Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab: 110 Cintya Pergi Berlibur


__ADS_3

*Cintya berlibur*


Cintya sedang berlibur bersama suami dan mertuanya ke Bali. Raut wajah Cintya terlihat sumringah dan nampak bahagia, begitupun dengan Bagas sang suami. Ibu mertua dari Bagas sangat menjaga menantunya itu, karena cucu yang di kandung saat ini oleh Cintya, merupakan penantian yang sudah di nanti lama. Sejak Bagas, menikah dengan Cintya.


"Nak, dari Bali mau langsung pulang ke rumah Ibu, atau ke rumahmu langsung?" Ibu mertua Cintya, menatap lekat kepada menantu kesayangannya, sambil memeluk erat sang menantu.


"Kayaknya aku mau pulang ke rumah dulu Bu, lihat kondisi Kakakku. Ayo, sama Ibu nginap di rumahku, tiga atau seminggu." jawab Cintya tersenyum renyah kepada Ibu mertuanya itu.


"Iya, lebih baik kita pulang dulu ke rumah, beres-beres disana. Udah lama di tinggalkan rumah kita," sambung Bagas, sang suami.


*Sayang, tas kita dari pagi di mobil loh!" ucap Cintya, kepada Bagas.


"Tas yang mana?" tanya suaminya itu.


"Itu loh, yang buat isi ponsel kita. Punya kamu juga kan di simpan disana, Sayang," Cintya seperti orang kebingungan mencari benda pipih itu.


Bagas berpikir sejenak.


"Ouh, iya. Aku lupa Sayang. Bentar ya, aku mau ambil dulu tasnya. Kayaknya panggilan masuk dan pesan numpuk," Bagas berlalu dari hadapan Cintya dan Ibunya itu.


*****


Setelah Bagas mengambil ponsel di mobilnya, dan kembali berkumpul dengan orang tersayangnya. Lalu dia menyerahkan tas yang berisi ponsel kepada Cintya.


"Nih, Sayang!" Bagas memberikan tas yang berisi ponsel kepada istrinya itu.



Cintya kemudian membuka layar ponsel dan melihat aplikasi WhatsApp. Matanya lekat ke arah panggilan masuk yang berkali-kali yaitu dari Mbak Lastri.


Cintya di hinggapi rasa berdebar-debar dadanya, karena tumben sang ART, tersebut menelepon dan menelepon pun tidak sekali tapi hingga berkali-kali.


"Mas, ada apa ya, ini Mbak Lastri, menelepon sampai berkali-kali," Cintya kemudian memperlihatkan layar ponsel ke suaminya tersebut.


"Iya, ini juga dia telpon ke aku. Berkali-kali, ada apa ya?" Bagas pun memperlihatkan layar ponselnya kepada Cintya.


\*\*\*\*\*


Bagas dan Cintya terlihat gugup.


"Telepon dulu coba si Mbaknya!" ucap Ibunya Bagas mencoba menenangkan hati anak dan menantunya itu.



Cintya kemudian mencoba menelepon Mbak Lastri, namun tidak ada jawaban disana.


meskipun Cintya menelepon berkali-kali, tetap aja tidak ada jawaban disana.



Cintya seakan gelisah.


"Ko, hati aku seakan tidak.karuan ya? jantungku deg-degan juga. Ada apa ya Bu?" Cintya menatap Ibu mertuanya dengan wajah yang terlihat cemas sekali.



"Istighfar, Nak. Semoga tidak terjadi apa-apa. Berpikir positif mungkin Kakakmu rindu ingin bertemu, dan sekarang ponselnya Mbak Lastri sedang sibuk dianya, jadi tidak bisa angkat telepon," ucap ibunya Bagas, mencoba menenangkan suasana hati menantunya itu.


\*\*\*\*\*


Sementara Bagas pun menelepon Cindy, tapi ponselnya tidak aktif.


"Iya, Sayang. Kita berpikir positif saja. Nggak ada apa-apa ko," ucap Bagas, sama dengan Ibunya mencoba menenangkan hati istrinya itu yang sedang gundah gulana.



"Mas, kita pulang kapan dari Bali?" tanya Cintya kepada suaminya itu.


