
Friska terlihat cantik saat menjajal baju pengantin, dia terlihat manis dan anggun. Pandangannya menatap lekat ke arah cermin, dia pun berlenggak lenggok bagaikan Peragawati. Bibirnya tersenyum lebar saat matanya melirik calon suaminya yaitu Haris.
"Sayang, kamu sangat cantik sekali" Haris seakan kagum melihat calon istrinya itu. Dimata Haris, Friska adalah sosok wanita yang sempurna. Selain cantik dia juga smart.
"Terima kasih, Sayang," jawab Friska
*****
Sementara Zhira dan Wisnu, menunggu diluar tempat fitting baju.
Zhira nampak lekat menatap Wisnu, dengan sorot mata tajam.
"Kenapa, Sayang? pandangan kamu seperti itu?" tanya Wisnu heran, karena tidak seperti biasanya Zhira menatapnya seperti ada sesuatu yang akan dia utarakan.
"Aku berpikir, kita jadi nggak ya, untuk menikah,aku khawatir," Zhira di hinggapi rasa cemas dan takut. Tiba-tiba pendangannya menunduk.
Dia takut Wisnu tidak bisa menerima dia, karena Zhira selama menikah dengan Bram, tidak mempunyai keturunan. Zhira khawatir Wisnu, tidak bisa menerima kenyataan ini. Sebuah hubungan rumah tangga yang di inginkan adalah seorang anak. Mungkin Wisnu juga menginginkan keturunan dari Zhira, orang yang sangat di sayangi nya.
Wisnu menggenggam erat jemari tangan Zhira, dia seakan meyakinkan. Lelaki yang di hadapannya akan setia, di manapun wanita itu berada, Wisnu tidak akan mengecewakan. Kemudian Wisnu mencium punggung tangan Zhira. Wisnu tahu penderitaan Zhira teramat berat ketika menikah dengan Bram.
"Aku takut, kamu ninggalin aku. Aku dulu berpisah dengan suami karena tidak punya anak," Zhira pandangannya menunduk seakan sedih dan tertekan.mDia tidak PEDE dengan keadaan seperti ini. Takut jika kedepannya nanti Wisnu seperti Bram, menuntut dia agar memiliki anak darinya.
"Aku sudah tahu, semua dari Haris. Sudah kamu jangan mempermasalahkan hal itu Sayang. Aku ada anak dan itu anggap saja anak kita. Kamu sayangi dia seperti anak kita," ucap Wisnu, membelai mesra rambut sang kekasih.
Tidak terasa bulir putih menetes di ujung mata Zhira, kemudian Wisnu mengusapnya dengan lembut.
"Sudah Sayang, kamu jangan sedih gitu. Kamu jangan samakan aku dengan Bram atau lelaki lain, semua tidak sama. Tuh, lihat Haris dan Friska, mereka mau mencoba membuka lembaran baru. Dan mereka mau melupakan cerita lama. Kita semua punya masa lalu yang berbeda tapi jika mengingat terus masa lalu tidak akan maju. Siapa tahu nanti pas nikah sama aku di berikan keturunan oleh sang pencipta. Itu takdir," ucap Wisnu mencoba meyakinkan hati Zhira yang sedang gundah gulana.
*****
Tiba-tiba Haris keluar dari ruang fitting baju.
"Zhira, ayo masuk lihat Friska, dia memakai gaun sangat cantik sekali," Haris mengajak Zhira, untuk melihat Friska yang sedang menjajal gaun, yang akan di pakai nanti di acara akad dan resepsi.
Zhira dan Wisnu masuk ke ruangan.
"Wah, cantik sekali," terlihat sangat kagum Zhira ketika melihat Friska, yang terlihat elegan dan anggun.
Friska memakai kebaya adat Sunda, berwarna putih, dengan beberapa payet sederhana, terpancar aura mojang Bandung, di diri Friska.
"Cocok nggak?" tanya Friska, menatap Zhira.
Zhira mengacungkan jempol tanda cocok, pakaian yang di pakai oleh Friska tersebut.
Zhira pun menjajal pakaian untuk pagar ayu, atau penyambutan tamu di acara pernikahan nanti, dan Zhira terlihat cantik juga setelah memakai baju tersebut.
Sang pujaan hati Wisnu, terpesona melihatnya.
__ADS_1
Acara akan di adakan dekat rumah di daerah Lembang. Tempat yang masih asri dan sejuk dan masih banyak pepohonan berwarna
hijau.
*****@@@*****
Setelah fitting baju selesai, mereka kemudian mampir ke sebuah Rumah makan, yang jaraknya dekat dengan tempat fitting baju.
Tiba di Rumah makan.
"Yang mau nikahan jangan banyak makan, nanti badannya melar. Jelek kan nanti pas pakai gaun, dan depan kamera," ejek Zhira kepada Friska. Sambil tertawa lepas.
