Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 111 Pencarian Cindy


__ADS_3

*Cintya pulang ke Bogor*


Sudah tiga hari Cintya berada di Bali. Akhirnya dia pulang juga ke rumahnya, dengan hati dihinggapi rasa senang, dan pikiran yang penat pun terasa hilang.


"Sayang, kita langsung pulang ke rumah kita kan, nggak ke rumah Ibu?" tanya Bagas, suami dari Cintya


Cintya menganggukkan kepalanya.


****


*Tiba di rumah*


"Mbak...Mbak Lastri," Cintya berteriak, memanggil sang ART.


Dia menyangka ART nya, tersebut sedang berada di belakang rumah karena pintu pagar sedikit terbuka.


*****


Krekkk...


Suara pintu secara perlahan di buka oleh Cintya. Dia beranggapan tidak di kunci pintunya itu, mungkin sang ART, sedang sibuk.


Kemudian dia berjalan ke arah pintu kamar Cindy, setelah dia buka ternyata tidak nampak Cindy disana. Lalu Cintya, berjalan ke arah dapur dan disana juga tidak nampak ada siapapun.


Cintya kemudian melihat kamar Mbak Lastri, disana juga tidak ada nampak sang ART itu.


*****


Jantungnya mulai dag-dig-dug tidak karuan. Dia di hinggapi rasa khawatir, kenapa penghuni di rumah ini kosong tidak ada siapapun. Lalu dia melihat ponsel Mbak Lastri, yang tergeletak di bawah kursi.


"Mas..." Cintya berteriak terlihat panik.


Bagas yang sedang duduk di teras rumah bersama Ibunya, dengan cepat masuk kedalam rumah.


"Ada apa, Sayang!" Bagas terlihat khawatir, begitupun dengan Ibunya Bagas.


"Cindy dan Mbak Lastri, tidak ada di rumah dan ini ponselnya Mbak Lastri, tergeletak di bawah kursi," ucap Cintya tersengal-sengal ketika berucap seakan tidak bisa mengatur napasnya.


Bagas dan Ibunya bertatapan. Mereka juga seakan terkejut ketika mendengar Cintya berkata seperti itu.


"Tenang, Nak. Duduk dulu," kemudian Ibunya Bagas mengajak Cintya untuk duduk dan memberikan air mineral.


"Tunggu jangan panik, mungkin mereka sedang keluar. Kita tunggu sampai sore. Kalau tidak ada kita cari." ucap Bagas.


*****


*****


*Ada tamu*


"Permisi..!" tiba-tiba ada suara dari luar.


Bagas mengintip di gorden jendela ruang tamu. Bagas merasa heran dan sedikit terkejut karena banyak orang diluar teras rumahnya, kira-kira lima orang.


Bagas kemudian membuka pintu, terlihat ada Mbak Lastri, dengan muka yang pucat pasi.


"Mbak Lastri ! ada apa ini, apa yang terjadi Mbak," Bagas mencecar pertanyaan kepada Mbak Lastri, yang terlihat pucat mukanya.


Mendengar Bagas, berteriak menyebut nama Mbak Lastri, sontak Cintya, dengan cepat berjalan ke arah teras rumah di ikuit oleh Ibu mertuanya dari belakang.


"Mbak.." Cintya memeluk erat sang ART itu, dan matanya berkaca-kaca.


*****


Kemudian Bagas mempersilahkan duduk kepada kelima orang tersebut.


Dan salah satu dari orang tersebut kemudian bicara, dan dia menceritakan kronologis kejadian yang menimpa Mbak Lastri.


*****


Dengan seksama Bagas, mendengarkan semua kejadian yang menimpa Mbak Lastri, yang baru saja tiba di rumah. Bagas dan Cintya nampak berkaca-kaca matanya.


"Jadi Mbak, terjatuh? Mbak baru pulih dari sakit, dan baru bisa kembali datang ke rumah. Terus Cindy Kakakku, sekarang dia menghilang, maksud Mbak begitu?" Cintya mencecar pertanyaan kepada sang ART, dengan sorot mata yang menatap tajam.


Mbak Lastri menunduk seakan dia bersalah karena sampai saat ini belum bisa menemukan Cindy.


*****


Cintya meremas rambutnya secara perlahan, dia seakan menyalahkan dirinya sendiri. Mengapa dia meninggalkan Kakaknya, kalau akhirnya akan terjadi hal seperti ini.


Akhirnya Cintya terisak tangis.

__ADS_1


"Mas, ayo kita cari Cindy Mas," ucap Cintya, terlihat pilu.


"Sabar, Nak. katanya Mbak Lastri sudah lapor pihak berwajib semoga bisa kembali.


Kita pasrahkan sama yang di atas saja. kalau sudah di limpahkan sama yang berwajib. Cindy pasti ketemu dan dia pasti akan kembali pulang datang ke rumah." ucap mertua ya Cintya.


"Maafkan aku Bu," Mbak Lastri menangis.


Dia pun merasa bersalah, kenapa dia lalai.


