
Ibunya Haris, terus menerus mendesak Haris, agar segera menikah dengan Friska.
{"Tapi Bu, Friska tidak akan mau menikah dulu, Ibu kan tahu. waktu kemarin bertemu di Surabaya, Friska belum siap untuk menikah, karena masih banyak yang di urus kan oleh dia sekarang ini."} ucap Haris tegas.
Ibunya terdiam cukup lama
{"Yasudah, Ibu tidak mau urus kamu lagi!"} dengan suara seperti kesal dan menahan rasa sedih.
Mendengar Ibunya seperti di hinggapi rasa sedih ketika berucap, Haris pun di hinggapi rasa khawatir terhadap Ibunya itu.
{"Maafkan Haris Bu, kalau sudah berjodoh pasti saatnya akan tiba,"} Haris seakan menyabarkan hati Ibunya itu.
Sambungan telepon pun akhirnya di tutup oleh Ibunya.
***
Keesokan harinya Friska datang menemui Haris di Kafe. Haris pun mencoba menggoda Friska, bahwa dia ingin sekali mengajak Friska bertunangan.
Nampak terlihat Friska sangat ragu untuk mengatakan kata ( Iya), karena masih banyak urusan yang harus di selesaikan.
Namun ketika Haris berlalu untuk pamit sebentar, karena menerima sambungan teleponnya dari rekan bisnisnya, nampak Friska berpikir serius.
"Apakah aku akan menerima tawaran dari Haris, untuk bisa menerima pertunangan," gumam hati Friska.
Kemudian Haris datang dengan wajah yang sangat lelah. Melihat sang kekasih terlihat cape, Friska di hinggapi rasa peduli lalu dia menyodorkan minuman ke Haris.
Friska menatap lekat kepada Haris, hatinya seakan nyaman melihat bola mata kekasihnya itu.
Friska menghela napas secara perlahan.
"Aku mau bertunangan sama, Mas Haris," Friska pandangannya menunduk dan tersipu malu.
Haris seakan terkejut mendengar ucapan dari Friska tersebut. Dia langsung menggenggam erat jemari tangan Friska.
"Minggu depan, aku bersama Mama dan keluargaku akan datang ke rumahmu," Haris tersenyum lebar.
Friska pun membalas senyuman Haris dengan senyuman termanisnya.
***
Keesokan harinya, Haris menelepon Ibunya dan dia mengabarkan bahwa Friska, menerima untuk bertunangan dengannya.
Ibunya Haris, nampak bahagia mendengar kabar tersebut.
"Ibu sangat bahagia mendengar kabar, bahwa Friska menerima acara pertunangan. Walaupun sebenarnya, Ibu menginginkan kamu langsung menikah, jangan bertunangan dulu," ucap Ibunya Haris.
"Ya, Bu, akan secepatnya Haris segera menikah jika sesudah acara pertunangan. Haris janji akan secepatnya menikah," ucap Haris mencoba meyakinkan hati Ibunya itu.
__ADS_1
***
Hari yang di nanti pun tiba, Friska dan Haris akhirnya bertunangan.
Ibunya Haris, dan Hana bersama dengan anak-anaknya sudah berada di Bandung sebelum hari yang di nanti tiba.
"Rara, nanti mau punya Mama baru. Rara senang tidak?" canda Ibunya Haris.
Rara tersenyum manis dan menganggukkan kepalanya. Tanda dia merestui hubungan Papanya dan Friska.
"Tante Friska baik, tidak seperti Mama, kerjaannya marah-marah terus," ucap Rara seakan kesal terhadap Cindy.
Entah sampai kapan, anak itu bisa menerima kembali dengan hati ikhlas, dan melupakan kelakuan Cindy. Padahal Cindy ingin sekali bisa bercengkrama dengan anak-anaknya.
***
Acara tunangan pun di mulai tepat sesudah sholat Dzuhur, nampak khidmat terasa. Keluarga besar dari mereka nampak tersenyum lebar.
Friska cantik sekali, dengan memakai gaun dan kerudung dengan warna senada. Ibunya Haris, sangat senang sekali terlihat dari raut mukanya.
***
Tepat pukul lima sore acara pun selesai.
Ibunya Haris pun, berbaur dengan Ibunya Friska, mereka asik sedang mengobrol di halaman teras rumah yang penuh berjejer pepohonan dan dedaunan hijau.
Terlihat begitu nyaman dan asri rumah Friska yang berada di kota Bandung, daerah Lembang tersebut.
"Wah, enak sekali ya, disini pemandangannya, terasa masih sejuk belum terkontaminasi oleh polisi. Jadi betah untuk tinggal di sini lebih lama" Ibunya Haris, seakan kagum melihat pemandangan alam sekitar.
