Pengkhianatan Seorang Istri

Pengkhianatan Seorang Istri
Bab 77 Haris ke Kalimantan bertemu dengan Zhira


__ADS_3

Sesampai di Kalimantan, Haris langsung memasuki kamar Hotel. Dia terlihat sangat kelelahan.


"Wisnu, aku istirahat tidur dulu ya, nanti pukul dua bangunkan, karena kita mau rapat sorenya," mata Haris terasa kabur pandangannya, dia pun memejamkan matanya akhirnya tertidur pulas.


***


Sore tiba, Haris pun bangun dan bergegas untuk mandi. Haris bersama Wisnu kemudian menuju ke tempat, dimana Haris akan bertemu dengan relasi bisnisnya.


***


Sebuah Restoran yang asri dan nyaman, terlihat Restoran tersebut mewah dan sang pengunjung terlihat orang berada semua.


Haris tersenyum lebar ketika bertemu dengan relasi bisnisnya.


"Daniel!" seseorang menyalami Haris dengan menyebutkan namanya.


"Orang ini begitu tegas dan tanpa senyum melingkar di bibirnya." pikir Haris dalam hatinya.


Terlihat serius mereka berbicara, Daniel terlihat datang berdua bersama rekan bisnis yang lain.


@@_____@@_____@@@@


"Deal!" ucap Daniel, Haris pun tersenyum sumringah setelah menandatangani beberapa dokumen.


Daniel pun, berpamitan untuk pulang.


"Bos, serem amat, Pak Daniel, tidak menampakkan senyum sedikitpun," Wisnu berucap dengan pelan.


"Tapi hatinya baik," Haris, tidak mau memperpanjang omongan.


"Bos, mumpung belum terlalu malam, kita ke mampir ke Kafe yang ada live musiknya, kita ganti tempat," Wisnu menawarkan kepada Haris, untuk keluar di Restoran itu.


"Boleh," Haris langsung berdiri dari tempat duduknya. Sebelumnya dia memberikan pesan kepada Friska, bahwa dia sudah bertemu dengan relasi bisnisnya.


***


Sesampai di sebuah Kafe, Haris duduk tepat di dekat tempat live musik. Dari ujung matanya terlihat seperti ada yang menatapnya. Karena di hinggapi rasa penasaran langsung Haris menoleh ke arah seseorang yang dari tadi melihatnya.


"Zhira!"


Spontan Haris memanggil.


Zhira tersenyum lebar ketika Haris memanggilnya, Zhira terlihat berdiri dari tempat duduknya dan mencoba berjalan menuju tempat duduk Haris.


"Haris ya, kenapa ada disini?" Zhira mantan istri Bram masih ingat dengan sosok Haris.


"Aku lagi ada urusan kesini, terus kamu lagi pulang ke Kalimantan ya?" Haris mengulurkan tangannya dan bersalaman.


***


Mereka pun memesan beberapa makanan ringan dan minuman.


Zhira bercerita kepada Haris, bahwa dia sudah cerai dengan Bram, dan Bram sekarang pindah lagi ke rumahnya yang ada di Bogor.


"Gimana dengan Cindy?" tanya Zhira.


Haris pun menceritakan semua yang terjadi di antara dia dan Cindy, Haris terlihat tegar dan tidak ada lagi air mata, di mata Haris.


Haris sudah tidak memperdulikan lagi Cindy.

__ADS_1


Zhira menghela napas panjang, ketika mendengar semua cerita dari Haris.


"Sungguh miris!" ucapnya. Zhira terlihat matanya berkaca-kaca.


***


Terlihat Wisnu menatap lekat kepada Zhira, dia terlihat begitu kagum kepada sosok wanita yang tengah berada di hadapannya. Zhira begitu nampak cerdas ketika berbicara dan terlihat supel dalam bergaul.


Bola mata Wisnu seakan tidak bisa berkedip


Nampak terlihat Zhira tersipu malu, ketika Wisnu terus menerus memandangi dirinya. Dan akhirnya tatapan mereka beradu pandang. Dada mereka bergemuruh.


"Hemm..." Haris memegang tenggorokannya seakan batuk.


Wisnu dan Zhira tersipu malu.


"Oh ya, kenalkan ini temanku Wisnu, dia seorang Duda," Haris melirik Wisnu dan mengedipkan mata.


Saking asiknya mereka membicarakan pasangannya masing-masing, jadi lupa memperkenalkan Wisnu kepada Zhira.


Mendengar status Wisnu yang sudah Duda, sontak muka Zhira seperti tersipu malu. Dalam hatinya dia ingin lebih dekat dengan Wisnu, pria yang kalem dan ramah seakan membuat Zhira di hinggapi rasa penasaran.


***


"Mampir ya, ke rumahku. Mash lama kan, tinggal di Kalimantan!" Zhira menawarkan Haris untuk mampir ke rumahnya.


Kemudian Haris memberikan nomor ponsel kepada Zhira.


"Boleh tidak minta nomor Wisnu?" Zhira tersipu malu dengan pandangan menunduk.


Wisnu dengan cepat memberikan nomor ponselnya dan tersenyum renyah.


Hati Zhira seakan berbunga-bunga, dia sangat senang sekali. Entah mengapa bola mata yang di pancarkan oleh Wisnu, seakan membuat terpana hatinya.