Harusnya pagi itu dia segera melihat Cindy ke kamarnya bukan masak di dapur setelah pulang dari pasar.


"Sudah, sudah! disini tidak ada yang salah. Dan jangan ada yang merasa paling benar. Kita tunggu saja proses pencarian pihak yang berwajib seperti apa. Selain pihak yang berwaji yang mencari, kita juga harus mencari keberadaan Cindy dimana," ucap Bagas mencoba meyakinkan semua yang berada disana.


Cintya hanya terdiam.


Begitupun dengan Mbak Lastri seakan tidak ada kata yang akan terucap lagi dari mulut mereka itu.


*****


"Ayo, Mbak sini, istirahat dulu ke kamar," Ibunya Bagas mengajak Mbak Lastri istirahat. Dia merasa iba melihat sang ART, terlihat capek dan lemas badannya.


Tapi Mbak Lastri, malah terdiam. Dia seakan dihinggapi rasa bersalah, dia hanya tertegun berdiri di dekat kursi sofa.


*****


Akhirnya ketiga orang yang mengantarkan Mbak Lastri, ijin pamit untuk pulang dan mereka berlalu pergi dari rumah tersebut. Cintya pun tidak lupa memberikan amplop, sebagai tanda terima kasih karena beberapa hari ini telah menjaga ART, nya itu.


Melihat sang ART, seakan di hinggapi rasa takut. Cintya kemudian memeluknya, dan matanya berkaca-kaca.


"Mbak, istirahat dulu ya, tidur. Maaf kalau ucapanku tadi menyudutkan Mbak. Sebenarnya aku tidak ada maksud untuk menyudutkan hati Mbak, cuma mungkin tadi hanya terbawa emosi saja. Kita sekarang berdoa saja, besok kita cari saja Cindy, siapa tahu ada keajaiban," ucap Cintya, tersenyum penuh rasa iba nampak terlihat dari bola matanya itu.


*****


\*Di dalam kamar\*


Mbak Lastri menatap langit-langit kamar, lalu dia memejamkan matanya. Dia mengingat dirinya yang tiga hari lalu terjatuh, kemudian dia tidak ingat apa-apa.



Kemudian dia ada di rumah seorang Ibu penjual sayuran, dia menceritakan semuanya kejadian yang menimpa dirinya kenapa sampai pingsan, lalu Mbak Lastri, dibawa sama Pak RT setempat, untuk melaporkan Cindy yang hilang. Ibu tukang sayur itu menyuruh Mbak Lastri, tinggal di rumahnya saja karena kondisi badan lagi lemah.



*****


Mbak Lastri meneteskan air mata.


Dia dihinggapi rasa sedih yang teramat. Mengapa semua ini sampai terjadi, dia sesunggukkan menangis.


Cintya berada di dapur dia sedang membuatkan kopi untuk suaminya. Mendengar ada tangisan sesunggukkan terdengar begitu jelas ke telinganya. Dan suara bunyi itu datang dari arah kamar ART nya. Lalu Cintya dengan sigap menghampiri kamar tersebut.


Tokk..Tokk...Tokk..


"Mbak...Mbak..."


Cintya memanggil-manggil sang ART nya tersebut. Tapi tidak ada jawaban disana. Cintya pun membuka pintu. Dan nampak terlihat Mbak Lastri, sedang menangis sesunggukkan di kasurnya.


Melihat ART, sedang menangis kemudian Cintya mendekatinya, dan mengelus-elus pundak sang ART tersebut.


"Sudah, Mbak. Aku minta maaf, aku yang salah mengapa meninggalkan Kakakku. Aku salah Mbak!" ucapnya.


Mbak Lastri menggelengkan kepalanya.


"Tidak Bu, Ibu tidak salah. Cuma yang aku tangisi sekarang. Bu Cindy, keberadaannya dia sedang dimana? Dia kan lagi sakit, dia masih harus di urus. Memang dia salah selama ini, tapi entah mengapa ketika mendapati dia kabur dari rumah Mbak, merasa iba dan sedih," Mbak Lastri, terisak ketika berucap.


"Sabar," ucap Cintya.


Hanya kata itu yang dia bisa di ucapkan kepada ART nya itu. Cintya berusaha meyakinkan sang ART, bahwa Cindy segera pasti akan ketemu dengan cepat.


*****


*Keesokan harinya*


Cintya, Bagas, Mbak Lastri dan Ibunya, memasuki mobil. Mereka akan berusaha mencari keberadaan Cindy, dengan cara menelusuri jalan daerah terdekat dimana mereka tinggal.


Cintya berharap, siapa tahu Cindy, nasibnya sama seperti Mbak Lastri, ada yang menolong dan sedang berada di rumah seorang penduduk.


*****


Mata mereka jeli berselancar ke setiap sudut jalan, mencari keberadaan Cindy.

__ADS_1


Tak terasa dua jam sudah mereka mencari keberadaan Cindy, entah dimana.


Tiba-tiba Cintya memegang perutnya.


