Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 96 Pertemuan Friska dan Bram


__ADS_3

"Aku mau bertemu dengan Bram, kamu ikut! aku lagi merencanakan sesuatu, biar buat dia malu," Friska tersenyum terkekeh.


"Tapi aku sudah malas lihat mukanya, kamu saja. Sudah muak lihatnya, aku kesal dan kecewa!" ucap Zhira, menahan emosi.


"Aku belum ngomong tapi sama Haris, mau bertemu dengan dia," ucap Friska lagi.


"Lebih baik ngomong, nanti biar tidak terjadi kesalahpahaman. Terus kalian mau menikah kan!" Zhira khawatir nanti Haris marah.


Friska berpikir sejenak.


"Benar juga apa yang di katakan Zhira tersebut," gumamnya.


*****


Friska menelepon Haris, lalu dia menceritakan semuanya. Jika dia mau, bertemu dengan Bram.


{"Maksudnya apa, mau bertemu dengan dia?"} Haris seakan tidak setuju dengan rencana dari calon istrinya itu.


Friska mencoba menjelaskan, ingin membalaskan dendamnya. Apa yang di rasakan oleh Haris dan Zhira sangat sakit terasa.


"Orang dendam gak baik, nanti juga ada karma dari yang di atas. Pokoknya aku gak suka!" ucap Haris, terdengar kesal.


Mungkin ada rasa cemburu juga yang di hinggapi Haris kepada Friska. Apalagi untuk bertemu dengan Bram. Lelaki yang dulu telah mengambil Istrinya.


Friska hanya terdiam, dan dia juga merasa terlalu mencampuri urusan Haris dan Zhira, terlalu dalam. Mungkin karena dia merasakan gimana sakitnya.


Friska kemudian menutup sambungan teleponnya.


Dia menghela napas secara perlahan.


*****


"Pasti Haris marah ya?" tanya Zhira, tersenyum tipis.


Friska menganggukkan kepalanya.


Zhira kemudian membisikkan sesuatu, lekat ke kupingnya Friska. Lalu Friska pun tersenyum.


*****@@@*****


Keesokan harinya.


{"Mas, aku mau antar Zhira, ke rumah teman lamanya. Kebetulan dia tidak tahu jalan di daerah Bandung. Jadi aku yang mau mengantarnya," } ucap Friska meminta ijin kepada Haris di sambungan teleponnya.


Haris pun mengijinkan Friska, untuk mengantar Zhira, saudaranya itu.


*****


Tujuan mau bertemu Bram.


Nampak Friska dan Zhira, tertawa lepas di dalam mobil. Dia kemudikan mobil ke arah Jalan, Gatot Subroto, tepatnya di TSM atau Trans Studio Mall, Bandung.


Tiba di tempat tujuan.

__ADS_1


Friska duduk bersama Zhira berhadapan, mereka memesan beberapa makanan dan minuman di sebuah Restoran, yang ada di tempat tersebut.


Friska lalu memberikan shrarelok, (lokasi dimana dia sekarang) ke seseorang yang akan bertemu dengannya.


Satu jam kemudian.


Nampak lelaki dengan memakai kaos hitam ketat, celana jeans dan memakai topi. Dia berjalan ke arah tempat duduknya.


Setelah lelaki itu tiba, tepat di hadapan Friska.


"Selamat siang," ucapnya menyapa dengan sopan. Senyumnya mengembang, sambil mengulurkan tangannya.


Dan lelaki itu, masih belum fokus ke wanita yang berada di depan Friska. karena Zhira posisi duduknya membelakangi lelaki tersebut.


Friska tersenyum,


"Silahkan, duduk!" ucap Friska.


Degup jantung Zhira tidak karuan, begitu dahsyat berdebar. Dia tidak salah terhadap lelaki yang tiba-tiba datang itu, tapi dadanya panas seperti di siram bensin.


Bram duduk.


"Kenalin ini temanku!" Friska melirik Zhira, yang sedang tertunduk.


Bram melirik ke arah Zhira, alangkah terkejutnya Bram. Seketika mukanya merah padam, dia salah tingkah dibuatnya. Jantungnya terasa mau copot, ketika mata Bram, beradu pandang dengan mantan istrinya itu.


Zhira menatap lekat kepada Bram, tanpa bicara sedikitpun.


"Zhira..!" spontan Bram menyebut, nama mantan istrinya itu.


"Kalian sudah saling kenal?" Friska berpura-pura, tidak mengetahui semuanya.


"Kita berteman sudah lama." jawab Zhira. Mengedipkan mata.


