
Setelah selesai ngobrol dengan tamunya yang dari Cianjur, kemudian Haris menghampiri Friska.
Dari kejauhan dia sudah curi-curi pandang terhadap Friska, dadanya bergemuruh tidak karuan, getaran asmara seakan hinggap saat ini kepada hati Haris.
"Kenapa, jantungku berdetak lebih cepat, dan aku terasa salah tingkah. Ada apa denganku?" gumam hati Haris.
Melihat Haris salah tingkah dan tidak karuan, Fani seakan menahan tawa. Dia ingin menggoda Haris, Bosnya itu. Tapi dia takut Haris jadi malu dan akhirnya tidak PEDE, ketika mendekati Friska.
"Fan, Bapak, memakai baju ini, terlihat rapih tidak?" tanya Haris, berucap pelan, dan pandangannya menatap jauh ke arah Friska yang sedang asik memainkan laptopnya.
"Ganteng, Pak." ucap Fani berusaha menahan tawa.
Haris pun menghela napas secara perlahan, lalu dia berjalan menuju ke arah Friska.
Setelah Haris berada tepat di depan Friska, kemudian Haris menggeserkan kursi yang tengah berada di depannya, jadi sekarang mereka berhadapan.
Haris pandangannya menunduk, seakan tidak bisa berkata apapun, mukanya merah padam seperti menahan rasa malu.
Melihat tingkah laku Haris seperti itu, Friska seakan tahu hati Haris yang sebenarnya seperti apa.
"Sehat?"
Friska mengulurkan tangannya, Haris menyambutnya dengan senyuman yang manis, namun dia masih tidak berani menatap Friska.
***
Setelah satu jam kemudian, obrolan pun mengalir dan nampak sekarang Haris tidak terlihat kaku seperti awal tadi bertemu.
Haris terlihat sudah bisa tertawa, namun sekarang lebih ke JAIM ( jaga image).
"Nanti malam ada acara tidak?" tanya Haris. Dia sangat berharap Friska mau di ajak keluar untuk ke suatu tempat yang romantis.
"Memangnya mau ngajak kemana?" jawab Friska, matanya lekat kepada Haris, yang di tatap seakan malu untuk beradu pandang.
"Ya, kita makan diluar, cari suasana yang nyaman," Haris seakan gugup ketika berucap.
"Disini juga kan sejuk, tuh lihat ikan koi saja, aku merasa nyaman," Friska berusaha menggoda Haris.
"Yasudah, kalau begitu berarti kita disini saja tidak kemana-mana," Haris tersipu malu.
__ADS_1
"Ya, benar dia lelaki yang tidak romantis dan pemalu, pantesan ungkapan hatinya begitu dalam yang dia tulis di secarik kertas," gumam hati Friska, menghela napas secara perlahan.
***
Mereka pun menghabiskan malam di Kafe tersebut, dan Kafe pun akan segera tutup pukul sepuluh malam. Niat Haris ingin mengantarkan Friska pulang, karena kasian dia menyetir sendiri untuk pulang ke rumahnya, dan nanti disaat Haris pulang, biar memakai Taksi saja.
Tapi Friska menolaknya, dengan alasan kasian Haris capek baru pulang dari luar kota, dan besok harus pergi ke Surabaya untuk mengantarkan adik dan anak-anaknya ke Surabaya. Mending waktunya dipakai untuk beristirahat saja.
Friska pun pamit pulang, dengan senyuman yang menawan dari Friska, hati Haris seakan dibuai panah asmara.
***
Keesokan harinya, Haris mengantarkan Hana dan anak-anaknya pulang ke Surabaya. Dalam perjalanan pulang tiba-tiba Ibunya Haris menelepon, dia menanyakan kembali masalah rumah yang di Bogor, agar segera di jual dan kelanjutannya seperti apa.
Ibunya ingin segera menjual rumah itu dan mengusir mantan menantunya yang bernama Cindy. Karena Haris dalam keadaan menyetir jadi yang bicara kepada Ibunya adalah Hana.
"Bu, Cindy kondisi badannya lagi drop, dia mungkin terkena depresi juga, jadi kalau kita ada niat untuk menjual rumah tersebut, saat ini mungkin bukan waktu yang tepat kalau menurut Hana." ucap Hana mencoba meyakinkan Ibunya yang sifatnya tegas, jadi segala sesuatu harus segera di wujudkan.
Ibunya Haris bersikukuh rumah harus di jual, dan Ibunya ada niat untuk pergi ke Bogor, untuk membicarakan masalah rumah itu.
"Bu, kata Mas Haris, Ibu jangan dulu datang ke Bogor, nanti ke Bogor nya di temani Mas Haris," Hana mencoba meyakinkan dan membujuk Ibunya lagi.