"Baru juga kita nyampe, udah nanya pulang kapan. Hehehe..," Bram tertawa terkekeh.



"Tenang, Nak. Percaya sama Ibu, nggak akan terjadi apa-apa dengan Kakakmu. Kamu jangan banyak pikiran loh, kamu itu sedang mengandung," ucap ibu mertuanya itu.


karena terlihat Cintya seperti tidak tenang, Nampak dari raut wajahnya setelah melihat layar ponselnya, penuh dengan telepon masuk dari Mbak Lastri, sang ART.



"Iya Sayang. kita disini untuk menghilangkan penat. Yang beberapa bulan ini sudah kamu lewati dengan penuh lelah. Nah saatnya sekarang kamu harus menikmati ini semua." ucap Bagas sang suami. Sambil mengelus pucuk kepala istrinya itu.



Cintya pun merasa tenang hatinya, setelah kedua orang yang sayang dan peduli terhadapnya, mencoba menenangkan hatinya yang saat itu sedang gelisah.

__ADS_1


\*\*\*\*\*



"Ayo, kita kuliner. Pasti anakku ini lapar," Bagas mengelus perut Cintya.



Cintya tersenyum.


Dia merasa bangga dan bahagia karena suaminya sangat sayang dan peduli terhadap dia. Begitupun dengan sang mertua, begitu sangat menyayanginya.



Cintya matanya berkaca-kaca, seakan akan ada air mata yang akan tumpah disana.


Air mata bahagia karena sampai sekarang dia bisa melewati badai rumah tangga dalam rumah tangganya.


Hampir mau pisah dengan suaminya, karena orang ketiga dalan rumah tangga mereka adalah Kakaknya sendiri yaitu Cindy, yang membuat cemburu sang suami.


Karena Cintya begitu peduli terhadap Kakaknya sedangkan Bagas sang suami merasa tidak diperhatikan.


\*\*\*\*\*


Keadaan Cintya setelah keluar dari rumahnya, dan tinggal di rumah mertua cukup bahagia. Bukan dari segi materi saja, mereka pun tidak lagi berselisih paham.


Beda dengan dulu selalu berantem dan selisih paham. Dan yang menjadi akar permasalahannya mereka bertengkar adalah, selalu dari sang Kakak yaitu Cindy.


\*\*\*\*\*



"Ibu bukan mau memisahkan kamu dengan Kakakmu Cindy, Nak. Jika kamu nyaman selama kamu tinggal bersama Ibu, tidak apa-apa kamu pindah ke rumah Ibu. Toh, Cindy kan ada ART, yang jaga disana, lagian kamu juga bisa kali-kali, berkunjung untuk nengokin Kakakmu." ucap Ibu mertua Cintya.



Ibunya Bagas begitu bijak ketika berbicara, dia seakan merasakan penderitaan Cintya, yang selama ini mengurus Kakaknya, yang rewel, dan harus extra sabar menghadapinya.



Cintya menggenggam erat tangan Ibu mertuanya itu, bulir putih akhirnya lolos juga di ujung mata Cintya.



\*\*\*\*\*


"Mas pertanyaan aku belum kamu jawab. Berapa hari kita berada di Bali?" tanya Cintya.



"Tiga hari saja, karena aku harus mengurus proyekku yang baru. Emangnya kenapa Sayang? kamu mau sebulan? tidak apa-apa ko' tinggal disini sama Mamaku di Hotel. Hehehe..." Jawab Bagas menggoda istrinya itu. Dengan penuh manja.


\*\*\*\*\*



\*Mereka pun kembali ke kamar Hotel\*


Jam menunjukkan pukul sebelas malam, nampak Ibu mertua Cindy, kelelahan sedang tertidur pulas. Karena seharian tadi, selama di Bali jalan-jalan. Jadi kakinya tidak diam di gerakkan terus untuk beraktivitas.


Begitu pun dengan Bagas sang suami terlihat lelah dan tertidur.



Mata Cintya seakan tidak bisa di pejamkan, dia terus-menerus mencoba menghubungi ponsel Cindy dan Mbak Lastri, tapi tidak bisa di hubungi.


"Tadi pagi ponselnya Mbak Lastri, tidak di angkat sambungannya. Tapi sekarang tidak aktif. Begitupun dengan Cindy ponselnya tidak aktif, sebenarnya ada apa ini!" gumam hati kecilnya.


