
Sesampai di pusat perbelanjaan tanpa sengaja Cindy bertemu dengan Helmi sedang menggandeng seorang wanita.
Degh
Hati Cindy seakan terbakar api cemburu karena perempuan yang di gandeng Helmi sangat cantik dan masih muda.
Sang cewek bergelayut manja seakan nyaman ketika berjalan dengan Helmi.
Lalu mereka masuk ke toko tas, dan wanita itu terlihat memilih tas yang akan dia beli. Barang belanjaan yang dibawa Helmi bersama wanita itu cukup banyak.
"Mungkin dia sedang berbelanja, untuk kebutuhan nikah!" gumam hati Cindy. Wajah Cindy menekuk seakan hatinya panas membara.
"Mah, Mah..!"
Suara Rara yang memanggil Cindy cukup membuat Cindy terkejut karena Cindy sedang asik pikirannya menatap Helmi dan pacarnya.
"Mah, ayo, kita makan dulu, Rara lapar!" telunjuk Rara mengarah ke Restoran yang berada tepat di pinggir Helmi beserta pacarnya sedang berbelanja tas.
"Jangan makan disana!" Cindy tidak mau jika nanti kalau dia makan disana Helmi akan melihatnya.
Tapi Rara merengek terus seakan bibirnya tidak mau diam. Akhirnya Cindy pun menuruti keinginan Anaknya itu.
Cindy mengambil masker lalu dia pakai untuk menutupi sedikit wajahnya agar tidak terlihat jelas.
Ketika Cindy mau memasuki Restoran itu, Helmi tiba-tiba keluar dari toko tas tersebut, sambil menggandeng wanita itu.
Helmi berpapasan dengan Cindy, mata mereka beradu. Nampak Cindy terkejut terlihat gestur tubuhnya seakan salah tingkah.
Meskipun Cindy memakai masker tapi Helmi cukup mengenal Cindy, bola mata Cindy yang membuat Helmi tidak bisa melupakannya.
~Ketika pagi buta mereka menumpahkan rasa panah asmara yang menggelora, Helmi menatap bola mata Cindy yang saat itu sangat terlihat oleh Helmi, ada rasa gembira, sesal, dan napsu yang membara.
Dengan cepat Cindy menundukkan pandangannya. Helmi pun terkejut begitu berpapasan dengan Cindy.
"Sayang, kita makan disini saja!" sang wanita tersebut menunjuk Restoran yang akan di kunjungi oleh Cindy.
Setelan Cindy memasuki Restoran itu, entah mengapa wanita itu beserta Helmi duduk tepat di pinggir Cindy.
Sang wanita posisi duduknya sejajar dengan Cindy sedangkan Cindy bersama Helmi bersebrangan jadi antara Helmi dan Cindy bisa bertatapan, dan wajahnya amat sangat jelas terlihat.
Meskipun Cindy beberapa kali memalingkan mukanya untuk tidak melihat Helmi tapi ujung mata Cindy tidak bisa dibohongi, dia melihat semua apa yang terjadi.
Sang wanita itu menyuapi Helmi ketika makan, sesekali mengelap makanan yang tidak rapih di mulutnya Helmi dengan tisu, oleh wanita itu.
"Sayang, undangan sudah semua kan, dibagikan?" wanita tersebut memulai pembicaraan.
Jantung Cindy seakan terbakar saat itu, ketika wanita itu memulai pembicaraan dengan kata, undangan. Muka Cindy merah padam seakan menahan amarah, dan Helmi pun seakan gugup, dia tidak berucap sepatah katapun hanya gestur tubuh yang berbicara.
Helmi hanya tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.
"Ada apa, Sayang! kamu senang kan, akan menikah denganku?" tanya wanita itu.
Lagi-lagi Helmi hanya tersenyum, dan menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
***
"Mah, kenapa tidak makan? enak loh, makanannya!'" Rara mencoba menyuapi Mamanya.
Namun Cindy menolaknya dan hanya tersenyum tipis.
"Tiba-tiba kepala Mama, pusing. Pulang yu?" Cindy mengajak Anak, dan Mbak Eka pulang.
"Bentar lah, baru juga makan!" Rara menolak untuk di ajak pulang.
Ting...
Tiba-tiba pesan muncul ke ponselnya Cindy.
{"Cindy, kamu bertemu dengan Helmi ya?"}Clara mengirimkan pesan di tambah emotion tersipu malu.
{"Kamu tahu dari mana?"} balas Cindy.
{"ini Helmi lagi chat aku!'} jawab Clara.
Spontan Cindy melirik dengan cepat ke arah Helmi, nampak.Helmi sedang asik memainkan ponselnya.
{"Kata Helmi, dia canggung lagi makan dengan calonnya karena ada kamu!"} Clara memberikan pesan kembali di tambah emotion tertawa terbahak.
