
Sebelum pulang ke rumah.
Bagas mengaktifkan kembali ponselnya, yang sudah seminggu dia, non aktifkan.
Bagas terbelalak matanya, melihat panggilan masuk dan pesan dari Cintya yang begitu banyak.
Bagas seakan di hinggapi rasa kasihan, kepada istrinya itu. Sampai istrinya mencari keberadaan dia, kemana-mana bersama temannya yaitu Nindy.
*****@@@*****
Bagas membaca pesan dari istrinya. Satu persatu.
{"Pah, aku menginap di rumah Nindy, kamu kemana Pah,"}
{"Aku telat datang bulan, dan aku sekarang sedang mengandung, buah hati kita,"}
{"Kata Nindy, kalau kamu butuh uang untuk usaha, Nindy akan meminjamkan modal."}
***
Isi pesan dari istrinya itu sungguh membuat Bagas terharu, dan entah mengapa rasa pilu menghinggapi pikirannya.
"Aku harus jemput istriku," gumam hati Bagas.
Mobil Bagas melaju ke arah rumah Nindy.
*****
Bagas tiba di rumah Nindy.
Tok-Tok-Tok
Suara pintu di ketuk beberapa kali oleh Bagas.
Yang berada di dalam rumah sontak pandangannya, tertuju ke arah pintu.
"Biar aku yang membuka pintunya," ucap Cintya. Kakinya dia langkahkan menuju ke depan rumah.
Krekkk....
Pintu perlahan terbuka lebar, setelah orang yang di dalam rumah membukanya.
"Mas....!" Cintya, seakan tidak percaya yang berada di hadapannya adalah suaminya, Bagas.
Bagas memeluk erat istrinya itu, dan meneteskan air mata.
"Sehat, kamu, Sayang!" Bagas, mengelus perut Cintya. Dan memeluknya erat.
"Mas, aku mengandung, sebentar lagi kamu akan gendong anak kita." begitu lirih Cintya berucap. Penantian dia ingin segera anak selama bertahun-tahun, akhirnya terwujud juga.
"Sayang, maafkan aku ya. Aku salah, tidak memberikan kabar selama satu minggu ini, sama kamu," dari raut wajah Bagas, seakan di hinggapi rasa bersalah.
"Cintya siapa yang datang!" suara teriakan Nindy, di dalam sana, membuat kuping seakan panas. Karena suaranya cukup nyaring terdengar.
"Bagas!"jawab, Cintya. Pandangan melirik ke arah Nindy, yang berada di dalam.
"Mas, ayo, masuk," ucap Cintya tersenyum renyah. Membuat sang suami seakan nyaman saat berada disisinya.
__ADS_1
*****
Cintya dan Bagas, masuk ke dalam rumah.
"Wah, aku tidak salah lihat," Nindy terkejut tatkala melihat sosok Bagas, tepat ada di hadapannya.
Bagas, hanya mesem-mesem, seakan malu.
"Maafkan aku, sudah merepotkan kamu. Selama istriku disini," ucap Bagas, tersipu malu.
"Tidak apa-apa, malah aku senang ko' ada teman di rumah," ucap Nindy, tersenyum melirik Cintya.
*****
Mereka pun duduk di Sofa.
Cintya, kemudian membicarakan masalah proyek kepada Nindy, yang di jalani oleh Bagas.
Nindy seakan mengerti maksud dari obrolan Cintya tersebut.
"Aku ada modal untuk Mas Bagas, silahkan saja pakai. Aku sudah, bilang ko, sama suamiku," ucap Nindy, pandangan tertuju ke arah Bagas.
Bagas tersenyum lebar saat Nindy, akan memberikan modal pinjaman untuk proyeknya.
"Aku ingin kalian, seperti dulu lagi. Hidup bahagia, usaha lancar. Dan yang paling penting sekarang Cintya, sudah mengandung, kalian akan punya anak. Aku sangat senang mendengarnya. Semoga giliran aku, nanti cepat hamil," mata Nindy, berkaca-kaca, terlihat dia sangat senang sekali.
Bagas pun dan Cintya, akhirnya berpamitan pulang. Setelah mereka mendapatkan uang untuk modal proyek.
*****
"Sayang, maafkan aku ya," Bagas, menggenggam erat jemari Istrinya.
Cintya, tersenyum dan merasa dirinya, di hinggapi rasa haru yang teramat.
Kesedihan seminggu ini yang dia rasakan, seakan tergantikan dengan kebahagiaan.
"Mas, aku ada voucher menginap di Hotel, bagaimana kalau kita gunakan tiket itu, sekarang. Kita bermalam di Hotel, malam ini. Menurutmu gimana?" Cintya merajuk suaminya.