"Iya, iya, aku nggak makan ko, minum jus saja,' Friska tersipu malu. Haris pun tersenyum lebar.
***
Mereka sangat menikmati makanan khas Sunda. Nasi liwet, ikan asin, karedok leunca, lalapan, sambel terasi, tahu, tempe, ayam bakar, gurame goreng, dan pilihan menu lainnya yang siap di goreng secara dadakan.
Terlihat lahap ketika menikmati makanan tersebut. Tiba-tiba bunyi telepon berdering di ponselnya Friska.
*****
"Nomor siapa ini!" gumamnya.
Friska sedang menikmati pemandangan di sekitar tempat itu. Sementara yang lain sedang asik menikmati makan.
Karena di hinggapi rasa penasaran, dan nomor tersebut berkali-kali menelepon lalu dia angkat telepon tersebut.
Suara ngebas terdengar dari sambungan selularnya.
{"Halo, Friska. Sehat? aku Bram, masih ingatkan kepadaku, aku temannya Viona!"} ucap lelaki tersebut.
Mendengar nama Bram, sontak Friska mematikan sambungan teleponnya.
Dalam hatinya berpikir, ngapain makhluk satu ini meneleponnya. Pasti Viona telah memberikan nomornya Kepada Bram.
Friska terlihat cemberut, kenapa Viona tidak memberitahu dia dulu untuk memberikan nomornya kepada Bram.
Spontan Friska menghubungi Viona, terlihat Friska berucap kesal kepada Viona, karena dia tidak ijin dulu kepadanya. Untuk memberikan nomor ponselnya kepada Bram.
"maafkan aku, aku kepepet. Dia maksa terus dari kemarin. Kamu kan tahu, aku sedang ada bisnis dengan dia," Viona mencoba membela diri.
"Ya, jangan gitu caranya, kenapa kamu ngorbanin aku. Dengan memberikan nomor telepon aku, untuk urusan bisnis kamu!" Friska tersulut emosi.
"Gitu saja marah, cuma nomor telepon!" Viona terlihat kesal.
"Sudah cukup! pokoknya aku tidak suka dengan cara kamu, memberikan nomor ponselku kepada dia!" Friska langsung menutup sambungan teleponnya.
__ADS_1
*****
Dia sangat kesal. Apalagi setelah mendengar semua tentang Bram, kelakuan bejat lelaki itu. Yang telah tega mengkhianati hati Zhira saudaranya, yang sangat dia sayangi.
Friska menghela napas secara perlahan
Dia lihat Haris, Zhira dan Wisnu, masih menikmati makan.
Ting...
Pesan masuk terlihat Bram mengirim pesan.
{"Aku besok ada acara ke Bandung, aku mau bertemu dengan kamu. Nanti aku akan tanya alamat kamu ke Viona,"} Friska terkejut.
Friska tidak meresponnya.
Friska berpikir sejenak.
Sebenarnya dia ingin membalas rasa sakit hati Haris dan Cindy. Dia ingin mempermalukan lelaki ini, tapi secara bertahap. Seperti dia lakukan dulu kepada kedua orang yang dia sayangi. Akhirnya Friska membalas pesan tersebut.
{"Boleh, nanti aku kabari. Dimana tempat pertemuan kita!"} balas Friska. Tersenyum licik.
{"Oke, Sayang. Sampai bertemu besok ya?"} Bram menambahkan emotion pelukan.
{"Dasar Playboy! udah bilang Sayang-sayang,"} gumam hati Friska.
*****
Friska...
Haris melambaikan tangan, dan memanggil Friska. Lalu Friska berjalan menghampiri Haris.
"Telepon dari siapa, Sayang?" tanya Haris.
Friska tidak enak jika bilang dari Bram, dia melihat situasi dan kondisi juga.
"Euhh, teman. Ya teman. Besok dia mau konsultasi, mau datang ke tempat praktek," ucapnya gugup.
Haris tidak menaruh curiga sedikitpun kalau baru saja Friska, di telepon oleh orang yang sudah merusak hidupnya.
Jika Friska bicara kepada Haris, sebenarnya yang menelepon barusan adalah Bram. Mungkin suasana hati Haris yang sedang bahagia, akan terganti dengan rasa kesal.
"Makan, ayo! jangan diet-diet," Haris menyodorkan nasi lalu menaruhnya di piring.
"Nggak, Mas. Aku, minum jus dua gelas, kenyang!" Friska tersipu malu.
"Makan saja, nggak apa-apa. Biar terlihat berisi badannya. Memakai bajunya seksi. Hehehe..' Zhira tertawa terkekeh.
__ADS_1
Friska hanya tersenyum tipis.
*****