{"Gak ada yang lucu!"} balasnya, dan dengan cepat Cindy memasukkan ponselnya ke dalam saku bajunya.
"Cepat Ra, Mama pusing kepala!" Cindy kali ini dengan tatapan seakan kesal.
Melihat majikannya yang terlihat kesal sontak Mbak Eka merajuk Rara.
Akhirnya Rara pun luluh dengan sikap lembut Mbak Eka.
Cindy berdiri dari tempat duduknya lalu dia menggeserkan kursi tersebut, nampak terlihat oleh ujung matanya Helmi curi-curi pandang terhadapnya.
Cindy pun berlalu dari Restoran itu, ketika Cindy melewati tempat duduk Helmi. Bau parfum Cindy begitu jelas terasa menyengat ke hidung Helmi.
Helmi seakan teringat kenangan-kenangan indah bersama Cindy.
***
Cindy pun memasuki mobil sedannya, di dalam mobil dia menghela napas panjang. dadanya berdegup kencang.
"Ada apa denganku ini!" gumam hati Cindy. Dia seakan tak kuasa dengan baru saja yang dia lihat.
Bayangan Helmi yang saat itu memeluknya erat, dan kini tiba-tiba seorang wanita bergelayut manja kepada Helmi.
***
Clara kembali memberikan pesan kepada Cindy.
{"Cindy, kata Helmi minta maaf!"} tulisnya.
{"Maaf! untuk apa?"} Cindy membalasnya.
__ADS_1
{"Aku nggak ngerti, tapi barusan dia bilang gitu sama aku!"} balas Clara lagi.
{"Maaf! maaf, untuk membuat hati ini menjadi cemburu!"} Cindy menambahkan emotion lidah menjulur.
Clara terbahak tertawa,
{"Kamu, masih cemburu ya?"} Clara menggoda Cindy.
{"Tidak!"} balas Cindy.
{"Jangan cemburu, kan masih ada Bram yang dengan setia selalu ada untukmu!"} Clara kembali menambahkan emotion tertawa.
Cindy pun keluar dari garasi Mall tersebut, lalu dia melajukan mobilnya dengan kencang.
"Mah, jangan ngebut!" Rara memegang tangan Mamanya.
Pikiran Cindy sedang melamun, dan tidak karuan. Dia tidak menyadari bahwa dia sedang bersama Anak dan Mbak Eka.
"Maaf, Sayang!" ucap Cindy, dia mencoba mengatur napasnya yang tidak beraturan.
*****
Helmi merasa bersalah,
Helmi ke Bogor kebetulan sedang berkunjung ke rumah saudaranya calon istrinya itu. Helmi
nampak banyak diam tidak sedikitpun dia berbicara. Sang kekasih yang bernama Amelia nampak dihinggapi rasa penasaran terhadap Helmi.
"Sayang, ada apa?" Amelia mengusap lembut pipi sang kekasih.
"Nggak apa-apa, aku hanya lelah saja!" jawabnya tersenyum tipis.
"Gantian saja, aku yang nyetir ya?" Amelia menawarkan diri kepada Helmi untuk menyetir kendaraan yang dibawa Helmi.
Namun Helmi menolaknya, bayangan Cindy seakan terus membayanginya ketika dia sedang mengendarai mobilnya.
Helmi sebenarnya masih sayang, dan cinta sama Cindy meskipun cinta yang mereka jalani tidak baik dan tidak semestinya dilakukan karena Cindy telah mempunyai pasangan.
Namun karena dorongan dari Ibunya Helmi yang mendesak terus harus segera menikah maka Helmi di jodohkan dengan saudara jauh.
Amelia saudara jauh Helmi dari keluarga Mamanya. Amelia seorang gadis dari keluarga berada, dan dia sudah cukup umur. Dia seorang sekertaris di perusahaan ternama di Jakarta, konon yang menanggung semua biaya pernikahan Helmi nanti adalah Amelia.
Amel anak tunggal dan sangat di manja oleh kedua orang tuanya. Helmi sangat beruntung mendapatkan Amel karena selain cantik, kaya juga baik.
***
Helmi membuang napas kasar, dia mencoba menepis semua bayangan dirinya bersama Cindy. Dia tidak mau rencana yang dia susun akhirnya akan hancur berantakan karena dia terlalu memikirkan Cindy yang belum jelas mau dibawa kemana hubungannya.
Cindy hanya cinta yang di sertai napsu bukan cinta yang disertai dengan tulus dari dasar hati.
"Sayang, jangan terlalu banyak berpikir ya, aku tidak mau nanti pas acara pernikahan kita, kamu sakit!" ucap Amelia tersenyum, dia seakan begitu peduli terhadap calon suaminya itu.
Helmi pun menggenggam erat tangan Amelia, di hatinya dihinggapi rasa syukur yang teramat karena dia mendapatkan wanita yang selama ini dia cari, cantik dan juga kaya.
__ADS_1
***