Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 113 Tesa datang ke Kafe


__ADS_3

*Kumpul keluarga Haris*


Haris nampak sedang berkumpul dengan keluarganya, karena pernikahan Haris tinggal menghitung hari.


Nampak disana ada Ibunya, Adik beserta suaminya, dan juga anak-anak dari Haris.


Anak-anak Haris, begitu dekat dengan Haris, dan mereka seakan tidak peduli dengan Cindy ibu kandungnya.


"Nak, gimana kalau minggu depan kita pergi ke Bogor, untuk menengok Ibumu?" tanya Haris, kepada anak-anaknya itu. Haris melirik satu persatu anaknya itu. Rara dan Reza.


Kedua anaknya Haris, terdiam cukup lama lalu mereka malah menggelengkan kepalanya, dia seakan tidak rindu dengan sosok Ibunya.


"Loh, kenapa? pokoknya kalian harus bertemu Ibumu. Bagaimanapun sifat dari Ibu kalian yang kurang baik, itu harus di maafkan kalian. Berdoa saja semoga Ibu kalian taubat, dan tidak mengulanginya dimasa yang akan datang, jika dia mempunyai suami kembali," ucap Haris terlihat begitu gamblang menceramahi anak-anaknya itu.


Mungkin ini ungkapan hati Haris, yang teramat dalam.


Anak-anaknya terdiam, mereka seakan malas untuk membahas Ibunya.


"Nanti Tante Hana, ikut ko," ucap adiknya Haris. yang selama ini mengurus anak-anaknya Haris.


Dia seakan tahu gimana kondisi anaknya Haris saat ini.


****"


Rara memandang lekat ke arah Hana, seakan ada rasa kecewa dari sorot matanya. Rasa kecewa terhadap Cindy, yang dulu telah menelantarkan dirinya dan mengkhianati Papanya yaitu Haris.


Kemudian Hana, memeluk erat tubuh Rara, sangat erat. Rara memejamkan matanya, dia merasa mendapatkan rasa nyaman terhadap adik Papanya, itu yaitu Hana.


*****


"Ayo, katanya mau jalan-jalan kalau sudah di Bandung. Kita kuliner yu?" Hana mencoba melumerkan suasana. Karena cukup lama Haris memandangi anaknya, dan anak-anaknya tertunduk.


"Asik Tante, mau dong," jawab Reza, yang sedari tadi terdiam.


"Ayo, Rara mandi dulu ya," Mbak Eka, mengajak Rara untuk segera mandi.


Rara dan Mbak Eka pun, berlalu.


Sementara Ibunya Haris, terlihat sedang sibuk merapikan baju di tas, yang akan dia simpan di dalam lemari.


"Ibu mau ikut nggak, atau mau istirahat saja di rumah. Takutnya Ibu capek," ucap Hana, melirik Ibunya.


"Ya, ikut dong, masa Ibu di tinggal sendiri disini," jawabnya sedikit cemberut.


melihat sang Ibu terlihat cemberut karena di goda oleh Hana, Haris seakan menahan tawa


"Iya, gimana sih, kamu Han! masa Ibu di tinggal sendiri di rumah. Hehe.." ucap Haris tertawa terkekeh.


*****


Akhirnya keluarga Haris, pergi keluar rumah untuk kuliner. Mereka mau menjelajahi makanan khas Bandung.


Ting...


Pesan muncul dari Wisnu.


"Bos, ada tamu Pak Andreas, datang ke Kafe," tulis pesan dari Wisnu.


Pak Andreas adalah rekan bisnis Haris, dari Jakarta. Setelah mendengar kabar tersebut, Haris pun, pamit kepada keluarganya untuk pergi ke Kafe.


Setelah tiba di Kafe.


Ternyata yang datang sahabat lamanya sekaligus rekan bisnisnya. Mereka ngobrol sangat asik sekali, gelak canda tawa terlihat dari mereka berdua.


"Katanya mau nikah, ya?" tanya Andreas sahabatnya itu. Tamu yang dari Jakarta.