Mendengar ucapan sang istri, Bagas merasa bahagia sekali. Dia berpikir dalam hatinya. Cintya sekarang sudah mulai memperhatikan dia lagi, dan tidak selalu fokus kepada Kakaknya saja yaitu Cindy.
"Boleh, kalau kamu mau tidur di Hotel malam ini. Kalau tidak di ikutin, takutnya anakku nanti ngiler! Hahahaha..." Bagas tertawa terbahak.
Cintya mencubit manja perut suaminya itu, sambil tertawa lebar.
*****@@@@@*****
Di rumah Cindy
"Bu, makan sedikit ya, masa mau minum obat nggak makan dulu, perutnya kosong, Nanti obatnya nggak bereaksi dong," ucap Mbak Lastri, di hinggapi rasa khawatir.
Cindy hanya diam membisu.
"Aku harus menelepon, Bu Cintya, mengabarkan keadaan Bu Cindy, yang keadaan kondisi badannya mulai tidak stabil," gumam hati Mbak Lastri.
Kemudian dia berlalu dari hadapan Cindy.
Sang ART tersebut, lalu menelepon Cintya.
__ADS_1
{"Bu, Kakaknya Ibu, Bu Cindy, demam. Aku khawatir!"} ucap Mbak Lastri. Di hinggapi rasa khawatir.
Cintya baru saja sampai di Hotel, dan dia baru merebahkan badannya di kasur. di pinggirnya ada Bagas, yang sedang mengaduk kopi hitam di meja kecil dekat telepon.
"Mau teh hangat?" Bagas lekat ke kuping Cintya, dan menciumnya.
Cintya menganggukkan kepalanya.
Sementara dia belum menjawab obrolan dengan Mbak Lastri, yang mengabarkan Cindy sedang sakit.
{"Halo, halo, Bu!"} Mbak Lastri. berkali-kali memanggil Cintya.
{"Iya, iya, Mbak. Aku lagi diluar Mbak. Sedang sibuk. Kasih saja obat, ada disana kan?"}Cintya sebenarnya di hinggapi rasa khawatir dengan keadaan Kakaknya itu. Tapi di lain sisi dia, juga harus menjaga perasaan suaminya.
Inginnya sang ART, mungkin Cintya pulang untuk melihat kondisi Cindy.
{"Baik, Bu!"} akhirnya, sambungan telepon pun, ditutup oleh Mbak Lastri. Dia seperti di hinggapi rasa tanda tanya yang cukup besar.
Mengapa Cintya jadi beda sifatnya. Biasanya dia sangat telaten untuk mengurus Kakaknya.
Mbak Lastri menghela napas panjang.
****@@@*****
Bagas dan Cintya terlihat bahagia.
"Telepon dari siapa Sayang!" tanya Bagas, kepada Cintya.
"Mbak Lastri,' jawabnya.
"Kenapa lagi, Kakakmu itu?" Bagas terlihat kesal. Karena selama ini Cindy, selalu ketergantungan dengan Cintya. Padahal Cintya juga tidak selamanya, waktu selalu ada untuknya. Dia juga ada suami yang harus di perhatikan.
"Biasa, demam!" Cintya ketus.
*****
Bagas merasa bahagia, karena istrinya sudah mulai berubah. Dia sudah membiasakan Kakaknya itu, untuk bersikap mandiri dan tidak selalu ketergantungan kepada orang lain.
Bagas memeluk erat Cintya, dan mereka pun, menumpahkan rasa rindu, yang selama ini di ganggu dengan keberadaan Cindy.
*****@@@*****
Cindy termenung.
Cindy termenung, ketika mendengar ucapan dari, Mbak Lastri. Bahwa Cintya tidak bisa di ganggu dan tidak mau di ganggu.
Seakan sudah tidak peduli lagi terhadapnya.
Cindy menatap dirinya di cermin. Dia pandangi badannya, yang sekarang memakai kursi roda. Mukanya yang dulu, nampak cantik. Sekarang berubah menjadi terlihat tua, sudah tidak segar lagi untuk di pandang.
Dia memukuli badannya dan menjambak rambutnya sendiri. Mungkin terlihat sungguh prihatin melihat kondisinya seperti itu. Ketika pertama dulu dia sakit. Namun sekarang, orang lain pun melihat seperti itu, seakan sudah tidak ada rasa iba lagi, melihatnya.
Termasuk sang ART.
"Mbak, aku seakan sudah ingin mengakhiri, hidupku!" Cindy berteriak.
"Sabar, jangan teriak. Malu di dengar tetangga. Sholat!" Mbak Eka, terlihat kesal, melihat kelakuan Cindy yang terlihat manja.
__ADS_1