Bram terlihat kaku, dia seakan tidak bisa bicara apa-apa. Untuk mengangkat kepalanya seakan malu. Pandangan dia tidak fokus. Mungkin pikirannya sedang berselancar ke masa lalu, mengingat kembali kehidupannya bersama Zhira.


*****@@@*****


Setengah jam kemudian.


Bram hanya memainkan ponselnya, begitupun dengan Friska. Sementara Zhira terus menatap Bram. Rasa kesal, kecewa, amarah, tumpah menjadi satu.


Bram menyadari, terlihat oleh ujung matanya, Zhira sedang memandang lekat ke arahnya.


Bram seakan tak kuasa, menghadapi situasi seperti itu.


"Kenapa, diam saja. Ayo, dong ngobrol!" Friska menatap Bram..


Peluh bercucuran, terlihat dari raut mukanya Bram.


"Kamu sekarang lagi dekat dengan wanita mana?" Zhira bertanya kepada Bram, dengan raut muka sinis dan mengejek.


"Tidak, tidak ada!" ucapnya gugup.

__ADS_1


"Cindy! gimana kabarnya dia?" kembali Zhira mencecar pertanyaan.


"Tidak tahu!" jawabnya, singkat.


Pandangannya masih menunduk.


Dalam hati Bram di hinggapi tanda tanya yang sangat besar. Mengapa dia harus bertemu Zhira disini, ini diluar ekspektasi dia.


Bram seakan ingin pergi dari sana, di antara dua wanita itu.


"Cindy, siapa Cindy?" tanya Friska melirik Zhira, dan tersenyum sinis.


"Mantannya, cantik dan licik!" ucapnya tertawa terkekeh. Seakan mengejek Bram.


Dalam hati Zhira di hinggapi rasa puas, karena dia telah membuat seorang Bram malu dan gugup di depan wanita yang dia suka yaitu Friska.


"Oh, ya..!" Friska matanya terbelalak, seakan ingin tahu banyak cerita tentang Cindy, dari Zhira.


"Tanya deh dia, sosok Cindy seperti apa, sampai dia tergila-gila. Padahal si Cindy mempunyai suami loh, saat itu," lagi-lagi Zhira mengejek Bram.


Bram hatinya bergejolak, dia di hinggapi rasa malu dan kesal. Mengapa Zhira menguliti aibnya depan Friska.


"Mungkin, cantik, baik, dan tidak sombong! hehehe...Ya, Bram?" Friska melirik Bram.


Bram tidak menjawab hanya tersenyum tipis.


"Nah, maksuda kedatangan kamu, sekarang menemui Friska, untuk apa?" Zhira kembali bertanya dengan memojokkan Bram.


Bram sontak melirik Friska. Tapi Friska hanya diam dan fokus ke layar ponselnya


"Kamu salah orang, jika jatuh cinta sama Friska. Dia orang baik, cantik, pintar, dan satu lagi mau nikah! sedangkan wanita yang dulu yaitu Cindy orang licik, punya suami, muka pas-pasan, dan sekarang lumpuh!" Cindy terus menerus mengejek Bram.


"Kalau bukan wanita, dan dia bukan mantanku, aku akan pukul dia!" gumam hati Bram. Tangannya mengepal, dengan wajah yang kalem tapi amarah seakan menggebu. Itu yang di rasakan Bram.


Bram sungguh di permalukan saat itu oleh Zhira. Mantannya itu sengaja menghukum dia secara halus. Dia tahu Bram, dia anak manja yang di banggakan oleh kedua orangtuanya, dan ini saatnya dengan kata-kata halus tapi bersifat menyindir.


Zhira harap akan jadi beban mental baginya.


*****@@@*****


Bram melihat arlojinya.


"Aku mau ada janji di Jalan. Cihampelas, Bandung. Setengah jam lagi. Jadi aku mau pamit saja!" Bram terlihat ingin cepat meninggalkan tempat itu.


"Terus maksud kamu untuk menemui Friska, apa?" Zhira menggertak Bram. Dan tersenyum puas.


Bram tersulut emosi, matanya melotot ke arah Zhira dan berlalu cepat dari hadapannya.


*****


Zhira tertawa terbahak, sesudah Bram berlalu dari hadapannya.


"Gila kamu! kamu permalukan mantanmu itu, Zhira. Lihat mukanya merah sekali. Dia menahan amarah loh," ucap Friska.

__ADS_1


"Itu belum seberapa, tunggu pembalasanku nanti, ini awal saja. Biar dia kena beban mental. Dan jangan selalu mempermainkan hati wanita." Zhira menatap Bram dari kejauhan yang terlihat kesal dan menahan amarah yang memuncak. Jalannya terlihat tergesa-gesa.


__ADS_2