__ADS_1


Haris menganggukkan kepalanya dan tersipu malu.


"Datang ya, hari Minggu besok. Bersama keluargamu!" ucap Haris.


"Aku usahakan datang ya, kalau untuk kamu!" Andreas tersenyum lebar.


Setelah panjang lebar ngobrol mengenai bisnis yang akan di kelolanya bersama Haris, lalu Andreas pun, ijin untuk pamit.


*****


Hana menelepon Haris.


"Mas, kita langsung pulang ya, ke rumah. Nggak mampir ke Kafe," ucap Hana. Kebetulan Haris, mempunyai rumah baru di Bandung di daerah Dago, dan jaraknya tidak jauh dari Kafe tersebut.


Haris sengaja membeli rumah untuk nanti dia tinggali dengan Friska. Meskipun di belakang Kafe ada rumah juga, karena luas Kafe milik Haris sangat besar sekali.


Tapi Haris memilih membeli rumah lagi, karena tidak mau urusan keluarganya bercampur dengan urusan usahanya.


"Ya sudah, tidak apa-apa. Hati-hati! anak-anak suruh istirahat ya Han, aku banyak yang mesti di urusin di kafe, kemungkinan pulang agak larut malam," ucap Haris kepada Hana, adiknya itu.


*****


Haris merebahkan badannya di kursi sofa, terlihat badannya sangat capek sekali. Seharusnya dia istirahat di rumah karena minggu besok sudah mau menikah, jadi otomatis badan harus istirahat biar sehat. Tapi apalah daya, pekerjaan di kantor numpuk. Jadi dia tidak mau berleha-leha untuk diam di rumah.


*****


Dia melirik meja kerjanya terlihat dokumen menumpuk disana. Itu pekerjaan dia yang belum terselesaikan. Kemudian dia memanggil Wisnu, untuk membereskan dokumennya itu.


Tiba-tiba Fani sang pelayan datang


"Pak, ada tamu," ucapnya.


Haris menghela napas secara perlahan.


Sudah ada tamu lagi yang ingin bertemu dengan nya.


"Siapa, Fan?" tanya Haris, dia seperti di hinggapi rasa heran. Karena sebelumnya tidak ada janji untuk bertemu dengan siapapun.


"Saya lupa menanyakan namanya, Maaf Pak. Dia seorang perempuan," jawab Fani.


"Yasudah, bilang tunggu sebentar," ucap Haris.


*****


Sepuluh menit kemudian Haris, keluar dari ruangan kantornya, dia langkahkan kaki menuju ruangan Kafe.


Haris berpapasan dengan Fani yang sudah memberi pesanan kepada tamu yang datang ke Kafe.


"Fan, tamunya duduk di sebelah mana?" Haris matanya berselancar di ruang Kafe depan yang dekat karcis.


"Dia berada di dekat kolam Ikan Koi," ucap Fani. Haris tambah penasaran dengan tamu yang datang ini.


kenapa tamunya duduk di tempat sepi, tempat tersebut biasa di singgahi oleh Friska, itu tempat favorit dari Friska.


Akhirnya Haris melangkahkan kakinya ke arah tempat Kafe, yang ada tempatnya terdapat kolam Ikan Koi.


******


Nampak terlihat wanita sedang duduk di dekat kolam Ikan Koi itu. Dia membelakangi kedatangan Haris yang sedang berjalan ke arahnya. Rambutnya sebahu lurus, berwarna merah kecoklatan. Memakai kaos lengan pendek berwarna hitam di padu padankan dengan celana jeans berwarna biru dongker.


Terlihat sekilas dari jauh kulitnya putih mulus.


Haris di hinggapi rasa penasaran, siapakah sosok wanita tersebut yang datang ke Kafenya itu.


Haris berjalan dengan pelan, setelah sampai tepat di dekat kolam dimana wanita itu berada. Wanita itu tersenyum renyah memandangi wajah Haris yang terlihat bingung.

