Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 9 Kabar berita


__ADS_3

Hari ini Cindy masuk kerja dia begitu bersemangat karena berpikir akan bertemu dengan kekasihnya Bram. Keberangkatan ke kantor pagi ini di antar Haris sang suami. Karena Haris masih khawatir kepada istrinya, dia berpikir keadaan istrinya itu masih belum pulih betul.


***


Cindy memasuki ruangan kantor, para pegawai menyambutnya dengan hormat dan menanyakan kesehatan Cindy. Lalu Cindy memasuki ruangan bagian keuangan bernama Samuel, dia adalah sahabat dari Bram.


"Mas Samuel, saya mau tanya, kalau Pak Bram kemarin datang kesini tidak?" tanya Cindy. kebetulan Cindy sama Bram beda tempat kantor, tapi kerja di perusahaan yang sama. Bram dua minggu sekali mengunjungi kantor tempatnya Cindy bekerja untuk melakukan rapat atau memberikan laporan hasil kerja.


"Sudah tiga hari ini kan, sakit dia, Bu!" ucap Samuel. Kemudian Cindy mengernyitkan dahi.


"Berarti pas terakhir aku lihat dia sedang menebus obat di apotek itu, dia sedang sakit!" gumam hati Cindy.


Samuel di hinggapi rasa penasaran lalu bertanya kepada Cindy.

__ADS_1


"Memang kenapa Bu?" tanya Samuel tersenyum tipis.


"oh, eng....enggak apa-apa," ucap Cindy gugup. Hanya Samuel yang mengetahui hubungan Cindy dan Bram di kantor itu.


"Ibu, kangen ya!?" ucapnya pelan.


"kamu bisa aja!" dengan sigap Cindy berbicara. kemudian Cindy bercerita bahwa dia tidak bisa menghubungi Bram dan dia sangat mengkhawatirkan keadaan kekasihnya itu.


Samuel cukup lama mengenal sosok Bram, dia tahu betul karakter dari Bram.


"Ya, Aku khawatir," ucapnya lirih sambil lirik keadaan sekitar, takut suaranya terdengar oleh orang lain.


"Sudah tidak aneh Bu, dia itu kalau lagi sakit tidak mau di ganggu oleh orang terdekat," ucap Samuel. Cindy sekarang barulah memahami dan dia coba untuk mengerti keadaan tapi dia juga dalam hatinya sedikit kecewa sama Bram karena sungguh tidak masuk akal jika harus memblokir nomor ponselnya.

__ADS_1


***


Pukul empat sore Cindy sudah pulang kerja dan di jemput oleh Haris. Sampai di rumah Cindy merebahkan badannya di kursi teras depan, dan sang suami Haris berlalu ke kamar mandi untuk membersihkan badannya.


"Ra, Mama pinjam telepon!" ucap Mama kepada Anaknya. Kemudian Mama menekan nomor telepon, dan Rara sang Anak sedang asik memberi makan ikan koi yang berada di halaman teras rumah.


{"Halo!"} suara terdengar dari sang penerima telepon. Terasa dag-dig-dug jantung berdebar yang dirasakan Cindy saat itu.


{Mas, Aku Cindy, jangan tutup dulu teleponnya, Aku mohon, Aku hanya ingin mendengar suara dan kabarmu saja,} ucap Cindy. Ternyata yang di pijit oleh Cindy itu adalah nomor telepon dari Bram. Kemudian mereka berbicara sebentar sesudah itu Cindy dengan cepat menghapus nomor yang barusan dia tekan.


"Mah, Mama menelepon siapa barusan?" tanya Rara tanpa ada rasa curiga sedikitpun kepada Mamanya itu. Cindy mencoba meyakinkan Anaknya itu, bahwa dia hanya menelepon temannya yang sedang sakit, dan jangan bilang Papa kalau Mama meminjam telepon Anaknya itu. Rara hanya mengangguk kemudian Mama memberikan uang selembar berwarna merah kepada Rara, Cindy berdalih untuk besok menabung di sekolah.


"Aku senang sekali meskipun cuma berbicara hanya sebentar saja dengan Mas Bram," muka Cindy berseri-seri seakan di hinggapi rasa gembira yang luar biasa.

__ADS_1


Rara sang Anak tersenyum ketika diberi uang oleh Mama itu.


__ADS_2