"Aku lapar Mas, kita makan dulu yu!" ucap Cintya, kepada suaminya. Perutnya yang berisi bayi itu, seakan merengek minta di isi untuk makan.


"Boleh, Sayang!" kemudian Bagas memberhentikan mobilnya itu di tempat rumah makan.


*****


*Tiba di rumah makan*


Mereka memesan beberapa makanan dan minuman. Nampak nasi dan lauknya yang Cintya pesan begitu banyak.


"Aku lelah Mas, kita cari kemana lagi ya?" ucap Cintya, yang sedang menunggu pesanan makanannya. Kemudian Cintya meletakkan foto Cindy, di meja makan itu.


Sang pelayan pun datang membawa empat gelas air teh hangat.


"Iya, aku juga bingung harus mencari kemana," jawab Bagas.


Sedari tadi sang pelayan mendengarkan percakapan antara keluarga tersebut.


Pelayan tersebut tidak sengaja mengintip foto Cindy yang terletak di atas meja.


Pandangannya lekat ke arah foto Cindy, yang sedang duduk di kursi roda dengan senyuman tipis.


Karena di hinggapi rasa penasaran lalu sang pelayan sedikit KEPO, untuk menanyakan, siapakah wanita itu?


"Maaf Bu, ini yang di foto. Sepertinya saya pernah lihat dia," ucap pelayan tersebut.


Sang pelayan menatap ke arah ke Cintya, dan telunjuknya menunjuk ke arah foto Cindy.


Mata Cintya langsung terbelalak saat pelayan tersebut berkata demikian.


"Lihat dimana Mas, ini Kakakku, kapan Mas lihat?" Cintya mencecar pertanyaan kepada sang pelayan rumah makan tersebut.


"Kemarin, kalau gak salah. Dia memakai masker, diam diluar. Terus sama saya di suruh masuk ke dalam untuk di beri makan. Tapi dia menolaknya. Lalu saya kasih saja dia nasi bungkus, sesudah itu dia berlalu pergi." ucap sang pelayan.


"Sekarang kira-kira Kakak saya pergi ke arah mana ya Mas?" Cintya penuh tanya kepada pelayan tersebut.


"Kemarin sih, dia lurus ke arah sana!" telunjuk pelayan mengarah ke jalan raya.


Cintya terlihat dari wajahnya di hinggapi rasa khawatir, pandangannya kosong melihat ke arah jalan raya, matanya berkaca-kaca. Dia khawatir kepada sang Kakak keberadaannya, sekarang dimana?


"Sabar, Nak. Nanti ketemu ko," Ibunya Bagas mencoba menghibur hati sang menantu.


"Ayo, sekarang makan dulu. Nih, udah datang makannya," Bagas menuangkan nasi beserta ikan gurame bumbu kuning kepada istrinya yang sedang hamil itu.


Cintya seakan sudah hilang selera makannya, dia hanya mengaduk-aduk nasi dan ikan tersebut.


"Sayang, makan ya. Kasian bayi yang ada dalam kandunganmu. Katanya tadi lapar mau makan." ucap sang suami sambil mengusap pucuk rambut istrinya itu.


Cintya hanya terdiam.


Kemudian dia mencoba mengambil satu sendok nasi dan membuka mulutnya untuk menelan nasi tersebut. Terasa ada yang meleleh keluar dari ujung matanya, dia meneteskan air matanya.


Dia berpikir, dia sedang makan enak tapi, apakah Cindy sedang makan sama seperti dia saat ini?


Dia menghela napas panjang.


Dengan cepat Cintya mengusap air matanya yang menetes.


Ibu mertua langsung memeluk menantunya itu, dia seakan tahu hati dari sang menantu keadaannya, sekarang seperti apa.


*****


Satu jam mereka berada di tempat rumah makan tersebut. Setelah beres makan lalu mereka berlalu dari tempat meja makan tersebut.


"Bu, semoga saudaranya, cepat ketemu ya!" ucap sang pelayan, ketika Bagas dan Cintya berada di kasir untuk membayar makanan yang mereka makan.


Cintya hanya tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya.


Kemudian mereka pun, kembali menaiki mobil. Dan Bagas kembali memegang kendali untuk mengemudi. Dia berpikir sangat lama karena dia sendiri tidak tahu, mau kemana lagi langkah yang akan ditujunya, untuk mencari keberadaan Cindy.


"Sayang, kemana lagi kita ya?" Bagas menatap lekat sang istri.


Cintya menggelengkan kepalanya, dengan pandangannya kosong.


"Lurus saja, Nak. Sesuai tadi yang di arahkan oleh pelayan rumah makan itu. Mudah-mudahan Cindy ada di daerah sana," ucap Ibunya Bagas, berusaha menenangkan hati anak dan menantunya itu.


Mobil pun di jalankan kembali oleh Bagas, sangat pelan sekali. Semua yang berada di dalam mobil matanya berselancar melirik kiri dan kanan, siapa tahu ada Cindy disana.

__ADS_1


__ADS_2