__ADS_1


"Haris ya, apa kabar!" dia mengulurkan tangannya kepada Haris.


Haris pun mengulurkan tangannya juga.


Tapi dia seakan berpikir.


Siapakah sosok wanita, yang tengah berada di hadapannya itu. Haris seakan hapal, tapi entah dimana, dan berapa lama, dia tidak bertemu dengan wanita yang tengah berada di hadapannya itu.


"Coba tebak siapa, masih kenal tidak?" ucap wanita itu, dia belum memberi tahu namanya, wanita itu ingin Haris mengingat dia.


Haris menarik kursi yang berada di depan wanita tersebut, lalu dia duduk.


Haris menatap lekat wanita itu, dan dia tersenyum lebar.


"Tesa! benar kan, kamu Tesa?" tanya Haris, dia sekarang ingat, sosok wanita yang tengah berada di hadapannya itu adalah Tesa teman kuliah Haris, yang menelepon dia malam.


Tesa tersenyum.


"Ko, kamu beda sih!" muka kamu di operasi mungkin" Haris menggoda Tesa.


"Ya, mungkin aku sekarang lebih bersih, dan cantik!" Tesa seakan tersipu malu.


Haris tidak ada maksud untuk merayu Tesa, karena dia menganggap Tesa adalah teman lamanya yang harus dia hormati sebagai tamu. Tapi entah mengapa lain dengan Tesa, dia seakan tersipu malu ketika Haris menatapnya, dan bilang Tesa beda, dia beranggapan Haris memuji dirinya.


Haris pun bertanya kepada Tesa, mengapa dia tahu tempat Kafenya.


"Itu tidak perlu kamu tanya," Tesa tersipu malu seakan menyembunyikan sosok seseorang yang memberitahu tempat Kafe Haris berada.


Obrolan Haris dan Tesa pun mengenang masa lalu mereka ketika di kampus dulu. Haris nampak tertawa lepas. Sementara Tesa, seakan mengagumi sosok Haris yang dulu sempat di tolak oleh Haris.


"Dia beda, sekarang pinter berbicara, dulu pemalu. Terlihat smart!" gumam hati Tesa.


Haris seakan risih ketika Tesa, terus menerus menatapnya. Tatapan yang di arahkan Tesa kepada Haris seakan beda. Tesa terlihat tersipu malu.


Haris kemudian melihat jam dinding yang menempel di dinding Kafe.


Jam menunjukkan pukul tujuh malam, sudah dua jam ternyata Haris dan Tesa ngobrol.


Dan Haris pun tidak mau berlarut-larut ngobrol lama dengan Tesa.


"Tesa, maaf aku sebentar lagi ada rapat dengan anak-anak," ucap Haris.


"Nggak apa-apa, aku tunggu saja!" jawab Tesa.


Haris mengernyitkan dahi, Haris merasa terganggu dengan ucapan Tesa.


Lalu Haris memberikan alasan.


"Setelah itu aku mau menemani anak dan Ibuku keluar. Maaf ya," Haris terlihat tegas.


Tesa pun seakan tidak bisa memberi alasan untuk lebih lama tinggal di Kafe tersebut.


"Aku nanti akan datang ya, ke pernikahan kamu, boleh kan?" Tesa menatap Haris dengan mata yang genit.


"Ya, datang saja," Haris menundukkan pandangannya. Dia tidak mau matanya, bertatapan langsung dengan Tesa.


"Tuh, anak-anak di kantor, sudah menunggu. Maaf ya," Telunjuk Haris mengarah ke karyawannya yang sedang berjejer di luar kantor Haris.


Haris berlalu dari hadapan Tesa.


Tesa hanya menghela napas panjang.


Dia terlihat tersenyum lebar.


"Haris sungguh memesona, tapi sayangnya, dia sudah menjadi milik Friska," gumam hati Tesa, menatap lekat kepada Haris yang sedang berjalan menuju arah ruangan Kantornya.

__ADS_1


__ADS_2