"Ya, betul. sebagai terapi juga kalau keadaan sekitar rumah kita di kelilingi dengan pohon hijau," jawab ibunya Friska.
***
Suasana canda tawa pun menghiasi rumah Friska. Kegembiraan sangat terpancar dari Friska dan Haris, juga keluarga besar mereka.
"Terima kasih ya," ucap Haris melihat lekat ke arah bola mata Friska.
"Terima kasih untuk apa, Mas?" Friska tersenyum manis.
"Sudah mau menerima lamaran, Mas.Hidup ini terasa berwarna dan terasa ada penyemangat hidup," Haris tersipu malu.
***
Mungkin beda banget sama sosok mantannya yaitu Cindy, dia dari keluarga kampung dari cara bicara pun tidak secerdas Friska.
Friska sangat berwawasan luas dan tegas. Dalam hal berpikir pun dia dewasa tidak seperti Cindy, yang sangat plin-plan dalam menentukan sikap.
__ADS_1
Haris sebenarnya ada rasa minder, untuk mendekati Friska. Dan akhirnya dia bisa melamar Friska.
Itu sungguh keberuntungan bagi Haris, sosok Haris yang yang pendiam, tidak banyak kata. Sungguh sangat jauh berbeda dengan sosok Friska, yang cerewet dan supel.
Haris hanya berteman dengan relasi bisnis saja, itu pun pertemuan hanya sesekali ketika akan membicarakan proyek Kafenya, sesudah itu tidak terjalin lagi komunikasi di antara mereka.
Teman-teman kuliah pun, sudah tidak lagi bertemu dengan Haris. Beda dengan Friska yang sampai dengan saat ini masih menjalin hubungan yang erat dengan teman-teman kuliahnya.
Sosok Friska yang ceria, supel, merupakan daya tarik tersendiri untuk Haris.
Haris seakan berpikir jika di satukan di antara mereka, mungkin setidaknya Haris bisa merubah sifatnya yang terlihat kaku, dan terkadang tidak punya prinsip tegas terhadap wanita.
Dia selalu memikirkan rasa kasihan, terbukti ketika saat ini masih menjalin hubungan dengan Cindy dulu. Haris terkalahkan oleh Cindy, sifatnya yang egois, licik dan selalu selingkuh. Haris hanya diam dan sabar.
Itu akan di jadikan pelajaran bagi Haris untuk menatap ke depan.
***
"Nak, Ibu betah tinggal disini," tiba-tiba Ibunya Haris, datang menghampiri Haris dan Friska yang sedang asik ngobrol di halaman belakang rumah.
Rumah Friska sangat luas sekali. Halaman belakang pun begitu terasa nyaman seakan betah untuk tinggal berlama-lama disana.
"Menginap saja disini Bu," Friska menawarkan Ibunya Haris, untuk menginap di rumahnya.
"Kita nginap saja di Hotel Bu, nanti kita jalan-jalan mengelilingi kota Bandung dan berwisata kuliner," ucap Haris, seakan menolak tawaran untuk menginap dari Friska, karena malu.
"Ya, di Bandung banyak aneka jajanan kuliner, murah dan enak," jawab Friska.
"Ibu mau belanja baju juga, katanya orang Bandung terkenal modis dan geulis. Nah, siapa tahu ada yang cocok baju buat Ibu agar terlihat cantik seperti orang Bandung," Ibunya Haris, tersipu malu sambil melirik ke arah Friska
"Bu, Ibu sudah tua, ngapain mau terlihat modis," Haris menggoda sang Ibu dengan tertawa lebar.
Friska pun seakan tak kuasa menahan tawa.
"Tidak apa-apa Mas, mungkin Ibu itu dulunya, sewaktu muda dia anak gaul, jadi terbawa suasana dulu" Friska mencoba menahan tawa.
"Yasudah, besok Haris bawa Ibu ke daerah Dago, disana ada pusat perbelanjaan baju-baju yang bagus." ucap Haris sambil memeluk erat Ibunya itu.
***
Malam pun tiba, akhirnya keluarga Haris pulang. Kepulangan mereka tidak ke rumah namun ke Hotel karena Ibunya Haris, ingin menikmati suasana santai dan sejuk di daerah Lembang atas. Dengan melihat kelap-kelip lampu menuju ke bawah ke daerah Bandung.
Beban Ibunya Haris, begitu berat. Ibunya sudah tua.
Ketika mendengar anaknya di gugat cerai, kemudian di tipu sama Cindy, dengan cara disita rumah Haris, membuat sang Ibu jadi banyak yang dipikirkan.
Makannya Ibu perlu rehat dan merilekskan pikirannya.
__ADS_1