyak oleh-oleh untuk di bawa ke Bandung.
"Eh, kenapa duduk di bawah, temannya udah pulang?" tanya Zhira di hinggapi rasa penasaran.
Friska menggelengkan kepalanya.
"Ada apa?" Wisnu tersenyum tipis.
Lagi-lagi Friska menggelengkan kepalanya.
Zhira tahu jika Friska bersikap begitu berarti sedang ada dalam masalah.
"Ada apa, Geulis. ko, mukanya murung begitu?" Zhira kembali bertanya.
Friska menghela napas secara perlahan.
"Tidak ada apa-apa, yasudah aku kembali ke atas ya. Eh, kalian mau ikut ke atas?" tanya Friska dia seakan lupa. Kedatangannya ke bawah untuk menjemput mereka berdua.
"Masih lama ya?" tanya Wisnu.
"Nggak ko, tapi kalian takutnya kesal diam di bawah jadi lebih baik ke atas ikut aku." Friska mencoba merajuk.
__ADS_1
"Kita nunggu di mobil saja ya, sambil memasukkan oleh-oleh ke dalam mobil," ucap Zhira.
Akhirnya Zhira dan Wisnu berlalu dari hadapan Friska. Mereka masuk ke dalam mobil. Sementara Friska menaiki atas tangga, dia seakan malas sebenarnya untuk menuju kesana lagi, karena ada lelaki tersebut.
Tapi Friska berpikir dia hanya ingin bertemu dengan Viona. Apa urusannya dengan lelaki itu?
***
Nampak terlihat Viona sangat akrab dengan temannya itu, canda tawa mengiringi obrolan mereka.
"Nah, itu Friska!" spontan Bram, melirik kedatangan Friska, nampak mukanya tersenyum manis ke arah Friska
"Lama banget say, kemana dulu dan mana saudaramu? ko, tidak kesini?" Viona di hinggapi rasa heran. Karena Friska datang hanya seorang diri.
"Maaf, tadi saudaraku pergi keluar beli oleh-oleh, jadi aku nunggu di bawah bentar," ucap Friska tersenyum tipis.
"Nah, saudaramu sekarang dia kemana, bukannya mau jemput saudara kesini?" sambung lagi Viona.
"Dia nungguin mobil saja katanya," ucap Friska.
Tiba-tiba Bram berlalu dari hadapan mereka.
"Bentar ya," ucapnya.
Beberapa saat kemudian Bram datang, dengan membawa beberapa oleh-oleh satu kantong besar.
"Ini untukmu," isi kantong tersebut di berikan kepada Friska.
Friska seakan tidak mau menerima barang pemberian dari teman Viona tersebut.
"Jangan menolak rezeki," ucap Viona.
Akhirnya dengan berat hati Friska menerima pemberian dari Bram.
****
Friska pun pamit kepada Viona karena urusan dengannya sudah beres.
"Nanti telepon saja, kalau ada apa-apa ya?" ucap Friska tersenyum renyah dan memeluk erat kepada temannya itu.
"Boleh minta nomor teleponnya?" Bram menatap lekat kepada Friska.
Friska melirik Viona, seakan berat untuk memberikan nomor ponselnya. Namun Viona seakan mengerti perasaan sahabatnya itu.
Friska tidak mau memberikan nomor ponselnya.
"Nanti aku berikan nomornya Friska, sama kamu," dengan cepat Viona menjawab.
"Boleh kita foto dulu?" ucap Bram berharap.
Akhirnya Viona mengeluarkan benda pipih dari dalam saku bajunya, dan dia berfoto dengan kedua temannya tersebut.
***
Viona tangannya sibuk dengan ponselnya, foto-foto yang barusan ada di galerinya. lalu dia kirim kepada teman-temannya.
"Tuh, sudah aku kirim fotonya ke ponsel masing-masing," ucap Viona.
Akhirnya Friska pamit dari hadapan mereka.
__ADS_1
"Tunggu, boleh aku antar ke bawah," ucap Bram.
"Jangan..!" dengan cepat Friska menolaknya.