***
"Ibu aneh ya, jika ada kemauan harus langsung di turuti, hari itu juga. Aku takut keadaan Cindy tambah nge drop, kalau tiba-tiba rumah itu akan di jual, dan nanti Cindy berarti harus nyari rumah," ucap Hana.
Haris tidak bisa berkata apapun, pandangannya hanya fokus menyetir, menatap ke depan. Mungkin telinganya juga mendengarkan apa yang semua di ucapkan oleh adiknya itu, begitupun dengan pikirannya yang kembali mengingat kondisi mantannya itu.
***
Ting..
Tiba-tiba pesan muncul dari Friska, melihat pesan muncul dari Friska. Hati Haris seakan di hinggapi rasa bahagia,.
Bibir Haris yang tadinya terlihat terkunci, sekarang terlihat bisa terbuka lebar dengan senyuman yang menghiasi seluruh permukaan bibirnya.
"Sudah sampai mana? jaga kondisi badan ya," tulis pesan dari Friska.
Haris terlihat tersenyum lebar.
__ADS_1
Kebetulan Hana yang duduknya, tepat berada di pinggir Haris, mesem-mesem tersenyum sendiri dan tersipu malu.
Kemudian Hana mendehemkan tenggorokannya seakan gatal, spontan Haris melirik ke arah adiknya itu.
Haris tersipu malu dan tersenyum tipis, dia seakan malu oleh adiknya itu.
"Santai Mas, obat galau!" Hana tertawa lebar.
***
Mobil pun melaju kencang ketika berada di jalan tol. Perjalanan yang di tempuh dari Bandung ke Surabaya, yaitu sekitar sepuluh jam. Nampak anak-anak tertidur lelap, melihat anak-anak Haris yang terlihat sangat lelah, Hana menghela napas, dia seakan iba melihat anak-anak itu, mereka belum cukup mendapatkan belaian kasih sayang dari kedua orang tuanya, karena Haris dan Cindy sangat sibuk sekali.
Hana meneteskan air mata, melihat adiknya yang terlihat sedih, Haris seakan tahu isi hati adiknya itu yang mengkhawatirkan anak-anaknya.
"Dek, maafkan Mas. Mungkin untuk waktu sekarang merepotkan adek, karena menitip anak-anak tinggal di Surabaya, tapi aku janji akan sering mengunjungi anak-anak," Haris terbata-bata ketika berucap.
Hana mengusap badan Haris, seakan menyabarkan hati sang Kakak.
Haris pun sebenarnya sangat terpukul hatinya, namun dia hanya pendam di dada saja. Dia tidak bisa mengungkapkan semua isi hatinya.
***
Tepat pukul tujuh malam, tibalah Haris di rumah Hana, di Surabaya.
Haris mengabarkan kedatangannya ke Friska, lewat sambungan teleponnya.
Haris terasa nyaman ketika ngobrol dengan Friska, Haris pun kembali membicarakan Cindy yang keadaannya seperti depresi karena jika ada rasa marah, emosinya selalu memuncak tidak terkontrol.
"Gejala depresi itu biasanya, perasaan emosi yang naik turun dan mudah marah, dan Cindy saat kecelakaan ada benturan kena kepala tidak?" tanya Friska.
"Mungkin juga, aku tidak tahu pasti, tapi bagian kakinya lumpuh, dia sekarang memakai kursi roda," jawab Haris.
"Memberi dukungan dan membuat dia merasa nyaman itu akan mengakibatkan dia terapi untuk sembuh juga loh, jika dia mengalami depresi. Namun pengobatan seperti ini tidak dalam waktu yang singkat ya, ini perlu jarak yang bertahap." Friska mencoba menerangkan sedikit tentang gejala depresi yang di alami Cindy.
"Ya, itu masalahnya, dia ingin bercengkrama dengan anak-anaknya, namun tidak bisa dia lakukan, karena anak-anak seakan takut dan kesal terhadap Cindy, makannya Cindy kemarin sempat berteriak histeris," Haris berusaha menceritakan kronologi kejadian kemarin.
"Bawa saja ke psikiater biar dia pikirannya tenang, dan biar segala keluh kesahnya bisa dia luapkan semua, dan nanti di kasih obat juga biar pikirannya tenang," Friska seakan memberikan solusi kepada Haris.
"Aku tidak mau ikut campur, karena aku sudah bukan suaminya lagi, tapi nanti aku kasih tahu Cintya, adik dari Cindy. Tapi ini kulakukan semata-mata karena melihat anak-anak ya. Intinya aku menolong karena dia Mamanya anak-anak." Haris mencoba meyakinkan hati Friska.
__ADS_1