*****


Malam semakin larut, akhirnya mereka pun pulang. Zhira pun melambaikan tangan saat akan melajukan mobil sedannya yang berwarna putih.


***


Sesampai di Hotel, nampak Wisnu gelisah, dia seakan tidak dapat memejamkan matanya. Bayangan wajah Zhira kian hinggap menerpa pikirannya.


"Apakah aku sedang jatuh cinta lagi?" gumam hatinya. Dia tersenyum sendiri.


Melihat gelagat dari temannya itu seakan tidak seperti biasanya. Haris mencoba menebak isi pikiran temannya itu.


"Kalau lagi jatuh cinta, pasti tidak bisa tidur, gelisah tidak menentu." Haris tertawa terkekeh.


Terlihat Wisnu mukanya merah padam, seakan dihinggapi rasa malu.


'Ah....bisa saja!" ucap Wisnu mencoba menahan rasa malunya.


"Nih, Zhira barusan memberikan pesan, katanya besok kita suruh ke rumahnya, untuk acara makan malam." ponsel yang Haris pegang, di perlihatkan kepada Wisnu.


Wisnu terbelalak matanya melihat pesan yang dituliskan oleh Zhira, dan Wisnu teramat sangat senang sekali.


"Kenapa dia, tidak memberikan pesannya, kepada aku langsung ya?" Wisnu di hinggapi rasa heran.


"Malu dan gengsi lah, dia kan seorang wanita, butuh lelaki yang berani untuk mengungkapkan isi hatinya. Apalagi dia pernah gagal dalam berumah tangga, jadi dia menginginkan lelaki yang tanggung jawab, dan serius. Bukan hanya mempermainkan hatinya." Haris seakan menggurui Wisnu

__ADS_1


Wisnu pun nampak mengerti dengan ucapan Haris tersebut.


"Aku telepon dia Jangan ya?" Wisnu seperti anak kecil yang baru menjalin pacaran.


Dia sudah lama menduda dan tidak dekat dengan wanita lain, jadi untuk mencoba kembali lagi dekat dengan wanita seakan canggung dan kaku.


"Hahahaha..." Haris seakan tertawa puas, dia merasa teringat omongan Wisnu, ketika dia sedang mendekati Friska. Wisnu terus menerus menyindirnya dengan sebutan lelaki kaku. Dan sekarang malah Wisnu yang terkesan kaku.


"Ya, sudah. kita lelaki kaku!" Wisnu seakan menahan tawa, jemari tangannya sambil menutup penuh mulutnya.


"Aku setuju, kalau kamu dekat dengan Zhira, dia wanita baik. Tapi sayang dulu dia di sia-siakan sama Bram. Lelaki brengsek yang mengambil istriku!' Haris di hantui rasa kesal yang teramat dalam.


"Tapi aku tidak PEDE, Zhira cantik dan kelihatannya dia wanita tajir," Wisnu seakan tidak tidak berani untuk mendekati Zhira.


"Aku tahu sifat Zhira, dia tidak memilih lelaki yang tajir, tapi setia dan dewasa." jawabnya.


******


Wisnu pikirannya berselancar memikirkan wanita yang baru saja dia kenal.


Entah mengapa percikan cinta secara tiba-tiba datang begitu saja, saat melihat sosok Zhira.


******


______________


Memang tidak bisa di pungkiri, lelaki jika melihat wanita pertama dari fisik yang cantik dan menarik. Tapi jika di tambah kecerdasan otak yang pintar, itu akan menambah keseksian seorang wanita.


Cantik bonus dari sang pencipta, jika di barengi dengan akhlak terpuji itu merupakan nilai plus bagi wanita.


______________


Dimata Wisnu, Zhira mempunya nilai plus.


Selain parasnya cantik, dia juga cerdas dan berwawasan. Terbukti dari cara bicaranya saat tadi bertemu.


Walaupun baru pertama bertemu.


Nah ini menjadi nilai tambah bagi Zhira.


***


"Aku ngantuk. Besok kita kerumahnya, setelah acara kita selesai. Aku tidur duluan ya," Haris berlalu dari hadapan Wisnu.


Wisnu hanya menganggukkan kepala, dan tersenyum.


***


Malam semakin larut, Wisnu berusaha memejamkan matanya. Tapi entah mengapa, seakan tidak bisa.


Dia ingin sekali memberikan pesan kepada Zhira, tapi di hinggapi rasa malu. Lalu dia melihat layar ponsel, dan kemudian membuka aplikasi WhatsApp.


Nama Zhira di klik dengan jari telunjuk Wisnu, dan ternyata masih online, berarti dia belum tidur. Wisnu memberanikan diri untuk memberikan pesan.


____


Tapi Wisnu di hinggapi rasa malu dan seakan tidak sopan jika menghubungi Zhira tengah malam, walaupun hanya mengirimkan sebuah pesan.


Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk menghubungi Zhira.

__ADS_1


"Wahai hati yang tidak sabar, besok saja!" lirihnya. Wisnu mencoba mengendalikan hatinya yang seakan meronta-ronta ingin cepat bertemu kembali dengan wanita pujaannya.


__ADS_2