\*\*\*\*\*


Cintya menatap lekat mertua dan suaminya itu. Terlihat rasa lelah dan wajah yang tulus menyayangi dirinya begitu terpancar.



Cintya jika mengajak pulang kedua orang yang dia sayanginya seakan begitu tidak menghargai, kasian mereka.



Mereka dari dulu ingin berlibur ke Bali, nah saat ini ada waktunya. Mereka sedang berada di Bali, mengapa sekarang dia yang mengacaukan semua, dengan cara mengajak mereka untuk pulang.



Cintya menghela napas panjang.

__ADS_1


"Aku harus berpikir positif. Betul yang di katakan Ibu mertuaku dan suamiku Bagas. Aku harus bahagia dulu disini. Melepaskan penat yang selama berbulan-bulan seakan hilang, karena adanya kedatangan Kakakku. Jadi kualitas aku bersama suami tidak ada. Semoga tidak terjadi hal yang di inginkan yang menimpa Kakakku disana," gumam hati Cintya


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



\*\*\*\*\*~~~ \*\*\*\*\*


Cintya mencoba memejamkan mata.


"Tolong aku! tolong aku Dek!"


Cindy terlihat sedang makan di pinggir Solokan, dia memungut makanan yang ada di tong sampah, yang masih terbungkus nasi bungkus, Itu sisa makanan orang.


Dia di lempar dengan botol plastik, bekas minuman botol air mineral. Oleh anak kecil.


Dan orang yang berada di sekitarnya mengolok-olok dia, dengan kata." Bau.."


Kemudian dia di lempar batu kecil, dia berlari dan meringis kesakitan


Tolong...


Tolong...


Tolong...



Cintya bermimpi.


\*\*\*\*\*~~~~\*\*\*\*\*


\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_\_



"Kakak...!Kakak Cindy!" Cintya berteriak.


peluhnya bercucuran, dadanya berdebar sangat cepat, deru napasnya memburu.


Dia berusaha membuka matanya yang seakan susah sekali untuk dibuka.


Pandangannya terasa gelap, dia ingin sekali meraih Kakaknya itu, tapi apa daya terasa tangannya, tak sampai untuk meraihnya.



Lalu Cintya menghela napas dengan berat.


Bagas sang suami, mencoba menepuk-nepuk lembut pipinya sang istri.


"Sayang, bangun. Hai. .kenapa kamu, Sayang!" Bagas sang suami terus-menerus, menepuk-nepuk pipi sang istri yang terlihat chubby. Cintya masih tetap saja mengoceh, dengan kata-kata memelas dan raut muka yang sedih. Lalu dia sesunggukkan menangis dengan mata masih terpejam.



Ibunya Bagas, terbangun dan dia terkejut melihat kondisi sang menantu. Lalu di dekapnya sang menantu itu, sambil lekat ke kuping menantunya itu dan berkata


"Sayang, bangun. Kamu mimpi buruk Nak,"


Perlahan mata dari Cintya, akhirnya terbuka, dia nampak bingung dan di hinggapi rasa heran. Dia mencoba mengatur napasnya.



"Mas, aku mimpi buruk!" ucapnya.


"Mimpi apa, Sayang?" tanya Bagas, sang suami menatap lekat ke arah bola mata istrinya tersebut.


"Aku mimpi, Kakakku. Dia di perlakukan tidak sopan oleh orang di sekitarnya. Dia jadi pemulung Mas," Cintya menceritakan mimpinya itu dengan pandangan terlihat kosong dan mencoba mengingat semua yang terjadi atas mimpinya tadi.



"Kamu terlalu berhalusinasi Sayang, udah tidak apa-apa ko," ucap Bagas.


"Itu bunga tidur, karena kamu sangat mengkhawatirkan Kakakmu jadi sampai terbawa mimpi," sambung Ibu mertua.


\*\*\*\*\*


Cintya pun di berikan minum oleh Ibu mertuanya.


"Sudah, tidur lagi. Jangan banyak pikiran dan melamun yang tidak-tidak" ucap sang mertua.



Cintya pun mencoba untuk memejamkan matanya kembali.

__ADS_1


__ADS_2